Jika Pohon-Pohon di Kalimantan Bisa Bernyanyi dan Hewan di Dalamnya Bisa Bicara

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)
Orang utan di hutan Kalimantan. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Morgan)

Isu kebakaran di negeri kita memang tak pernah usai. Entah karena murni faktor alam yang tidak diprediksi dengan baik. Atau oknum yang berkepentingan yang sengaja membuat percikan api -- agar hutan terbakar untuk pembukaan lahan sawit.

Pembukaan sawit bukan hanya sekedar isu tapi memang fakta yang terjadi di lapangan. Dilansir graris.id bahwa hingga Agustus 2026, Kementrian Kehutanan telah mencatat lebih dari 107.000 hektar hutan dan lahan yang terbakar. Kalimantan memiliki porsi terbanyak dengan rincian sebagai berikut, Kalimantan Barat 28.780 hektare, Kalimantan Selatan 8.620 hektare, Kalimantan Tengah 4.729 hektare dan Kalimantan Timur 1260 hektare.

Masih dalam sumber yang sama banyak yang menyebutkan bahwa narasi faktor alamlah yang menjadi penyebab utama kebakaran yaitu EL NINO. Namun berdasarkan analisis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menunjukkan fakta yang berkebalikan bahwa sebesar 74% titik panas di Kalimantan berada di dalam konsesi perusahaan. Artinya, persoalan kebakaran ini bukan soal siapa yang membakar, melainkan bagaimana sistem agraria indonesia dapat mengatur relasi antara manusia, lahan dan api.

Manusia memang tidak pernah puas hingga raganya bersatu dengan tanah. Manusia dengan akal dan pikirannya yang diciptakan sempurna oleh semesta sudah seharusnya bisa membuat alam ini jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun kenyataanya tidak selalu begitu. Manusia selalu merasa bahwa bumi hanyalah miliknya seorang.

Mereka lupa bahwa siklus hidupnya berlangsung tidak lain dari bantuan mahluk hidup yang lainnya. Manusia bisa bernafas gratis dan bebas karena ada pohon yang menyumbangkan oksigennya. Lalu pohon-pohon juga menyerap karbon dioksida yang dikeluarkan oleh manusia saat menghembuskan nafas. Namun apa yang ditawarkan manusia kepada pohon ketika sudah memberikan manfaat bagi kehidupannya? Tidak ada, manusia justru menebangnya secara ilegal untuk keperluan industri, manusia membakar pohon-pohon untuk membuka lahan yang katanya proyek prestisius tapi masyaratnya sekitarnya tetap tidak sejahtera.

Jika pohon-pohon yang berdiri gagah di hutan kalimantan bisa bernyanyi mungkin lirik lagu yang berjudul "Sedia aku sebelum hujan" dari idgitaf bisa cukup mewakilinya.

"Ku yang lama disini, menjagamu tak patah hati"

Sebuah kesetiaan alam kepada manusia yang bernaung di dalamnya. Pohon-pohon besar yang hari tumbuh tentu mereka sudah hidup puluhan hingga ratusan tahun dan sejak benihnya tumbuh mereka sudah melindungi manusia tanpa diminta. Alam seperti pohon, hutan atau bumi, sudah sejak lama melindungi manusia dari udara yang kotor dan bahaya bencana alam yang mengancam kelestarian hidupnya. Mereka bersinergi memberikan tempat yang teduh dan perlindungan tanpa merasa lelah atau sakit meskipun manusia sering menyakitinya dengan merusak habitatnya. Lirik ini juga bermakna kalau kita harus menjaga apa yang melindungi kita sebelum semuanya terlambat.

"Sedia payung sebelum hujan, apa yang kau butuhkan, kuberikan"

Manusia harus memiliki kesadaran bahwa sebelum alam ini benar-benar marah dan mendatangkan marabahaya maka manusia harus menjaganya sebaik mungkin. Ketika alam sudah memberikan segala hal yang dibutuhkan manusia maka manusia juga harus memiliki kesadaran untuk memulihkannya.

Sementara jika hewan-hewan bisa bicara kepada manusia mungkin satu hal pertama yang bisa disampaikan adalah "Rumah kami adalah rumahmu juga". Ketika manusia merusak hutan dan mencemari sungai atau lautan maka sejatinya manusia juga sedang menghancurkan kehidupannya sendiri. Mungkin dampaknya tidak langsung terasa tapi perlahan manusia sedang menggadaikan masa depannya untuk kehancuran.

Mereka juga mungkin akan berkata "Kepunahan kami adalah awal bencana kalian", jika hewan terus dieksploitasi dan diganggu habitatnya maka keseimbangan alam akan hancur. Manusia akan kehilangan sumber makanan dari laut dan tumbuhan dari tanah yang tercemar. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)