AYOBANDUNG.ID - Tahun baru biasanya datang dengan denting gelas, musik dansa, dan lampu pesta. Di Kuba, 1 Januari 1959 justru dibuka dengan kabar pelarian seorang presiden, jalanan penuh manusia bersorak, dan satu rezim yang runtuh sebelum matahari naik sempurna. Revolusi Kuba menang bukan di tengah parade militer, melainkan di pagi tahun baru, ketika kekuasaan Fulgencio Batista menguap dalam hitungan jam.
Kisah ini tidak bermula dari kembang api, melainkan dari ketimpangan. Pada dekade 1940-an hingga awal 1950-an, Kuba tampak makmur dari kejauhan. Statistik ekonomi menunjukkan pendapatan per kapita yang relatif tinggi untuk ukuran Amerika Latin. Namun angka-angka itu menutupi kenyataan di pedesaan. Laporan Bank Dunia dan kajian sejarawan seperti Hugh Thomas dalam Cuba: The Pursuit of Freedom mencatat bahwa sebagian besar tanah subur dikuasai segelintir elite dan perusahaan Amerika Serikat, sementara petani hidup tanpa kepastian dan buruh kota bekerja dalam upah rendah.
Fulgencio Batista kembali berkuasa lewat kudeta 1952, menggagalkan pemilu dan membangun pemerintahan yang bergantung pada militer, polisi rahasia, serta sokongan bisnis Amerika. Havana berubah menjadi kota kasino dan klub malam. Mafia Amerika mengelola perjudian, sementara korupsi mengalir hingga ke kantor-kantor negara. Sejarawan Louis A. Perez Jr dalam Cuba: Between Reform and Revolution menyebut rezim Batista sebagai pemerintahan yang kehilangan legitimasi jauh sebelum ia kehilangan senjata.
Baca Juga: Sejarah Septic Tank, Revolusi Tinja yang Berawal dari Pedesaan Prancis
Perlawanan terbuka terhadap rezim Batista dimulai pada 26 Juli 1953. Fidel Castro, pengacara muda dari keluarga berada, memimpin serangan ke Barak Moncada di Santiago de Cuba. Aksi ini gagal secara militer, tetapi justru melahirkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi Batista: sebuah mitos perlawanan.
Fidel Castro, menjadi wajah kegagalan itu. Banyak rekannya tewas atau dieksekusi setelah ditangkap. Fidel sendiri diadili dan menyampaikan pidato pembelaan yang kemudian dikenang dengan kalimat pamungkasnya, “La historia me absolverá.” Artinya: sejarah akan membebaskanku.
Pidato itu, sebagaimana dicatat dalam arsip pengadilan dan buku Tad Szulc, Fidel: A Critical Portrait, menjadi teks awal revolusi, meski sang pembicara langsung dijebloskan ke penjara.
Dari balik ruang sidang itulah Revolusi Kuba sebenarnya dimulai. Ia hadir bukan sebagai kemenangan senjata, melainkan sebagai narasi moral tentang tirani, ketimpangan, dan pengkhianatan republik.
Pemenjaraan Castro mendapat reaksi negatif di Kuba. Setelah tekanan publik, Batista memberi amnesti pada 1955. Fidel Castro bebas dan segera pergi ke Meksiko. Di sanalah ia merakit ulang gerakan yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 26 Juli (Movimiento 26 de Julio).
Di pengasingan ini pula Fidel bertemu Ernesto “Che” Guevara, seorang dokter Argentina yang membawa pandangan revolusioner internasional dan etos disiplin gerilya yang keras. Persiapan dilakukan dengan serba terbatas, tetapi keyakinan mereka nyaris tanpa batas.
Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Bayano, Budak Legendaris Spanyol yang jadi Raja Hitam di Hutan Panama
Pada Desember 1956, kapal kecil bernama Granma berlayar dari Meksiko menuju Kuba, membawa 82 orang yang berambisi menjatuhkan sebuah rezim. Di kapal Granma yang sempit dan kelebihan muatan itu berkumpul tokoh-tokoh yang kelak menjadi poros Revolusi Kuba.
Fidel Castro adalah pusat gravitasi rombongan, penggagas sekaligus pemimpin politik yang menyatukan kemarahan moral terhadap Batista dengan keyakinan bahwa perubahan hanya bisa dipaksakan lewat senjata. Di sisinya ada Raúl Castro, adik sekaligus organisator yang kelak memainkan peran penting dalam konsolidasi militer dan struktur kekuasaan revolusioner. Camilo Cienfuegos hadir sebagai figur karismatik dari kalangan rakyat, prajurit lapangan yang dicintai pasukan karena keberanian dan kedekatannya dengan orang kecil.
Lalu, Juan Almeida Bosque membawa representasi penting: revolusi ini juga milik warga kulit hitam Kuba yang selama puluhan tahun terpinggirkan. Di antara mereka, ada juga Che Guevara yang masih dianggap pendatang dalam revolusi Kuba.
Sayangnya, pendaratan Granma di Alegría de Pío pada Desember 1956 itu nyaris berakhir sebagai catatan kaki sejarah. Dari lebih dari 80 orang, hanya sekitar 20 yang selamat dan berhasil mencapai Pegunungan Sierra Maestra. Namun dari sisa kecil inilah revolusi tumbuh.
Tapi, justru dari kehancuran inilah strategi gerilya mereka yang efektif mulai terbentuk. Para pemberontak menyadari bahwa mereka tidak mungkin mengalahkan tentara Batista dalam pertempuran konvensional. Sebaliknya, mereka mengadopsi prinsip-prinsip perang gerilya yang diartikulasikan Mao Zedong dan menyesuaikannya dengan kondisi Kuba.
Baca Juga: Tahun Baru Seabad Lalu, 50 Rapat Komunis Gemparkan Bandung
Di Sierra Maestra, para pemberontak menemukan sekutu alami mereka: petani miskin yang telah lama tertindas. Berbeda dengan tentara Batista yang sering merampas makanan, memperlakukan penduduk dengan kasar, dan bahkan membunuh warga sipil yang dicurigai membantu pemberontak, Castro menetapkan disiplin ketat bagi pasukannya.
Para gerilya dilarang mengambil apa pun dari petani tanpa membayar. Mereka membantu penduduk dalam pekerjaan pertanian, mendirikan sekolah-sekolah kecil untuk mengajar anak-anak yang buta huruf, dan bahkan membentuk klinik kesehatan sederhana di mana Che Guevara, dengan latar belakang sebagai dokter, sering merawat penduduk lokal.
Che kelak akan muncul sebagai salah satu komandan paling efektif dan ideologis dari gerakan tersebut. Berbeda dengan banyak pejuang Kuba yang termotivasi terutama oleh nasionalisme dan kebencian terhadap Batista, Che membawa perspektif internasionalis dan Marxis yang lebih jelas.
Dengan segala rupa aral melintang dan keterbatasan kondisi, Gerakan 26 Juli berhasil membangun basis sosial yang kokoh Sierra Maestra.

Serangan-serangan awal gerakan ini di Sierra Maestra tidak pernah dimaksudkan sebagai pertunjukan kekuatan. Mereka terlalu sedikit dan terlalu miskin persenjataan untuk berpikir tentang kemenangan besar.
Pada Januari 1957, mereka menyerang pos militer kecil di La Plata. Pos itu terpencil dan nyaris terlupakan, dijaga belasan tentara yang tak sepenuhnya memahami mengapa mereka ditempatkan di pegunungan yang lembab dan sunyi. Pertempuran berlangsung singkat dan tidak menentukan dalam peta militer nasional. Namun bagi para gerilyawan, kemenangan kecil itu sangat berarti. Mereka membuktikan bahwa kelompok yang nyaris hancur setelah pendaratan Granma masih mampu melakukan serangan ofensif.
Dari La Plata, pola perang mereka mulai mengeras. Mereka menyerang pos-pos terisolasi, mengambil persenjataan, lalu menghilang ke dalam hutan sebelum bala bantuan tiba. Setiap keberhasilan kecil bukan hanya menambah persenjataan, tetapi juga menggerus kepercayaan diri musuh dan membangun reputasi di mata penduduk setempat.
Dalam fase gerilya inilah Che mulai tampil menonjol. Tubuhnya kerap dilumpuhkan serangan asma, terutama di udara pegunungan yang dingin dan lembab. Namun ia menolak menyingkir ke belakang. Dalam banyak kesaksian, Che justru berada di barisan depan dalam misi-misi paling berisiko.
Baca Juga: Hikayat Pemberontakan Tahun Baru di Chiapas, Ketika Zapatista Gemparkan Dunia
Keberaniannya dipadukan dengan disiplin yang keras. Ia tidak memberi ruang bagi kepanikan atau pelanggaran etika. Penjarahan dihukum, kelengahan dicatat. Ia ingin pasukannya berbeda dari tentara Batista, bukan hanya dalam tujuan, tetapi juga dalam cara bertindak.
Pada Februari 1957, revolusi kecil di pegunungan itu tiba-tiba mendapat sorotan dunia. Herbert Matthews dari New York Times berhasil mewawancarai Fidel Castro di Sierra Maestra. Artikel itu mengguncang propaganda Batista yang selama berbulan-bulan mengklaim Castro telah tewas. Kini dunia membaca bahwa pemimpin pemberontak itu masih hidup, memimpin, dan percaya diri.

Che hadir di sekitar peristiwa itu, sosok dokter Argentina yang memilih mengangkat senjata. Kehadirannya memberi dimensi internasional pada revolusi yang sebelumnya tampak lokal.
Sepanjang 1957, pasukan gerilya bertumbuh. Dari belasan orang menjadi ratusan. Mereka mulai mengatur wilayah yang mereka kuasai, membuka sekolah darurat bagi petani buta huruf, mendirikan bengkel senjata, dan menyiarkan Radio Rebelde untuk menandingi propaganda resmi. Sierra Maestra tidak lagi sekadar tempat persembunyian, tetapi ruang eksperimen pemerintahan revolusioner.
Pada Juli 1957, Che dipromosikan menjadi Komandan. Ia memimpin kolomnya sendiri.
Lalu meletuslah Pertempuran El Uvero pada Mei 1957 menjadi tonggak penting dalam Revolusi Kuba. Pos militer yang dijaga ketat itu jatuh setelah pertempuran berjam-jam. Kemenangan ini membuktikan bahwa gerilyawan kini mampu menyerang target yang lebih besar dan terfortifikasi.
Batista lantas membalas dengan Operación Verano pada 1958 dengan mengirim ribuan tentara ke pegunungan, namun hasilnya justru menjadi simalakama buat penguasa. Tentara pemerintah terjebak medan yang tidak mereka kuasai, sementara gerilyawan bertahan dan bahkan menguat.
Kegagalan ofensif besar itu membuka jalan menuju tahap akhir revolusi.
Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels
Kaburnya Batista di Tahun Baru 1959
Tahun 1958 menjadi titik balik. Moral pasukan Batista runtuh setelah serangan besar-besaran tentara pemerintah gagal menghancurkan gerilyawan. Data yang muncul menunjukkan angka desersi yang meningkat tajam. Di sisi lain, kolom-kolom revolusioner bergerak ke barat. Che Guevara memimpin satu kolom penting yang menembus wilayah tengah Kuba.
Pertempuran Santa Clara pada akhir Desember 1958 menjadi penentu. Kota ini adalah simpul transportasi vital. Che dan pasukannya berhasil menggulingkan kereta lapis baja pemerintah yang membawa senjata dan tentara. Dalam memoarnya Pasajes de la Guerra Revolucionaria, Che mencatat bahwa jatuhnya Santa Clara memutus napas terakhir rezim Batista. Setelah itu, peta kekuasaan Kuba berubah hanya dalam hitungan hari.
Di Havana, Batista berpesta. Malam 31 Desember 1958 diwarnai jamuan tahun baru di istana presiden. Namun pesta itu adalah tirai terakhir. Menurut laporan jurnalis Tad Szulc dan arsip Departemen Luar Negeri AS yang kemudian dibuka, Batista telah menyiapkan pelarian. Beberapa jam setelah pergantian tahun, ia bersama keluarga dan kroninya terbang meninggalkan Kuba menuju Republik Dominika. Uang tunai, emas, dan dokumen dibawa serta.
Pagi 1 Januari 1959, radio-radio menyiarkan kabar yang cepat menyebar dari mulut ke mulut. Presiden pergi. Tentara bingung. Polisi kehilangan komando. Di jalanan Havana, orang-orang keluar rumah, berteriak, bernyanyi, dan saling berpelukan. Kasino ditutup paksa, simbol-simbol rezim dirusak. Sejarawan mencatat hari itu sebagai kemenangan tanpa pertempuran besar di ibu kota.
Fidel Castro berada di Santiago de Cuba ketika kabar itu tiba. Ia mengumumkan kemenangan revolusi dan menolak pembentukan junta militer. Dalam pidato singkatnya yang dicatat oleh kantor berita Prensa Latina, ia menyerukan disiplin dan kewaspadaan. “Revolusi baru saja dimulai,” katanya, sebuah kalimat pendek yang kemudian dikutip di banyak buku sejarah.
Perjalanan Castro menuju Havana menjadi arak-arakan panjang. Dari Santiago ke ibu kota, konvoi revolusioner disambut di setiap kota. Foto-foto yang kini tersimpan di arsip nasional Kuba memperlihatkan lautan manusia di jalan-jalan. Ini bukan parade resmi, melainkan luapan euforia rakyat yang merasa satu bab sejarah ditutup.
Di Havana, kekosongan kekuasaan diisi oleh pemogokan umum yang melumpuhkan sisa aparat Batista. Upaya perwira tinggi membentuk pemerintahan sementara gagal total. Ketika Castro tiba pada 8 Januari 1959, lebih dari satu juta orang memenuhi jalan, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Hugh Thomas. Di Camp Columbia, bekas markas tentara Batista, ia berpidato di hadapan massa. Seekor merpati putih hinggap di bahunya, sebuah peristiwa kecil yang segera menjadi simbol besar dalam ikonografi revolusi.
Baca Juga: Serdadu Cicalengka di Teluk Tokyo, Saksi Sejarah Kekalahan Jepang di Perang Dunia II
Hari-hari pertama 1959 bergerak cepat. Pengadilan revolusioner dibentuk untuk mengadili aparat rezim lama. Reforma agraria diumumkan. Nasionalisasi industri menyusul. Dalam hitungan bulan, hubungan dengan Amerika Serikat memburuk, seperti dicatat dalam arsip diplomatik dan kajian Louis A. Perez Jr. Kuba bergerak ke orbit Uni Soviet, menjadikan kemenangan tahun baru itu sebagai awal bab Perang Dingin di Karibia.
Revolusi Kuba menang di tahun baru bukan karena kebetulan kalender, tetapi karena akumulasi panjang ketidakadilan, perlawanan, dan runtuhnya legitimasi. Pagi 1 Januari 1959 hanyalah momen ketika semua itu akhirnya bertemu.
