AYOBANDUNG.ID - Sejarah terkadang tampak seperti orang yang salah menilai kemampuan lawannya. Di Panama abad ke-16, Spanyol mengira telah membeli seorang pekerja baru dari Afrika Barat untuk diperas habis di tanah koloninya itu. Tetapi yang mereka dapat justru seorang pemimpin gerilya yang tahu bagaimana memanfaatkan hutan, kabut, dan kemarahan. Bayano, begitu nama itu bertahan berabad-abad kemudian, menjadi semacam pengingat bahwa kesalahan kecil dalam perdagangan manusia bisa berubah menjadi masalah besar di pedalaman.
Hikayat Bayano ini menjelma legenda dalam sejarah Panama modern. Ia didapuk sebagai salah satu pemberontakan budak terbesar di abad ke-16. Bayano berhasil menampar keras wajah kolonialisme dengan cara yang paling jantan. Sayangnya, kisahnya tak berakhir manis. Pria jantan dan pemberani ini harus menerima takdir pahit bahwa ia pada akhirnya dilucuti dengan cara yang menjijikan oleh para merkantilis culas.
Kisahnya dimulai dari benua Afrika Barat, di sebuah dunia yang tidak mengenal peta Panama. Penangkapannya oleh pedagang budak membawanya menyeberangi Atlantik dalam kondisi yang tidak layak bahkan untuk ternak, apalagi untuk seorang bangsawan. Di perut kapal itu, ia bukan lagi keluarga kerajaan, melainkan komoditas yang ditaksir dengan angka di papan lelang. Kapal bergerak menuju Darien, wilayah Panama masa kini yang pada pertengahan abad ke-16 menjadi pintu masuk penting bagi perdagangan manusia.
Baca Juga: Sejarah Pembangunan Tembok Berlin, Operasi Senyap Dini Hari Komunis Jerman Timur
Sebelum kakinya menjejak tanah baru, riwayatnya sudah terbelah dalam berbagai versi. Ada catatan yang menyebut ia mulai memberontak di tengah pelayaran, saat rantai di tubuhnya belum benar-benar kering dari air asin. Ada pula sejarah yang lebih berhati-hati dan menunggu ia tiba di daratan baru sebelum menyulut perlawanan. Namun semua cerita bertemu pada titik yang sama: pembangkangan meletus pada sekitar 1552. Sejarah kemudian mencatat bahwa Bayano memelopori salah satu pemberontakan budak terbesar di Amerika Latin.
Ia tidak memilih jalur pelarian sunyi di balik pepohonan, tetapi membebaskan ratusan budak lain dengan perencanaan yang cukup rapi untuk membuat seorang gubernur Spanyol mengernyit heran. Setelah itu, jalan pulang sudah tertutup. Ia hanya bisa bergerak maju, dan maju baginya berarti membangun dunia kecil yang merdeka.
Orang-orang yang melarikan diri bersamanya, yang oleh Spanyol disebut cimarrones, memilihnya sebagai raja. Alasannya sederhana: ia memang punya latar bangsawan, dan lebih penting lagi, ia punya pembawaan yang membuat orang lain merasa masa depan mereka lebih terjamin di bawah komandonya. Maka dimulailah babak baru: ratusan orang membangun sebuah komunitas yang tidak ingin muncul di radar penguasa kolonial.
Lokasinya dipilih dengan cermat. Ronconcholon, nama pemukimannya, berdiri di wilayah yang memaksa siapa pun yang datang dari luar untuk berpikir dua kali. Hutan lebat, bukit curam, sungai yang tidak ramah, dan jarak yang membuat utusan Spanyol tampak seperti sedang menjalani hukuman ketimbang menjalankan tugas. Di sanalah Bayano menjadikan dirinya semacam raja gerilyawan.
Komunitas ini tidak seperti kamp pengungsi yang hanya berusaha bertahan hidup. Mereka membangun struktur, mengatur tugas, menetapkan batas, dan menyusun kehidupan sehari-hari dengan keteguhan yang membuat sejarah mencatat Ronconcholon sebagai salah satu palenque paling teratur di masa itu. Bahkan ada catatan tentang keberadaan rumah ibadah untuk para budak Muslim, sebuah isyarat bahwa keterpencilan tidak membuat mereka kehilangan ruang untuk menyusun makna hidup. Di sisi lain, pengaruh agama Kristen tetap kuat di antara beberapa kelompok cimarrones. Semuanya hidup berdampingan, menambah warna unik dalam komunitas yang dibangun dari sisa-sisa kapal budak.
Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama
Di bawah kepemimpinan Bayano, Ronconcholon memiliki struktur militer yang cukup disiplin. Ia melatih pasukannya dengan strategi yang memanfaatkan medan hutan di sekeliling mereka. Pasukan Spanyol tentu lebih unggul dalam senjata, tetapi hutan tebal Panama bukanlah tempat ideal untuk formasi rapi dan aba-aba teratur. Di medan itu, orang yang mengenal alur sungai dan lekuk bukit lebih berbahaya daripada prajurit dengan zirah mengilap.
Bayano memahami hal itu dengan sangat baik. Dalam beberapa tahun, pasukan cimarrones berjumlah ratusan, bahkan ada sumber yang menyebut mendekati seribu. Mereka tidak hanya bertahan. Mereka menyerang. Target utama mereka adalah jalur kafilah Spanyol yang mengangkut emas dan perak dari selatan menuju pelabuhan untuk dibawa ke Eropa. Hutan adalah sekutu, dan Ronconcholon menjadi semacam ibukota tak resmi bagi kerajaan kecil yang dibentuk dari keberanian, keputusasaan, dan kemampuan beradaptasi.
Dari sinilah nama Bayano mulai bergema sebagai ancaman di telinga penguasa kolonial. Selama lima tahun, perlawanan ini berlangsung dengan intensitas yang membuat laporan-laporan resmi Spanyol terdengar seperti catatan orang yang frustrasi. Hujan masih turun nyaris sepanjang tahun, lintah tetap setia menempel di kaki pasukan, dan para cimarrones masih menyerang dengan cara yang sulit diprediksi.
Komplotan Bayano bahkan disebut menjalin aliansi dengan bajak laut Inggris, termasuk Francis Drake yang cukup legendaris. Drake, yang saat itu lebih sibuk merampas harta Spanyol daripada mengurus moralitas internasional, menganggap Bayano dan kelompoknya sebagai sekutu yang memahami medan lebih baik daripada peta mana pun. Kerja sama itu menghasilkan serangan-serangan yang semakin membuat Spanyol kehilangan kesabaran.

Pengkhianatan Spanyol dan Warisan Pemberontak
Pada 1556, Spanyol memutuskan untuk tidak lagi mengandalkan laporan pejabat lokal yang sering kali lebih mengeluh daripada memberi solusi. Wali Raja Peru yang baru, GarcĂa Hurtado de Mendoza, mengirim Pedro de UrsĂșa, seorang conquistador muda yang terkenal ambisius sekaligus cerdik. UrsĂșa memahami bahwa menghadapi Bayano secara frontal hanya akan mengulang kegagalan. Maka ia memilih cara yang membingungkan dalam catatan sejarah: pendekatan damai yang berbau tipu muslihat.
Selama berbulan-bulan, ia menelusuri hutan Panama, mengikuti jejak-jejak yang muncul dan hilang seperti perangkap alam. Setiap kali mendekati Ronconcholon, pasukan Bayano menghilang di balik pepohonan. Setiap kali mundur, serangan mendadak terjadi dari sudut yang sama sekali tidak mereka duga.
Ketika usaha militer tidak juga berhasil, UrsĂșa mengulurkan tawaran damai. Dalam catatan resmi, ia menawarkan pengakuan wilayah dan jaminan kebebasan bagi cimarrones. Setelah perjanjian ditandatangani, Bayano dibebaskan dari status buron, sesuatu yang tampak seperti terobosan besar.
Tetapi sejarah kolonial jarang mati dalam suasana perayaan. Perundingan lanjutan yang digelar setelahnya menjadi panggung bagi pengkhianatan yang akan dikenang lama. UrsĂșa menyiapkan sebuah pesta perdamaian dengan jamuan besar. Para pemimpin cimarrones diundang untuk hadir tanpa senjata, sebagai tanda kepercayaan. Di meja makan itu, makanan dan minuman yang disajikan ternyata telah dibubuhi racun yang cukup kuat untuk membuat para tamu kehilangan kendali.
Baca Juga: Hikayat Sumanto, Kanibal Tobat yang Tertidur Lelap dalam Siaran Televisi
Begitu mereka tidak lagi bisa bergerak, pasukan Spanyol menyerbu. Banyak pemimpin cimarrones dibunuh saat itu juga, sebagian lain ditangkap, dan Bayano sendiri dibawa hidup-hidup. Dalam satu malam, Ronconcholon kehilangan struktur komandonya.
Kisah setelah itu bergerak cepat. Ronconcholon diserang, dihancurkan, dan para penghuninya ditangkap untuk dijual kembali ke pasar budak. Sebagian berhasil melarikan diri dan membentuk kelompok-kelompok baru di hutan, tetapi pusat kekuatan Bayano telah runtuh.
Ia sendiri dibawa ke Peru, untuk diperlihatkan kepada Viceroy sebagai bukti bahwa masalah yang membuat banyak pejabat kolonial pusing telah berhasil diselesaikan. Dari Peru, ia dikirim ke Spanyol. Di Sevilla, ia menjalani hari-hari sebagai tahanan yang dirawat dengan biaya kerajaan. Sejarah tidak mencatat detail kematiannya, hanya meninggalkan kesan bahwa ia tidak pernah kembali ke Panama, tidak pernah lagi menyentuh tanah yang sempat menjadi kerajaan kecilnya.
Tapi penangkapan Bayano bukan akhir. Justru kebalikannya. Pengasingannya memicu Perang Bayano Kedua pada 1579â1582. Pemimpin-pemimpin baru muncul. Luis de Mozambique dan raja-raja cimarrones lain melanjutkan tradisi gerilya. Populasi cimarrones bahkan meningkat pada dekade-dekade berikutnya, mencapai ribuan orang pada sekitar 1570. Baru pada awal abad ke-17 jumlah mereka menurun drastis setelah berbagai perjanjian kerja paksa dan integrasi bertahap dilakukan oleh otoritas Spanyol.
Kendati demikian, keberadaan cimarrones tidak pernah benar-benar hilang sampai perbudakan di wilayah Spanyol resmi dihapuskan pada abad ke-19. Mereka tetap muncul dalam laporan-laporan administrasi, menjadi semacam pengingat bahwa hutan Panama pernah menjadi ruang bagi rakyat yang tidak sudi tunduk.
Warisan Bayano, justru karena ia tidak pernah kembali, bertahan lebih lama daripada komunitas yang ia pimpin. Namanya diabadikan dalam sungai, danau, lembah, dan gua. Rio Bayano menjadi salah satu sungai penting Panama. Ketika bendungan dibangun pada 1976, Danau Bayano muncul sebagai waduk raksasa yang memantulkan cahaya matahari seperti kaca patri alam. Gua Bayano pun menjadi tempat wisata dengan aura misterius, seolah menyimpan gema langkah para cimarrones.
Dalam kesadaran kolektif Panama modern, Bayano adalah sosok yang berdiri di antara legenda dan sejarah. Ia bukan tokoh yang hidup dalam balutan mistik, tetapi juga tidak sepenuhnya terikat pada catatan administratif. Ia ada di kawasan abu-abu yang sering ditempati pahlawan, terutama pahlawan yang tidak menulis kisahnya sendiri. Ia menjadi simbol perlawanan, keteguhan, dan kemampuan manusia untuk membangun dunia baru bahkan ketika dunia lama dirampas.
Di zaman sekarang, kisahnya melintasi bentuk-bentuk seni lain. Drama musikal, puisi, hingga riset akademik melakukan penafsiran ulang terhadap sosok yang dulu hanya dikenal dari laporan kolonial. Generasi baru melihatnya sebagai pahlawan kulit hitam yang menolak tunduk pada sistem yang melihat manusia sebagai barang dagangan.
Bayano tidak pernah kembali ke Afrika. Ia tidak kembali ke Yoruba yang jauh dan sudah berubah. Tetapi di Panama, ia membangun ruang kecil untuk kebebasan, lalu meninggalkan jejak yang mengalir bersama air sungai yang menyandang namanya. Dalam sejarah panjang benua itu, sedikit sekali pemimpin gerilya yang namanya bertahan selama berabad-abad. Namun Bayano termasuk yang tidak hilang.
