Hikayat Pemberontakan Tahun Baru di Chiapas, Ketika Zapatista Gemparkan Dunia

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 02 Jan 2026, 09:50 WIB
Tentara Zapatista saat bergerilya. (Sumber: La Jornada)

Tentara Zapatista saat bergerilya. (Sumber: La Jornada)

AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya datang dengan kembang api, hitung mundur, dan harapan segar. Tetapi di Chiapas, Meksiko selatan, 1 Januari 1994 justru dibuka dengan bunyi tembakan, derap sepatu gerilya, dan pengumuman perang terhadap negara. Ketika dunia internasional masih terjaga oleh pesta tahun baru dan media ekonomi sibuk merayakan berlakunya North American Free Trade Agreement atau NAFTA, ribuan orang bersenjata bangkit dari hutan dan desa, mengibarkan nama lama yang kembali dipanggil sejarah: Zapatista.

Pagi buta itu, sekitar 3.000 anggota Ejército Zapatista de Liberación Nacional atau EZLN bergerak serentak merebut enam kota dan wilayah strategis di dataran tinggi Chiapas, termasuk San Cristóbal de las Casas dan Ocosingo. Informasi ini dicatat oleh Wikipedia dalam entri tentang Zapatista Army of National Liberation. Mereka bukan tentara profesional. Senjatanya campur aduk, dari AK 47 hingga senapan tua, bahkan tongkat kayu dan parang. Namun justru pada momen pergantian tahun itulah, ketika negara dan pasar sedang bersulang, suara dari pinggiran memaksa dunia menoleh.

Pemilihan tanggal 1 Januari bukan kebetulan. Hari itu NAFTA resmi berlaku, perjanjian yang dinilai akan mempercepat liberalisasi ekonomi Meksiko dan menyingkirkan petani kecil dari tanahnya. Perjanjian ini dipandang Zapatista sebagai lonceng kematian bagi pertanian subsisten masyarakat adat Chiapas. Maka ketika kalender berganti, EZLN seolah ingin mengatakan bahwa bagi mereka, tahun baru tidak membawa harapan, melainkan ancaman.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Inspirasi nama Zapatista diambil dari Emiliano Zapata, tokoh revolusi agraria 1910 yang memperjuangkan tanah bagi kaum tani. Dengan menyematkan nama itu, EZLN menyambungkan diri pada silsilah panjang perlawanan petani Meksiko. Tetapi gerakan ini bukan muncul tiba-tiba. Akar EZLN telah ditanam sejak 1983, ketika sisa anggota Fuerzas de Liberación Nacional mendirikan kamp rahasia di Hutan Lacandon. Selama lebih dari satu dekade, mereka membangun jaringan, belajar dari komunitas adat, dan mengubah diri dari kelompok kecil gerilya menjadi gerakan sosial bersenjata dengan basis massa luas.

Peran Gereja Katolik progresif di Chiapas ikut membentuk lanskap ini. Keuskupan San Cristóbal de las Casas di bawah Uskup Samuel Ruiz mengembangkan katekis pribumi dengan semangat teologi pembebasan. Jaringan katekis inilah yang membantu mempolitisasi komunitas adat, menghubungkan penderitaan sehari-hari dengan struktur ketidakadilan yang lebih besar. Di sinilah EZLN menemukan ladang sosialnya.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama

Pagi yang Riuh di Hutan Lacandon

Ketika fajar menyingsing pada 1 Januari 1994, para Zapatista menyerbu balai kota, kantor polisi, dan penjara. Di San Cristóbal de las Casas, mereka membebaskan ratusan tahanan, sebagian besar orang pribumi. Arsip tanah dibakar sebagai simbol penolakan terhadap sistem kepemilikan yang timpang. Aksi ini mengingatkan pada tradisi lama pemberontakan petani, di mana kertas kepemilikan dianggap lebih mematikan daripada senjata.

Bersamaan dengan serangan bersenjata, EZLN merilis Deklarasi Pertama Hutan Lacandon. Dalam dokumen ini, mereka menyatakan perang terhadap pemerintah Meksiko yang dianggap gagal melindungi rakyatnya. Salah satu kalimat yang paling sering dikutip berbunyi Ya Basta, sudah cukup. Pernyataan ini, merujuk langsung pada Plan de Ayala Emiliano Zapata tahun 1911, mengikat masa lalu revolusi dengan kemarahan masa kini.

Pemerintah Meksiko merespons cepat. Pasukan dikirim, kota kota direbut kembali, dan pertempuran sengit terjadi terutama di Ocosingo. Pada hari-hari awal Januari, ratusan orang tewas dan wilayah sekitar San Cristóbal dibombardir. Dalam hitungan hari, EZLN terdesak kembali ke hutan. Secara militer, pemberontakan ini singkat. Tetapi secara politik, dampaknya jauh lebih panjang.

Yang membedakan Zapatista dari banyak gerakan gerilya Amerika Latin sebelumnya adalah cara mereka berbicara kepada dunia. Pemerintah berusaha mengendalikan informasi lewat televisi dan radio nasional. Namun jaringan solidaritas internasional menggunakan internet yang kala itu masih baru untuk menyebarkan laporan langsung dari Chiapas.

Kendati komunitas Zapatista tidak memiliki akses listrik atau telepon, kisah mereka beredar luas lewat milis dan situs web aktivis. Untuk pertama kalinya, sebuah pemberontakan lokal menemukan panggung global secara real time.

Pemberontak Zapatista menggunakan topeng muka balaclava untuk mengaburkan identitas mereka. (Sumber: La Jornada)
Pemberontak Zapatista menggunakan topeng muka balaclava untuk mengaburkan identitas mereka. (Sumber: La Jornada)

Baca Juga: Jejak Sejarah Kabupaten Bandung, Lahir 1641 karena Pemberontakan Dipati Ukur

Dari sinilah muncul sosok Subcomandante Marcos, juru bicara bertopeng dengan pipa dan bahasa penuh metafora. The New York Times, menyebut Zapatista sebagai revolusi pascamodern pertama. Marcos, seorang mestizo di tengah gerakan pribumi, menulis komunike yang mengkritik kapitalisme global dengan gaya sastra, menggabungkan dongeng, ironi, dan politik. Ia menjadi wajah yang mudah dikenali, tetapi selalu menekankan bahwa yang berbicara adalah kolektif.

Tekanan internasional dan protes domestik memaksa Presiden Carlos Salinas mengumumkan gencatan senjata pada 12 Januari 1994, menurut catatan Wikipedia tentang Zapatista uprising. Ratusan ribu orang turun ke jalan di Mexico City menentang represi militer. Pemberontakan yang dimulai pada pagi tahun baru itu telah mengguncang legitimasi negara.

Pertengahan 1990-an menjadi fase konsolidasi. EZLN, dengan Subcomandante Marcos sebagai juru bicara, menggeser medan tempur dari senjata ke bahasa. Komunike panjang, esai politis, hingga kisah alegoris tentang siput dan hutan Lacandon beredar luas, membangun jejaring solidaritas lintas benua. Di saat yang sama, Zapatista mulai mengerjakan proyek yang lebih sunyi tetapi fundamental: membangun otonomi di desa-desa adat Chiapas. Kesepakatan San Andrés 1996, yang menjanjikan pengakuan hak-hak masyarakat adat, gagal dijalankan negara. Kegagalan ini tidak mematikan gerakan, justru mendorong Zapatista menegaskan otonomi mereka secara sepihak.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Zapatista semakin menjauh dari logika pemberontakan klasik seiring waktu. Mereka mendirikan munisipalitas otonom yang setara dengan administrasi kota, mengklaim kontrol atas sekitar 55 wilayah dengan populasi ratusan ribu orang. Dari struktur ini lahir caracoles dan Junta de Buen Gobierno, sistem pemerintahan komunitas yang mengelola sekolah, klinik kesehatan, dan mekanisme keadilan sendiri. Negara Meksiko tetap hadir secara administratif, tetapi di banyak wilayah Chiapas, otoritas nyata berada di tangan komunitas Zapatista. Mereka tidak merebut kekuasaan negara, melainkan membangun ruang di luar negara.

Pengaruh politik nasional Zapatista memang menurun. Upaya menjangkau politik elektoral, seperti La Otra Campaña pada 2006, tidak menghasilkan perubahan struktural besar. Namun sejak awal Zapatista tampaknya tidak mengejar kemenangan elektoral. Eksistensi mereka lebih merupakan penyangkalan keras kepala terhadap anggapan bahwa kapitalisme neoliberal dan negara sentralistik adalah satu-satunya jalan. Otonomi dijalankan perlahan, seperti siput yang menjadi simbol caracoles.

Para pemberontak wanita Zapatista. (Sumber: libcom.org)
Para pemberontak wanita Zapatista. (Sumber: libcom.org)

Pasang surut mulai terasa dalam dekade berikutnya. Dukungan menyusut, generasi muda tak selalu mewarisi keyakinan yang sama, dan migrasi keluar wilayah otonomi meningkat karena kebutuhan kerja dan pendidikan. Kemiskinan tetap membayangi Chiapas, dengan kondisi yang tak jauh berbeda dari tiga dekade lalu. Tekanan eksternal pun bertambah berat. Kekerasan kartel narkoba yang berebut kendali jalur perbatasan Guatemala–Meksiko membawa teror baru: pemerasan, penculikan, perekrutan paksa, hingga serangan kelompok paramiliter ke komunitas Zapatista.

Dalam situasi itu, November 2023 menjadi titik balik mengejutkan. Zapatista mengumumkan pembubaran munisipalitas otonom yang mereka bangun sejak 1990-an. Banyak pengamat buru-buru menyimpulkan gerakan itu tamat. Namun pernyataan Zapatista justru berisi kritik diri. Mereka mengakui struktur lama gagal memastikan kekuasaan benar-benar berada di tangan majelis komunitas. Hierarki merayap masuk, menciptakan piramida kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi radikal mereka.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Sebagai jawaban, Zapatista membalik piramida itu. Mereka membangun Pemerintahan Otonom Lokal (GAL) di setiap komunitas, menjadikannya fondasi utama otonomi. Dari puluhan munisipalitas, struktur kini berkembang menjadi ribuan GAL. Di atasnya ada koordinasi regional dan zonal, tetapi komando utama berada di desa, bukan di pusat. Kekuasaan dikembalikan ke akar.

Warisan 1 Januari 1994 tidak berhenti di Chiapas. Pemberontakan ini menjadi salah satu perlawanan awal paling simbolik terhadap neoliberalisme global pasca runtuhnya Uni Soviet. Gerilya klandestin pada tahun baru itu kini menjadi penanda sejarah. Ketika sebagian dunia bersulang atas perdagangan bebas dan pertumbuhan ekonomi, di sudut selatan Meksiko, sekelompok masyarakat adat memilih menyambut tahun baru dengan senjata dan kata kata, memaksa dunia mendengar cerita yang lama diabaikan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 25 Feb 2026, 06:39

Makhluk Kecil Ini Ungkap Kondisi Sebenarnya Air Sungai di Teras Cikapundung

Penelitian terbaru di Teras Sungai Cikapundung menunjukkan bahwa kualitas air di hulu sungai Bandung kini berada dalam status tercemar sedang akibat limbah domestik dan aktivitas peternakan

Petugas bersama masyarakat melakukan bersih-bersih Teras Cikapundung, Kota Bandung, Kamis 16 Mei 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 24 Feb 2026, 18:47

Di Simpul Kredit dan Hunian: Transformasi Pembiayaan Perumahan dalam Lanskap Stabilitas Perbankan

Di simpul antara kebijakan makro dan kebutuhan rumah tangga, pembiayaan perumahan berdiri sebagai jembatan.

Warga beraktivitas di salah satu komplek perumahan bersubsidi di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 24 Feb 2026, 15:31

Ramadan di Masjid Lautze 2: Saling Berbagi dan Tak Pernah Bertanya Latar Belakang

Pengemis, pengemudi ojek online, pekerja harian, musafir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin mampir, duduk dalam barisan yang sama. Tak ada kursi khusus, tak ada sekat sosial.

Suasana ramadan di Masjid Lauetze 2 di Jalan Tamblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 15:01

Miskin di Ruang yang Rusak: Menggugat Politik Kemiskinan Ekologis di Indonesia

Mengkritik politik kemiskinan ekologis: warga miskin hidup di ruang rusak, sementara bansos hanya jadi solusi tambal sulam struktural.

Gundukan sampah. (Sumber: Pexels | Foto: Mumtahina Tanni)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 13:37

Ramadan yang Bukan Sekadar Fasting dalam Bahasa Inggris

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, seseorang tidak cukup hanya memahami konsep fasting.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 11:58

15 Istilah Penting Ramadan yang Mudah Dipahami WNA Nonmuslim di Indonesia

Untuk memahami Ramadan di Indonesia, memahami istilah-istilah kuncinya adalah langkah awal yang penting.

Pedagang takjil di bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Umar ben)
Beranda 24 Feb 2026, 11:52

RW 15 Tembus FYP, Bangunin Sahur Jadi Wadah Berkarya Anak Sekeloa Selatan

Tradisi bangunin sahur anak-anak muda Sekelo Selatan sudah berjalan sejak 2007. Bukan sekadar keliling kampung, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi lintas generasi yang kini viral di media sosial.

Anak-anak muda Sekeloa Selatan pelaku tradisi bangunin sahur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 24 Feb 2026, 08:09

Puasa Perisai Konsumtif

Jangan sampai nilai-nilai Ramadan ini tereduksi menjadi sekadar simbol dan rutinitas di tengah derasnya arus budaya konsumtif.

Pengunjung belanja pada Gelar Produk Pasar Tani di Bale Asri Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa 18 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 20:20

Reforma Agraria di Punclut: Negara Hadir atau Abai?

Di lereng yang menjadi bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) itu, warga telah puluhan tahun menggarap lahan ex-erfpacht verponding.

Pertemuan warga Punclut (Foto: Dokumen Mang Aqli)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 16:20

Kumpulan Kata yang Mendadak Ramai Diucap Pas Ramadan

Berikut kumpulan kata khas Ramadan yang sering digunakan beserta maknanya.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Bandung 23 Feb 2026, 15:25

Strategi Bertahan Gado Gado Gerobakan Cibadak Menembus Batas Zaman dan Pandemi

Merintis bisnis bukanlah wacana yang mudah. Perencanaan yang matang hingga eksekusi bisnis sampai di tahap mempunyai pelanggan setia, bukanlah proses yang mudah.

Kuliner tradisional yakni gado-gado gerobakan di kawasan Cibadak milik Efendi Wahyudin. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 14:18

Di Balik Kumpulan Kata Khas Ramadan, Memahami Bahasa dan Makna Sosial

Memahami istilah-istilah khas Ramadan berarti memahami bagaimana bahasa berfungsi sebagai medium pengalaman kolektif.

Seorang anak sedang mengaji. (Sumber: Pixabay | Foto: Joko_Narimo)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 12:13

Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Di Bulan Suci ini, bahasa menjaga puasa kita tetap tuntas dengan baik.

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ayo Netizen 23 Feb 2026, 09:07

Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Yang membuat Pasar Takjil menarik, di antaranya adalah suasananya yang meriah dan penuh kejutan.

Pasar Takjil dadakan di Jalan Gading Tutuka, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 18:04

Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Kisah Es Cendol Elizabeth berawal dari cerita Haji Rohman pada 1972 yang ditinggal pergi ayahnya.

Es Cendol Elizabeth. (Sumber: Instagram @escendolelizabethofficial)
Bandung 22 Feb 2026, 15:08

Manisnya Berkah Ramadan di Jalan Cibadak, Kisah Pak Heri Merawat Tradisi Es Goyobod di Tengah Gempuran Zaman

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini.

Eksistensi pedagang Es Goyobod di kota kembang membuktikan bagaimana peran kuliner tradisional tetap hidup di zaman yang terus berkembang dan tak terbatas ini. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 15:02

Ngabuburead: Menemukan Ketenangan di Tengah Riuh Ramadan Jawa Barat

Inilah tren 'Ngabuburead', cara baru menepi lewat konten digital yang lebih intim dan berisi.

Media digital. (Sumber: Unsplash | Foto: @felirbe)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 11:43

Lembang Tempo Dulu

Dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 22 Feb 2026, 09:36

Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Denyut pers Sunda sebenarnya telah terdengar sejak akhir abad ke-19 melalui penerbitan seperti Sunda Almanak (1894) dan Panemu Guru (1906).

Wajah baru Majalah Mangle dalam manajemen Pusat Budaya Sunda Unpad. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 22 Feb 2026, 07:10

Tak Ada yang Berbuka Sendirian: Cerita Ramadan, Relawan, dan Sampah yang Dipilah di Salman ITB

Saat azan Magrib mendekat, halaman sekitar Masjid Salman ITB dipenuhi aroma makanan berbuka yang tertata rapi di atas meja-meja panjang

Masjid Salman ITB menyiapkan sekitar 800 porsi berbuka setiap hari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)