Hikayat Revolusi Kuba, Kaburnya Diktator Sekutu AS di Fajar Tahun Baru

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 05 Jan 2026, 17:59 WIB
Karavan Castro di Havana 8 Januari 1959. (Sumber: themilitant.com)

Karavan Castro di Havana 8 Januari 1959. (Sumber: themilitant.com)

AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya datang dengan denting gelas, musik dansa, dan lampu pesta. Di Kuba, 1 Januari 1959 justru dibuka dengan kabar pelarian seorang presiden, jalanan penuh manusia bersorak, dan satu rezim yang runtuh sebelum matahari naik sempurna. Revolusi Kuba menang bukan di tengah parade militer, melainkan di pagi tahun baru, ketika kekuasaan Fulgencio Batista menguap dalam hitungan jam.

Kisah ini tidak bermula dari kembang api, melainkan dari ketimpangan. Pada dekade 1940-an hingga awal 1950-an, Kuba tampak makmur dari kejauhan. Statistik ekonomi menunjukkan pendapatan per kapita yang relatif tinggi untuk ukuran Amerika Latin. Namun angka-angka itu menutupi kenyataan di pedesaan. Laporan Bank Dunia dan kajian sejarawan seperti Hugh Thomas dalam Cuba: The Pursuit of Freedom mencatat bahwa sebagian besar tanah subur dikuasai segelintir elite dan perusahaan Amerika Serikat, sementara petani hidup tanpa kepastian dan buruh kota bekerja dalam upah rendah.

Fulgencio Batista kembali berkuasa lewat kudeta 1952, menggagalkan pemilu dan membangun pemerintahan yang bergantung pada militer, polisi rahasia, serta sokongan bisnis Amerika. Havana berubah menjadi kota kasino dan klub malam. Mafia Amerika mengelola perjudian, sementara korupsi mengalir hingga ke kantor-kantor negara. Sejarawan Louis A. Perez Jr dalam Cuba: Between Reform and Revolution menyebut rezim Batista sebagai pemerintahan yang kehilangan legitimasi jauh sebelum ia kehilangan senjata.

Baca Juga: Sejarah Septic Tank, Revolusi Tinja yang Berawal dari Pedesaan Prancis

Perlawanan terbuka terhadap rezim Batista dimulai pada 26 Juli 1953. Fidel Castro, pengacara muda dari keluarga berada, memimpin serangan ke Barak Moncada di Santiago de Cuba. Aksi ini gagal secara militer, tetapi justru melahirkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi Batista: sebuah mitos perlawanan.

Fidel Castro, menjadi wajah kegagalan itu. Banyak rekannya tewas atau dieksekusi setelah ditangkap. Fidel sendiri diadili dan menyampaikan pidato pembelaan yang kemudian dikenang dengan kalimat pamungkasnya, “La historia me absolverá.” Artinya: sejarah akan membebaskanku.

Pidato itu, sebagaimana dicatat dalam arsip pengadilan dan buku Tad Szulc, Fidel: A Critical Portrait, menjadi teks awal revolusi, meski sang pembicara langsung dijebloskan ke penjara.

Dari balik ruang sidang itulah Revolusi Kuba sebenarnya dimulai. Ia hadir bukan sebagai kemenangan senjata, melainkan sebagai narasi moral tentang tirani, ketimpangan, dan pengkhianatan republik.

Pemenjaraan Castro mendapat reaksi negatif di Kuba. Setelah tekanan publik, Batista memberi amnesti pada 1955. Fidel Castro bebas dan segera pergi ke Meksiko. Di sanalah ia merakit ulang gerakan yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 26 Juli (Movimiento 26 de Julio).

Di pengasingan ini pula Fidel bertemu Ernesto “Che” Guevara, seorang dokter Argentina yang membawa pandangan revolusioner internasional dan etos disiplin gerilya yang keras. Persiapan dilakukan dengan serba terbatas, tetapi keyakinan mereka nyaris tanpa batas.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama

Pada Desember 1956, kapal kecil bernama Granma berlayar dari Meksiko menuju Kuba, membawa 82 orang yang berambisi menjatuhkan sebuah rezim. Di kapal Granma yang sempit dan kelebihan muatan itu berkumpul tokoh-tokoh yang kelak menjadi poros Revolusi Kuba.

Fidel Castro adalah pusat gravitasi rombongan, penggagas sekaligus pemimpin politik yang menyatukan kemarahan moral terhadap Batista dengan keyakinan bahwa perubahan hanya bisa dipaksakan lewat senjata. Di sisinya ada Raúl Castro, adik sekaligus organisator yang kelak memainkan peran penting dalam konsolidasi militer dan struktur kekuasaan revolusioner. Camilo Cienfuegos hadir sebagai figur karismatik dari kalangan rakyat, prajurit lapangan yang dicintai pasukan karena keberanian dan kedekatannya dengan orang kecil.

Lalu, Juan Almeida Bosque membawa representasi penting: revolusi ini juga milik warga kulit hitam Kuba yang selama puluhan tahun terpinggirkan. Di antara mereka, ada juga Che Guevara yang masih dianggap pendatang dalam revolusi Kuba.

Sayangnya, pendaratan Granma di Alegría de Pío pada Desember 1956 itu nyaris berakhir sebagai catatan kaki sejarah. Dari lebih dari 80 orang, hanya sekitar 20 yang selamat dan berhasil mencapai Pegunungan Sierra Maestra. Namun dari sisa kecil inilah revolusi tumbuh.

Tapi, justru dari kehancuran inilah strategi gerilya mereka yang efektif mulai terbentuk. Para pemberontak menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengalahkan tentara Batista dalam pertempuran konvensional. Sebaliknya, mereka mengadopsi prinsip-prinsip perang gerilya yang diartikulasikan Mao Zedong dan menyesuaikannya dengan kondisi Kuba.

Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung

Di Sierra Maestra, para pemberontak menemukan sekutu alami mereka: petani miskin yang telah lama tertindas. Berbeda dengan tentara Batista yang sering merampas makanan, memperlakukan penduduk dengan kasar, dan bahkan membunuh warga sipil yang dicurigai membantu pemberontak, Castro menetapkan disiplin ketat bagi pasukannya.

Para gerilya dilarang mengambil apa pun dari petani tanpa membayar. Mereka membantu penduduk dalam pekerjaan pertanian, mendirikan sekolah-sekolah kecil untuk mengajar anak-anak yang buta huruf, dan bahkan membentuk klinik kesehatan sederhana di mana Che Guevara, dengan latar belakang sebagai dokter, sering merawat penduduk lokal.

Che kelak akan muncul sebagai salah satu komandan paling efektif dan ideologis dari gerakan tersebut. Berbeda dengan banyak pejuang Kuba yang termotivasi terutama oleh nasionalisme dan kebencian terhadap Batista, Che membawa perspektif internasionalis dan Marxis yang lebih jelas.

Dengan segala rupa aral melintang dan keterbatasan kondisi, Gerakan 26 Juli berhasil membangun basis sosial yang kokoh Sierra Maestra.

Gerakan 26 Juli di pegunungan Sierra Maestra. (Sumber: Wikimedia)
Gerakan 26 Juli di pegunungan Sierra Maestra. (Sumber: Wikimedia)

Serangan-serangan awal gerakan ini di Sierra Maestra tidak pernah dimaksudkan sebagai pertunjukan kekuatan. Mereka terlalu sedikit dan terlalu miskin persenjataan untuk berpikir tentang kemenangan besar.

Pada Januari 1957, mereka menyerang pos militer kecil di La Plata. Pos itu terpencil dan nyaris terlupakan, dijaga belasan tentara yang tak sepenuhnya memahami mengapa mereka ditempatkan di pegunungan yang lembab dan sunyi. Pertempuran berlangsung singkat dan tidak menentukan dalam peta militer nasional. Namun bagi para gerilyawan, kemenangan kecil itu sangat berarti. Mereka membuktikan bahwa kelompok yang nyaris hancur setelah pendaratan Granma masih mampu melakukan serangan ofensif.

Dari La Plata, pola perang mereka mulai mengeras. Mereka menyerang pos-pos terisolasi, mengambil persenjataan, lalu menghilang ke dalam hutan sebelum bala bantuan tiba. Setiap keberhasilan kecil bukan hanya menambah persenjataan, tetapi juga menggerus kepercayaan diri musuh dan membangun reputasi di mata penduduk setempat.

Dalam fase gerilya inilah Che mulai tampil menonjol. Tubuhnya kerap dilumpuhkan serangan asma, terutama di udara pegunungan yang dingin dan lembab. Namun ia menolak menyingkir ke belakang. Dalam banyak kesaksian, Che justru berada di barisan depan dalam misi-misi paling berisiko.

Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Tahun Baru di Chiapas, Ketika Zapatista Gemparkan Dunia

Keberaniannya dipadukan dengan disiplin yang keras. Ia tidak memberi ruang bagi kepanikan atau pelanggaran etika. Penjarahan dihukum, kelengahan dicatat. Ia ingin pasukannya berbeda dari tentara Batista, bukan hanya dalam tujuan, tetapi juga dalam cara bertindak.

Pada Februari 1957, revolusi kecil di pegunungan itu tiba-tiba mendapat sorotan dunia. Herbert Matthews dari New York Times berhasil mewawancarai Fidel Castro di Sierra Maestra. Artikel itu mengguncang propaganda Batista yang selama berbulan-bulan mengklaim Castro telah tewas. Kini dunia membaca bahwa pemimpin pemberontak itu masih hidup, memimpin, dan percaya diri.

Fidel Castro dan Che Guevara. (Sumber: Flickr)
Fidel Castro dan Che Guevara. (Sumber: Flickr)

Che hadir di sekitar peristiwa itu, sosok dokter Argentina yang memilih mengangkat senjata. Kehadirannya memberi dimensi internasional pada revolusi yang sebelumnya tampak lokal.

Sepanjang 1957, pasukan gerilya bertumbuh. Dari belasan orang menjadi ratusan. Mereka mulai mengatur wilayah yang mereka kuasai, membuka sekolah darurat bagi petani buta huruf, mendirikan bengkel senjata, dan menyiarkan Radio Rebelde untuk menandingi propaganda resmi. Sierra Maestra tidak lagi sekadar tempat persembunyian, tetapi ruang eksperimen pemerintahan revolusioner.

Pada Juli 1957, Che dipromosikan menjadi Komandan. Ia memimpin kolomnya sendiri.

Lalu meletuslah Pertempuran El Uvero pada Mei 1957 menjadi tonggak penting dalam Revolusi Kuba. Pos militer yang dijaga ketat itu jatuh setelah pertempuran berjam-jam. Kemenangan ini membuktikan bahwa gerilyawan kini mampu menyerang target yang lebih besar dan terfortifikasi.

Batista lantas membalas dengan Operación Verano pada 1958 dengan mengirim ribuan tentara ke pegunungan, namun hasilnya justru menjadi simalakama buat penguasa. Tentara pemerintah terjebak medan yang tidak mereka kuasai, sementara gerilyawan bertahan dan bahkan menguat.

Kegagalan ofensif besar itu membuka jalan menuju tahap akhir revolusi.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Kaburnya Batista di Tahun Baru 1959

Tahun 1958 menjadi titik balik. Moral pasukan Batista runtuh setelah serangan besar-besaran tentara pemerintah gagal menghancurkan gerilyawan. Data yang muncul menunjukkan angka desersi yang meningkat tajam. Di sisi lain, kolom-kolom revolusioner bergerak ke barat. Che Guevara memimpin satu kolom penting yang menembus wilayah tengah Kuba.

Pertempuran Santa Clara pada akhir Desember 1958 menjadi penentu. Kota ini adalah simpul transportasi vital. Che dan pasukannya berhasil menggulingkan kereta lapis baja pemerintah yang membawa senjata dan tentara. Dalam memoarnya Pasajes de la Guerra Revolucionaria, Che mencatat bahwa jatuhnya Santa Clara memutus napas terakhir rezim Batista. Setelah itu, peta kekuasaan Kuba berubah hanya dalam hitungan hari.

Di Havana, Batista berpesta. Malam 31 Desember 1958 diwarnai jamuan tahun baru di istana presiden. Namun pesta itu adalah tirai terakhir. Menurut laporan jurnalis Tad Szulc dan arsip Departemen Luar Negeri AS yang kemudian dibuka, Batista telah menyiapkan pelarian. Beberapa jam setelah pergantian tahun, ia bersama keluarga dan kroninya terbang meninggalkan Kuba menuju Republik Dominika. Uang tunai, emas, dan dokumen dibawa serta.

Pagi 1 Januari 1959, radio-radio menyiarkan kabar yang cepat menyebar dari mulut ke mulut. Presiden pergi. Tentara bingung. Polisi kehilangan komando. Di jalanan Havana, orang-orang keluar rumah, berteriak, bernyanyi, dan saling berpelukan. Kasino ditutup paksa, simbol-simbol rezim dirusak. Sejarawan mencatat hari itu sebagai kemenangan tanpa pertempuran besar di ibu kota.

Fidel Castro berada di Santiago de Cuba ketika kabar itu tiba. Ia mengumumkan kemenangan revolusi dan menolak pembentukan junta militer. Dalam pidato singkatnya yang dicatat oleh kantor berita Prensa Latina, ia menyerukan disiplin dan kewaspadaan. “Revolusi baru saja dimulai,” katanya, sebuah kalimat pendek yang kemudian dikutip di banyak buku sejarah.

Perjalanan Castro menuju Havana menjadi arak-arakan panjang. Dari Santiago ke ibu kota, konvoi revolusioner disambut di setiap kota. Foto-foto yang kini tersimpan di arsip nasional Kuba memperlihatkan lautan manusia di jalan-jalan. Ini bukan parade resmi, melainkan luapan euforia rakyat yang merasa satu bab sejarah ditutup.

Di Havana, kekosongan kekuasaan diisi oleh pemogokan umum yang melumpuhkan sisa aparat Batista. Upaya perwira tinggi membentuk pemerintahan sementara gagal total. Ketika Castro tiba pada 8 Januari 1959, lebih dari satu juta orang memenuhi jalan, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Hugh Thomas. Di Camp Columbia, bekas markas tentara Batista, ia berpidato di hadapan massa. Seekor merpati putih hinggap di bahunya, sebuah peristiwa kecil yang segera menjadi simbol besar dalam ikonografi revolusi.

Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II

Hari-hari pertama 1959 bergerak cepat. Pengadilan revolusioner dibentuk untuk mengadili aparat rezim lama. Reforma agraria diumumkan. Nasionalisasi industri menyusul. Dalam hitungan bulan, hubungan dengan Amerika Serikat memburuk, seperti dicatat dalam arsip diplomatik dan kajian Louis A. Perez Jr. Kuba bergerak ke orbit Uni Soviet, menjadikan kemenangan tahun baru itu sebagai awal bab Perang Dingin di Karibia.

Revolusi Kuba menang di tahun baru bukan karena kebetulan kalender, tetapi karena akumulasi panjang ketidakadilan, perlawanan, dan runtuhnya legitimasi. Pagi 1 Januari 1959 hanyalah momen ketika semua itu akhirnya bertemu.

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)