Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

9 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak.

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

 Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jun 2026, 20:33

Menggerakkan Idealisme Mahasiswa Berprestasi

Apa yang membuat mahasiswa semangat menjalani hari-hari dan mengubah dirinya?

Ilustrasi gerakan mahasiswa berprestasi. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 19:38

Cek Kesehatan Gratis dan Investasi SDM Indonesia Emas 2045

Menganalisa manfaat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Kesehatan Gratis (Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis | Foto: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 18:39

Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks .

Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 17:25

Panduan Berkunjung ke Pantai Sawarna: Delapan Pantai, Gua, dan Lanskap Pesisir di Selatan Banten

Jelajahi Pantai Sawarna di Lebak, Banten, dengan deretan pantai indah, gua karst, spot surfing, dan panorama Samudra Hindia yang memukau.

Sunset Pantai Tanjung Layar Sawarna. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:30

Perempuan dan Polarisasi Modern

Perubahan zaman modern terkadang masih diselimuti oleh isu-isu kaum marjinal, terutama kaum perempuan.

Ilustrasi perempuan Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Ruly Nurul Ihsan)
Linimasa 26 Jun 2026, 16:25

Hikayat Pelatih Kuda Renggong, Bisa Berganti Ratusan Kuda Karena Tidak Cocok

Menjadi pelatih kuda renggong tak hanya butuh keahlian, tetapi juga chemistry. Usep telah berganti ratusan kuda demi menemukan pasangan terbaik.

Usep, salah seorang pelatih kuda renggong di Ujungberung, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:03

Publikasi Hasil Lisensi Klub Berhasil Menjaga Konsistensi Komunikasi pada Dua Platform Digital

Konsistensi komunikasi menjadi kunci kredibilitas sebuah perusahaan. Artikel ini menganalisis konsistensi komunikasi PT I.League pada dua platform digital.

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:24

Mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan salah satu figur Belanda yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia

Karel Albert Rudolf Bosscha. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Jodya Maulana)
Linimasa 26 Jun 2026, 15:18

Hikayat Kampung Pembuat Panci di Bandung, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Kampung Cikalang Kaler di Bandung telah puluhan tahun memproduksi panci. Kini mereka bertahan di tengah perubahan teknologi dapur modern.

Pengrajin di kampung pembuat panci Cileunyi, Kabupaten Bandung, bertahan di tengah perubahan zaman. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:04

Perkembangan Industri Perfilman Indonesia dari Tahun 1950-2026

Menelisik sejarah panjang perfilman di Indonesia dan karya-karya tersohor yang muncul sepanjang delapan dekade.

Judul film Darah dan Doa (1950). Film pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia (Sumber: Wikipedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:33

Eksistensi Arumba sebagai Musik Tradisional Sunda di Tengah Modernisasi

Arumba merupakan alat musik tradisional dari Sunda yang masih eksis hingga saat ini meskipun berada di tengah arus modernisasi.

Kegiatan siswa memainkan Arumba sebagai bentuj pelestarian seni musik tradisional Sunda di lingkungan sekolah (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:13

Kuy Ah ... ke Sekolah Swasta

Melihat sekolah swasta yang sekarang semakin banyak melahirkan pelajar berprestasi hebat.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 13:09

Perbankan di Indonesia Integrasikan UMKM dalam Membangun Citra Positif

Publikasi BSI terkait integrasi UMKM halal menarik dianalisis: website menggunakan kata kunci formal, sedangkan Instagram menggunakan bahasa yang lebih sederhana bagi audiens.

Kedai-kedai UMKM di Pasar Cihapit, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 12:50

Dari Patriarki ke Femisida: Membaca Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Warisan Struktur Historis

Bagaimana sistem kuasa yang diwariskan lintas generasi membentuk, menormalkan, dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan hingga titik terparahnya.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 11:25

Panduan Berkunjung ke Lembang Park and Zoo: Kebun Binatang Bergaya Eropa di Dataran Tinggi Bandung

Lembang Park and Zoo menawarkan kebun binatang modern, wahana bermain, safari mini, hingga cat café unik di kawasan sejuk Lembang.

Lembang Park and Zoo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:42

HANI dan Tren Modus Operandi Kasus Narkotika

Bandung Raya kian rawan narkoba dengan adanya industri rumahan tembakau sintetis.

Polda Jabar musnahkan narkotika. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan))
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:16

Peringatan Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

Mata dibutakan, bibir digunting: krisis keamanan berbasis gender yang mengancam perempuan.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 08:20

Memperjuangkan Representasi Anak-Anak Autis Bersama Komunitas Autistik

Peluncuran Boneka Barbie autis pada website dan instagram PT Mattel menunjukkan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada anak-anak penyandang autisme dalam bentuk boneka.

Ilustrasi anak autisme. (Sumber: Pexels | Foto: Mah mud)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 07:56

Makna Sejati Karangan Bunga KDM untuk Jakarta

Provinsi lain perlu belajar dari Jakarta terkait dengan keberhasilan mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM) dan sukses menata sistem pengembangan SDM.

Karangan bunga KDM untuk HUT Jakarta (Sumber: tangkapan layar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 20:12

Kembang Tanpa Dedaunan

Menjaga kondisi hawa atau cuaca di Kota Bandung agar tidak menjadi lebih panas di tahun-tahun berikiutnya sesuai dengan tema hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2026.

The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)