Rawat Perbedaan, Perkuat Harmoni, dan Rayakan Kebersamaan

10 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 17 Mei 2026, 15:20 WIB
Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Suasana Upacara Kampung Adat Cireundeu (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu, suasana rumah terasa tenang. Di sela-sela waktu senggang, saat asyik membaca laporan majalah Tempo edisi 30 Juli 2025 berjudul Jejak Intoleransi di Indonesia yang belum selesai, tiba-tiba Aa Akil (11 tahun) mendekat dengan wajah polos penuh tanya.

"Bah ayo main, bukan kerja terus?," ujarnya.

Sebelum menjawab, Aa Akil terus berkata, "Sebentar Bah, jangan ditutup. Wah, sayang banget rumah dihancurkan, ya Bah. Terus nanti gimana ibadahnya?”

Pertanyaan sederhana itu justru terasa menohok. Pasalnya, tidak lahir dari ruang debat, bukan pula dari diskusi akademik tentang pluralisme dan kebangsaan. Justru muncul begitu saja dari hati bocah kecil yang belum mengenal sekat identitas dan tumbuh dari rasa iba (empati) kepada sesama manusia.

Tak berhenti di situ, anak kelas 5 ini bertanya, “Bah, itu nonis (non-Islam) semua ya? Kalau di Bandung ada yang dirusak atau dihancurkan nggak?”

Tanpa banyak basa-basi, ayo pergi siap-siap ke sawah untuk bermain, sekedar jalan-jalan sambil melihat-lihat indahnya hamparan padi yang menghijau. Ada beberapa pasukan burung hinggap di pematang sawah, bersiap-siap mencari makanan, padi.

Sekelompok anak-anak asyik bermain layang-layang.

Selesai jalan-jalan mengelilingi pesawahan, Kakang anak ketiga (4 tahun) merengek minta cepat pulang lewat (jalan) warung Bang Hotman untuk membeli camilan.

Tepat di ujung gang, bocah cilik itu berteriak dan menangis, "Tutup, Bah!"

Aa Akil menjawab, "Iya kan sedang beribadah, yah Bah!"

Kujawab singkat, "Muhun."

Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa harapan tidak pernah berakhir. Kristus naik ke surga, tetapi kasih dan penyertaan-Nya tetap hadir dalam kehidupan umat-Nya (Sumber: Instagram pgiofficial.or.id)
Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus mengingatkan kita bahwa harapan tidak pernah berakhir. Kristus naik ke surga, tetapi kasih dan penyertaan-Nya tetap hadir dalam kehidupan umat-Nya (Sumber: Instagram pgiofficial.or.id)

Bukan Sekedar Ritual

Untuk tahun ini PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) mengusung tema Paskah "Kristus Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita".

PGI menekankan makna kenaikan sebagai momen penguatan harapan dan hadirnya Roh Kudus.

Peringatan ini memiliki makna teologis yang amat dalam, apalagi dengan merujuk kata-kata Yesus dalam Injil bahwa kenaikan-Nya ke Surga menyediakan tempat bagi setiap orang yang percaya kepada- Nya.

Kepergian Yesus ke rumah Bapa di Surga bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Sebab jika Yesus tiba-tiba saja pergi tanpa pemberi- tahuan akan bisa muncul multi interpretasi.

Maklum, tokoh sekaliber Yesus selalu menjadi sorotan publik. Tindakan-Nya, ucapan-Nya, dan jadwal kegiatan-Nya selalu dianalisis dengan cermat, baik oleh kawan maupun oleh orang-orang yang tidak senang kepada-Nya.

Yesus sadar betul bahwa murid-murid perlu diberitahu seluruh skenario besar tentang pelayanan-Nya di tengah-tengah dunia, jauh-jauh hari. Itulah sebabnya sejak awal Yesus memberi tahu mereka bahwa diri-Nya akan mengalami jalan sengsara, akan menghadapi penderitaan, akan disalibkan, tetapi akan bangkit kembali untuk kemudian naik ke Surga (Mat. 16:21; Yoh. 3:13).

Namun, murid-murid selalu dalam posisi yang tidak memahami sosok Yesus. Orang seperti Petrus misalnya, tak suka mendengar jika Yesus--tokoh idolanya itu--menyatakan akan menderita dan dibunuh. Hal itu tidak sesuai dengan gambaran ideal tentang Yesus yang ia miliki, sebab itu ia menegur Yesus agar cerita sendu seperti itu jangan dijadikan wacana (Mrk. 8:31-32).

Kenaikan Yesus Kristus menjadi pengingat bahwa harapan, kasih, dan persatuan harus selalu hidup di tengah keberagaman. (Sumber: Instagram @kemenag_ri)
Kenaikan Yesus Kristus menjadi pengingat bahwa harapan, kasih, dan persatuan harus selalu hidup di tengah keberagaman. (Sumber: Instagram @kemenag_ri)

Pesan Alkitab

Dalam realitas seperti itulah mengapa kepergian Yesus ke rumah Bapa seakan merupakan sesuatu yang surprising bagi murid-murid, peristiwa yang mengagetkan. Murid-murid terperangah dan menatap langit menyaksikan Yesus terangkat, sementara awan menutupi-Nya dari pandangan. Kepergian Yesus ke rumah Bapa yang diperingati oleh gereja-gereja, menampilkan beberapa pesan yang amat mendasar.

Peristiwa kenaikan Yesus tak bisa diartikan lain kecuali pemuliaan terhadap Yesus Kristus. Yesus yang lahir dengan hina di kandang domba, yang seluruh sejarah kehidupan-Nya diwarnai oleh penderitaan yang amat dalam. la dihujat dan dilecehkan oleh penguasa pada saat-saat proses peradilan, bahkan mati di kayu salib.

Namun, pada hari kenaikan la dimuliakan. la ditinggikan, la memiliki kuasa, dan la mempunyai power. Alkitab mengatakan bahwa la ada di sebelah kanan Allah sesudah segala malaikat, kuasa, dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya (1 Ptr. 3:22). Allah sangat meninggikan Dia (Flp. 2:9); la adalah Tuhan atas segala sesuatu (Ef. 1:22). Kemuliaan dan kuasa benar-benar ada pada Yesus Kristus, kenaikan-Nya ke Surga menyungguhkan hal itu.

Gereja dan umat Kristen harus bersyukur oleh pesan-pesan Alkitab seperti ini. Yesus yang menjadi Tuhan dan Kepala Gereja adalah Yesus Kristus yang memiliki kemuliaan dan kuasa. Penderitaan, rasa terpuruk, posisi marginal, dan minoritas, situasi diskriminasi yang selama ini seolah menjadi stigma dari kekristenan, dalam perspektif kenaikan Yesus merupakan sesuatu yang sama sekali baru.

Gereja dan umat Kristen memiliki kekuatan baru yang menjadikan kekristenan sebuah komunitas yang bermakna dan diperhitungkan. Kenaikan Yesus ke Surga menempatkan gereja dan umat Kristen pada posisi zaman baru, yaitu zaman penantian kedatangan Yesus kedua kali, yang akan datang sebagai hakim yang adil.

Dalam kurun waktu antara kenaikan dan kedatangan kedua kali itulah gereja hidup dan mengukir karya di bumi. Di tengah perubahan politik, ekonomi, budaya, dan hubungan antar manusia, gereja harus mampu menjadi gereja yang berkarya bagi kemanusiaan bukan gereja yang diam, bisu, apolistik, dan ahistoris.

Semoga momen ini membawa harapan dan kebaikan bagi kita semua untuk terus hidup dalam toleransi, kebersamaan, dan semangat persatuan. (Sumber: Instagram @kemenag_ri)
Semoga momen ini membawa harapan dan kebaikan bagi kita semua untuk terus hidup dalam toleransi, kebersamaan, dan semangat persatuan. (Sumber: Instagram @kemenag_ri)

Bukan Fiksi

Kenaikan Yesus ke Surga bukan sebuah ilusi atau cerita fiktif dari du- nia kekristenan. Peristiwa itu real dan konkret. Yesus berkata: "Tidak ada seorang pun yang telah naik ke Surga, selain dari pada Dia yang telah turun dari Surga, yaitu Anak Manusia" (Yoh. 3:13). Yesus naik ke Surga hanya karena la memang berasal dari Surga. Bahkan Yesus bertanya kepada para murid: "Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana la sebelumnya berada?" (Yoh. 6:62).

Kenaikan Yesus ke Surga bukan sekadar kembali ke negeri leluhur atau pulang ke asal. Misinya amat jelas, "Aku pergi ke situ untuk menye- diakan tempat bagimu" (Yoh. 14:2). Kepergian-Nya adalah kepergian yang menyediakan. la pergi dengan misi yang mulia, menyediakan tempat bagi umat manusia yang percaya kepada-Nya.

Realitas ini semestinya menyadarkan gereja dan umat Kristen untuk tidak terjebak pada situasi, membelenggu diri dengan tempat, locus, di sini di bumi ini. Namun, gereja harus berorientasi kepada yang di sana, pada keakanan, pada tempat, dan locus yang Yesus sediakan.

Dengan berorientasi ke keakanan, gereja harus mampu menjadi kekuatan moral di tengah kekinian zaman. Kekuatan moral yang memberi arah bagi perjalanan sejarah umat manusia yang memandu perjalanan bangsa dan bersifat kritis dan korektif bagi kehidupan zaman. Gereja tidak boleh terbelenggu pada establishment, tergiur pada rayuan politik. Gereja hadi garam dunia agar dunia terhindar dari proses pembusukan. (Weinata Sairin, 2020:17-19).

Di tengah-tengah kenyataan itu, pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada peringatan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus 2026 terasa penting untuk direnungkan bersama. Menag menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh umat Kristiani di Indonesia seraya mengajak masyarakat memperkuat nilai kedamaian, kebersamaan, dan kepedulian sosial dalam kehidupan berbangsa.

Setiap peringatan keagamaan tidak hanya berhenti pada ritual spiritual, tetapi membawa pesan moral universal mulai dari kasih, pengorbanan, keadilan, sampai perdamaian. Nilai-nilai universal itu semestinya menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang rukun, harmoni, damai dan saling menghormati.

Kendati, pesan itu sering kali kalah oleh suara kebencian yang gaduh di media sosial, prasangka yang diwariskan, fanatisme yang memandang perbedaan sebagai ancaman.

Padahal, Indonesia tidak dibangun di atas keseragaman. Negeri ini tumbuh dari perjumpaan beragam suku, budaya, bahasa, dan agama. Kebangsaan kita lahir bukan disebabkan semua sama, melainkan karena mampu hidup bersama dalam perbedaan. (www.kemenag.go.id)

Temuan SETARA Institute dalam laporan KBB 2025 mengingatkan bahwa negara masih sering hadir sebagai penertib, belum sepenuhnya sebagai pelindung hak. Menjaga ketertiban penting, tapi memastikan keadilan dan ruang ibadah yang setara bagi semua adalah hal yang tidak bisa ditawar. (Sumber: Instagram @setara_institute)
Temuan SETARA Institute dalam laporan KBB 2025 mengingatkan bahwa negara masih sering hadir sebagai penertib, belum sepenuhnya sebagai pelindung hak. Menjaga ketertiban penting, tapi memastikan keadilan dan ruang ibadah yang setara bagi semua adalah hal yang tidak bisa ditawar. (Sumber: Instagram @setara_institute)

Tren Kekerasan Berbasis Agama

Mengingat bila membaca laporan terbaru Setara Institute menunjukkan tren kekerasan berbasis agama di Indonesia sepanjang 2025 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, penurunan angka ini dinilai belum mencerminkan membaiknya sikap toleransi masyarakat.

Peneliti Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Setara Institute, Harkirtan Kaur, menjelaskan sepanjang 2025 tercatat 221 peristiwa pelanggaran dengan total 331 tindakan kekerasan berbasis agama. Jumlah itu menurun dibanding 2024 yang mencapai 260 peristiwa dengan 402 tindakan.

“Kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya memang ada sedikit penurunan,” ujarnya.

Tentunya penurunan angka ini belum bisa dibaca sebagai sinyal positif meningkatnya toleransi beragama di Indonesia. Pasalnya, sepanjang 2025 justru muncul pola-pola baru dalam praktik pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Dengan masih maraknya gangguan terhadap rumah ibadah, pelarangan pembangunan tempat ibadah, hingga pembatasan kegiatan keagamaan. Salah satu kasus yang menjadi perhatiannya penyerangan terhadap Gereja Kristen Setia Indonesia di Padang Sarai.

Dalam laporannya, Setara Institute mencatat aktor non-negara masih mendominasi pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sepanjang 2025, terdapat 197 tindakan yang dilakukan aktor non-negara dan aktor negara tercatat melakukan 128 tindakan.

Menariknya, kelompok warga menjadi aktor non-negara paling dominan dalam pelanggaran kebebasan beragama sepanjang tahun lalu. Sedikitnya 61 tindakan dilakukan oleh kelompok warga yang disusul organisasi kemasyarakatan (ormas), Majelis Ulama Indonesia, tokoh agama, perangkat FKUB, hingga individu.

Temuan ini menunjukkan persoalan intoleransi tidak hanya berkaitan dengan kebijakan negara, tetapi tumbuh subur dari relasi sosial di tengah masyarakat. Penurunan angka pelanggaran tidak berbanding lurus dengan berkurangnya ancaman terhadap kebebasan beragama, sebab pola dan aktornya terus berubah. (detikNews, Selasa, 10 Mar 2026 19:12 WIB).

Di tengah perbedaan, kita diajak untuk terus menjaga kedamaian, saling menghargai, dan memperkuat rasa persaudaraan antar sesama. (Sumber: Instagram @republikindonesia)

Selesai jalan-jalan jalan sore itu, sejumlah catatan tentang kekerasan dan intoleransi di Tanah Pasundan dicari dan dibuka. Data-data itu seolah mengingatkan kerukunan beragama masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya selesai. Ya di Bandung, kota yang selama ini dikenal kreatif, hangat, dan ramah terhadap keberagaman.

Intoleransi dan ekstremisme di Indonesia tidak lahir dalam ruang kosong. Melainkan tumbuh dari luka sejarah yang panjang, ketidakadilan sosial, hingga warisan kolonial yang diam-diam masih hidup dalam cara pandang dan praktik bernegara.

Ikhtiar memutus rantainya tidak cukup hanya dengan slogan toleransi, tetapi membutuhkan keberanian menyentuh akar persoalan.

Ingat, di banyak peristiwa, politik kerap menjadi pintu masuk lahirnya diskriminasi. Ketidakadilan terhadap kelompok tertentu acap kali dipelihara melalui kebijakan maupun keberpihakan kekuasaan. Lemahnya penegakan hukum membuat aparat negara justru dipersepsikan tidak hadir sebagai pengayom yang adil bagi semua.

Semua itu tergambar dalam riset kolaboratif antara Yayasan Paramadina, Universitas Gadjah Mada, dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Lewat buku Kontroversi Gereja di Jakarta (2011), para peneliti menemukan soal protes hingga penembokan akses Gereja Katolik St. Bernadet di Tangerang tidak bisa dilepaskan dari konstelasi politik setempat.

Padahal, pada masa pemerintahan sebelumnya, proses perizinan gereja berjalan relatif baik meski tidak sepenuhnya mulus. Dukungan sejumlah tokoh, termasuk JB Sumarlin saat menjabat Menteri Keuangan, ikut memberi ruang bagi pembangunan rumah ibadah. Dalam rentang 1990 hingga 2004, pembangunan gereja mengalami perkembangan yang cukup signifikan.

Berbagai faktor itu, baik berdiri sendiri maupun saling bertumpuk, akhirnya melahirkan praktik intoleransi yang terus berulang. Psikolog, aktivis perdamaian, Alissa Wahid, menyebut persoalan identitas hampir selalu berakar pada masalah sosial seperti kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan.

Alissa melihat akar yang lebih mendasar terlahir dari cara pandang masyarakat itu sendiri. Menurutnya, masyarakat Indonesia pascakolonial terlalu cepat mengadopsi paradigma demokrasi individual ala Barat, dan identitas sosial Indonesia sejak awal bertumpu pada semangat komunal dan hidup bersama.

Dalam situasi pertentangan itu muncul. Saat hukum menjamin kebebasan individu. Masyarakat hidup dengan budaya harmonisme sosial yang menuntut keseimbangan. Ketika keduanya gagal dijembatani, demokrasi mudah berubah menjadi ruang pertarungan identitas yang melahirkan bibit-bibit kekerasan. (Litbang Kompas, Rabu, 15 Oktober 2025 05:00:37 WIB).

Walhasil, dari pertanyaan polos bocah kecil, justru tersimpan pelajaran yang sering luput dari orang dewasa. Toleransi sejatinya bukan konsep yang rumit, tapi berangkat dari rasa kemanusiaan yang sederhana, dengan mampu ikut sedih ketika orang lain kehilangan tempat ibadahnya, meski berbeda keyakinan.

Rupanya pertanyaan Aa Akil terasa begitu jujur dan menyentil. Anak kelas 5 itu tidak bertanya siapa yang paling benar secara teologis, hanya heran mengapa tempat orang beribadah bisa dirusak.

Kerukunan bukan sekadar slogan di spanduk, pidato seremonial, melainkan keberanian menjaga hak orang lain untuk hidup tenang dalam keyakinannya.

Dengan demikian, rumah ibadah yang dihancurkan bukan hanya merobohkan bangunan. Justru melukai rasa kemanusiaan. Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang berhasil menyeragamkan perbedaan, melainkan bangsa yang mampu merawat perbedaan itu dengan kasih sayang dan penghormatan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)