Dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi di lingkungan mahasiswa, tidak terlepas dari kemauan untuk berpartisipasi ke dalam proses berwirausaha. Kondisi ini seharusnya menjadi tumpuan mahasiswa untuk menunjukkan pengembangan dirinya yang paling dituju dan tercapai dengan maksimal.
Bagi mahasiswa generasi Z saat ini memiliki pilihan yang cukup luas dalam memperdalam pengembangan dirinya. Selain dengan komunitas yang ada di lingkungan kampus. Juga di lingkungan luar kampus yang mengedepankan kemampuan berproses dan berpikir kritis. Hal ini sangat mendesak bagi mahasiswa untuk memilih tujuannya.
Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya. Meskipun generasi Z dianggap sebagai generasi yang mudah terpengaruh oleh sesuatu yang tidak relevan, atau pun justru tidak bergerak sama sekali. Namun mahasiswa mesti mempertimbangkannya dengan maksimal.
Pengelolaan atau merintis usaha atau bisnis baru dari nol, suatu keputusan yang sebenarnya. Mahasiswa dapat mempertimbangkan sejak dini ketika memasuki gerbang kampus dan merasakan atmosfir akademik, mesti menunjukkan kepercayaan dirinya untuk mencari celah berwirausaha.
Sebab dengan menemukan celah wirausaha ini pula mahasiswa tahu bahwa ada kesempatan yang terbuka lebar. Kesempatan berwirausaha ini merujuk pada peluang-peluang yang luas dan mudah diakses. Saat ini penting untuk mahasiswa menyiapkan sejak awal, motivasi berwirausahanya dan persiapan sejak awal ilmu pengetahuan tentang kewirausahaan.
Motivasi Berwirausaha
Setidaknya mahasiswa tidak apatis pada hal-hal yang berhubungan dengan kewirausahaan. Ketika mahasiswa terbuka dalam mempelajari ilmu berwirausaha, terutama ketika sudah mengampu mata kuliah kewirausahaan.
Dari program studi manapun, sejatinya kewirausahaan merupakan hak mahasiswa mengembangkan diri degan memiliki motivasi tinggi. Motivasi dari dalam untuk tidak sekadar menyelesaikan program mata kuliah, selain itu termotivasi untuk mengembangkan usaha sejauh mungkin, sebagaimana harapan mahasiswa menjadi pengusaha muda yang lebih sukses.
Motivasi lainnya bisa karena berdasarkan latar belakang keluarga, baik latar belakang keluarga yang minim pengetahuan maupun yang sudah banyak pengetahuannya, dari mulai hal yang sama. Termotivasi untuk menunjukkan bahwa selagi menjadi mahasiswa, berwirausaha merupakan hal terbaik yang mudah diakses untuk memeroleh keilmuan serta mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.
Kondisi lainnya seputar keuangan, dengan uang tambahan saat berwirausaha merupakan motivasi tertinggi. Kita tahu bahwa mahasiswa sangat mengirit pengeluaran. Mahasiswa akan menghemat segala hal berbau keuangan. Sebab itu, jika keinginan dan kemauannya seimbang dengan berwirausaha maka tidak ada hal yang mustahil.
Dari sinilah, kita dapat mengetahui karakter mahasiswa yang siap sukses di bidang keilmuannya serta dapat mengimplementasikan kewirausahan sebaik-baiknya. Kedua-duanya diraih.
Bahkan ketika mahasiswa merantau ke Bandung, misalnya ketika tidak memiliki kecukupan baik dari segi keuangan maupun akses lain, maka sudah tepat ketika termotivasi ingin berwirausaha yang terbaik.
Memilih Bidang Usaha
Proses memilih bidang usaha bagi mahasiswa tentu dapat dimaksimalkan dengan memeroleh informasi dari bidang kemahasiswaan kampus. Dari kemahasiswaan kampus ini pula mahasiswa mengakses seluruh informasi tentang peluang bidang usaha yang mudah dimulai tanpa modal.
Kendati modal usaha masih minim, jika informasinya dari kemahasiswaan kampus tentu akan diarahkan untuk mengikuti hibah atau program kegiatan kemahasiswaan bidang kewirausahaan. Contohnya program hibah dari Kemenrisetekdikti yang dibuka melalui Program Kreativitas Mahasiswa atau Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha. Kedua program ini cocok bagi mahasiswa yang menginginkan memulai usaha di bidang yang disesuaikan dengan modal minim namun dapat diakses secara nasional.
Pada program kreativitas mahasiswa atau PKM, mahasiswa sebenarnya bisa mengikuti program ini secara nasional yang dikompetisikan secara terbuka, dan mahasiswa bisa mengikutinya serentak dengan pengumuman dan lolosnya.
Selain itu, P2MW atau program pembinaan mahasiswa wirausaha ini juga dapat diakses dengan persyaratan yang mudah asalkan terdaftarkan di PDDIKTI dan memenuhi syarat sebagai mahasiswa yang bisa melaksanakan kegiatan wirausahanya.
Adapun kategori usaha di P2MW ini bisa memilih di antaranya makanan atau minuman, jasa atau pariwisata atau perdagangan, manufaktur atau teknologi terapan, dan bisnis digital. Dari sekian pilihan tersebut, maka tidak ada alasan lagi untuk menolak berwirausaha sejak mahasiswa.
Pertanyaannya, mampukah mahasiswa berwirausaha dengan segudang tugas perkuliahan? Tentu saja mampu. Persoalan tugas perkuliahan bukan menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk berwirausaha dengan baik. Bagaimanapun juga mahasiswa secara naluri mampu membagi waktunya agar tuntas semua pekerjaan yang dilaksanakan.

Oleh karena itu, mahasiswa mesti mengubah pola pikirnya agar berwirausaha tidak selalu muluk-muluk berkaitan dengan modal usaha. Tidak ada alasan lagi. Modal tidak punya? Ikuti saja program pendanaan dari Kemenristekdikti. Gratis. Dan seharusnya seluruh mahasiswa membuka cara berpikirnya secara jernih.
Pada kenyataannya, lapangan kerja yang ada belum tentu memberi ruang bagi lulusan sarjana. Sedangkan lulusan sarjana diharapkan memasuki dunia kerja dengan kapasitas yang mumpuni.
Bahkan diharapkan lebih, dengan membuka lapangan pekerjaan bagi yang lainya, maka keputusan membuka usaha sejak di bangku perkuliahan bukanlah keputusan yang mustahil. Bahkan keputusan yang tepat untuk menyiapkan diri menjadi pengusaha yang kelak membuka bisnis dengan penghasilan luar biasa. (*)