Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengubah nomenklatur program studi berbasis “Teknik” menjadi “Rekayasa” di perguruan tinggi Indonesia. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 9 September 2025 melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 96/B/KPT/2025 tentang Nama Program Studi pada Jenis Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesi yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi.

Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa kebijakan ini diterbitkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7 Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 32 Tahun 2021 tentang Penamaan Program Studi pada Perguruan Tinggi. Pemerintah menyebut perubahan nomenklatur dilakukan untuk menyelaraskan sistem penamaan program studi Indonesia dengan standar internasional, di mana istilah “Rekayasa” menjadi padanan resmi dari engineering. Langkah ini dinilai dapat mendukung pengakuan lulusan Indonesia di tingkat global sekaligus memperkuat proses internasionalisasi dan akreditasi perguruan tinggi.

Lampiran I keputusan tersebut mencantumkan rumpun ilmu nomor 34 dengan nomenklatur “Rekayasa” disertai keterangan “masih bisa menggunakan kata Teknik” dan padanan bahasa Inggris Engineering. Ketentuan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tetap diberikan fleksibilitas untuk mempertahankan istilah “Teknik” sesuai kebutuhan akademik maupun identitas institusi.

Perubahan nomenklatur tersebut berdampak pada berbagai program studi, seperti Rekayasa Sipil (Civil Engineering), Rekayasa Mesin (Mechanical Engineering), dan Rekayasa Elektro (Electrical Engineering). Selain itu, muncul pula nomenklatur yang mencerminkan perkembangan teknologi modern, seperti Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Robotics Engineering and Artificial Intelligence).

Meskipun kebijakan ini berpengaruh terhadap penulisan gelar lulusan, seperti dalam diktum ketiga yang menyebutkan bahwa perguruan tinggi menggunakan inisial rumpun ilmu atau nama program studi dalam penetapan gelar akademik. Namun, untuk rumpun Rekayasa, seluruh program studi tetap menggunakan inisial “T.” sebagai penanda gelar. Dengan demikian, identitas keilmuan keteknikan masih dipertahankan meskipun nomenklatur program studi mengalami penyesuaian.

Khusus bagi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), pemerintah memberikan ruang penyesuaian tambahan. PTN-BH diperbolehkan menggunakan nama program studi yang sepadan (equivalent) dengan nomenklatur dalam keputusan tersebut dan cukup melaporkannya kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Program studi pada rumpun ilmu teknik atau rekayasa (engineering). (Sumber: Kepdirjendikti No. 96/B/KPT/2025)
Program studi pada rumpun ilmu teknik atau rekayasa (engineering). (Sumber: Kepdirjendikti No. 96/B/KPT/2025)

Teknik dan Rekayasa dalam Perspektif Keilmuan

Perubahan nomenklatur ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas: apakah perubahan tersebut hanya pergantian istilah administratif, atau mencerminkan arah baru pendidikan engineering di Indonesia?

Selama puluhan tahun, istilah “Teknik” telah menjadi identitas yang kuat dalam pendidikan tinggi Indonesia. Nama-nama seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro tidak hanya dikenal di lingkungan akademik, tetapi juga telah melekat dalam dunia profesi dan masyarakat. Istilah tersebut bahkan sering diasosiasikan dengan pembangunan infrastruktur, manufaktur, dan teknologi industri.

Sementara itu, istilah “Rekayasa” sebenarnya telah lama digunakan dalam berbagai cabang ilmu dan praktik profesional. Istilah ini dapat ditemukan pada rekayasa lalu lintas, rekayasa transportasi, rekayasa perangkat lunak, rekayasa lingkungan, hingga mekanika rekayasa yang menjadi dasar analisis dalam bidang keteknikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “rekayasa” juga digunakan sebagai padanan istilah engineering.

Sebagian akademisi menilai istilah “Rekayasa” lebih mampu menggambarkan perkembangan engineering modern yang kini bersifat multidisiplin. Bidang ini tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik atau mesin, tetapi juga mencakup kecerdasan buatan, sistem digital, energi berkelanjutan, analisis data, hingga pengembangan kota cerdas.

Perubahan nomenklatur juga berpotensi memengaruhi pendekatan kurikulum. Pendidikan engineering masa kini tidak cukup hanya menekankan kemampuan teknis, tetapi juga perlu mengintegrasikan desain sistem, keberlanjutan lingkungan, efisiensi energi, transformasi digital, dan kemampuan problem solving yang kompleks. Dalam konteks tersebut, istilah “rekayasa” dipandang sebagian kalangan lebih mencerminkan arah pendidikan engineering masa depan.

Praktik Penamaan di Berbagai Negara

Dalam konteks internasional, istilah yang setara dengan engineering memang lebih umum digunakan. Di United States, banyak universitas menggunakan nama College of Engineering atau School of Engineering dengan program studi seperti Civil Engineering, Mechanical Engineering, dan Electrical Engineering. Pola serupa juga diterapkan di United Kingdom, Australia, dan Canada.

Sementara itu, Germany mengenal istilah Ingenieurwissenschaften yang merujuk pada ilmu rekayasa, sedangkan di Japan banyak universitas menggunakan istilah Faculty of Engineering. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan engineering global lebih menekankan kemampuan merancang solusi, melakukan inovasi, dan menyelesaikan persoalan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di Indonesia sendiri, penggunaan istilah “rekayasa” juga semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah perguruan tinggi mulai menggunakan nama program studi seperti Rekayasa Hayati, Rekayasa Nanoteknologi, Rekayasa Pertambangan, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Rekayasa Kehutanan. Fenomena ini menunjukkan adanya penyesuaian nomenklatur dengan perkembangan bidang engineering yang semakin adaptif dan berbasis teknologi.

Tantangan di Balik Perubahan Nama

Meski memiliki alasan akademik dan internasionalisasi, perubahan nama jurusan tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Pergantian nomenklatur tanpa peningkatan kualitas pendidikan berisiko hanya menjadi perubahan administratif semata. Tantangan utama pendidikan engineering Indonesia tetap terletak pada relevansi kurikulum, kualitas laboratorium, kesiapan dosen, kolaborasi dengan industri, serta kemampuan menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Selain itu, aspek sosial juga perlu diperhatikan. Istilah “Teknik” telah memiliki legitimasi yang kuat di masyarakat maupun dunia kerja Indonesia. Jika perubahan dilakukan tanpa sosialisasi yang matang, potensi kebingungan dapat muncul, terutama bagi calon mahasiswa, pengguna lulusan, maupun institusi profesi.

Meski demikian, perubahan nomenklatur ini dapat menjadi momentum refleksi bagi pendidikan tinggi Indonesia. Perdebatan mengenai istilah “Teknik” dan “Rekayasa” seharusnya tidak berhenti pada persoalan nama semata, melainkan diarahkan pada bagaimana perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang inovatif, beretika, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional di era teknologi modern. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)