Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan Senin 18 Mei 2026, 13:18 WIB
Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) resmi mengubah nomenklatur program studi berbasis “Teknik” menjadi “Rekayasa” di perguruan tinggi Indonesia. Kebijakan tersebut mulai berlaku sejak 9 September 2025 melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 96/B/KPT/2025 tentang Nama Program Studi pada Jenis Pendidikan Akademik dan Pendidikan Profesi yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi.

Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa kebijakan ini diterbitkan untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7 Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 32 Tahun 2021 tentang Penamaan Program Studi pada Perguruan Tinggi. Pemerintah menyebut perubahan nomenklatur dilakukan untuk menyelaraskan sistem penamaan program studi Indonesia dengan standar internasional, di mana istilah “Rekayasa” menjadi padanan resmi dari engineering. Langkah ini dinilai dapat mendukung pengakuan lulusan Indonesia di tingkat global sekaligus memperkuat proses internasionalisasi dan akreditasi perguruan tinggi.

Lampiran I keputusan tersebut mencantumkan rumpun ilmu nomor 34 dengan nomenklatur “Rekayasa” disertai keterangan “masih bisa menggunakan kata Teknik” dan padanan bahasa Inggris Engineering. Ketentuan ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi tetap diberikan fleksibilitas untuk mempertahankan istilah “Teknik” sesuai kebutuhan akademik maupun identitas institusi.

Perubahan nomenklatur tersebut berdampak pada berbagai program studi, seperti Rekayasa Sipil (Civil Engineering), Rekayasa Mesin (Mechanical Engineering), dan Rekayasa Elektro (Electrical Engineering). Selain itu, muncul pula nomenklatur yang mencerminkan perkembangan teknologi modern, seperti Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Robotics Engineering and Artificial Intelligence).

Meskipun kebijakan ini berpengaruh terhadap penulisan gelar lulusan, seperti dalam diktum ketiga yang menyebutkan bahwa perguruan tinggi menggunakan inisial rumpun ilmu atau nama program studi dalam penetapan gelar akademik. Namun, untuk rumpun Rekayasa, seluruh program studi tetap menggunakan inisial “T.” sebagai penanda gelar. Dengan demikian, identitas keilmuan keteknikan masih dipertahankan meskipun nomenklatur program studi mengalami penyesuaian.

Khusus bagi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), pemerintah memberikan ruang penyesuaian tambahan. PTN-BH diperbolehkan menggunakan nama program studi yang sepadan (equivalent) dengan nomenklatur dalam keputusan tersebut dan cukup melaporkannya kepada Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi.

Program studi pada rumpun ilmu teknik atau rekayasa (engineering). (Sumber: Kepdirjendikti No. 96/B/KPT/2025)
Program studi pada rumpun ilmu teknik atau rekayasa (engineering). (Sumber: Kepdirjendikti No. 96/B/KPT/2025)

Teknik dan Rekayasa dalam Perspektif Keilmuan

Perubahan nomenklatur ini memunculkan pertanyaan yang lebih luas: apakah perubahan tersebut hanya pergantian istilah administratif, atau mencerminkan arah baru pendidikan engineering di Indonesia?

Selama puluhan tahun, istilah “Teknik” telah menjadi identitas yang kuat dalam pendidikan tinggi Indonesia. Nama-nama seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, dan Teknik Elektro tidak hanya dikenal di lingkungan akademik, tetapi juga telah melekat dalam dunia profesi dan masyarakat. Istilah tersebut bahkan sering diasosiasikan dengan pembangunan infrastruktur, manufaktur, dan teknologi industri.

Sementara itu, istilah “Rekayasa” sebenarnya telah lama digunakan dalam berbagai cabang ilmu dan praktik profesional. Istilah ini dapat ditemukan pada rekayasa lalu lintas, rekayasa transportasi, rekayasa perangkat lunak, rekayasa lingkungan, hingga mekanika rekayasa yang menjadi dasar analisis dalam bidang keteknikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “rekayasa” juga digunakan sebagai padanan istilah engineering.

Sebagian akademisi menilai istilah “Rekayasa” lebih mampu menggambarkan perkembangan engineering modern yang kini bersifat multidisiplin. Bidang ini tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik atau mesin, tetapi juga mencakup kecerdasan buatan, sistem digital, energi berkelanjutan, analisis data, hingga pengembangan kota cerdas.

Perubahan nomenklatur juga berpotensi memengaruhi pendekatan kurikulum. Pendidikan engineering masa kini tidak cukup hanya menekankan kemampuan teknis, tetapi juga perlu mengintegrasikan desain sistem, keberlanjutan lingkungan, efisiensi energi, transformasi digital, dan kemampuan problem solving yang kompleks. Dalam konteks tersebut, istilah “rekayasa” dipandang sebagian kalangan lebih mencerminkan arah pendidikan engineering masa depan.

Praktik Penamaan di Berbagai Negara

Dalam konteks internasional, istilah yang setara dengan engineering memang lebih umum digunakan. Di United States, banyak universitas menggunakan nama College of Engineering atau School of Engineering dengan program studi seperti Civil Engineering, Mechanical Engineering, dan Electrical Engineering. Pola serupa juga diterapkan di United Kingdom, Australia, dan Canada.

Sementara itu, Germany mengenal istilah Ingenieurwissenschaften yang merujuk pada ilmu rekayasa, sedangkan di Japan banyak universitas menggunakan istilah Faculty of Engineering. Hal tersebut menunjukkan bahwa pendidikan engineering global lebih menekankan kemampuan merancang solusi, melakukan inovasi, dan menyelesaikan persoalan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Di Indonesia sendiri, penggunaan istilah “rekayasa” juga semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah perguruan tinggi mulai menggunakan nama program studi seperti Rekayasa Hayati, Rekayasa Nanoteknologi, Rekayasa Pertambangan, Rekayasa Perangkat Lunak, dan Rekayasa Kehutanan. Fenomena ini menunjukkan adanya penyesuaian nomenklatur dengan perkembangan bidang engineering yang semakin adaptif dan berbasis teknologi.

Tantangan di Balik Perubahan Nama

Meski memiliki alasan akademik dan internasionalisasi, perubahan nama jurusan tidak boleh berhenti pada aspek simbolik. Pergantian nomenklatur tanpa peningkatan kualitas pendidikan berisiko hanya menjadi perubahan administratif semata. Tantangan utama pendidikan engineering Indonesia tetap terletak pada relevansi kurikulum, kualitas laboratorium, kesiapan dosen, kolaborasi dengan industri, serta kemampuan menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Selain itu, aspek sosial juga perlu diperhatikan. Istilah “Teknik” telah memiliki legitimasi yang kuat di masyarakat maupun dunia kerja Indonesia. Jika perubahan dilakukan tanpa sosialisasi yang matang, potensi kebingungan dapat muncul, terutama bagi calon mahasiswa, pengguna lulusan, maupun institusi profesi.

Meski demikian, perubahan nomenklatur ini dapat menjadi momentum refleksi bagi pendidikan tinggi Indonesia. Perdebatan mengenai istilah “Teknik” dan “Rekayasa” seharusnya tidak berhenti pada persoalan nama semata, melainkan diarahkan pada bagaimana perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang inovatif, beretika, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional di era teknologi modern. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Mei 2026, 19:00

Demi Anak dan Istri, Setiap Hari Mang Amir Ngegas Motornya ‘Membelah Subuh’ Jualan Bubur Ayam

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek.

Mang Amir terus mengais rezeki dengan nge-gas motor Honda Beatnya menjajakan bubur ayam keliling komplek. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 18:20

Menelusuri Jejak Gastronomi Legendaris di Kota Bandung

Metamorfosis Bandung menjadi pusat kuliner bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan simfoni akulturasi yang telah berjalan selama lebih dari satu abad.

Suasana Kopi Purnama yang jadi tempat ngopi legendaris di Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Bob Yanuar)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 17:43

Jelajah Gunung Lembu Purwakarta, Jalur Batu Purba dengan View Waduk Jatiluhur

Jelajahi Gunung Lembu Purwakarta, monolit batu purba dengan jalur berbatu curam dan panorama Waduk Jatiluhur.

Pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu, Purwakarta.
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 13:18

Dari 'Teknik' ke 'Rekayasa: Sekadar Ganti Nama atau Perubahan Paradigma?

Perubahan nomenklatur “Teknik” menjadi “Rekayasa” memunculkan diskusi tentang internasionalisasi, identitas keilmuan, dan arah pendidikan engineering di Indonesia.

Kemendiktisaintek tetapkan perubahan nama prodi "teknik" jadi "rekayasa". (Foto: Istimewa)
Wisata & Kuliner 18 Mei 2026, 11:36

Wisata Bukit Gronggong, Lanskap Kota Cirebon dari Koridor Perbukitan Selatan

Bukit Gronggong di Cirebon menawarkan panorama kota dari ketinggian, lengkap dengan kafe, kuliner, dan suasana malam dengan gemerlap lampu urban.

Bukit Gronggong, Cirebon. (Sumber: Pemkab Cirebon)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 11:14

Semula, Ada Pandai Kuningan di Sayang dan di Bojongsayang

Di Jawa Barat, banyak toponim yang memakai kata sayang.

Contoh bokor yang dibuat dari kuningan. Tempat pembuatannya disebut sayang. (Sumber: Istimewa)
Beranda 18 Mei 2026, 10:43

Saat Manusia Asing dengan Tanahnya Sendiri dan Nama Tempat Tinggalnya

T. Bachtiar menjelaskan bagaimana nama tempat menyimpan jejak alam dan budaya, sekaligus mengungkap krisis ingatan manusia terhadap ruang hidupnya.

Pemandangan kota Bandung, jembatan Pasupati dengan latar belakang Gunung Tangkuban Parahu, Rabu 20 Juli 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Biz 18 Mei 2026, 10:05

Cikopi Mang Eko dan Jalan Panjang ‘UMKM Naik Kelas’

Mang Eko hampir menjual segala jerih payahnya. Lalu iseng membuka Instagram Rumah BUMN Bandung; dan nasib bisnisnya berubah.

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 18 Mei 2026, 09:21

Antapani, Jalur yang Menghabiskan Umur Warga Kota Bandung

Jalan Terusan Jakarta di Antapani kerap dipenuhi antrean kendaraan akibat banjir, persimpangan padat, dan arus permukiman.

Situasi Jalan Ahmad Yani di kawasan Antapani Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 09:19

Di Serambi Masjid, Warga Bandung Belajar Arti Berkorban Melalui Donor Darah

Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan.

 Donor darah di Masjid Baitul Mu’min menjadi momen warga Bandung berbagi harapan melalui setetes darah, kepedulian, dan pengorbanan. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Uwes Fatoni)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 08:03

Semangkuk Soto dan Kepulan Asap Rokok

Apakah menjadi hal yang berlebihan ketika memimpikan Bandung yang bersih dari asap rokok sehingga aroma soto bisa dinikmati secara utuh?

Semangkuk Soto Madura di pagi yang dingin di Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Biz 17 Mei 2026, 19:36

Dari Excelso ke Houston: Perjalanan Dua Dekade Mang Eko Membangun ‘Legacy’ Kopi di Bandung

Mang Eko memilih jadi pemasok. Bukan kedai kopi biasa; dan pilihan itu membawa banyak perubahan dalam hidupnya.

Muchtar Koswara pemilik Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 15:20

Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

Rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Mei 2026, 15:03

Camilan Gitrek Khas Subang, Singkong Bumbu Kencur Renyah dari Kasomalang

Ulasan gitrek singkong Subang dari produksi rumahan di Kasomalang, proses pembuatan berbasis singkong, hingga distribusi sebagai oleh-oleh populer.

Gitrek singkong khas Subang. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 12:52

Bukan Perdebatan Ilmiah, Kekonyolan Semata yang Sebabkan Cerita ‘Tahun Lahir Persib 1919’ Tidak Punya Nilai!

Perdebatan semacam apakah Persib lahir 1919 atau 1933 dst. rupanya sudah tidak lagi penting dipersoalkan.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 17 Mei 2026, 12:41

Inovasi Tiramisu Push Pop, Strategi Memissu Pikat Pencinta Dessert di Bandung

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis.

Memissu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat urban yang menginginkan produk dessert modern yang estetis, praktis, dan dinamis. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 11:19

Ketika Tren Generasi Z Lebih Takut Menikah, daripada Takut Kehilangan Arah

Generasi Z makin takut menikah, tapi pergaulan bebas justru makin dinormalisasi. Sedang terjadi apa hari ini?

Pernikahan adalah wujud keseriusan dalam membangun arah masa depan (Sumber: Pixeabay | Foto: Rizky_Motion)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 09:01

Pengorbanan Mang Dadang Berbuah Manis

Pengorbanan Mang Dadang adalah kebahagiaan untuk keluarga dan para pembeli kupat tahu petisnya serta kontribusi dia turut memutarkan cakra perekonomian.

Mang Dadang penjual kupat tahu petis (Sumber: dok penulis | Foto: Bram Herdiana)
Ayo Netizen 17 Mei 2026, 08:28

Mengapa TNKB Harus Sesuai Standar?

Pelanggaran TNKB masih sering ditemukan di jalan raya. Padahal, plat nomor sesuai standar penting untuk mendukung penegakan hukum, keselamatan, dan ketertiban lalu lintas.

Bentuk pelanggaran TNKB yang paling umum, yaitu modifikasi bentuk huruf dan penggunaan penutup plat berbahan mika gelap. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 16 Mei 2026, 16:57

Lewat Titik Kumpul Cigadung, Mitigasi Bencana Bisa Sesantai Budaya Nongkrong

Sesar Lembang Kalcer mengajak warga Bandung memahami mitigasi bencana lewat musik, seni, dan ruang komunitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di Sesar Lembang Kalcer, anak-anak diajak belajar mitigasi sambil bermain. (Foto: Dok Sesar Lembang Kalcer)