Di Hari Kartini, Dua Perempuan Ojol Ceritakan Realitas Kerasnya Pekerjaan di Jalanan

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Enis, menjadi Kartini masa kini berarti pantang menyerah mencari nafkah di usia senja. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di saat banyak orang merayakan Hari Kartini dengan kebaya dan panggung seremonial, Enis dan Romauli justru menembus aspal kota di balik kemudi ojek online. Bagi mereka, emansipasi adalah menjaga dapur tetap ngebul di tengah kerasnya jalanan.

Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB hari saat perempuan berusia 53 tahun itu bangun dari tempat tidurnya. Di saat sebagian orang masih terlelap, ia sudah berada di dapur, menanak nasi, merapikan rumah, menyiapkan kebutuhan keluarga, lalu bersiap mengenakan jaket ojek online.

Hari itu adalah Hari Kartini. Namun, Enis tidak mengenakan kebaya, tidak menghadiri upacara, dan tidak pula memegang bunga di panggung perayaan. Ia memilih menyalakan sepeda motor dan berangkat mencari orderan.

Di pangkalan, di halte depan ITB, banyak orang memanggilnya “Ema (Ibu)”. Sapaan itu lahir dari usia sekaligus rasa hormat para pengemudi lain kepadanya. Meski rambutnya mulai dipenuhi uban dan tenaganya tak lagi sama seperti dulu, Enis masih menembus jalanan Kota Bandung hampir setiap hari.

“Nama saya Enis. Umur saya 53 tahun. Saya sudah tiga tahun narik di sini. Ya begini, alhamdulillah masih kuat, masih bisa jalan, masih bisa kerja,” ujarnya sambil tersenyum.

Perempuan asal Lampung itu mengaku pekerjaan sebagai pengemudi daring bukan cita-cita masa mudanya. Namun, keadaan hidup membuatnya memilih jalan tersebut.

“Kenapa milih narik? Karena enggak ada kerjaan lain. Selain pabrik, siapa yang mau nerima saya kalau umur segini? Mau ngeluh juga percuma. Jadi selama badan masih bisa dipakai kerja, saya jalanin aja,” katanya.

Setiap pagi, Enis memulai pekerjaannya sekitar pukul 07.00. Ia berkeliling hingga sore hari, menjemput penumpang, mengantar makanan, atau sekadar menunggu notifikasi masuk di pinggir jalan. Jika cuaca sedang buruk, penghasilannya bisa jauh menurun.

“Kalau hujan saya berhenti. Takut sakit. Sekarang angin juga gede-gede. Kadang jam 12 siang pulang, baru dapat sedikit. Tapi mau gimana lagi, rezeki mah enggak bisa dipaksa,” tuturnya.

Jalanan, bagi Enis, bukan hanya soal macet dan panas. Ia harus berhadapan dengan jalan berlubang, pengendara ugal-ugalan, juga sikap sebagian orang yang memandang rendah profesinya. Bahkan, sesama pengemudi pun tak selalu bersikap ramah.

“Pernah diremehkan? Bukan pernah lagi. Sama driver cowok juga ada. Pernah saya dilaporin ke kantor. Katanya saya begini, begitu. Tapi saya bilang, kita sama-sama cari uang di jalan. Harusnya saling bantu, saling sapa, biar banyak saudara. Kalau ribut terus, capek sendiri,” katanya.

Ia memilih menahan emosi dan mengalah. Baginya, membawa pulang nafkah jauh lebih penting daripada memperpanjang pertengkaran.

“Namanya saya sudah tua ya, saya mengalah aja. Saya ke sini buat kerja, bukan buat musuhan,” ujarnya.

Ketika diberitahu bahwa hari itu diperingati sebagai Hari Kartini, Enis mengangguk. Ia mengetahui informasi itu dari telepon genggamnya. Namun makna Kartini, menurutnya, tak berhenti di buku sejarah.

“Hari Kartini itu perempuan yang kuat, yang tangguh, yang rajin bekerja. Jangan banyak ngeluh. Kalau perempuan mah harus kuat, harus sabar, harus terus jalan. Ikutin semangat Ibu Kartini biar semangat terus,” katanya.

Bagi Enis, semangat bekerja bukan datang dari slogan. Ia lahir dari kebutuhan rumah tangga dan cinta kepada keluarga.

“Demi keluarga. Demi anak-anak. Anak saya tiga. Membantu suami juga ibadah. Selama saya masih bisa kerja, saya kerja,” ucapnya.

Bagi Romauli semangat Kartini adalah menolak menyerah pada keadaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Romauli semangat Kartini adalah menolak menyerah pada keadaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hari Kartini, Momentum Perempuan Kuat

Tak jauh dari tempat Enis menunggu orderan, perempuan lain sedang merapikan helm di atas motor dan beristirahat di bahu Jalan Dago. Namanya Romauli Simanjuntak, perempuan kelahiran 1977 yang sudah bertahun-tahun menjadi pengemudi daring.

Romauli memulai pekerjaannya sejak pukul 06.00 pagi dan baru berhenti antara sore hingga malam. Bila hujan turun, ia memilih pulang cepat.

“Kalau hujan saya langsung beres. Berapapun hasil hari itu, ya sudah. Keselamatan lebih penting. Cari uang bisa besok, tapi kalau kenapa-kenapa di jalan repot,” ujarnya.

Ia mengaku menjadi pengemudi karena kebutuhan ekonomi yang mendesak. Namun seiring waktu, pekerjaan itu justru memberinya pelajaran tentang kemandirian.

“Satu, karena kebutuhan. Kedua, ini pekerjaan halal yang saya tahu. Ketiga, saya belajar kalau perempuan juga bisa hidup dari tenaga sendiri. Kalau keadaan saya baik-baik saja dulu, mungkin saya enggak narik. Tapi hidup kan kadang berubah,” katanya.

Romauli juga menghadapi tantangan yang berbeda sebagai perempuan di jalanan. Ia pernah mendapat penumpang yang bersikap tidak pantas, juga menerima order fiktif yang merugikan.

“Kalau dapat customer yang ganjen itu capek. Saya sampai bawa tas, saya taruh di belakang buat penghalang. Pernah juga orderan aneh-aneh, bikin kita waswas. Perempuan di jalan itu harus lebih hati-hati,” tuturnya.

Selain itu, ia pernah merasakan perlakuan berbeda hanya karena mengenakan atribut pengemudi daring.

“Waktu saya datang pakai jaket driver ke tempat makan, rasanya beda diperlakukan. Padahal sebelum jadi driver saya juga punya pekerjaan sendiri. Tapi ya sudahlah, dari situ saya belajar, jangan pernah nilai orang dari pakaiannya,” katanya.

Meski begitu, Romauli tak menutup mata bahwa banyak orang baik yang ia temui selama bekerja. Penumpang yang ramah, pelanggan yang memberi tip, hingga wisatawan asing yang menghargai kerjanya.

“Banyak juga orang baik. Ada ongkos Rp30 ribu dibayar Rp100 ribu. Ada yang kasih makan, kasih minum. Ada tamu luar negeri kasih tip dolar. Itu bikin saya percaya, di jalan bukan cuma ada capek, tapi ada berkah juga,” ujarnya.

Saat ditanya soal Hari Kartini, Romauli menjawab tegas. Menurutnya, perjuangan perempuan masih jauh dari selesai.

“Bagi saya Hari Kartini itu persamaan hak wanita dengan pria, kesetaraan gender. Hari perempuan kuat. Hari seorang ibu, seorang anak perempuan. Tapi kalau dibilang sudah setara? Belum. Tiga puluh persen juga belum,” katanya.

Ia berharap perempuan hari ini terus maju, tetapi tanpa kehilangan harga diri.

“Perempuan harus punya prestasi, harus punya pegangan hidup. Jangan lecehkan dirimu hanya karena setumpuk uang. Martabat perempuan itu ada di perilaku yang enggak kelihatan orang lain,” ujarnya.

Lalu apa yang membuatnya tetap bertahan?

“Saya ingin bersedekah. Saya ingin bantu orang tua. Saya ingin hidup layak tanpa bergantung sama pria. Itu yang bikin saya semangat,” katanya mantap.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)