Peran dan Tantangan Perempuan Multiidentitas di Kota Bandung

9 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Acara Bedah Buku Multiidentitas Karya Zahid Ibrahim (Sabtu, 09 Mei 2026) Gramedia Merdeka Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak.

Membicarakan Perempuan memang tidak pernah ada habisnya. Dari bagian terkecil hingga terbesar tak luput dari perhatian society. Berawal dari mengikuti kegiatan bedah buku yang berjudul Multiidentitas karya Zahid Ibrahim di Gramedia Merdeka Bandung. Saya jadi memikirkan bagaimana peran dan tantangan Perempuan dengan multiidentitas di kota Bandung.

Zahid ibrahim awal di kenal di Indonesia sebagai konten kreator di channel youtube. Ia adalah seorang mahasiswa ITB yang senang membicarakan tentang edukasi bagi kalangan anak muda. Dinamika kehidupan Zahid yang unik yaitu multiidentitas menurut saya jadi Khazanah tersendiri bagi para pengikutnya di sosial media. Zahid adalah orang pertama yang berani mengatakan hal berbeda tentang monoidentitas dan multiidentitas.

Di negara kita semua warganya sudah ditentukan untuk monoidentitas. Misalnya saja dari bangku sekolah SD kita sudah diajarkan untuk memilih atau ahli di satu bidang yaitu sains atau sosial. Rasanya menyukai keduanya akan dianggap sebagai seseorang yang tidak fokus—seseorang yang tidak tahu tujuan.

Hal ini mengingatkan kepada dosen saya yang mengatakan bahwa saya terlalu serakah jika menginginkan kedua hal bisa berjalan secara beriringan. Dosen saya pernah mengatakan bahwa seorang manusia hanya bisa unggul di satu bidang dan mendalam. Jika ada satu orang yang ingin menjalani dua bidang maka dipastikan tidak akan sukses karena mempelajari hanya hal dasarnya saja dan tidak mendalam.

Dulu sebelum ada istilah multiidentitas saya selalu merasa bahwa Keputusan saya untuk menjalani bidang sains dan sosial secara bersamaan adalah hal yang cacat—keluar dari norma dan aturan yang ada di dunia ini. Namun setelah saya membaca buku ini dan berdiskusi dengan guru besar di kampus bahwa tidak ada salahnya jika Perempuan bisa multiidentitas—bahkan dari dulu Perempuan bisa dikatakan sebagai Perempuan dengan multiidentitas.

Kembali pada realita bagaimana Perempuan di Bandung bisa memiliki banyak peran dalam hidupnya. Bagi yang sudah menikah mungkin mereka bisa berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus Wanita pekerja. Adapun Perempuan yang menjalani peran menjadi mahasiswa sekaligus berperan sebagai entrepreneur dalam bidang yang digelutinya.

Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, memikul tanggung jawab yang sama beratnya, berjalan bersama dalam keseimbangan hidup yang sederhana namun bermakna. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)

Peran Perempuan Multiidentitas di Bandung

Bisa kita amati bagaimana kondisi Perempuan di kota Bandung saat hilir-mudik di jalanan. Banyak dari mereka yang sibuk mengerjakan peran-peran mereka dari pagi buta hingga menjelang malam hari. Adapun beberapa peran Perempuan di kota Bandung yang perlu kita amati sebagai bahan refleksi betapa berharganya nilai seorang Perempuan.

Pertama, Perempuan sebagai pilar Ekonomi dan Rumah Tangga. Dilansir dari artikel Kompas.com bahwa saat momen kartini 21 April 2026 tercatat oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) kota Bandung terdapat 183.000 perempuan yang berperan sebagai kepala keluarga. Angka ini merepresentasikan 21.4% dari total 800.000 kepala keluarga yang tersebar di seluruh Kota Bandung.

Stigma sosial yang melekat pada Perempuan sejak dulu kala mengatakan bahwa Perempuan dalam rumah tangga bertindak sebagai pihak yang mengurusi kegiatan dosmetik. Sehingga banyak Perempuan yang mengabdikan seluruh kehidupannya hanya dalam sumur, kasur dan dapur. Jika ada bagian dari mereka yang ingin meluaskan perannya menjadi Wanita karir sudah pasti menjadi pembicaraan para tetangga.

Meski demikian dengan data yang tercatat di atas sudah menjelaskan bahwa Perempuan memiliki peran dan andil yang cukup besar sebagai pilar pertumbuhan ekonomi di Kota Bandung. Hal ini tentunya ditandai dengan berbagai peran multiidentitas sebagai seorang Perempuan pekerja pabrik, Perempuan penjual baju atau makanan dan Perempuan yang berprofesi sebagai PNS, tenaga kesehatan maupun tenaga pendidikan.

Kedua, Perempuan sebagai aktor pembangun sosial. Perempuan di Bandung aktif dalam gerakan sosial ekofeminisme atau pemberdayaan Perempuan. Salah satunya ada komunitas Nyi Iteung Bandung yang didirikan di era pandemi 2020 yang fokus kepada pengembangan potensi diri dari para anggota perempuannya, memberikan dorongan serta memajukan kegiatan UMKM yang dikelola Perempuan dan penyaluran minat serta bakat dari Perempuan yang sebagian besar dipenuhi oleh Ibu rumah tangga. Kerekatan komunitas ini sudah tertanam dari nilai Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh yang menjadi core values dari komunitas ini.

 Ketiga, Perempuan sebagai agen politik. Salah satu yang menjadi tokoh Perempuan panutan dalam politik di kota Bandung adalah Atalia Praratya. Keterlibatannya dalam dunia politik menjadi identitas baru bagi seorang Perempuan yang sudah dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan untuk beberapa kebijakan di Kota Bandung. Sejauh ini kiprahnya dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan dan anak sangat terlihat jelas. Salah satu bukti ketika ada kasus Perempuan yang dilecehkan oleh satu dokter anestesi yang ada di RSHS Bandung, Atalia gencar menyuarakan dan memberikan perlindungan kepada korban pelecehan seksual.

Keempat, Perempuan sebagai wirausahawan dan penggerak ekonomi kreatif. Sejauh ini program pemerintah di Kota Bandung terus gencar dalam mendorong produktivitas Perempuan melalui kewirausahaan sehingga menjadikan Perempuan menjadi penggerak ekonomi kreatif. Banyak Perempuan yang tidak hanya bisa mengangkat perekonomian keluarga tapi juga bisa berdaya bagi lingkungan sekitarnya untuk menciptakan atau menginovasikan sebuah produk yang pada akhirnya dapat menyerap lapangan pekerjaan bagi Perempuan lainnya di kota Bandung.

Tantangan Perempuan dengan Multiidentitas

Perempuan dengan berbagai peran multiidentitasnya ternyata banyak berdampak bagi lingkungan dan khususnya Kota Bandung. Namun dibalik perannya tersebut tersimpan tantangan yang tidak mudah bagi Perempuan.

Perempuan dapat memiliki peran ganda. Tekanan dalam keterlibatan dosmetik seringkali menuntut Perempuan untuk tetap produktif dalam membantu keuangan keluarga. Hal ini bisa menimbulkan tekanan mental dan manajamen waktu yang sangat sulit bagi Perempuan. Jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan burnout yang berdampak pada kesehatan mental seorang Perempuan.

Meskipun Bandung terlihat sudah progresif, steoretipe gender masih sangat membatasi Perempuan dalam mendapatkan akses ke posisi pemimpin dan pengambilan keputusan dalam sebuah instansi tertentu. Perempuan juga masih rentan dalam mengalami diskriminasi dan resiko kekerasan. Meski eksistensi Perempuan mulai muncul ke hadapan publik tapi masih banyak kasus kekerasan seksual atau rumah tangga yang masih dialami oleh Perempuan lainnya di Kota Bandung.

Semoga Bandung selalu menjadi tempat yang nyaman dan aman untuk Perempuan. Menjadi kota yang tidak hanya maju dan berkembang tapi turut memberdayakan Perempuan tapi menjadi kota pertama yang ramah terhadap isu-isu Perempuan dan anak-anak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)