Pasar Baru Bandung dan Penyakit 'Kota Branding'

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)
Pasar Baru Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Regia Ramadhina Revalgian/Magang)

RENCANA menjadikan Pasar Baru Bandung sebagai “pusat kuliner dunia”, --sebagaimana diapungkan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan-- menarik dibicarakan dan dikaji lebih jauh.

Sebagai gagasan, tentu tidak ada yang salah dengan keinginan menjadikan Pasar Baru lebih hidup dan lebih beken. Bandung memang membutuhkan pusat-pusat ekonomi baru. Tetapi, persoalannya bukan pada cita-citanya. 

Persoalannya adalah apakah sebuah kawasan bisa ujug-ujug menjadi mendunia hanya karena diberi positioning sebagai kawasan kelas dunia.

Minuman kemasan

Kota bukan produk yang bisa dipasarkan seperti minuman kemasan. Sebuah kawasan memiliki sejarah, manusia, kebiasaan, konflik, jaringan ekonomi dan ingatan kolektif. 

Semua itu terbentuk dalam rentang waktu panjang. Karena itu, ketika pemerintah datang dengan sebuah konsep besar, yang pertama-tama perlu dilihat bukan seberapa menarik nama konsep tersebut, melainkan apa yang sebenarnya sudah hidup di kawasan itu.

Pasar Baru punya modal yang tidak kecil. Ia bukan kawasan yang lahir kemarin sore. Di sana, ada aktivitas perdagangan, mobilitas manusia, sejarah komunitas, tekstil, fesyen, kuliner dan hubungan antarkelompok yang terbentuk selama puluhan tahun. 

Di sekitar Pasar Baru, ada Pecinan dan Cibadak, yang lekat dengan sejarah dan tradisi Tionghoa. Ada pula jejak komunitas India dan hubungan perdagangan dengan kawasan Asia lainnya. Dengan kata lain, Pasar Baru sesungguhnya sudah memiliki bahan untuk menjadi kawasan yang menarik.

Masalahnya mungkin bukan Pasar Baru tidak punya identitas. Bisa jadi justru identitasnya tidak pernah dikelola dengan cukup serius. Ini dua persoalan yang berbeda. 

Kawasan yang tidak punya identitas membutuhkan penciptaan karakter terlebih dahulu. Tetapi, kawasan yang sudah memiliki karakter membutuhkan penguatan, bukan penggantian identitas.

Dalam kaitan inilah, penyakit “kota branding” perlu kita cermati. Upaya pem-branding-an memang penting. Kota perlu dikenal. Kawasan perlu memiliki daya tarik. Tetapi, branding hanyalah lapisan paling luar dari sebuah ekosistem. 

Di bawahnya, ada hal-hal yang jauh lebih membosankan tetapi justru menentukan, yakni jalan kaki yang nyaman, transportasi yang terhubung, kebersihan, keamanan, parkir, pengelolaan pedagang, toilet, pencahayaan, bangunan yang terawat dan pelayanan yang prima.

Wisatawan mungkin saja datang karena tertarik slogan. Tetapi, mereka akan kembali ke tempat yang sama bukan karena slogan itu sendiri, melainkan karena pengalaman yang mereka rasakan. 

Tidak ada wisatawan yang pulang sambil berkata bahwa kawasan itu hebat karena logo atau tag-line-nya bagus. Yang mereka selalu ingat adalah makanan yang enak, jalan yang nyaman, orang yang ramah, harga yang masuk akal, suasana yang khas, dan sejumlah pengalaman yang ingin diulang.

Karena itu, “pusat kuliner dunia” sebaiknya jangan diperlakukan sebagai titik akhir bagi Pasar Baru. Ia lebih tepat menjadi visi yang harus diterjemahkan ke dalam pekerjaan sehari-hari. 

Kalau memang kuliner hendak dijadikan pintu masuk, pertanyaannya menjadi lebih konkret: kuliner siapa yang hendak ditampilkan di Pasar Baru? Apakah makanan lokal khas Tatar Sunda? Apakah makanan khas Nusantara? Makanan komunitas India? Kuliner Tionghoa? Makanan khas Bandung semata? Makanan mondial? Atau semuanya dalam satu ekosistem?

Pertanyaan itu penting karena kekuatan Pasar Baru justru terletak pada keberagamannya. Kalau semua keberagaman itu kemudian diseragamkan menjadi sebuah kawasan kuliner yang terlalu rapi dan terlalu terkurasi, jangan-jangan yang hilang justru alasan mengapa orang datang ke sana. 

Lapisan sejarah

Sebagai pusat perbelanjaan tertua, Pasar Baru Bandung bukan sekadar tempat jual beli, namun juga saksi bisu perjalanan urban, budaya, dan semangat bertahan. (Sumber: Ayobandung.id)
Sebagai pusat perbelanjaan tertua, Pasar Baru Bandung bukan sekadar tempat jual beli, namun juga saksi bisu perjalanan urban, budaya, dan semangat bertahan. (Sumber: Ayobandung.id)

Kota yang menarik bukan selalu kota yang paling tertata secara visual. Kadang-kadang justru kota yang masih memperlihatkan lapisan sejarah dan kehidupan manusianya secara otentik.

Dari perspektif ekonomi, pemerintah juga perlu membedakan antara mendatangkan keramaian dan membangun ekonomi lokal. Kawasan bisa sangat ramai tetapi pedagang kecil tidak otomatis sejahtera. 

Harga sewa dapat naik. Pedagang lama bisa tersingkir. Jenis usaha bisa berubah mengikuti selera wisatawan. Pada titik tertentu, kawasan yang hendak “dihidupkan” justru kehilangan orang-orang yang selama ini membuatnya hidup.

Ini risiko yang sering luput dalam proyek revitalisasi sebuah kawasan. Pemerintah melihat kawasan dari atas, yakni bagaimana membuatnya menarik bagi investor dan wisatawan. 

Di sisi lain, pedagang melihatnya dari bawah, yakni bagaimana tetap bisa berjualan dengan biaya yang terjangkau. Adapun warga melihatnya dari sisi lain, yaitu apakah kawasan itu masih nyaman untuk didatangi. Sementara itu, wisatawan pun punya ukuran sendiri. 

Maka, keberhasilan merevitalisasi Pasar Baru akan sangat bergantung pada kemampuan mempertemukan kepentingan-kepentingan tersebut.

Karena itu, masyarakat sekitar Pasar Baru semestinya bukan sekadar penerima kebijakan. Mereka adalah bagian dari modal kawasan. Kalau ada komunitas India, misalnya, mengapa tidak dikembangkan ruang kuliner dan budaya yang tumbuh bersama komunitas tersebut? Kalau ada kekuatan kuliner Pecinan dan Cibadak, mengapa tidak dibuat koneksi yang memperkuat ekosistemnya? 

Pemerintah tidak harus menciptakan semuanya dari nol. Banyak hal sebenarnya sudah tersedia.

Dalam perspektif tata ruang, “pusat kuliner dunia” juga bukan sekadar proyek membuat tempat makan. Pasar Baru berada dalam kawasan perkotaan yang memiliki hubungan dengan Stasiun Bandung, kawasan perdagangan, maupun Tol Pasteur, dan jaringan jalan antarkota. 

Karena itu, pengembangannya seharusnya dibaca sebagai bagian dari sistem kawasan, bukan sebagai satu titik yang berdiri sendiri. Sebelum bicara soal makanan, pemerintah perlu memastikan orang bisa datang ke Pasar Baru dengan mudah, nyaman, dan aman.  Mereka datang melalui jalan, stasiun, kendaraan umum, trotoar, dan ruang kota lainnya.

Di sinilah konsistensi perencanaan menjadi penting. Dokumen tata ruang tidak boleh berhenti sebagai dokumen yang indah di atas kertas. 

Kalau Pasar Baru memang dianggap strategis, maka rencana detail tata ruangnya perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang terlihat oleh warga. Infrastruktur diperbaiki. Kualitas layanan perdagangan dinaikkan. Ruang publik dibenahi. Konektivitas kawasan diperkuat. Baru kemudian promosi gede-gedean.

Bandung sebenarnya tidak kekurangan kawasan yang memiliki potensi. Yang sering menjadi masalah adalah bagaimana menjaga agar potensi itu tidak berhenti sebagai wacana. 

Perhatian berpindah

Kita pernah melihat berbagai kawasan tematik diperkenalkan dengan nama yang menarik. Pada awalnya ramai dibicarakan. Setelah itu, perhatian berpindah. Ambil contoh, Teras Cihampelas. Nama masih ada, tetapi ekosistem yang menopangnya tidak cukup kuat. Ini pelajaran yang sebaiknya tidak dilewatkan dalam merancang Pasar Baru

Kota tidak bekerja seperti proyek peluncuran produk. Sebuah produk bisa diluncurkan hari ini dan dipromosikan besar-besaran besok. Kawasan kota tidak demikian. Ia membutuhkan waktu, pengelolaan dan kesabaran. Pemerintah kota berganti. Pedagang berganti. Selera masyarakat berubah. Tetapi, kawasan tetap berada di sana. Karena itu kebijakan kawasan seharusnya dirancang melampaui umur satu periode pemerintahan.

Mungkin saja yang diperlukan Pasar Baru bukan pertama-tama branding baru yang wah dan penuh gebyar, melainkan diagnosis baru. Apa masalah sebenarnya? Apakah aksesnya? Apakah kebersihan? Apakah kualitas bangunan? Apakah parkir? Apakah keamanan? Apakah hubungan antara pedagang dan pengelola? Apakah konektivitas dengan Stasiun Bandung? Dan apakah-apakah lainya.

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih penting daripada langsung memilih branding “pusat kuliner dunia”.

Kalau diagnosisnya tepat, branding akan mengikuti. Bahkan, mungkin tidak perlu terlalu banyak slogan. Kawasan yang benar-benar hidup biasanya mempromosikan dirinya sendiri. Orang datang, makan, berbelanja, memotret, bercerita kepada teman, lalu mereka kembali. Dari situ reputasi tumbuh. Pemerintah tinggal memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tidak merusak fondasi sosial dan ekonomi yang sudah ada.

Ambisi menjadikan Pasar Baru lebih beken tidak perlu ditolak. Bandung memang perlu memiliki kawasan-kawasan yang mampu membetot atensi dunia. Tetapi, menjadi “mendunia” tidak berarti harus kehilangan wajah dan karakter sendiri. Justru daya tarik global sebuah kawasan sering muncul dari sesuatu yang sifatnya lokal, otentik, dan sukar ditemukan di tempat lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)