Ketika GOR Saparua Bandung Berguncang oleh Deretan Rocker Kawakan

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Pentas musik Super Rock ’84 menghiasi halaman surat kabar INTI JAYA edisi Mei 1984, yang kala itu memberitakan gegap gempita konser rock di GOR Saparua Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Di antara hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus berubah, nama GOR Saparua tetap melekat sebagai salah satu ruang paling bersejarah dalam perjalanan musik anak muda Indonesia. Pada era 1980 hingga 1990-an, gedung yang berada di kawasan Jalan Ambon itu bukan hanya dikenal sebagai arena olahraga, melainkan panggung sakral bagi berbagai konser musik rock, pop, jazz, hingga underground. Dari gedung inilah suara gitar listrik, sorak penonton, dan gegap gempita generasi muda Bandung pernah bergema nyaris setiap pekan. Banyak musisi besar lahir, tumbuh, dan dikenang lewat penampilan-penampilan mereka di Saparua, menjadikannya simbol penting perkembangan budaya musik modern di Kota Kembang.

Empat puluh dua tahun silam, tepatnya pada edisi Minggu ke-2 Mei 1984, surat kabar INTI JAYA Jakarta memuat kabar tentang sebuah pagelaran musik rock besar yang  mengguncang Kota Bandung. Bertempat di Gedung Sport Hall Gelora Saparua, konser bertajuk “Super Rock ’84”  berlangsung pada 13 Mei 1984 pukul 19.00 WIB, digarap oleh promotor muda penuh semangat, Yonny Dores melalui YD Enterprises.

Pada era 1980-an, Bandung memang dikenal sebagai salah satu barometer musik rock Indonesia. GOR Saparua bukan sekadar gedung olahraga, melainkan ruang bersejarah tempat bertemunya anak-anak muda, dentuman amplifier, rambut gondrong, jaket denim, hingga semangat kebebasan khas musik cadas masa itu.

Konser bertema “Super Rock ’84” sengaja dirancang untuk mempertemukan para rocker lintas kelompok dalam satu panggung besar. Sebuah konsep yang saat itu tergolong istimewa karena menghadirkan banyak nama besar rock Indonesia dalam satu pertunjukan.

Salah satu penampil utama yang paling mendapat apresiasi dari penonton adalah grup legendaris Bandung, Giant Step. Band yang dikenal sebagai pelopor progressive rock Indonesia itu tampil dengan formasi lengkap, yakni Benny Soebardja sebagai leader, gitaris sekaligus vokalis, didampingi Uce F. Tekol pada bass, Albert Warnerin pada gitar melodi, Triawan dan Erwin Badudu di keyboard, serta Jelly Tobing di posisi drum.

Tak hanya Giant Step, panggung “Super Rock ’84” juga menghadirkan sederet rocker kawakan yang sudah akrab di telinga penikmat musik rock nasional saat itu. Nama-nama seperti Arthur Kaunang dari SAS, Deddy Dores dari Superkid, Kiki dari Freedom dan Primas, Choqi eks Jerman Group, Budhy Trilogi, Mat Bitel Band, hingga rocker cilik Dadan Sukma ikut meramaikan suasana.

Para musisi tersebut tampil dalam format kolaborasi, saling menunjukkan kemampuan musikal mereka di atas panggung. Deddy Dores mengisi gitar melodi dan vokal, Arthur Kaunang serta Kiki memperkuat bass dan piano, sementara Choqi memainkan keyboard. Konsep “all star rock concert” semacam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton Bandung pada masa itu.

Dalam pemberitaan tersebut, konser Super Rock '84  dibanjiri penonton. Atmosfer rock Bandung yang sedang bergairah membuat “Super Rock ’84” menjadi salah satu pertunjukan paling semarak dibanding konser-konser serupa yang pernah digelar.

SOR Saparua Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
SOR Saparua Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)

Menariknya, promosi acara kala itu masih sangat mengandalkan radio dan penjualan tiket secara langsung. Tiket konser  diperoleh di sekretariat Jalan Citamiang 23 Bandung, juga melalui beberapa radio populer seperti Radio Famor, Radio OZ, dan Radio Megantara. Radio-radio tersebut memang memiliki peran besar dalam membangun kultur musik anak muda Bandung era 1980-an.

Kini, puluhan tahun telah berlalu. Namun jejak konser “Super Rock ’84” di GOR Saparua tetap menjadi bagian penting dari sejarah musik rock Indonesia. Ia bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan gambaran semangat zaman ketika Bandung menjadi salah satu pusat denyut rock nasional tempat para musisi, promotor, radio, dan penonton muda bersatu dalam satu dentuman suara gitar listrik yang membahana hingga larut malam.

Kini lapangan dan GOR Saparua kembali disiapkan sebagai sarana olahraga yang terbuka bagi masyarakat. Di kawasan ini tersedia berbagai fasilitas, mulai dari lapangan basket, arena sepatu roda, bola voli, hingga wahana wall climbing yang kerap dimanfaatkan para pencinta olahraga ekstrem.

Sebagian pengunjung datang untuk berolahraga serius, sementara yang lain memilih sekadar berjalan kaki santai atau melakukan jogging ringan di area sekitar. Semua dapat disesuaikan dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan fisik masing-masing.

Meski identik sebagai pusat kegiatan olahraga, kawasan Saparua juga masih kerap digunakan untuk beragam kegiatan lain, mulai dari acara komunitas, pertunjukan hiburan, hingga berbagai agenda publik yang melibatkan masyarakat luas.

Bagi generasi yang pernah merasakan atmosfernya, GOR Saparua bukan sekadar bangunan tua, melainkan ruang kenangan yang menyimpan denyut masa muda. Di tempat itu, ribuan penonton pernah bernyanyi bersama, berdesakan di depan panggung, hingga larut dalam dentuman musik yang membentuk identitas zamannya.

Meski era telah berubah dan banyak venue modern bermunculan, nama GOR Saparua tetap hidup dalam ingatan sebagai salah satu saksi penting kejayaan musik Bandung era 80-90an — sebuah tempat ketika musik, persahabatan, dan semangat kebebasan menyatu dalam suasana yang sulit tergantikan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)