Hikayat Pemberontakan Tahun Baru di Chiapas, Ketika Zapatista Gemparkan Dunia

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Tentara Zapatista saat bergerilya. (Sumber: La Jornada)
Tentara Zapatista saat bergerilya. (Sumber: La Jornada)

AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya datang dengan kembang api, hitung mundur, dan harapan segar. Tetapi di Chiapas, Meksiko selatan, 1 Januari 1994 justru dibuka dengan bunyi tembakan, derap sepatu gerilya, dan pengumuman perang terhadap negara. Ketika dunia internasional masih terjaga oleh pesta tahun baru dan media ekonomi sibuk merayakan berlakunya North American Free Trade Agreement atau NAFTA, ribuan orang bersenjata bangkit dari hutan dan desa, mengibarkan nama lama yang kembali dipanggil sejarah: Zapatista.

Pagi buta itu, sekitar 3.000 anggota Ejército Zapatista de Liberación Nacional atau EZLN bergerak serentak merebut enam kota dan wilayah strategis di dataran tinggi Chiapas, termasuk San Cristóbal de las Casas dan Ocosingo. Informasi ini dicatat oleh Wikipedia dalam entri tentang Zapatista Army of National Liberation. Mereka bukan tentara profesional. Senjatanya campur aduk, dari AK 47 hingga senapan tua, bahkan tongkat kayu dan parang. Namun justru pada momen pergantian tahun itulah, ketika negara dan pasar sedang bersulang, suara dari pinggiran memaksa dunia menoleh.

Pemilihan tanggal 1 Januari bukan kebetulan. Hari itu NAFTA resmi berlaku, perjanjian yang dinilai akan mempercepat liberalisasi ekonomi Meksiko dan menyingkirkan petani kecil dari tanahnya. Perjanjian ini dipandang Zapatista sebagai lonceng kematian bagi pertanian subsisten masyarakat adat Chiapas. Maka ketika kalender berganti, EZLN seolah ingin mengatakan bahwa bagi mereka, tahun baru tidak membawa harapan, melainkan ancaman.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Inspirasi nama Zapatista diambil dari Emiliano Zapata, tokoh revolusi agraria 1910 yang memperjuangkan tanah bagi kaum tani. Dengan menyematkan nama itu, EZLN menyambungkan diri pada silsilah panjang perlawanan petani Meksiko. Tetapi gerakan ini bukan muncul tiba-tiba. Akar EZLN telah ditanam sejak 1983, ketika sisa anggota Fuerzas de Liberación Nacional mendirikan kamp rahasia di Hutan Lacandon. Selama lebih dari satu dekade, mereka membangun jaringan, belajar dari komunitas adat, dan mengubah diri dari kelompok kecil gerilya menjadi gerakan sosial bersenjata dengan basis massa luas.

Peran Gereja Katolik progresif di Chiapas ikut membentuk lanskap ini. Keuskupan San Cristóbal de las Casas di bawah Uskup Samuel Ruiz mengembangkan katekis pribumi dengan semangat teologi pembebasan. Jaringan katekis inilah yang membantu mempolitisasi komunitas adat, menghubungkan penderitaan sehari-hari dengan struktur ketidakadilan yang lebih besar. Di sinilah EZLN menemukan ladang sosialnya.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama

Pagi yang Riuh di Hutan Lacandon

Ketika fajar menyingsing pada 1 Januari 1994, para Zapatista menyerbu balai kota, kantor polisi, dan penjara. Di San Cristóbal de las Casas, mereka membebaskan ratusan tahanan, sebagian besar orang pribumi. Arsip tanah dibakar sebagai simbol penolakan terhadap sistem kepemilikan yang timpang. Aksi ini mengingatkan pada tradisi lama pemberontakan petani, di mana kertas kepemilikan dianggap lebih mematikan daripada senjata.

Bersamaan dengan serangan bersenjata, EZLN merilis Deklarasi Pertama Hutan Lacandon. Dalam dokumen ini, mereka menyatakan perang terhadap pemerintah Meksiko yang dianggap gagal melindungi rakyatnya. Salah satu kalimat yang paling sering dikutip berbunyi Ya Basta, sudah cukup. Pernyataan ini, merujuk langsung pada Plan de Ayala Emiliano Zapata tahun 1911, mengikat masa lalu revolusi dengan kemarahan masa kini.

Pemerintah Meksiko merespons cepat. Pasukan dikirim, kota kota direbut kembali, dan pertempuran sengit terjadi terutama di Ocosingo. Pada hari-hari awal Januari, ratusan orang tewas dan wilayah sekitar San Cristóbal dibombardir. Dalam hitungan hari, EZLN terdesak kembali ke hutan. Secara militer, pemberontakan ini singkat. Tetapi secara politik, dampaknya jauh lebih panjang.

Yang membedakan Zapatista dari banyak gerakan gerilya Amerika Latin sebelumnya adalah cara mereka berbicara kepada dunia. Pemerintah berusaha mengendalikan informasi lewat televisi dan radio nasional. Namun jaringan solidaritas internasional menggunakan internet yang kala itu masih baru untuk menyebarkan laporan langsung dari Chiapas.

Kendati komunitas Zapatista tidak memiliki akses listrik atau telepon, kisah mereka beredar luas lewat milis dan situs web aktivis. Untuk pertama kalinya, sebuah pemberontakan lokal menemukan panggung global secara real time.

Pemberontak Zapatista menggunakan topeng muka balaclava untuk mengaburkan identitas mereka. (Sumber: La Jornada)
Pemberontak Zapatista menggunakan topeng muka balaclava untuk mengaburkan identitas mereka. (Sumber: La Jornada)

Baca Juga: Jejak Sejarah Kabupaten Bandung, Lahir 1641 karena Pemberontakan Dipati Ukur

Dari sinilah muncul sosok Subcomandante Marcos, juru bicara bertopeng dengan pipa dan bahasa penuh metafora. The New York Times, menyebut Zapatista sebagai revolusi pascamodern pertama. Marcos, seorang mestizo di tengah gerakan pribumi, menulis komunike yang mengkritik kapitalisme global dengan gaya sastra, menggabungkan dongeng, ironi, dan politik. Ia menjadi wajah yang mudah dikenali, tetapi selalu menekankan bahwa yang berbicara adalah kolektif.

Tekanan internasional dan protes domestik memaksa Presiden Carlos Salinas mengumumkan gencatan senjata pada 12 Januari 1994, menurut catatan Wikipedia tentang Zapatista uprising. Ratusan ribu orang turun ke jalan di Mexico City menentang represi militer. Pemberontakan yang dimulai pada pagi tahun baru itu telah mengguncang legitimasi negara.

Pertengahan 1990-an menjadi fase konsolidasi. EZLN, dengan Subcomandante Marcos sebagai juru bicara, menggeser medan tempur dari senjata ke bahasa. Komunike panjang, esai politis, hingga kisah alegoris tentang siput dan hutan Lacandon beredar luas, membangun jejaring solidaritas lintas benua. Di saat yang sama, Zapatista mulai mengerjakan proyek yang lebih sunyi tetapi fundamental: membangun otonomi di desa-desa adat Chiapas. Kesepakatan San Andrés 1996, yang menjanjikan pengakuan hak-hak masyarakat adat, gagal dijalankan negara. Kegagalan ini tidak mematikan gerakan, justru mendorong Zapatista menegaskan otonomi mereka secara sepihak.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Zapatista semakin menjauh dari logika pemberontakan klasik seiring waktu. Mereka mendirikan munisipalitas otonom yang setara dengan administrasi kota, mengklaim kontrol atas sekitar 55 wilayah dengan populasi ratusan ribu orang. Dari struktur ini lahir caracoles dan Junta de Buen Gobierno, sistem pemerintahan komunitas yang mengelola sekolah, klinik kesehatan, dan mekanisme keadilan sendiri. Negara Meksiko tetap hadir secara administratif, tetapi di banyak wilayah Chiapas, otoritas nyata berada di tangan komunitas Zapatista. Mereka tidak merebut kekuasaan negara, melainkan membangun ruang di luar negara.

Pengaruh politik nasional Zapatista memang menurun. Upaya menjangkau politik elektoral, seperti La Otra Campaña pada 2006, tidak menghasilkan perubahan struktural besar. Namun sejak awal Zapatista tampaknya tidak mengejar kemenangan elektoral. Eksistensi mereka lebih merupakan penyangkalan keras kepala terhadap anggapan bahwa kapitalisme neoliberal dan negara sentralistik adalah satu-satunya jalan. Otonomi dijalankan perlahan, seperti siput yang menjadi simbol caracoles.

Para pemberontak wanita Zapatista. (Sumber: libcom.org)
Para pemberontak wanita Zapatista. (Sumber: libcom.org)

Pasang surut mulai terasa dalam dekade berikutnya. Dukungan menyusut, generasi muda tak selalu mewarisi keyakinan yang sama, dan migrasi keluar wilayah otonomi meningkat karena kebutuhan kerja dan pendidikan. Kemiskinan tetap membayangi Chiapas, dengan kondisi yang tak jauh berbeda dari tiga dekade lalu. Tekanan eksternal pun bertambah berat. Kekerasan kartel narkoba yang berebut kendali jalur perbatasan Guatemala–Meksiko membawa teror baru: pemerasan, penculikan, perekrutan paksa, hingga serangan kelompok paramiliter ke komunitas Zapatista.

Dalam situasi itu, November 2023 menjadi titik balik mengejutkan. Zapatista mengumumkan pembubaran munisipalitas otonom yang mereka bangun sejak 1990-an. Banyak pengamat buru-buru menyimpulkan gerakan itu tamat. Namun pernyataan Zapatista justru berisi kritik diri. Mereka mengakui struktur lama gagal memastikan kekuasaan benar-benar berada di tangan majelis komunitas. Hierarki merayap masuk, menciptakan piramida kekuasaan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi radikal mereka.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Sebagai jawaban, Zapatista membalik piramida itu. Mereka membangun Pemerintahan Otonom Lokal (GAL) di setiap komunitas, menjadikannya fondasi utama otonomi. Dari puluhan munisipalitas, struktur kini berkembang menjadi ribuan GAL. Di atasnya ada koordinasi regional dan zonal, tetapi komando utama berada di desa, bukan di pusat. Kekuasaan dikembalikan ke akar.

Warisan 1 Januari 1994 tidak berhenti di Chiapas. Pemberontakan ini menjadi salah satu perlawanan awal paling simbolik terhadap neoliberalisme global pasca runtuhnya Uni Soviet. Gerilya klandestin pada tahun baru itu kini menjadi penanda sejarah. Ketika sebagian dunia bersulang atas perdagangan bebas dan pertumbuhan ekonomi, di sudut selatan Meksiko, sekelompok masyarakat adat memilih menyambut tahun baru dengan senjata dan kata kata, memaksa dunia mendengar cerita yang lama diabaikan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)