Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 13 Mei 2026, 14:15 WIB
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak.

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

 Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Mei 2026, 16:58

Bandung Lautan Sampah

Kota Bandung masih menghadapi tantangan serius dengan 200 ton sampah per hari tidak terangkut.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 13 Mei 2026, 14:15

Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

Kota Bandung tidak lepas dari peran seorang perempuan baik sebagai penggerak ekonomi kreatif maupun keterlibatannya dalam bidang sosial yang tidak luput dri tantangan sebagai perempuan multiidentitas.

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 13 Mei 2026, 06:42

5 Pantai Pilihan di Pelabuhan Ratu Sukabumi yang Wajib jadi Itinerary Wisata

Rekomendasi 5 pantai di Pelabuhan Ratu Sukabumi dengan karakter berbeda, dari pantai ramah keluarga hingga spot surfing terbaik.

Wisata Pantai Karang Hawu Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)