Nama, Doa, dan Ikhtiar

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Pasalnya, dalam nama, sering kali tersimpan doa, harapan, cita-cita, bahkan kasih sayang orang tua kepada anaknya.

  • Dalam tradisi masyarakat Jawa, misalnya, nama (asma) memiliki kedudukan yang cukup penting.

  • Dalam Riset Unpad dijelaskan nama bukan sekadar identitas, tetapi doa, harapan, dan cerminan kasih sayang orang tua kepada anak.

Waktu itu, sebelum menyantap hidangan makan malam ala kadarnya bersama keluarga di Babakan Dangdeur, Cibiru, Bandung, Aa Akil, anak kedua (11 tahun), tiba-tiba bertanya.

“Bah, kalau anak sakit-sakitan, harus diganti nama, ya?”

Tak langsung menjawab. Malahan balik bertanya. “Kunaon, A?”

Rupanya, Aa pernah mendengar obrolan orang tua saat mengikuti pengajian. Ada yang mengatakan, anak yang sering sakit bisa saja diganti namanya.

“Karena sakit-sakitan terus diganti namanya. Emang ngaruh sakit sama ganti nama? Nanti gimana manggilnya, kan beda-beda terus berubah lagi?” celetuk anak SD kelas 6 ini.

Sambil tersenyum. Pertanyaan sederhana bocah cilik ternyata membawa pada pembicaraan panjang ihwal nama, yang terkadang sering kita anggap sepele.

“Nya sapertos Aa,” ujarku. “Di bumi dipanggil Akil, ku rerencangan maen kadang dipanggil Kil, Kil, Kil... Di sakola dipanggil Faraz, kawan sekelas memanggil Far, Far, Far....

Kami tertawa terbahabahak, tapi, di balik panggilan yang berbeda-beda itu, ada satu yang tetap berharga dan terpatri dalam sanubari. Nama bukan sekadar sebutan, indentitas, dan panggilan semata.

Pasalnya, dalam nama, sering kali tersimpan doa, harapan, cita-cita, bahkan kasih sayang orang tua kepada anaknya. Nama diberikan bukan hanya agar anak (seseorang) mudah dikenali, tetapi sebagai pengharapan ihwal (apa) kelak menjalani kehidupan.

Dari Kusumah, Natadiningrat, sampai Kartawidjadja. Nama ningrat Sunda yang mana nih kira-kira kamu pilih? Semua punya nuansa berkelas euy (Sumber: threads @bogorpisan)

Dari Kedudukan Penting, Buang Sial sampai Status Sosial

Dalam tradisi masyarakat Jawa, misalnya, nama (asma) memiliki kedudukan yang cukup penting. Asma dipandang bukan sekadar identitas, melainkan doa, harapan, bahkan semacam gambaran kehidupan yang diharapkan bagi pemiliknya.

Kepala Pusat Unggulan Iptek Javanologi UNS, Sahid Teguh Widodo, menjelaskan nama dapat dipandang sebagai doa, prediksi sejarah yang menjadi penuntun seseorang agar tumbuh sesuai harapan. Nama menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan atas kehadiran seorang anak.

Bila dalam perjalanan hidup seseorang dianggap tidak sesuai dengan harapan, maka sebagian masyarakat Jawa mengenal tradisi mengganti nama. Salah satu kepercayaan yang melatarbelakanginya ini kabotan jeneng, anggapan seseorang tidak kuat menyandang nama yang diberikan kepadanya.

Tandanya bisa berupa kondisi yang sering sakit-sakitan, kehidupan yang dianggap terus-menerus mengalami kesialan. Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, misalnya, pernah mengungkapkan nama kecilnya Mulyono. Berdasarkan cerita orang tuanya, Notomihardjo dan Sujatmi Notomihardjo, nama itu diganti menjadi Joko Widodo karena dirinya sering sakit.

Kendati, Jokowi sendiri tidak mengetahui secara pasti kapan pergantian nama itu dilakukan, tetapi menduga terjadi sebelum masuk sekolah dasar.

Ingat, nama menjadi bagian dari ikhtiar. Sahid menjelaskan, dalam pandangan kepercayaan Jawa, nama memiliki kaitan dengan raga, jiwa, unsur ilahiah, termasuk hubungan manusia dengan lingkungan (kosmos).

Saat nama dianggap tidak sesuai dengan keadaan pemiliknya, pergantian nama dapat dilakukan sebagai usaha memperoleh kehidupan yang lebih baik. Misalnya, seseorang bernama Teguh Widodo yang terus-menerus sakit dapat saja diganti menjadi Subur, Selamet. Nama baru itu membawa harapan agar pemiliknya tumbuh sehat, subur, dan selamat.

Di sini, mengganti nama bukan semata-mata persoalan administrasi. Ada simbol, doa, dan ikhtiar budaya yang menyertainya. Dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM, Rudy Wiratama, menjelaskan masyarakat Jawa mengenal banyak nama yang mengandung harapan. Ada Slamet, Sedep, Waras, nama-nama seperti Mulyadi, Mulyono, Mulyani, dan Mulyatmo yang mengandung makna kemuliaan.

Kendati, dalam kepercayaan tertentu, nama bisa dianggap terlalu “berat”. Untuk di wilayah Kebumen, Purworejo, dan Jawa Tengah bagian barat, misalnya, dikenal pemberian tambahan nama “Buang” kepada seseorang yang dianggap mengalami kesialan. “Buang Mulyadi”, misalnya, dimaknai sebagai ikhtiar untuk membuang kesialan (keburukan) sebelumnya.

Nama dapat dikaitkan dengan kondisi sosial pemiliknya. Nama yang dianggap terlalu tinggi (identik) dengan kalangan tertentu dinilai kurang sesuai apabila tidak sejalan dengan latar kehidupan seseorang. Tetapi mengganti nama ternyata tidak selalu berkaitan dengan sakit (kesialan).

Dalam tradisi Jawa, pergantian nama bisa menandai perubahan status sosial, jabatan, pernikahan, tahapan kehidupan. Untuk di lingkungan keraton, seseorang dapat memperoleh nama baru setelah mencapai kedudukan tertentu. Ada pula tradisi pemberian nama tua (nama sepuh) setelah seseorang menikah, yang dapat diberikan oleh mertua, guru spiritual. (Kompas, 26 Mei 2025, pukul 15.00 WIB).

Gawat! Nama Sunda (Asep, Aceng, Cecep, Aang, Neng, Iteung, Imas, Icih) terancam punah! (Sumber: Instagram @napakjagatpasundan)
Gawat! Nama Sunda (Asep, Aceng, Cecep, Aang, Neng, Iteung, Imas, Icih) terancam punah! (Sumber: Instagram @napakjagatpasundan)

Perubahan Nama Sunda, Hilangnya Identitas Bersama

Dalam Riset Unpad dijelaskan nama bukan sekadar identitas, tetapi doa, harapan, dan cerminan kasih sayang orang tua kepada anak. Ini terlihat dalam penelitian etnoinformatika Guru Besar FMIPA Unpad, Atje Setiawan Abdullah, yang mengkaji perubahan penamaan orang (antroponimi) di Kabupaten Sumedang selama 100 tahun, dari 1920 hingga 2020.

Hasil penelitian ini menunjukkan banyak nama asli Sunda mulai hilang seiring perkembangan zaman dan masuknya pengaruh budaya lain. Uniknya, nama Sunda masih cukup banyak digunakan di perdesaan Sumedang, tetapi penggunaannya menurun, terutama di wilayah perkotaan.

Penelitian Atje dan tim menggunakan ilmu penambangan data untuk mengidentifikasi nama favorit, nama yang menghilang, dan nama-nama baru yang muncul. Sepuluh nama yang menjadi favorit di Sumedang itu Muhammad, Muhamad, Dede, Asep, Ade, Ai, Agus, Ani, Wawan, dan Cucu.

Parahnya, untuk sepuluh nama Sunda yang menghilang dalam sekitar 90 tahun terakhir itu Sunaja, Saim, Sundia, Djatma, Boelah, Unamah, Entjil, Eyut, Kitji, dan Macih. Sebaliknya, dalam 10 tahun terakhir muncul nama-nama baru seperti Naura, Arsila, Keyla, Raffa, Rafka, Khanza, Aqila, Zahra, Keysa, dan Aleska, yang menunjukkan kuatnya pengaruh budaya dan referensi dari luar Sunda.

Etnoinformatika merupakan bidang yang memadukan ilmu informatika dengan kajian budaya. Dalam penelitian ini, penamaan termasuk ke dalam ilmu onomastik, yang terbagi menjadi antroponimi untuk mengkaji nama orang dan toponimi dalam mengkaji nama tempat.

Data mengenai nama dapat divisualisasikan melalui peta untuk melihat persamaan, perbedaan, kekhasan penamaan di berbagai daerah. Atje mengembangkan konsep irisan himpunan untuk mengetahui wilayah kajian serta tingkat kemiripan dan kekhasan nama.

Menurutnya, penelitian semacam ini penting karena budaya tidak hanya dapat dilestarikan, tetapi dapat menjadi sumber sejarah, promosi daerah, pariwisata, dan bahkan memiliki nilai ekonomi.

Dosen Program Studi Sastra Sunda FIB Unpad, Teddi Muhtadin, menilai perubahan nama Sunda telah berlangsung cukup lama dan semakin kuat karena perkembangan teknologi informasi membuat orang memiliki lebih banyak referensi dalam memilih nama anak.

Tren budaya ini sangat memengaruhi penamaan, misalnya nama Zidane yang populer ketika pemain sepak bola tersebut terkenal, Chelsea yang diberikan karena orang tua merupakan penggemar klub sepak bola tersebut.

Hilangnya nama Sunda dapat berdampak pada memudarnya pertalian keluarga, budaya, dan lingkungan, sehingga dalam jangka panjang dapat mengancam identitas orang Sunda. Padahal, nama Sunda dapat dikenali melalui pola penamaan dan pengejaan, seperti Lia Marlia, Ahmad menjadi Mamad, atau panggilan Cep dan Jang.

Aceng (anak laki-laki), Asep (tampan, menawan), Cecep (dingin), Dadang (orang kaya, juragan), Dayat (yang baik, hidayah), Didin (agama), Encep (laki-laki), Juned (prajurit), Karta (aman), Jaka (jejaka), Memed (terpuji), Pepen (berbakat), Sudarsana (teladan), Supriatna (rumput), Sutrisna (cinta sejati), Sanjaya (Berjaya), Tisna (kehendak), Yayat (hidayat), Udin (lelaki beragama),Ujang (anak laki-laki). Semuanya terancam punah dan digantikan oleh nama-nama yang modern seperti Rachel, Raffasya, hingga Rafi.

Upaya pelestarian nama Sunda salah satunya dilakukan oleh Lingkung Seni Sunda Universitas Padjadjaran (Lises Unpad). Anggota baru Lises diberi nama Sunda melalui undian dan menggunakan nama tersebut selama beraktivitas di lingkungan organisasi. Misalnya, Dewiyatini mendapat nama Entas, dan temannya Tika dipanggil Yoyoh, Witry menjadi Engkoy, dan Tuti menjadi Ijot.

Kedekatan dengan nama panggilan itu membuat para anggota terkadang lupa nama asli satu sama lain. Penelitian ini menunjukkan nama merupakan bagian penting dari identitas dan warisan budaya. Pelestarian nama Sunda, terutama di kalangan generasi muda, dapat menjadi salah satu cara menjaga keberlangsungan bahasa, sejarah, dan identitas masyarakat Sunda. (Pikiran Rakyat, 17 Des 2022 dan Ayo Bandung Sabtu, 18 Mei 2024 | 16:46 WIB).

Bila bagi sebagian masyarakat, mengganti nama menjadi bagian dari tradisi dan ikhtiar budaya. Niscaya sakit tidak cukup dijelaskan hanya dengan persoalan nama. Pasalnya, ada ikhtiar lain untuk menjaga kesehatan, mencari pertolongan medis, memperhatikan makanan, lingkungan, dan berbagai faktor yang memengaruhi tumbuh kembang anak. Nama boleh menjadi doa, tapi permohonan perlu dibarengi dengan ikhtiar.

Walhasil, yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua di dalamnya, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa itu sebagai bagian dari kehidupannya.

Meski di rumah Aa dipanggil Akil, oleh teman bermain disebut Kil, di sekolah disapa Faraz atau Far, tetaplah anak yang sama. Nama boleh berbeda dalam panggilan. Tapi kasih sayang, doa, dan harapan orang tua semestinya tidak pernah berubah.

Dengan demikian, nama bukan hanya tentang siapa kita hari ini. Justru menjadi penanda tentang perjalanan hidup mulia dari anak-anak menuju dewasa, dari seseorang menuju pemegang amanah, dari satu tahap kehidupan menuju fase berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Agu 2026, 07:38

Nama, Doa, dan Ikhtiar

Yang membuat nama menjadi bermakna bukan hanya rangkaian hurufnya. Ada harapan orang tua, perjalanan hidup yang mengiringinya, dan tanggung jawab pemilik nama untuk menjadikan doa sebagai kehidupan.

Ilustrasi nama orang sunda yang sudah hampir punah. (Sumber: Pixabay by Pexels)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 18:01

Mengurangi Emisi Karbon Semen Lewat Campuran Bubuk Basalt

Produksi semen konvensional menyumbang emisi karbon dunia secara signifikan. Penggunaan bubuk basalt dapat menggantikan sebagian porsi semen konvensional tanpa merusak karakteristiknya.

Ilustrasi utama, semen konvensional (semen OPC) (Foto: Tunas Niaga Konstruksindo)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)