Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Selasa 21 Apr 2026, 17:08 WIB
Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di saat banyak orang merayakan Hari Kartini dengan kebaya dan panggung seremonial, Enis dan Romauli justru menembus aspal kota di balik kemudi ojek online. Bagi mereka, emansipasi adalah menjaga dapur tetap ngebul di tengah kerasnya jalanan.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB hari saat perempuan berusia 53 tahun itu bangun dari tempat tidurnya. Di saat sebagian orang masih terlelap, ia sudah berada di dapur, menanak nasi, merapikan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, lalu bersiap mengenakan jaket ojek online.

Hari itu adalah Hari Kartini. Namun, Enis tidak mengenakan kebaya, tidak menghadiri upacara, dan tidak pula memegang bunga di panggung perayaan. Ia memilih menyalakan sepeda motor dan berangkat mencari orderan.

Di pangkalan, di halte depan ITB, banyak orang memanggilnya “Ema (Ibu)”. Sapaan itu lahir dari usia sekaligus rasa hormat para pengemudi lain kepadanya. Meski rambutnya mulai dipenuhi uban dan tenaganya tak lagi sama seperti dulu, Enis masih menembus jalanan Kota Bandung hampir setiap hari.

“Nama saya Enis. Umur saya 53 tahun. Saya sudah tiga tahun narik di sini. Ya begini, alhamdulillah masih kuat, masih bisa jalan, masih bisa kerja,” ujarnya sambil tersenyum.

Perempuan asal Lampung itu mengaku pekerjaan sebagai pengemudi daring bukan cita-cita masa mudanya. Namun, keadaan hidup membuatnya memilih jalan tersebut.

“Kenapa milih narik? Karena enggak ada kerjaan lain. Selain pabrik, siapa yang mau nerima saya kalau umur segini? Mau ngeluh juga percuma. Jadi selama badan masih bisa dipakai kerja, saya jalanin aja,” katanya.

Setiap pagi, Enis memulai pekerjaannya sekitar pukul 07.00. Ia berkeliling hingga sore hari, menjemput penumpang, mengantar makanan, atau sekadar menunggu notifikasi masuk di pinggir jalan. Jika cuaca sedang buruk, penghasilannya bisa jauh menurun.

“Kalau hujan saya berhenti. Takut sakit. Sekarang angin juga gede-gede. Kadang jam 12 siang pulang, baru dapat sedikit. Tapi mau gimana lagi, rezeki mah enggak bisa dipaksa,” tuturnya.

Jalanan, bagi Enis, bukan hanya soal macet dan panas. Ia harus berhadapan dengan jalan berlubang, pengendara ugal-ugalan, juga sikap sebagian orang yang memandang rendah profesinya. Bahkan, sesama pengemudi pun tak selalu bersikap ramah.

“Pernah diremehkan? Bukan pernah lagi. Sama driver cowok juga ada. Pernah saya dilaporin ke kantor. Katanya saya begini, begitu. Tapi saya bilang, kita sama-sama cari uang di jalan. Harusnya saling bantu, saling sapa, biar banyak saudara. Kalau ribut terus, capek sendiri,” katanya.

Ia memilih menahan emosi dan mengalah. Baginya, membawa pulang nafkah jauh lebih penting daripada memperpanjang pertengkaran.

“Namanya saya sudah tua ya, saya mengalah aja. Saya ke sini buat kerja, bukan buat musuhan,” ujarnya.

Ketika diberitahu bahwa hari itu diperingati sebagai Hari Kartini, Enis mengangguk. Ia mengetahui informasi itu dari telepon genggamnya. Namun makna Kartini, menurutnya, tak berhenti di buku sejarah.

“Hari Kartini itu perempuan yang kuat, yang tangguh, yang rajin bekerja. Jangan banyak ngeluh. Kalau perempuan mah harus kuat, harus sabar, harus terus jalan. Ikutin semangat Ibu Kartini biar semangat terus,” katanya.

Bagi Enis, semangat bekerja bukan datang dari slogan. Ia lahir dari kebutuhan rumah tangga dan cinta kepada keluarga.

“Demi keluarga. Demi anak-anak. Anak saya tiga. Membantu suami juga ibadah. Selama saya masih bisa kerja, saya kerja,” ucapnya.

Bagi Romauli semangat Kartini adalah menolak menyerah pada keadaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Romauli semangat Kartini adalah menolak menyerah pada keadaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hari Kartini, Momentum Perempuan Kuat

Tak jauh dari tempat Enis menunggu orderan, perempuan lain sedang merapikan helm di atas motor dan beristirahat di bahu Jalan Dago. Namanya Romauli Simanjuntak, perempuan kelahiran 1977 yang sudah bertahun-tahun menjadi pengemudi daring.

Romauli memulai pekerjaannya sejak pukul 06.00 pagi dan baru berhenti antara sore hingga malam. Bila hujan turun, ia memilih pulang cepat.

“Kalau hujan saya langsung beres. Berapapun hasil hari itu, ya sudah. Keselamatan lebih penting. Cari uang bisa besok, tapi kalau kenapa-kenapa di jalan repot,” ujarnya.

Ia mengaku menjadi pengemudi karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Namun seiring waktu, pekerjaan itu justru memberinya pelajaran tentang kemandirian.

“Satu, karena kebutuhan. Kedua, ini pekerjaan halal yang saya tahu. Ketiga, saya belajar kalau perempuan juga bisa hidup dari tenaga sendiri. Kalau keadaan saya baik-baik saja dulu, mungkin saya enggak narik. Tapi hidup kan kadang berubah,” katanya.

Romauli juga menghadapi tantangan yang berbeda sebagai perempuan di jalanan. Ia pernah mendapat penumpang yang bersikap tidak pantas, juga menerima order fiktif yang merugikan.

“Kalau dapat customer yang ganjen itu capek. Saya sampai bawa tas, saya taruh di belakang buat penghalang. Pernah juga orderan aneh-aneh, bikin kita waswas. Perempuan di jalan itu harus lebih hati-hati,” tuturnya.

Selain itu, ia pernah merasakan perlakuan berbeda hanya karena mengenakan atribut pengemudi daring.

“Waktu saya datang pakai jaket driver ke tempat makan, rasanya beda diperlakukan. Padahal sebelum jadi driver saya juga punya pekerjaan sendiri. Tapi ya sudahlah, dari situ saya belajar, jangan pernah nilai orang dari pakaiannya,” katanya.

Meski begitu, Romauli tak menutup mata bahwa banyak orang baik yang ia temui selama bekerja. Penumpang yang ramah, pelanggan yang memberi tip, hingga wisatawan asing yang menghargai kerjanya.

“Banyak juga orang baik. Ada ongkos Rp30 ribu dibayar Rp100 ribu. Ada yang kasih makan, kasih minum. Ada tamu luar negeri kasih tip dolar. Itu bikin saya percaya, di jalan bukan cuma ada capek, tapi ada berkah juga,” ujarnya.

Saat ditanya soal Hari Kartini, Romauli menjawab tegas. Menurutnya, perjuangan perempuan masih jauh dari selesai.

“Bagi saya Hari Kartini itu persamaan hak wanita dengan pria, kesetaraan gender. Hari perempuan kuat. Hari seorang ibu, seorang anak perempuan. Tapi kalau dibilang sudah setara? Belum. Tiga puluh persen juga belum,” katanya.

Ia berharap perempuan hari ini terus maju, tetapi tanpa kehilangan harga diri.

“Perempuan harus punya prestasi, harus punya pegangan hidup. Jangan lecehkan dirimu hanya karena setumpuk uang. Martabat perempuan itu ada di perilaku yang enggak kelihatan orang lain,” ujarnya.

Lalu apa yang membuatnya tetap bertahan?

“Saya ingin bersedekah. Saya ingin bantu orang tua. Saya ingin hidup layak tanpa bergantung sama pria. Itu yang bikin saya semangat,” katanya mantap.

News Update

Ikon 21 Apr 2026, 18:46

Hikayat Tol Cipali, Warisan Enam Presiden yang jadi Jantung Penghubung Jawa Barat

Sejarah panjang Tol Cipali dari krisis 1998 hingga beroperasi, serta dampaknya terhadap konektivitas dan ekonomi Pulau Jawa.

Tol Cipali. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 18:32

Profil Dr. Riadi Darwis: Menjaga Marwah Tatar Sunda Melalui Rasa

Darah kuliner Dr. Riadi Darwis mengalir dari ekosistem rumah makan milik kakek dan neneknya.

Ilustrasi Dr. Riadi Darwis. (Sumber: Istimewa)
Bandung 21 Apr 2026, 18:11

Tantangan Bisnis Roastery Kopi: Bedah Supply Chain dan Peluang Pasar Global ala Good Things

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things.

Bedah tantangan bisnis roastery kopi mulai dari fluktuasi harga bahan baku, rumitnya supply chain, hingga strategi menembus pasar internasional ala Good Things. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 17:57

Jiwanta: Berendam di Air Panas, Rasakan Ketenangan Hidup

Keajaiban air panas alami di tengah sejuknya alam Ciwidey yang memesona.

Jiwanta Cimanggu Hot Spring. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dudung Ridwan)
Wisata & Kuliner 21 Apr 2026, 17:50

Wisata Curug Cihanyawar, Air Terjun di Kaki Gunung Cikuray

Panduan wisata Curug Cihanyawar Garut, meliputi lokasi, akses jalur, kondisi jalan, serta daya tarik air terjun di kawasan kebun teh dan hutan pinus.

Curug Cihanyawar Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 21 Apr 2026, 17:08

Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

Di Hari Kartini, dua perempuan pengemudi ojol di Bandung berbagi pengalaman menghadapi risiko, stigma, dan ketidakpastian penghasilan saat bekerja di jalanan.

Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 16:12

Kartini Masa Kini yang Menggeluti Energi Angin

Wanita yang mendapat julukan ”Iron Lady” ini tumbuh dalam budaya Betawi yang kental.

Ani Dwi Octavia, Kartini masa kini yang menggeluti energi angin. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ani Dwi Octavia)
Komunitas 21 Apr 2026, 15:51

Lewat Kearifan Lokal, Komunitas Cika-Cika Konsisten Jaga Ekosistem Sungai Selama 17 Tahun

Komunitas Cika-Cika menjaga ekosistem Sungai Cikapundung selama 17 tahun melalui edukasi dan kearifan lokal. Aksi nyata ini mengubah bantaran sungai menjadi ruang sosial ekonomi yang berkelanjutan.

Pengunjung beraktivitas di bantaran Sungai Cikapundung, Cikalapa pada Minggu 19 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 15:29

Langkah Kecil Merawat Bumi

Menjaga lingkungan bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi menjadi bagian dari ibadah.

Sejumlah siswa SD Darul Hikam Bandung menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 12:32

Jejak Kiprah Radio Bandung Era Tahun 70-an

Romantisme mendengarkan radio di Bandung pada awal dekade 1970-an bukan sekadar hiburan.

Para penyiar Radio Flippies Psychedelic, salah satu radio favorit di Bandung pada awal 1970-an. (Sumber: Majalah Aktuil)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 10:21

Mewujudkan Bandung Kota Vokasional

Bandung memiliki potensi besar menjadi kota vokasional, terutama berbasis industri kreatif, teknologi, dan jasa.

Ilustrasi sekolah kejuruan SMKN 4 Bandung. (Sumber: Laman SMKN 4 Bandung)
Beranda 21 Apr 2026, 09:41

Memburu Senyum Wisatawan, Rezeki Fotografer Jalanan di Asia Afrika Kota Bandung

Kisah inspiratif para fotografer jalanan di Asia Afrika Bandung yang tetap eksis di era ponsel, mengubah momen liburan wisatawan menjadi kenangan berharga demi mengais rezeki.

Wisatawan lokal berpose di Jalan Asia Afrika Kota Bandung dengan latar belakang gedung bersejarah, Hotel Savoy Homann. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 08:58

Tangkuban Parahu dari Sudut yang Tak Biasa

Kisah perjalanan empat orang ke Upas Hill yang tidak hanya soal puncak, tapi juga cara baru melihat Tangkuban Perahu.

Empat orang di perjalanan menuju puncak Upas Hill, sebelum semua sudut pandang berubah di atas ketinggian 2084 Mdpl. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Pernando Aigro S.)
Ayo Netizen 21 Apr 2026, 07:55

Rahasia Dapur Putri Jepara: Menghidupkan Kembali 209 Resep Autentik R.A. Kartini

Warisan kuliner ini kini terdokumentasi secara megah dalam buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini.

Sampul depan buku Kisah dan Kumpulan Resep Putri Jepara: Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Bandung 20 Apr 2026, 21:13

Dari Kantoran ke Roastery, Cerita Good Things Membangun “Rasa” dan Relasi Lewat Kopi

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi.

Good Things dimulai dari langkah sederhana sang founder, Alvira Kanusa Putra, yang memilih resign dari pekerja kantoran dan gagasan sederhana yang berkaitan dengan ketertarikannya dengan kopi. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Wisata & Kuliner 20 Apr 2026, 20:28

Wisata Gunung Singah, Gunung Api Purba yang Cocok untuk Pendaki Pemula

Panduan pendakian Gunung Singah Bandung, termasuk jalur pendakian, estimasi waktu, kondisi trek, dan pemandangan luas Cekungan Bandung dari puncaknya.

Pemandangan dari puncak Gunung Singah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 20:22

Meningkatkan Kerjasama Ketenagakerjaan dengan Jepang

Salah satu isu penting yang perlu terus ditekankan kepada pemerintah Jepang adalah masalah ketenagakerjaan

Keberangkatan pekerja dari Bandung untuk magang dan bekerja di Jepang (Sumber: lpksekaimustika.com)
Seni Budaya 20 Apr 2026, 14:27

Ketakutan dalam Kehidupan Baduy Luar: Modernisasi yang Diterima Diam-Diam dan Adat yang Tetap Mengawasi

Di Baduy Luar, barang modern seperti sabun hingga panel surya mulai digunakan, namun tetap disembunyikan karena aturan adat yang kuat.

Rumah dengan panel surya, bukti Baduy luar menerima modernisasi dengan cara sembunyi-sembunyi dari ketua adat.
Ayo Jelajah 20 Apr 2026, 13:39

Di Tanah Baduy, Kesetaraan Tak Perlu Didebatkan

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis.

Di tanah Baduy, kesetaraan laki-laki dan perempuan tak diperdebatkan, melainkan dijalani dalam keseharian yang sederhana dan harmonis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Dian Naren Prastiti)
Ayo Netizen 20 Apr 2026, 13:10

Dari Lari ke Meditasi: Lari sebagai Praktik Budaya Populer dalam Transformasi Ruang Kota Bandung

Tren lari selalu menjadi solusi untuk mencari ketenangan dalam setiap indiividu.

Komunitas dan aktivitas lari yang semakin marak di Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)