Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)

Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak terlalu penting tapi cukup membuat penasaran-- yang mungkin pertanyaan ini belum pernah masuk dalam agenda rapat "Penangulangan Kebakaran Hutan".

"Kalau hutan kalimantan kebakaran , bagaimana dengan nasib para kuyang?"

Sayangnya kuyang tidak pernah tercatat dalam data kependudukan. Jadi kita tidak bisa memperhitungkan berapa jumlah kuyang yang terdampak, mati untuk ke dua kalinya atau yang berhasil melarikan diri dari hutan kalimantan. Tidak ada sensus yang mensurvei kuyang, tidak ada disdukcapil yang bisa mencetak ktp kuyang sehingga sejauh ini tidak pernah terdengar pemerintah membagian bantuan sosial khusus bagi kuyang yang terkena dampak asap kebakaran. Bahkan hal sederhana seperti masker pun rasanya sulit dianggarkan. Dibandingkan menanggulangi dampak asap bagi kesehatan paru-paru kuyang-- nampaknya mengeluarkan uang untuk program yang berakhir menjadi limbah sampah jauh lebih penting bagi pemerintah saat ini.

Kuyang memang makhluk gaib tapi mereka juga tak cukup gaib untuk menghindari kebakaran hutan. Masalahnya saat kebakaran hutan terjadi tidak ada batas antara makhluk yang dipercayai masyarakat dan mahkluk yang diakui secara ilmu pengetahuan. Kedua pertanyaan yang mempertanyakan eksistensi keduanya selalu menjadi hal yang ingin terjawab.

Orangutan mungkin tidak bisa mengurus data administrasi kependudukan ketika pohon yang menjadi tempat tinggalnya terbakar. Burung-burung tidak bisa mengajukan permohonan relokasi ketika habitat aslinya berubah menjadi abu dalam sekejap mata. Para trenggiling tidak memiliki lembaga advokasi ketika ingin menuntut atas kematian koloninya. Bahkan kuyang pun yang ditakuti masyarakat tak cukup mampu menahan keserakahan manusia.

Ironisnya di kolom komentar media sosial banyak yang mempertanyakan bagaimana nasib kuyang bukan nasib nyata flora dan fauna yang tinggal didalamnya. Negara kita memang terlalu stress jika setiap hari kita menjadi manusia yang serius dan kaku. Tapi jangan sampai lawakan dan bahan bercandaan yang niatnya sebagai hiburan semata justru menutupi isu yang seharusnya kita suarakan.

Kuyang bisa menjadi bahan cerita dan banyak ditakuti oleh masyarakat yang mempercayai keberadaannya. Bisa menjadi sebuah legenda yang diturunkan dari satu generasi ke genarasi lainnya. Tapi bagaimana dengan orang utan, trenggiling, bekantan dan spesies langka lainnya yang mungkin tidak terhitung jumlahnya tapi tidak menjadi cerita yang diturunkan kepada generasi agar tetap dijaga kelestariannya.

Kenapa nasib kuyang dipertanyakan ? mungkin karena bukan berarti dia benar-benar berpatroli di udara setiap malam melewati batas pepohonan. Melainkan karena pertanyaan tentang tempat tinggalnya yaitu hutan yang membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih nyata.

Jika hutan terus terbakar atau mungkin sengaja dibakar, sebenarnya siapa yang sedang kehilangan rumah ?

Jika isu kebakaran hutan ini terus terjadi setiap tahun--barangkali nanti kita tidak lagi menemukan kuyang di hutan. Bukan karena masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada cerita rakyat tapi hutan yang menjadi latar cerita yang dibangunnya sudah tidak ada. Sementara penghuninya yang benar-benar nyata tidak bisa berubah menjadi legenda untuk menyelamatkan diri.

Barangkali manusia memang memiliki kecenderungan yang aneh: jauh lebih takut kepada sesuatu yang tidak bisa dipahami oleh logika dibandingkan dengan sesuatu yang dapat dipahami tetapi menguntungkan bagi para oknumnya.

Barangkali kuyang dan mahluk nyata lainnya tidak memiliki kepentingan ekonomi. Mereka tidak membutuhkan lahan untuk membuka perkebunan sawit. Mereka tidak membutuhkan kayu untuk kepentingan industri. Mereka tidak peduli dengan mendirikan perusahaan. Mereka tidak memiliki konsesi. Bahkan mereka tidak tercatat sebagai wajib pajak. Yang mereka miliki hanya hutan yang menjadi tempat tinggalnya. Yang mereka tahu bahwa hutan adalah tempat bernaung dan melestarikan keturunannya. Bukankah manusia juga selalu menginginkan kedamaian ? jika bisa berbicara mereka pun pasti menginginkan hal yang sama.

Semua mahluk hidup yang ada dibumi sebetulnya memiliki tugas yang sama yaitu beribadah sesuai dengan kemampuan dan akal yang diberikan. Manusia dengan akal yang lebih sempurna seharusnya bisa menjadi pemimpin dan penjaga bumi yang baik. Hewan bertasbih dengan suara yang khas ketika berbincang dengan Tuhan. Mereka juga menjadi mahluk yang menjaga keseimbangan alam dan rantai makanan terus hidup. Begitu pun dengan pohon yang bersujud Kepada-Nya dengan menghasilkan udara yang bersih dan oksigen yang melimpah. Bahkan ketika mahluk lain sedang beribadah kepada Tuhannya kita sebagai manusia masih banyak menerima manfaatnya. Sementara apa yang dilakukan oleh manusia ? selain eksploitasi dan rasa haus yang tak pernah puas sampai hidungnya tertutup oleh kapas.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)