Kampanye “Backyard Legends” yang dipublikasikan oleh Adidas menjelang Piala Dunia 2026 memperlihatkan praktik public relations writing dalam komunikasi brand global. Melalui website resmi dan Instagram, Adidas menyampaikan pesan yang sama, tetapi menyesuaikan gaya penulisan dengan karakteristik setiap platform digital.
Fokus utama tulisan ini bukan pada respons atau opini publik, melainkan pada cara organisasi menyusun pesan, memilih kata kunci, menjaga konsistensi gaya komunikasi, dan memperkuat citra brand melalui kanal resmi. Karena itu, kampanye ini lebih tepat dianalisis sebagai praktik public relations writing dan brand communication.

Pada website resmi, Adidas menggunakan gaya rilis pers yang formal, informatif, dan terstruktur. Informasi mengenai kampanye, tokoh yang terlibat, ide kreatif, serta kaitannya dengan Piala Dunia 2026 disampaikan secara lengkap untuk membangun kredibilitas organisasi di hadapan publik.
Sebagai media resmi perusahaan, website berfungsi sebagai pusat informasi utama. Kanal ini memberikan penjelasan yang lebih panjang, tertata, dan dapat dijadikan rujukan oleh media, konsumen, komunitas olahraga, serta publik yang membutuhkan informasi resmi mengenai kampanye.
Sementara itu, Instagram digunakan sebagai kanal komunikasi visual yang lebih singkat, cepat, dan emosional. Pesan kampanye diterjemahkan melalui potongan adegan, wajah figur populer, ritme audiovisual, serta caption yang lebih ringkas agar mudah menarik perhatian pengguna media sosial.
Perbedaan gaya antara website dan Instagram menunjukkan bahwa public relations writing tidak hanya berhubungan dengan kemampuan menulis, tetapi juga kemampuan menyesuaikan pesan dengan media yang digunakan. Abdurrahman (2026) menjelaskan bahwa praktisi PR perlu mampu mengubah satu pesan organisasi ke dalam berbagai format komunikasi digital tanpa menghilangkan inti pesan.
Kata kunci “Backyard Legends” menjadi pusat identitas kampanye. Frasa ini menempatkan sepak bola sebagai pengalaman yang dekat, menyenangkan, dan mudah dikenali oleh banyak orang. Pilihan kata tersebut membantu Adidas menghubungkan brand dengan nostalgia, kebersamaan, dan budaya sepak bola global.
Selain itu, pesan “You Got This” memperkuat karakter brand yang optimistis dan suportif. Pesan ini tidak hanya berfungsi sebagai slogan, tetapi juga sebagai brand voice yang menampilkan Adidas sebagai merek yang mendorong kepercayaan diri, keberanian, dan semangat bermain.
Penggunaan figur seperti Lionel Messi, Timothée Chalamet, Bad Bunny, Lamine Yamal, dan Trinity Rodman juga memperkuat komunikasi brand. Tokoh-tokoh tersebut dipilih bukan hanya untuk menarik perhatian, tetapi untuk memperluas jangkauan audiens lintas olahraga, musik, film, usia, dan budaya populer .
Dari sisi teknik penulisan, website menggunakan pola yang menyerupai piramida terbalik. Informasi penting mengenai kampanye disampaikan di bagian awal, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan konteks, tokoh, pesan kreatif, dan makna kampanye. Teknik ini membantu pembaca memahami inti informasi secara cepat.
Pada Instagram, teknik penulisan lebih mengutamakan daya tarik visual dan kecepatan pesan. Caption tidak perlu menjelaskan seluruh konteks seperti website, karena fungsi utamanya adalah memancing perhatian, memperkuat kesan emosional, dan mendorong pengguna untuk berinteraksi dengan konten.
Konsistensi pesan menjadi kekuatan utama kampanye ini. Website dan Instagram sama-sama menampilkan sepak bola sebagai ruang bermain yang gembira, inklusif, dan lintas generasi. Perbedaannya hanya terletak pada cara penyampaian, bukan pada inti pesan brand.
Dalam public relations, konsistensi komunikasi penting untuk menjaga kredibilitas organisasi dan memperkuat hubungan dengan publik. Pesan yang konsisten di berbagai kanal membuat brand lebih mudah dikenali, dipercaya, dan diingat oleh audiens (Broom & Sha, 2013).
Jika dilihat dari perspektif brand communication, kampanye ini tidak hanya memperkenalkan produk atau kegiatan promosi. Adidas membangun narasi bahwa sepak bola adalah bagian dari memori kolektif, pengalaman masa kecil, persahabatan, dan perayaan global menjelang Piala Dunia 2026.
Dengan demikian, kampanye “Backyard Legends” dapat dipahami sebagai contoh public relations writing yang memadukan informasi resmi, storytelling, visual campaign, selebritas, dan konsistensi brand voice. Website membangun kredibilitas pesan, sedangkan Instagram memperluas daya tarik emosional dan jangkauan komunikasi.
Secara keseluruhan, keberhasilan kampanye ini terletak pada kemampuan Adidas menyesuaikan gaya komunikasi di setiap platform tanpa mengubah pesan utama. Praktik ini menunjukkan bahwa public relations writing dan brand communication memerlukan kejelasan pesan, pilihan kata yang tepat, konsistensi gaya, serta pemahaman terhadap karakter media digital. (*)
Daftar Pustaka
Abdurrahman, M. S. (2026). Digital public relations writing: Relevansi kemampuan menulis di era AI. Simbiosa Rekatama Media.
Broom, G. M., & Sha, B.-L. (2013). Cutlip and Center’s effective public relations (11th ed.). Pearson.