Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)

Tulisan ini adalah sebuah refleksi pengalaman saya selama menjadi bagian kontributor penulis ayonetizen di ayobandung. Suka dan duka, datang-menghilang lalu kembali lagi juga menjadi bagian saya bertumbuh menjadi seorang penulis.

Memulai terkadang lebih mudah dibandingkan dengan konsisten dalam segala hal. Baik dalam hidup sehat, belajar hal baru ataupun menjadi seorang penulis. Begitu pun dengan perjalanan saya, ada saatnya ide-ide datang saling bertabrakan hingga lengah untuk terdokumentasikan. Namun kadang ide juga tidak muncul ketika tema yang diberikan repetitif dalam beberapa bulan.

Pengalaman jujur yang selama ini saya rasakan adalah saat beberapa kali ayobandung memberikan tema yang sama tentang lokalitas Bandung Raya. Awalnya saya memahami bahwa ayobandung ingin menemukan identitas atau jati diri sebagai media yang konsen dalam membahas isu terkait dengan Bandung.

Awalnya saya punya semangat yang tinggi namun lambat laun saya merasa tema tersebut repetitif. Saya sulit menemukan hal yang bisa digunakan untuk mengeksplorasi Bandung secara terus- menerus jika yang bisa dibahas hanya seputar kemacetan, sampah dan banjir. Saya sempat merasa bahwa tema tersebut mempersempit ruang saya untuk berpikir, ruang saya untuk bersuara, ruang bagi saya untuk menyuarakan "Suara mereka"yang perlu untuk disuarakan karena hal-hal kecil sering luput dari perhatian.

Tak disangka kabar gembira datang ketika ayobandung kembali membebaskan tema dengan tagline " Bebas Bersuara, Ikuti Momentum", semangat saya kembali tumbuh karena radar menangkap fenomena yang saya rasa perlu disuarakan dan rasanya tak sabar menuangkannya lewat tulisan. Pada awal Juni saya sudah menyiapkan beberapa tema yang saya rasa sangat menarik untuk dibagikan. Namun siapa sangka di minggu ke dua bulan Juni saya menjalani PKPA saya sedikit tersandung masalah karena menyuarakan tentang keadilan bagi mahasiswa dalam mendapatkan hak belajar yang sama termasuk untuk semua kampus.

Pembahasan mengenai hak yang saya rasa wajar saja diminta oleh mahasiswa karena sudah membayar biaya untuk belajar di tempat yang bersangkutan. Namun konteks yang perlu dibahas akhirnya berpindah haluan hanya karena saya sebagai penulis cukup aktif menyuarakan isu keadilan baik melalui status whatshapp maupun lewat tulisan yang saya kirim ke ayobandung.

Sebagai seorang penulis terkadang saya merasa banyak keresahan yang saya lihat di lingkungan dan terkadang rasanya menumpuk dan ingin dikeluarkan. Saya berharap apa yang bisa saya sampaikan mungkin bisa menggugah orang lain yang punya keresahan yang sama untuk berani bersuara. Bahkan terkadang sesimple ingin mengeluarkan gagasan karena terasa overload jika dipikirkan seorang diri. Namun terkadang niat baik tidak selalu diterima dengan baik pula.

Saat itu saya dipanggil oleh beberapa orang untuk menjelaskan apa maksud yang saya sampaikan baik melalui story atau tulisan artikel yang saya buat. Padahal saat itu saya sedang meminta dan memperjuangkan hak saya sebagai mahasiswa untuk mendapat kesempatan belajar yang sama. Namun yang terus dibahas adalah karya-karya saya.

Awalnya saya cukup tenang menghadapi masalah ini dan tetap mencoba menulis hal-hal yang perlu saya suarakan. Namun kejadian ini terus berlanjut hingga isu saya dibahas di forum yang cukup dihadiri banyak orang. Awalnya saya juga masih bisa memahami kenapa hal tersebut bisa terjadi. Namun setelah menyangkutpautkan dengan profesi saya sebagai seorang penulis-- saya sempat goyah dan mempertanyakan banyak hal, "Apakah saya salah menjadi penulis yang berani bersuara, apakah saya berhenti saja dan fokus dengan bidang lainnya yang saya geluti"

Gak peduli ya mau kamu seorang penulis atau bukan. Jika ada isu yang kamu lihat di lapangan cukup diam saja dan renungi saja dalam diri. Tidak perlu dijadikan tulisan dan dipikirkan terlalu berlebihan

Bahkan ketika seseorang menyinggung itu, keberanian juga semangat saya langsung menciut. Padahal saat itu ketika ada kasus penganiayaan terhadap perempuan di Bandung yang disekap bertahun-tahun oleh pacarnya-- saya sudah memiliki niat untuk membahas tema itu. Namun di akhir kalimat seseorang itu langsung memberikan contoh. Misalnya ketika ada isu hari itu tentang kekejaman seorang laki-laki kepada perempuan saya cukup berempati saja tidak perlu dipikirkan terlalu berlebihan apalagi menuliskannya.

Hingga berminggu-minggu saya memikirkan apakah keputusan menjadi seorang penulis harus berhenti. Kemudian juga saya menahan radar saya untuk tidak selalu aktif ketika melihat fenomena yang ada di depan mata. Saya pikir tema yang dibatasi menjadi permasalahan utama yang saya rasakan. Tapi ternyata ada yang jauh menyakitkan ketika secara tidak langsung kita tidak boleh menuliskan setiap fenomena atau isu yang kita lihat di lingkungan.

Hari ini saya memberanikan kembali menulis bukan karena rasa traumanya sudah pulih. Tapi saya berusaha mengingat tujuan awal saya menjadi seorang penulis itu untuk apa. Adapun ketika saya melihat tulisan-tulisan sebelumnya yang penuh dengan semangat untuk menyuarakan segala sesuatu yang perlu disuarakan-- rasanya harapan itu muncul kembali.

Dan semoga selalu bisa berupaya melakukan yang terbaik dari diri saya di hari-hari sebelumnya. Apapun rintangannya dan ujiannya semoga tidak menyurutkan langkah untuk tetap menulis dan menyuarakan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)