RENCANA menjadikan Pasar Baru Bandung sebagai “pusat kuliner dunia”, --sebagaimana diapungkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan-- menarik dibicarakan dan dikaji lebih jauh.
Sebagai gagasan, tentu tidak ada yang salah dengan keinginan menjadikan Pasar Baru lebih hidup dan lebih beken. Bandung memang membutuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Tetapi, persoalannya bukan pada cita-citanya.
Persoalannya adalah apakah sebuah kawasan bisa ujug-ujug menjadi mendunia hanya karena diberi positioning sebagai kawasan kelas dunia.
Minuman kemasan
Kota bukan produk yang bisa dipasarkan seperti minuman kemasan. Sebuah kawasan memiliki sejarah, manusia, kebiasaan, konflik, jaringan ekonomi dan ingatan kolektif.
Semua itu terbentuk dalam rentang waktu panjang. Karena itu, ketika pemerintah datang dengan sebuah konsep besar, yang pertama-tama perlu dilihat bukan seberapa menarik nama konsep tersebut, melainkan apa yang sebenarnya sudah hidup di kawasan itu.
Pasar Baru punya modal yang tidak kecil. Ia bukan kawasan yang lahir kemarin sore. Di sana, ada aktivitas perdagangan, mobilitas manusia, sejarah komunitas, tekstil, fesyen, kuliner dan hubungan antarkelompok yang terbentuk selama puluhan tahun.
Di sekitar Pasar Baru, ada Pecinan dan Cibadak, yang lekat dengan sejarah dan tradisi Tionghoa. Ada pula jejak komunitas India dan hubungan perdagangan dengan kawasan Asia lainnya. Dengan kata lain, Pasar Baru sesungguhnya sudah memiliki bahan untuk menjadi kawasan yang menarik.
Masalahnya mungkin bukan Pasar Baru tidak punya identitas. Bisa jadi justru identitasnya tidak pernah dikelola dengan cukup serius. Ini dua persoalan yang berbeda.
Kawasan yang tidak punya identitas membutuhkan penciptaan karakter terlebih dahulu. Tetapi, kawasan yang sudah memiliki karakter membutuhkan penguatan, bukan penggantian identitas.
Dalam kaitan inilah, penyakit “kota branding” perlu kita cermati. Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem.
Di bawahnya, ada hal-hal yang jauh lebih membosankan tetapi justru menentukan, yakni jalan kaki yang nyaman, transportasi yang terhubung, kebersihan, keamanan, parkir, pengelolaan pedagang, toilet, pencahayaan, bangunan yang terawat dan pelayanan yang prima.
Wisatawan mungkin saja datang karena tertarik slogan. Tetapi, mereka akan kembali ke tempat yang sama bukan karena slogan itu sendiri, melainkan karena pengalaman yang mereka rasakan.
Tidak ada wisatawan yang pulang sambil berkata bahwa kawasan itu hebat karena logo atau tag-line-nya bagus. Yang mereka selalu ingat adalah makanan yang enak, jalan yang nyaman, orang yang ramah, harga yang masuk akal, suasana yang khas, dan sejumlah pengalaman yang ingin diulang.
Karena itu, “pusat kuliner dunia” sebaiknya jangan diperlakukan sebagai titik akhir bagi Pasar Baru. Ia lebih tepat menjadi visi yang harus diterjemahkan ke dalam pekerjaan sehari-hari.
Kalau memang kuliner hendak dijadikan pintu masuk, pertanyaannya menjadi lebih konkret: kuliner siapa yang hendak ditampilkan di Pasar Baru? Apakah makanan lokal khas Tatar Sunda? Apakah makanan khas Nusantara? Makanan komunitas India? Kuliner Tionghoa? Makanan khas Bandung semata? Makanan mondial? Atau semuanya dalam satu ekosistem?
Pertanyaan itu penting karena kekuatan Pasar Baru justru terletak pada keberagamannya. Kalau semua keberagaman itu kemudian diseragamkan menjadi sebuah kawasan kuliner yang terlalu rapi dan terlalu terkurasi, jangan-jangan yang hilang justru alasan mengapa orang datang ke sana.
Lapisan sejarah

Kota yang menarik bukan selalu kota yang paling tertata secara visual. Kadang-kadang justru kota yang masih memperlihatkan lapisan sejarah dan kehidupan manusianya secara otentik.
Dari perspektif ekonomi, pemerintah juga perlu membedakan antara mendatangkan keramaian dan membangun ekonomi lokal. Kawasan bisa sangat ramai tetapi pedagang kecil tidak otomatis sejahtera.
Harga sewa dapat naik. Pedagang lama bisa tersingkir. Jenis usaha bisa berubah mengikuti selera wisatawan. Pada titik tertentu, kawasan yang hendak “dihidupkan” justru kehilangan orang-orang yang selama ini membuatnya hidup.
Ini risiko yang sering luput dalam proyek revitalisasi sebuah kawasan. Pemerintah melihat kawasan dari atas, yakni bagaimana membuatnya menarik bagi investor dan wisatawan.
Di sisi lain, pedagang melihatnya dari bawah, yakni bagaimana tetap bisa berjualan dengan biaya yang terjangkau. Adapun warga melihatnya dari sisi lain, yaitu apakah kawasan itu masih nyaman untuk didatangi. Sementara itu, wisatawan pun punya ukuran sendiri.
Maka, keberhasilan merevitalisasi Pasar Baru akan sangat bergantung pada kemampuan mempertemukan kepentingan-kepentingan tersebut.
Karena itu, masyarakat sekitar Pasar Baru semestinya bukan sekadar penerima kebijakan. Mereka adalah bagian dari modal kawasan. Kalau ada komunitas India, misalnya, mengapa tidak dikembangkan ruang kuliner dan budaya yang tumbuh bersama komunitas tersebut? Kalau ada kekuatan kuliner Pecinan dan Cibadak, mengapa tidak dibuat koneksi yang memperkuat ekosistemnya?
Pemerintah tidak harus menciptakan semuanya dari nol. Banyak hal sebenarnya sudah tersedia.
Dalam perspektif tata ruang, “pusat kuliner dunia” juga bukan sekadar proyek membuat tempat makan. Pasar Baru berada dalam kawasan perkotaan yang memiliki hubungan dengan Stasiun Bandung, kawasan perdagangan, maupun Tol Pasteur, dan jaringan jalan antarkota.
Karena itu, pengembangannya seharusnya dibaca sebagai bagian dari sistem kawasan, bukan sebagai satu titik yang berdiri sendiri. Sebelum bicara soal makanan, pemerintah perlu memastikan orang bisa datang ke Pasar Baru dengan mudah, nyaman, dan aman. Mereka datang melalui jalan, stasiun, kendaraan umum, trotoar, dan ruang kota lainnya.
Di sinilah konsistensi perencanaan menjadi penting. Dokumen tata ruang tidak boleh berhenti sebagai dokumen yang indah di atas kertas.
Kalau Pasar Baru memang dianggap strategis, maka rencana detail tata ruangnya perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang terlihat oleh warga. Infrastruktur diperbaiki. Kualitas layanan perdagangan dinaikkan. Ruang publik dibenahi. Konektivitas kawasan diperkuat. Baru kemudian promosi gede-gedean.
Bandung sebenarnya tidak kekurangan kawasan yang memiliki potensi. Yang sering menjadi masalah adalah bagaimana menjaga agar potensi itu tidak berhenti sebagai wacana.
Perhatian berpindah
Kita pernah melihat berbagai kawasan tematik diperkenalkan dengan nama yang menarik. Pada awalnya ramai dibicarakan. Setelah itu, perhatian berpindah. Ambil contoh, Teras Cihampelas. Nama masih ada, tetapi ekosistem yang menopangnya tidak cukup kuat. Ini pelajaran yang sebaiknya tidak dilewatkan dalam merancang Pasar Baru
Kota tidak bekerja seperti proyek peluncuran produk. Sebuah produk bisa diluncurkan hari ini dan dipromosikan besar-besaran besok. Kawasan kota tidak demikian. Ia membutuhkan waktu, pengelolaan dan kesabaran. Pemerintah kota berganti. Pedagang berganti. Selera masyarakat berubah. Tetapi, kawasan tetap berada di sana. Karena itu kebijakan kawasan seharusnya dirancang melampaui umur satu periode pemerintahan.
Mungkin saja yang diperlukan Pasar Baru bukan pertama-tama branding baru yang wah dan penuh gebyar, melainkan diagnosis baru. Apa masalah sebenarnya? Apakah aksesnya? Apakah kebersihan? Apakah kualitas bangunan? Apakah parkir? Apakah keamanan? Apakah hubungan antara pedagang dan pengelola? Apakah konektivitas dengan Stasiun Bandung? Dan apakah-apakah lainya.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada langsung memilih branding “pusat kuliner dunia”.
Kalau diagnosisnya tepat, branding akan mengikuti. Bahkan, mungkin tidak perlu terlalu banyak slogan. Kawasan yang benar-benar hidup biasanya mempromosikan dirinya sendiri. Orang datang, makan, berbelanja, memotret, bercerita kepada teman, lalu mereka kembali. Dari situ reputasi tumbuh. Pemerintah tinggal memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak merusak fondasi sosial dan ekonomi yang sudah ada.
Ambisi menjadikan Pasar Baru lebih beken tidak perlu ditolak. Bandung memang perlu memiliki kawasan-kawasan yang mampu membetot atensi dunia. Tetapi, menjadi “mendunia” tidak berarti harus kehilangan wajah dan karakter sendiri. Justru daya tarik global sebuah kawasan sering muncul dari sesuatu yang sifatnya lokal, otentik, dan sukar ditemukan di tempat lain. (*)