Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

7 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

  • Perhatian menjadi sumber daya yang diperebutkan karena dapat dikonversi menjadi popularitas, pengaruh, reputasi, jaringan, bahkan keuntungan ekonomi.

  • Fenomena ini sebenarnya bukan sepenuhnya baru. Jauh sebelum media sosial lahir, Erving Goffman (1959) telah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung.

Kita hidup dalam zaman ketika sesuatu yang berharga bukan lagi sekadar apa yang kita miliki, tetapi seberapa banyak perhatian yang dapat kita peroleh. Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru. Ia tidak terlihat dan tidak dapat disentuh, tetapi dapat dikonversi menjadi popularitas, pengaruh, reputasi, bahkan keuntungan ekonomi.

Di sinilah kita berhadapan dengan apa yang disebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Herbert A. Simon (1971) menunjukkan bahwa ketika informasi semakin melimpah, perhatian justru menjadi semakin langka. Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana mendapatkan perhatian terhadap informasi tersebut. Gagasan ini kemudian dikembangkan Davenport dan Beck (2001) yang melihat perhatian sebagai sumber daya strategis dalam ekonomi baru.

Dalam situasi seperti ini, visualitas memperoleh posisi semakin penting. Foto, video, reels, warna, ekspresi wajah, gaya berpakaian, desain ruang, hingga cara seseorang menampilkan kehidupan sehari-hari bukan lagi sekadar persoalan estetika. Visual telah menjadi bahasa utama untuk memperoleh perhatian.

Kita mungkin tidak membaca seluruh caption, tetapi berhenti menggulir layar ketika sebuah gambar menarik perhatian. Kita mungkin tidak mengenal seseorang secara pribadi, tetapi merasa mengenalnya melalui rangkaian visual yang ia tampilkan. Visualitas bekerja bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi sebagai sesuatu yang memproduksi perhatian, membentuk persepsi, dan mengonstruksi identitas.

Ekonomi Perhatian dan Nilai Keterlihatan

Jika dalam ekonomi konvensional uang digunakan untuk memperoleh barang dan jasa, maka dalam ekonomi perhatian, perhatian menjadi sumber daya yang diperebutkan karena dapat dikonversi menjadi popularitas, pengaruh, reputasi, jaringan, bahkan keuntungan ekonomi.

Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit seseorang mendapatkan perhatian. Karena itu, organisasi, media, maupun individu harus bersaing memperoleh bagian dari perhatian yang terbatas tersebut (Davenport & Beck, 2001).

Media sosial mempercepat mekanisme ini. Jumlah likes, komentar, shares, views, dan pengikut menjadi indikator keterlihatan. Angka-angka tersebut memang tidak selalu menunjukkan kualitas sebuah konten, tetapi menunjukkan bahwa seseorang berhasil memperoleh perhatian.

Di sinilah terjadi perubahan penting: yang memiliki perhatian memiliki peluang untuk memiliki pengaruh. Pengguna dengan jutaan pengikut memiliki kapasitas distribusi berbeda dari pengguna dengan ratusan pengikut. Unggahan yang memperoleh jutaan tayangan juga memiliki peluang lebih besar menghasilkan kerja sama, promosi, penjualan, atau pengaruh sosial. Dengan demikian, perhatian bukan lagi sekadar respons psikologis. Ia telah menjadi sumber daya ekonomi dan sosial.

Visualitas sebagai Modal Perhatian dan Simbolik

Mengapa visual menjadi sangat penting? Karena media sosial bekerja dalam lingkungan yang sangat cepat. Dalam hitungan detik, seseorang memutuskan apakah akan berhenti, melihat, menyukai, membagikan, atau melewati sebuah konten. Dalam situasi seperti ini, visual menjadi pintu pertama untuk memperoleh perhatian.

Gillian Rose (2016) menjelaskan bahwa visual bukan sekadar objek yang dilihat, tetapi bagian dari praktik sosial yang memiliki konteks produksi, sirkulasi, dan konsumsi. Ketika seseorang memilih foto untuk diunggah, pilihan tersebut sesungguhnya merupakan proses komunikasi: bagaimana tubuh ditampilkan, ruang dipilih, warna disusun, dan kesan tertentu dibangun.

Visual kemudian menjadi bahasa sosial. Kita tidak hanya mengatakan “saya bahagia”, tetapi memperlihatkan wajah yang tersenyum. Kita tidak hanya mengatakan “saya sukses”, tetapi menampilkan ruang kerja, perjalanan, karya, atau pencapaian. Identitas keagamaan pun dapat ditampilkan melalui aktivitas ibadah, busana, Al-Qur’an, masjid, kajian, dan berbagai simbol keagamaan.

Dalam konteks tersebut, visualitas tidak berhenti sebagai alat untuk menarik perhatian. Ketika perhatian berhasil diperoleh, visual dapat berkembang menjadi modal sosial dan simbolik. Bourdieu (1986) menjelaskan bahwa modal tidak hanya berbentuk ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, dan simbolik yang dapat menghasilkan pengakuan serta posisi tertentu dalam kehidupan sosial.

Di media sosial, kemampuan menghasilkan visual yang menarik, membangun narasi, memilih estetika, dan mempertahankan konsistensi tampilan dapat meningkatkan keterlihatan seseorang. Keterlihatan kemudian dapat menghasilkan pengakuan, pengaruh, jaringan, bahkan peluang ekonomi.

Hal ini terlihat dalam budaya influencer. Abidin (2016) menunjukkan adanya visibility labour, yaitu berbagai bentuk kerja untuk mempertahankan keterlihatan dan mengubah perhatian menjadi nilai. Mengambil gambar, memilih foto, menyunting visual, menyusun caption, berinteraksi dengan pengikut, hingga memahami pola distribusi konten merupakan bagian dari kerja tersebut.

Dengan demikian, terlihat bukan lagi sekadar keadaan, tetapi dapat menjadi hasil dari sebuah proses kerja. Visualitas membawa seseorang dari sekadar hadir di ruang digital menjadi terlihat, dikenali, dan berpotensi memperoleh pengaruh.

Dari Menampilkan Diri ke Mengelola Kesan

Gen Z kini menjadikan makanan dan minuman sebagai kategori belanja utama, dengan preferensi pada produk yang menawarkan pengalaman otentik dan bisa dibagikan di media sosial. (Sumber: Freepik)
Gen Z kini menjadikan makanan dan minuman sebagai kategori belanja utama, dengan preferensi pada produk yang menawarkan pengalaman otentik dan bisa dibagikan di media sosial. (Sumber: Freepik)

Fenomena ini sebenarnya bukan sepenuhnya baru. Jauh sebelum media sosial lahir, Erving Goffman (1959) telah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung. Manusia menampilkan dirinya kepada orang lain dan berusaha mengelola kesan yang muncul dari penampilan tersebut.

Media sosial memperluas panggung itu. Instagram, misalnya, memungkinkan seseorang memilih foto mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak. Kehidupan kemudian dapat dikurasi menjadi rangkaian visual yang membentuk kesan tertentu.

Kita memilih foto terbaik, sudut terbaik, pencahayaan terbaik, pakaian terbaik, bahkan momen terbaik. Tidak semua kehidupan ditampilkan. Yang muncul di layar adalah bagian kehidupan yang telah melalui proses seleksi. Maka, identitas digital bukan sekadar identitas yang “ditampilkan”, tetapi identitas yang dikurasi.

Pertanyaannya kemudian bergeser: bukan lagi sekadar siapa saya?, tetapi bagaimana saya ingin dilihat?

Ketika Visual Menjadi Tanda

Untuk memahami lebih jauh fenomena ini, pemikiran Jean Baudrillard tentang masyarakat konsumsi menjadi relevan. Baudrillard (1998) menunjukkan bahwa benda tidak hanya dikonsumsi karena kegunaan praktisnya, tetapi juga karena nilai tanda (sign-value) yang melekat padanya. Sebuah benda dapat menunjukkan status, selera, gaya hidup, identitas, dan posisi sosial seseorang.

Logika tersebut dapat ditemukan di media sosial. Foto kopi bukan hanya tentang kopi; ia dapat menjadi tanda gaya hidup. Foto perjalanan dapat menjadi tanda mobilitas atau keberhasilan. Foto buku dapat menjadi tanda intelektualitas. Foto keluarga dapat menjadi tanda keharmonisan. Dengan kata lain, yang dikonsumsi bukan hanya objek visualnya, tetapi makna yang melekat di baliknya. Media sosial kemudian menjadi ruang tempat tanda-tanda tersebut diproduksi, dipertukarkan, dan dikonsumsi.

Bermain dalam “Permainan Visibilitas”

Kelley Cotter (2019) memperlihatkan bagaimana influencer di Instagram berhadapan dengan visibility game. Mereka berusaha memahami cara kerja algoritma dan menyesuaikan strategi agar kontennya memperoleh jangkauan lebih besar. Algoritma bukan sekadar teknologi di belakang layar, tetapi menjadi bagian dari permainan sosial untuk memperoleh perhatian.

Tidak semua visual yang menarik otomatis mendapatkan perhatian. Ada mekanisme distribusi yang menentukan siapa yang lebih mungkin terlihat. Foto yang bagus perlu ditemukan, video yang menarik perlu didistribusikan, dan identitas yang kuat perlu mendapatkan jangkauan.

Maka, nilai sebuah visual tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat, tetapi juga oleh seberapa jauh ia beredar. Semakin luas sebuah visual beredar, semakin besar peluangnya memperoleh perhatian, interaksi, dan makna sosial.

Ketika Pengalaman Menjadi Makna

Namun, proses tersebut tidak selalu harus dilihat secara negatif. Kehadiran visual di media sosial tidak selalu berarti seseorang sedang menciptakan realitas yang semu. Justru dalam banyak kasus, visual yang dibagikan berangkat dari pengalaman yang benar-benar dijalani: foto keluarga dari pengalaman kebersamaan, foto perjalanan dari pengalaman bepergian, karya dari proses kreatif, dan konten keagamaan dari pengalaman spiritual.

Dengan demikian, tidak semua sign value harus dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari realitas. Nilai tanda dapat tumbuh dari pengalaman nyata ketika pengalaman tersebut divisualisasikan, dibagikan, dan memperoleh makna sosial.

Di sinilah visualitas menjadi menarik. Ia tidak hanya merepresentasikan kenyataan, tetapi juga memperluas kehidupan sosial dari kenyataan tersebut. Pengalaman personal dapat dibagikan, dilihat, diapresiasi, dan dimaknai oleh orang lain.

Karena itu, ketika kehidupan hadir sebagai konten, kita tidak selalu harus mempertentangkannya dengan keaslian. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk mengabadikan, merayakan, berbagi, dan menginspirasi melalui pengalaman yang memang nyata.

Pada titik inilah perhatian dan visualitas bertemu. Perhatian memberikan nilai pada keterlihatan, sementara pengalaman memberikan makna pada apa yang terlihat. Maka, tantangan di era attention economy bukan semata-mata bagaimana membuat diri terlihat, tetapi bagaimana mengisi keterlihatan tersebut dengan pengalaman, nilai, dan makna yang autentik. Sebab, yang terlihat tidak selalu semu, sebagaimana yang tidak terlihat tidak selalu lebih nyata.

Pada akhirnya, visualitas dapat dipahami bukan hanya sebagai mata uang untuk memperoleh perhatian, tetapi juga sebagai medium pertukaran makna. Ia memungkinkan pengalaman personal hadir dalam ruang sosial, memperoleh perhatian, dan membangun hubungan dengan orang lain. Dalam dunia yang semakin dipenuhi gambar, persoalannya bukan lagi apakah kita perlu terlihat, tetapi apa yang ingin kita sampaikan ketika kita terlihat. (*)

Referensi

  • Abidin, Crystal. 2016. “Visibility Labour: Engaging with Influencers’ Fashion Brands and #OOTD Advertorial Campaigns on Instagram.” Media International Australia 161 (1): 86–100.

  • Baudrillard, Jean. 1998. The Consumer Society: Myths and Structures. London: SAGE Publications.

  • Bourdieu, Pierre. 1986. “The Forms of Capital.” Dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, 241–258. New York: Greenwood.

  • Cotter, Kelley. 2019. “Playing the Visibility Game: How Digital Influencers and Algorithms Negotiate Influence on Instagram.” New Media & Society 21 (4): 895–913.

  • Davenport, Thomas H., dan John C. Beck. 2001. The Attention Economy: Understanding the New Currency of Business. Boston: Harvard Business School Press.

  • Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday.

  • Rose, Gillian. 2016. Visual Methodologies: An Introduction to Researching with Visual Materials. 4th ed. London: SAGE Publications.

  • Simon, Herbert A. 1971. “Designing Organizations for an Information-Rich World.” Dalam Computers, Communications, and the Public Interest, edited by Martin Greenberger. Baltimore: Johns Hopkins Press.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Peminat Kajian Budaya dan Media, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)