Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Semangat intelektual dan keberanian berkarya yang diwariskan Remy Sylado kembali bergema dalam forum budaya yang digelar Majelis Tangga Batu Universitas Islam Bandung (UNISBA), Minggu (12/7/2026), di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Kota Bandung.

Mengangkat tema "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir", kegiatan ini menghadirkan dramawan dan seniman Boy Worang sebagai narasumber, dipandu moderator Aura, dan ditutup dengan pembacaan puisi oleh komunitas Bandung Berpuisi.

Forum ini tidak sekadar mengenang Remy Sylado sebagai penyair, novelis, musikus, aktor, dan budayawan. Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mengenai pentingnya keberanian berpikir kritis dan kebebasan berekspresi di tengah derasnya arus informasi dan budaya instan yang dihadapi generasi muda.

Dalam pemaparannya, Boy Worang mengisahkan kedekatannya dengan Remy Sylado yang terjalin sejak dirinya menempuh pendidikan di Akademi Sinematografi AKSOSNI, tempat Remy mengajar sebagai dosen. Hubungan guru dan murid itu kemudian berkembang menjadi persahabatan yang erat. Selama bertahun-tahun Boy kerap mendampingi Remy dalam berbagai aktivitas kesenian, bahkan dipercaya menjadi juru bicara sekaligus ikut merawat warisan pemikiran dan karya-karyanya. Sejak Remy wafat pada 2022, Boy aktif memperkenalkan kembali gagasan-gagasan sang maestro melalui berbagai forum budaya.

Menurut Boy, bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi. Bahasa adalah ruang kebebasan berpikir sekaligus medium untuk mempertanyakan berbagai kemapanan. Melalui puisi mbeling, teater, musik, novel, hingga tulisan-tulisannya di media massa, Remy menunjukkan bahwa kreativitas lahir dari keberanian membaca realitas dengan sudut pandang yang berbeda.

Boy menegaskan, pembangkangan yang diwariskan Remy bukanlah sikap menolak aturan secara serampangan, melainkan keberanian intelektual yang lahir dari pemahaman mendalam terhadap aturan sebelum melahirkan cara pandang yang lebih kreatif, kritis, dan merdeka.

Dramawan Boy Worang menjadi pembicara utama dalam diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA. (Foto: Kin Sanubary)
Dramawan Boy Worang menjadi pembicara utama dalam diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA. (Foto: Kin Sanubary)

Pesan itu dinilai semakin relevan di era digital ketika banyak orang lebih sibuk mengejar popularitas dan validasi media sosial. Di tengah situasi tersebut, keberanian untuk membaca, merenung, berdialog, dan membangun pemikiran secara mandiri menjadi nilai yang semakin penting.

Remy juga membuktikan bahwa kritik tidak selalu disampaikan dengan kemarahan. Humor, satire, permainan bahasa, puisi, maupun teater dapat menjadi medium yang efektif untuk menggugah kesadaran publik. Bagi Remy, sastra adalah ruang dialog yang menghidupkan daya kritis sekaligus memperluas cara manusia memandang kehidupan.

Suasana forum semakin hangat saat sesi tanya jawab berlangsung. Menurut Boy Worang, antusiasme peserta sangat tinggi. Mahasiswa, dosen, dan anggota Studi Teater UNISBA (STUBA) aktif berdiskusi dan bertukar pandangan mengenai sosok serta pemikiran Remy Sylado. Banyak di antara mereka mengaku mengagumi Remy karena keluasan wawasan, keberanian berpikir, dan kreativitasnya yang melampaui zamannya. Bagi generasi muda yang hadir, Remy merupakan figur intelektual yang mampu memadukan bahasa, sastra, musik, teater, dan kebudayaan menjadi karya-karya yang menginspirasi keberanian berpikir kritis dan berkarya secara autentik.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan puisi oleh komunitas Bandung Berpuisi yang menghadirkan kembali nuansa estetik khas karya-karya Remy Sylado. Penampilan tersebut menjadi penutup yang puitis sekaligus menegaskan bahwa sastra tetap memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Melalui Majelis Tangga Batu, UNISBA berupaya menghadirkan ruang diskusi budaya yang bukan hanya mengenang seorang seniman besar, tetapi juga menumbuhkan semangat berpikir kritis, keberanian berbahasa, dan kebebasan berkarya di kalangan generasi muda.

Warisan terbesar Remy Sylado, pada akhirnya, bukan semata-mata deretan karya yang ditinggalkannya, melainkan keberanian untuk terus mempertanyakan, mencipta, dan menjaga kebebasan berpikir sebagai fondasi masyarakat yang kritis, kreatif, dan berkeadaban. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 17:06

Tubuh sebagai Prioritas: Kausalitas Pandemi Covid-19 dan Kebangkitan Tren Fitness di Kalangan Anak Muda

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. Kondisi ini mendorong kebangkitan tren fitness sebagai bagian dari gaya hidup sehat dan investasi jangka panjang.

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran anak muda terhadap pentingnya kesehatan tubuh. (Sumber: Pexels | Foto: Marta Nogueira)
Wisata & Kuliner 14 Jul 2026, 16:54

Kelezatan Coto Makassar, Empat Puluh Rempah dari Kerajaan Gowa untuk Semua Orang

Kenali sejarah Coto Makassar dari era Kerajaan Gowa, filosofi 40 rempah, kuah air tajin, hingga rekomendasi warung legendaris yang wajib dicoba.

Coto Makassar.
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:34

Belanja Pegawai 30 Persen dari APBD, Birokrasi dan Pelayanan Publik Terancam?

Belanja pegawai sebesar 30% dari APBD sering dipandang sebagai indikator tingginya beban birokrasi terhadap kapasitas fiskal daerah.

Ilustrasi. (Sumber: Created by gpt)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 16:16

Semangat Intelektual Remy Sylado Bergema di UNISBA

Bagi Remy Sylado bahasa tidak pernah sekadar menjadi alat komunikasi.

Peserta mengikuti diskusi "Irama Pembangkangan Remy Sylado: Merayakan Keberanian Berbahasa dan Berpikir" yang digelar Majelis Tangga Batu UNISBA di Pelataran UNISBA, Jalan Tamansari No. 1, Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 15:15

Pentingnya Merawat Imajinasi untuk Memahami Literasi

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis.

Memahami literasi secara benar adalah cara berpikir logis untuk melihat dan berinteraksi dengan dunia luar. Tanpa merawat imajinasi secara sehat, kita tidak mampu berpikir kritis. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 14:47

Mewujudkan MPLS yang Ramah dan Nyaman untuk Anak

MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bertujuan mengajak siswa mengenal lingkungan sekolah sebelum akhirnya menjalani hari-hari dengan baik dan menyenangkan di sekolah.

Sejumlah siswa dari SMP-SMA Advent Cimindi memunguti sampah di Jalan Babakan Cianjur, Kota Bandung, saat para mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2023-2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 14 Jul 2026, 14:00

Malam Jalan Soekarno-Hatta Bandung yang Tak Tidur

Jalan Soekarno-Hatta Bandung tetap ramai hingga dini hari, dari lalu lintas, balap liar, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Suasana malam di Jalan Soekarno-Hatta Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 10:54

Asyiknya Menggambar, Mewarnai, dan Merawat Imajinasi

Setiap gambar memiliki cerita, dan setiap kisah layak untuk didengarkan dan disuarakan. Terlebih di tengah-tengah derasnya arus media informasi dan kecanduan gawai.

Aa Akil dan Kakang tengah asyik mewarnai di salah satu gerai es krim di Cipadung, Selasa 22 Juli 2025 (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)