Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

  • Sebagai ruang publik, Gelanggang Olahraga (GOR) Pajajaran telah berevolusi menjadi arkade kuliner penting yang menjaga keberlanjutan resep turun-temurun.

  • Kawasan Sudirman dan Pasir Kaliki berfungsi sebagai "sabuk emas" kuliner Tionghoa di Bandung, menawarkan spektrum rasa yang kaya mulai dari kelembutan tahu hingga aroma kangkung yang berasap.

Cita rasa yang kita sesap di meja makan hari ini sesungguhnya adalah narasi panjang tentang dialog kebudayaan yang melampaui batas samudera. Ekspedisi kolosal Laksamana Cheng Ho (1405-1433) melalui Jalur Sutra bukan sekadar misi diplomatik, melainkan katalisator awal akulturasi budaya yang membentuk fondasi keberagaman rasa di Nusantara. Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Telaah sosiologis menunjukkan betapa lenturnya kebudayaan ini beradaptasi. Transformasi istilah "bak" yang awalnya merujuk pada daging babi menjadi isian kacang hijau pada bakpia atau daging ayam pada bakpao adalah bukti nyata upaya harmonisasi dengan norma masyarakat lokal. Di Bandung, sejarah ini berkelindan dengan kebijakan pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 yang mengembangkan pemukiman Pecinan untuk memperluas jalur distribusi hasil bumi. Perkembangan ini mencapai puncaknya pada tahun 1905 dengan pusat aktivitas di sekitar Pasar Baru, melahirkan titik-titik kuliner legendaris yang tetap tegak berdiri hingga saat ini.

Menurut catatan sejarah, orang-orang Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Cheng Ho (1405-1433). Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur orang-orang Tionghoa berdatangan dan membangun perkampungan yang disebut dengan Kampung Tionghoa atau Pecinan.

Gastronomi Tionghoa: Karakteristik dan Teknik Memasak Tradisional

Logika di balik kuliner Tionghoa adalah tentang penguasaan elemen api (fire power) dan presisi waktu. Estetika hidangannya tidak hanya terletak pada rasa, tetapi pada kemampuan koki menjaga integritas bahan. Komponen utama seperti rebung, sarang burung walet, hasil laut, hingga olahan kedelai seperti tahu dan kecap, dipadukan dengan rempah eksotis seperti bunga lawang (pekak), cengkih, dan angkak untuk menciptakan profil rasa yang berlapis.

Teknik memasak yang paling ikonik adalah chao, yakni metode menumis cepat dengan sedikit minyak di atas suhu panas yang sangat tinggi. Secara teknis, chao bertujuan untuk mengunci sari pati makanan guna mempertahankan kelembutan daging dan tekstur sayuran agar tetap renyah (garing) dengan warna yang tetap vibrant.

Salah satu bentuk akulturasi teknis yang menarik adalah penggunaan angciu (arak merah). Sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman konsumen, banyak restoran Tionghoa di Bandung mengganti angciu yang nonhalal dengan campuran kecap asin, air perasan jeruk lemon, dan air jahe parut untuk menghasilkan aroma yang mendekati aslinya namun tetap dapat dinikmati oleh masyarakat Muslim.

Berbagai kategori hidangan berikut merepresentasikan kemahiran teknik tradisional tersebut, mulai dari hidangan utama seperti dim sum, bakmi, fuyunghai, kwetiau, dan sapo, hingga olahan daging dan sayur berupa capcay, ayam rebus, babi panggang, serta kangkung hot plate. Tak ketinggalan, ragam penganan kecil seperti bakpao, cakwe, kompia, bacang, dan siomay juga turut melengkapi kekayaan kuliner ini.

Episentrum Kuliner GOR Pajajaran: Simbol Legenda dan Konsistensi

Sebagai ruang publik, Gelanggang Olahraga (GOR) Pajajaran telah berevolusi menjadi arkade kuliner penting yang menjaga keberlanjutan resep turun-temurun. Di tempat ini, interaksi sosial hangat terjalin secara alami di tengah aroma uap bubur dan gurihnya gorengan cakwe yang menggugah selera.

Keberlanjutan tradisi di kawasan ini digerakkan oleh para pedagang legendaris yang memegang teguh resep autentik. Salah satunya adalah Lie Tjay Tat, yang telah merintis usahanya di Pasar Baru sejak 1934 sebelum berpindah ke GOR Pajajaran. Hingga kini, mereka tetap setia menyajikan Kompia, hidangan berbentuk mirip burger ala Tionghoa yang dipadukan dengan isian Bapia lezat. Nilai historis serupa juga dihadirkan oleh Kacang Hokkian Pak Syarifudin, yang selama lebih dari dua dekade konsisten menghangatkan pengunjung melalui sajian kacang tanah rebus berkuah manis khasnya.

Daya tarik kuliner GOR Pajajaran semakin diperkaya oleh ragam hidangan mi, bubur, hingga pencuci mulut yang unik. Bakmi Tasik Sanjose, misalnya, menawarkan Locupan—mi tepung beras berbentuk lonjong menyerupai cendol putih yang dipadukan dengan topping ayam jamur dan memberikan sensasi kenyal yang khas.

Pengunjung juga kerap dibikin penasaran oleh Bubur Akiong yang berani menghadirkan topping eksotis seperti ikan, kepiting, hingga ubur-ubur bertekstur kenyal dengan cita rasa gurih laut yang autentik. Sebagai pelengkap, sajian Kembang Tahu hadir menjadi penutup sempurna lewat perpaduan lembutnya puding tahu dan hangatnya kuah jahe gula aren.

Penjelajahan Rasa di Koridor Sudirman dan Pasir Kaliki

Kawasan Sudirman dan Pasir Kaliki berfungsi sebagai "sabuk emas" kuliner Tionghoa di Bandung, menawarkan spektrum rasa yang kaya mulai dari kelembutan tahu hingga aroma kangkung yang berasap. Di koridor ini, tradisi minum teh (yum cha) dijaga bukan sekadar sebagai pendamping makan, melainkan sebuah ritual sarat ketenangan yang berfungsi memulihkan kesegaran tubuh sekaligus menetralisir kadar lemak.

Kekuatan utama kawasan ini terletak pada konsistensi para pengusahanya dalam menjaga kualitas. Salah satu contohnya adalah Tahu Talaga Yun Sen, yang sejak 1938 konsisten mempertahankan kemurnian olahan kedelai tanpa bahan pengawet. Sementara untuk hidangan berat, sajian Kangkung Cah Hot Plate menghadirkan perbandingan yang menarik antara dua tempat legendaris: Mandarin Restaurant menonjolkan topping telur puyuh dan aneka seafood dengan karakter rasa gurih laut yang intens, sedangkan RM Ahong memadukan telur puyuh dengan potongan daging sapi yang menghadirkan cita rasa gurih dan kaya.

Eksplorasi kuliner di koridor ini semakin lengkap dengan kehadiran Hotin Restaurant yang menjadi destinasi utama para pencinta Dim Sum dan Bubur. Tak kalah menarik, RM Kuang Ming menunjukkan adaptivitas kuliner Tionghoa melalui deretan menu vegetarian. Mereka secara lihai mengganti protein hewani dengan bahan-bahan nabati tanpa sedikit pun mengorbankan kedalaman rasa tradisionalnya.

Eksotisme Malam: Destinasi Cibadak dan Kehangatan Astana Anyar

Saat malam merengkuh Bandung, koridor Cibadak dan Astana Anyar bertransformasi menjadi panggung kuliner malam yang menghangatkan jiwa. Salah satu sajian yang paling memikat secara historis adalah Swike Karanganyar. Nama "swikee" sendiri berasal dari dialek Hokkiansui (air) dan ke (ayam)—yang menjadi eufemisme cerdas untuk sebutan katak hijau agar lebih mudah diterima. Baik diolah dengan kuah tauco aromatik yang dipadukan dengan kesegaran perasan jeruk limo, maupun digoreng mentega, hidangan ini menawarkan tekstur unik di antara kelembutan daging ikan dan serat ayam.

Memasuki kawasan Astana Anyar, kejayaan kuliner legendaris dilanjutkan oleh Lomie Lian Hoa yang telah eksis sejak 1970. Tempat ini menyajikan lomie berkuah kental nan gurih yang kaya akan esensi jamur hioko serta kedalaman rasa dari kaldu tulang.

Sebagai penutup perjalanan malam, Toko P&D Anyar hadir menyajikan hangatnya Wedang Ronde. Dalam tradisi Tionghoa, Ronde (Tang Yuan) menyimpan filosofi kehangatan tersendiri; bentuk bulatan ketannya yang kenyal dan lengket melambangkan simbol perekat serta persatuan keluarga.

Refleksi Akhir: Memaknai Warisan yang Terjaga

Kuliner Tionghoa di Bandung merupakan sebuah monumen hidup yang merekam sejarah panjang interaksi sosial bangsa. Dedikasi para generasi penerus di tempat-tempat legendaris, seperti Lie Tjay Tat hingga Lomie Lian Hoa, membuktikan bahwa keaslian rasa adalah amanah sejarah yang terus dijaga dari gerusan zaman.

Melalui setiap suapan, kita sebenarnya sedang merayakan empat nilai utama yang saling bertaut. Nilai akulturasi tecermin dari kelenturan budaya yang mampu beradaptasi harmonis dengan lidah dan norma lokal. Konsistensi hadir melalui kesetiaan pada teknik memasak tradisional seperti chao serta pemilihan bahan-bahan alami. Sementara itu, dedikasi tampak nyata pada komitmen lintas generasi yang menjaga warisan keluarga selama berpuluh-puluh tahun, berdampingan dengan perhatian pada kesehatan lewat penggunaan rempah alami dan tradisi minum teh sebagai penyeimbang nutrisi.

Pada akhirnya, mendokumentasikan jejak-jejak rasa ini menjadi upaya penting untuk merawat kekayaan budaya. Langkah ini memastikan bahwa narasi keberagaman Indonesia tetap hidup, harum, dan relevan bagi generasi masa depan. (*)

Referensi:

  • Deerona, dan Gagas Ulung. 2014. Jejak Kuliner China yang Melegenda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)