Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

9 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 13 Mei 2026, 14:15 WIB
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak.

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

 Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)