Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

9 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak.

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

 Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Agu 2026, 11:38

81 Tahun Merdeka, Jejak Belanda Masih Terasa Lewat Perkedel hingga Semur

Indonesia telah 81 tahun merdeka, tetapi jejak Belanda masih terasa di meja makan. Perkedel, semur, kroket hingga lapis legit menjadi bukti warisan kuliner kolonial yang beradaptasi.

Jejak kuliner Belanda masih dapat ditemukan dalam berbagai makanan yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. (Sumber: magnific.com | Foto: stockking)
Ayo Netizen 14 Agu 2026, 08:34

KDM Punya 35 Juta Pemilih di Jabar, Cukupkah untuk Menuju 2029? 

Kalau memang suratan tangan menetapkan KDM maju ke pentas politik nasional di tahun 2029 dan berhasil, tentu itu akan menjadi sejarah politik nan penting.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 13 Agu 2026, 19:19

Semangat Integritas Digitalisasi Wisata Kota Bandung, Dari Transportasi Publik hingga Perlindungan Transaksi

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism.

Kota Bandung, yang secara konsisten menjadi salah satu magnet utama pariwisata nasional, kini berada di tengah transformasi penting menuju ekosistem smart tourism. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 19:09

Cibeulah, Rekahan Tanah Akibat Gempa Bumi yang Menyimpan Cerita

Cibeulah berarti tanah belah dalam bahasa Sunda dan Banten. Toponim ini menyimpan jejak gempa bumi, rekahan tanah, serta pengetahuan leluhur tentang ancaman bencana dan pentingnya mitigasi.

Rumah warga yang terdampak gempabumi dengan kekuatan (M) 6,7 pada tanggal 14 Januari 2022, di Kabupaten Pandeglang, Banten. (Sumber: BNPB)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:45

Touring Tidak Selalu tentang Healing, tetapi Juga Ruang Sosial dan Psikologis

Touring bukan sekadar hobi berkendara atau perjalanan untuk healing. Di balik perjalanan dan biaya yang dikeluarkan, touring menjadi ruang untuk menjaga kesehatan sosial dan psikologis.

Touring bukanlah sekadar hobi berkendara yang menguras materi, melainkan ruang sosial dan psikologis. (Sumber: magnific.com | Foto: bublikhaus)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 12:21

Melawan Greenwashing untuk Mendorong Sikap Kritis terhadap Klaim Ramah Lingkungan

Greenwashing mengancam kepercayaan konsumen dan investor serta mengganggu alokasi modal. Transparansi, audit ESG, dan sikap kritis pasar menjadi kunci membangun bisnis berkelanjutan di masa depan.

Fenomena greenwashing didefinisikan sebagai persilangan antara kinerja lingkungan yang buruk dengan komunikasi positif yang menyesatkan. (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:43

Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

Mengenang Majalah Hai, teman generasi 1980-an dan 1990-an yang tak hanya menghadirkan musik, komik, dan cerita, tetapi juga memperluas wawasan serta membentuk selera dan imajinasi anak muda Indonesia.

Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Beranda 13 Agu 2026, 10:32

Pohon di Kota Bandung Ditebang Ilegal, Tapi Anggaran Beli Lahan RTH 2026 Malah Tak Ada

Puluhan pohon di Kota Bandung ditebang liar, giliran anggaran beli lahan RTH 2026 malah nihil. Kini janji ruang hijau kota terancam cuma angan-angan di atas kertas.

Sisa pohon yang ditebang di Jalan LLRE Martadinata (Jalan Riau), Kota Bandung, Selasa 4 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Agu 2026, 10:03

Pohon, Bisnis, dan Kehidupan

Saat pohon tumbang, yang jatuh bukan hanya batang, dahan, daun, justru yang ikut runtuh sederetan cerita, petuah, pamali, ingatan, hingga khazanah lokal.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 15:24

Merawat Hutan, Menjaga Warisan Peradaban di Jawa Barat

Kondisi hutan di Jawa Barat saat ini berada dalam status darurat atau sinyal lampu merah yang berakibat dari kerusakan dan penyusutan tutupan hutan yang masif.

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 13:38

Cuaca Ekstrem Kota Bandung Akan Menimbulkan Kerawanan Bahaya Kebakaran

Cuaca ekstrem acapkali menjadi peringatan alam, bukan hanya sekadar perubahan musim tetapi peningkatan suhu mengakibatkan kekeringan yang memiliki potensi besar untuk terjadinya kerawanan kebakaran

Sawah mengalami kekeringan di musim Kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)