Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

7 menit baca
Femi  Fauziah Alamsyah, M.Hum
Ditulis oleh Femi Fauziah Alamsyah, M.Hum diterbitkan
Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)

Kita hidup dalam zaman ketika sesuatu yang berharga bukan lagi sekadar apa yang kita miliki, tetapi seberapa banyak perhatian yang dapat kita peroleh. Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru. Ia tidak terlihat dan tidak dapat disentuh, tetapi dapat dikonversi menjadi popularitas, pengaruh, reputasi, bahkan keuntungan ekonomi.

Di sinilah kita berhadapan dengan apa yang disebut sebagai attention economy atau ekonomi perhatian. Herbert A. Simon (1971) menunjukkan bahwa ketika informasi semakin melimpah, perhatian justru menjadi semakin langka. Persoalannya bukan lagi bagaimana memperoleh informasi, melainkan bagaimana mendapatkan perhatian terhadap informasi tersebut. Gagasan ini kemudian dikembangkan Davenport dan Beck (2001) yang melihat perhatian sebagai sumber daya strategis dalam ekonomi baru.

Dalam situasi seperti ini, visualitas memperoleh posisi semakin penting. Foto, video, reels, warna, ekspresi wajah, gaya berpakaian, desain ruang, hingga cara seseorang menampilkan kehidupan sehari-hari bukan lagi sekadar persoalan estetika. Visual telah menjadi bahasa utama untuk memperoleh perhatian.

Kita mungkin tidak membaca seluruh caption, tetapi berhenti menggulir layar ketika sebuah gambar menarik perhatian. Kita mungkin tidak mengenal seseorang secara pribadi, tetapi merasa mengenalnya melalui rangkaian visual yang ia tampilkan. Visualitas bekerja bukan hanya sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi sebagai sesuatu yang memproduksi perhatian, membentuk persepsi, dan mengonstruksi identitas.

Ekonomi Perhatian dan Nilai Keterlihatan

Jika dalam ekonomi konvensional uang digunakan untuk memperoleh barang dan jasa, maka dalam ekonomi perhatian, perhatian menjadi sumber daya yang diperebutkan karena dapat dikonversi menjadi popularitas, pengaruh, reputasi, jaringan, bahkan keuntungan ekonomi.

Semakin banyak informasi yang tersedia, semakin sulit seseorang mendapatkan perhatian. Karena itu, organisasi, media, maupun individu harus bersaing memperoleh bagian dari perhatian yang terbatas tersebut (Davenport & Beck, 2001).

Media sosial mempercepat mekanisme ini. Jumlah likes, komentar, shares, views, dan pengikut menjadi indikator keterlihatan. Angka-angka tersebut memang tidak selalu menunjukkan kualitas sebuah konten, tetapi menunjukkan bahwa seseorang berhasil memperoleh perhatian.

Di sinilah terjadi perubahan penting: yang memiliki perhatian memiliki peluang untuk memiliki pengaruh. Pengguna dengan jutaan pengikut memiliki kapasitas distribusi berbeda dari pengguna dengan ratusan pengikut. Unggahan yang memperoleh jutaan tayangan juga memiliki peluang lebih besar menghasilkan kerja sama, promosi, penjualan, atau pengaruh sosial. Dengan demikian, perhatian bukan lagi sekadar respons psikologis. Ia telah menjadi sumber daya ekonomi dan sosial.

Visualitas sebagai Modal Perhatian dan Simbolik

Mengapa visual menjadi sangat penting? Karena media sosial bekerja dalam lingkungan yang sangat cepat. Dalam hitungan detik, seseorang memutuskan apakah akan berhenti, melihat, menyukai, membagikan, atau melewati sebuah konten. Dalam situasi seperti ini, visual menjadi pintu pertama untuk memperoleh perhatian.

Gillian Rose (2016) menjelaskan bahwa visual bukan sekadar objek yang dilihat, tetapi bagian dari praktik sosial yang memiliki konteks produksi, sirkulasi, dan konsumsi. Ketika seseorang memilih foto untuk diunggah, pilihan tersebut sesungguhnya merupakan proses komunikasi: bagaimana tubuh ditampilkan, ruang dipilih, warna disusun, dan kesan tertentu dibangun.

Visual kemudian menjadi bahasa sosial. Kita tidak hanya mengatakan “saya bahagia”, tetapi memperlihatkan wajah yang tersenyum. Kita tidak hanya mengatakan “saya sukses”, tetapi menampilkan ruang kerja, perjalanan, karya, atau pencapaian. Identitas keagamaan pun dapat ditampilkan melalui aktivitas ibadah, busana, Al-Qur’an, masjid, kajian, dan berbagai simbol keagamaan.

Dalam konteks tersebut, visualitas tidak berhenti sebagai alat untuk menarik perhatian. Ketika perhatian berhasil diperoleh, visual dapat berkembang menjadi modal sosial dan simbolik. Bourdieu (1986) menjelaskan bahwa modal tidak hanya berbentuk ekonomi, tetapi juga sosial, budaya, dan simbolik yang dapat menghasilkan pengakuan serta posisi tertentu dalam kehidupan sosial.

Di media sosial, kemampuan menghasilkan visual yang menarik, membangun narasi, memilih estetika, dan mempertahankan konsistensi tampilan dapat meningkatkan keterlihatan seseorang. Keterlihatan kemudian dapat menghasilkan pengakuan, pengaruh, jaringan, bahkan peluang ekonomi.

Hal ini terlihat dalam budaya influencer. Abidin (2016) menunjukkan adanya visibility labour, yaitu berbagai bentuk kerja untuk mempertahankan keterlihatan dan mengubah perhatian menjadi nilai. Mengambil gambar, memilih foto, menyunting visual, menyusun caption, berinteraksi dengan pengikut, hingga memahami pola distribusi konten merupakan bagian dari kerja tersebut.

Dengan demikian, terlihat bukan lagi sekadar keadaan, tetapi dapat menjadi hasil dari sebuah proses kerja. Visualitas membawa seseorang dari sekadar hadir di ruang digital menjadi terlihat, dikenali, dan berpotensi memperoleh pengaruh.

Dari Menampilkan Diri ke Mengelola Kesan

Gen Z kini menjadikan makanan dan minuman sebagai kategori belanja utama, dengan preferensi pada produk yang menawarkan pengalaman otentik dan bisa dibagikan di media sosial. (Sumber: Freepik)
Gen Z kini menjadikan makanan dan minuman sebagai kategori belanja utama, dengan preferensi pada produk yang menawarkan pengalaman otentik dan bisa dibagikan di media sosial. (Sumber: Freepik)

Fenomena ini sebenarnya bukan sepenuhnya baru. Jauh sebelum media sosial lahir, Erving Goffman (1959) telah menjelaskan kehidupan sosial melalui metafora panggung. Manusia menampilkan dirinya kepada orang lain dan berusaha mengelola kesan yang muncul dari penampilan tersebut.

Media sosial memperluas panggung itu. Instagram, misalnya, memungkinkan seseorang memilih foto mana yang akan ditampilkan dan mana yang tidak. Kehidupan kemudian dapat dikurasi menjadi rangkaian visual yang membentuk kesan tertentu.

Kita memilih foto terbaik, sudut terbaik, pencahayaan terbaik, pakaian terbaik, bahkan momen terbaik. Tidak semua kehidupan ditampilkan. Yang muncul di layar adalah bagian kehidupan yang telah melalui proses seleksi. Maka, identitas digital bukan sekadar identitas yang “ditampilkan”, tetapi identitas yang dikurasi.

Pertanyaannya kemudian bergeser: bukan lagi sekadar siapa saya?, tetapi bagaimana saya ingin dilihat?

Ketika Visual Menjadi Tanda

Untuk memahami lebih jauh fenomena ini, pemikiran Jean Baudrillard tentang masyarakat konsumsi menjadi relevan. Baudrillard (1998) menunjukkan bahwa benda tidak hanya dikonsumsi karena kegunaan praktisnya, tetapi juga karena nilai tanda (sign-value) yang melekat padanya. Sebuah benda dapat menunjukkan status, selera, gaya hidup, identitas, dan posisi sosial seseorang.

Logika tersebut dapat ditemukan di media sosial. Foto kopi bukan hanya tentang kopi; ia dapat menjadi tanda gaya hidup. Foto perjalanan dapat menjadi tanda mobilitas atau keberhasilan. Foto buku dapat menjadi tanda intelektualitas. Foto keluarga dapat menjadi tanda keharmonisan. Dengan kata lain, yang dikonsumsi bukan hanya objek visualnya, tetapi makna yang melekat di baliknya. Media sosial kemudian menjadi ruang tempat tanda-tanda tersebut diproduksi, dipertukarkan, dan dikonsumsi.

Bermain dalam “Permainan Visibilitas”

Kelley Cotter (2019) memperlihatkan bagaimana influencer di Instagram berhadapan dengan visibility game. Mereka berusaha memahami cara kerja algoritma dan menyesuaikan strategi agar kontennya memperoleh jangkauan lebih besar. Algoritma bukan sekadar teknologi di belakang layar, tetapi menjadi bagian dari permainan sosial untuk memperoleh perhatian.

Tidak semua visual yang menarik otomatis mendapatkan perhatian. Ada mekanisme distribusi yang menentukan siapa yang lebih mungkin terlihat. Foto yang bagus perlu ditemukan, video yang menarik perlu didistribusikan, dan identitas yang kuat perlu mendapatkan jangkauan.

Maka, nilai sebuah visual tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat, tetapi juga oleh seberapa jauh ia beredar. Semakin luas sebuah visual beredar, semakin besar peluangnya memperoleh perhatian, interaksi, dan makna sosial.

Ketika Pengalaman Menjadi Makna

Namun, proses tersebut tidak selalu harus dilihat secara negatif. Kehadiran visual di media sosial tidak selalu berarti seseorang sedang menciptakan realitas yang semu. Justru dalam banyak kasus, visual yang dibagikan berangkat dari pengalaman yang benar-benar dijalani: foto keluarga dari pengalaman kebersamaan, foto perjalanan dari pengalaman bepergian, karya dari proses kreatif, dan konten keagamaan dari pengalaman spiritual.

Dengan demikian, tidak semua sign value harus dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari realitas. Nilai tanda dapat tumbuh dari pengalaman nyata ketika pengalaman tersebut divisualisasikan, dibagikan, dan memperoleh makna sosial.

Di sinilah visualitas menjadi menarik. Ia tidak hanya merepresentasikan kenyataan, tetapi juga memperluas kehidupan sosial dari kenyataan tersebut. Pengalaman personal dapat dibagikan, dilihat, diapresiasi, dan dimaknai oleh orang lain.

Karena itu, ketika kehidupan hadir sebagai konten, kita tidak selalu harus mempertentangkannya dengan keaslian. Media sosial juga dapat menjadi ruang untuk mengabadikan, merayakan, berbagi, dan menginspirasi melalui pengalaman yang memang nyata.

Pada titik inilah perhatian dan visualitas bertemu. Perhatian memberikan nilai pada keterlihatan, sementara pengalaman memberikan makna pada apa yang terlihat. Maka, tantangan di era attention economy bukan semata-mata bagaimana membuat diri terlihat, tetapi bagaimana mengisi keterlihatan tersebut dengan pengalaman, nilai, dan makna yang autentik. Sebab, yang terlihat tidak selalu semu, sebagaimana yang tidak terlihat tidak selalu lebih nyata.

Pada akhirnya, visualitas dapat dipahami bukan hanya sebagai mata uang untuk memperoleh perhatian, tetapi juga sebagai medium pertukaran makna. Ia memungkinkan pengalaman personal hadir dalam ruang sosial, memperoleh perhatian, dan membangun hubungan dengan orang lain. Dalam dunia yang semakin dipenuhi gambar, persoalannya bukan lagi apakah kita perlu terlihat, tetapi apa yang ingin kita sampaikan ketika kita terlihat. (*)

Referensi

  • Abidin, Crystal. 2016. “Visibility Labour: Engaging with Influencers’ Fashion Brands and #OOTD Advertorial Campaigns on Instagram.” Media International Australia 161 (1): 86–100.

  • Baudrillard, Jean. 1998. The Consumer Society: Myths and Structures. London: SAGE Publications.

  • Bourdieu, Pierre. 1986. “The Forms of Capital.” Dalam Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education, 241–258. New York: Greenwood.

  • Cotter, Kelley. 2019. “Playing the Visibility Game: How Digital Influencers and Algorithms Negotiate Influence on Instagram.” New Media & Society 21 (4): 895–913.

  • Davenport, Thomas H., dan John C. Beck. 2001. The Attention Economy: Understanding the New Currency of Business. Boston: Harvard Business School Press.

  • Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday.

  • Rose, Gillian. 2016. Visual Methodologies: An Introduction to Researching with Visual Materials. 4th ed. London: SAGE Publications.

  • Simon, Herbert A. 1971. “Designing Organizations for an Information-Rich World.” Dalam Computers, Communications, and the Public Interest, edited by Martin Greenberger. Baltimore: Johns Hopkins Press.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)