Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Jumat 10 Apr 2026, 09:29 WIB
Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di satu sudut pemukiman di Cibogo, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, saat sinar matahari mulai menunjukkan wujudnya, Hermawati (68) beranjak dari rumah. Ia mengambil roda, siap berkeliling di sekitar area pemukimannya. Sampah menjadi pemandangan sehari-harinya.

Tidak hanya Hermawati, lima wanita dengan gerobak sederhana itu menjelajahi gang-gang sempit, berhenti dari rumah ke rumah untuk mengambil kantong-kantong sampah yang telah dipilah. Di balik rutinitas ini, terdapat gerakan kolektif masyarakat di bawah Komunitas Masagi Tjibogo yang secara perlahan berusaha menjaga lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat melalui program “Perelek Sampah”.

Istilah perelek bukanlah sekadar nama program. Itu berasal dari tradisi lama masyarakat Sunda, yakni kebiasaan menyisihkan sedikit beras untuk orang-orang yang membutuhkan. Jika istilah ini awalnya digunakan untuk beras, kini Dian Nurdyana (48), founder Komunitas Masagi Tjibogo, menggunakannya untuk menamai program pengelolaan sampah di wilayahnya, yang dihidupkan kembali dalam pemilahan dan pemungutan sampah berbasis budaya, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Dian Nurdyana, founder Komunitas Masagi Tjibogo, menginisiasi Perelek Sampah sebagai gerakan berbasis budaya dan kebersamaan warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dian Nurdyana, founder Komunitas Masagi Tjibogo, menginisiasi Perelek Sampah sebagai gerakan berbasis budaya dan kebersamaan warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perelek itu kan dari dulu budaya urang (Sunda), nyisihin sedikit buat bareng-bareng. Sekarang kita terapin ke sampah,” kata Dian saat diwawancarai bersama tim Perelek Sampah.

Menurut Dian, gerakan ini lebih dari sekadar program menjaga lingkungan. Lebih dari itu, telah menjadi kebiasaan warga. Ia memandangnya sebagai bentuk kerja sama yang dapat membantu dari sisi sosial dan ekonomi.

“Ini jadi sarana edukasi, supaya masyarakat terbiasa memilah dari rumah,” ujar Dian.

Bukan Bebas, Tapi Tertib Sampah

Perelek Sampah di Cibogo merupakan pengembangan dari program Bank Sampah yang dijalankan sejak 2019. Kini, konsepnya diperluas dengan pendekatan sosial yang lebih kuat, di mana hasil pengelolaan tidak diterima secara individu, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan kolektif warga.

Program ini dilaksanakan tiga kali seminggu, yakni pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu, mulai pukul 8 pagi hingga sekitar pukul 10 WIB. Lima penarik sampah membagi wilayah tiga RT, mengunjungi rumah-rumah untuk mengambil sampah organik dan anorganik yang telah dipilah oleh warga.

“Saya setuju dengan istilah The Power of Ibu-Ibu. Karena memang iya. Di sini kebanyakan ibu-ibu yang bantu,” ucap Dian sambil tertawa.

Seorang ibu tim Perelek Sampah di Kecamatan Cibogo sedang membersihkan dan memisahkan tutup botol plastik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Seorang ibu tim Perelek Sampah di Kecamatan Cibogo sedang membersihkan dan memisahkan tutup botol plastik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dalam dua hari, tim Perelek Sampah dapat mengumpulkan sekitar 130 kilogram (kg) sampah organik dan 8–10 kg sampah anorganik. Angka ini menunjukkan bahwa upaya di tingkat RT dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara kolektif.

Namun, proses membangun kesadaran warga tidaklah instan. Dian menyebut, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mengedukasi masyarakat hingga terbiasa memilah sampah secara mandiri.

“Awalnya mah (katanya) ribet, riweuh, harus memilah segala macam,” kata Hermawati memperagakan omongan warga di sekitar rumahnya.

Momentum perubahan terjadi pada 2023, saat Bandung mengalami darurat sampah akibat kebakaran di TPA Sarimukti. Peristiwa tersebut membatasi kapasitas penampungan sampah dari berbagai TPS dan berdampak langsung hingga ke tingkat rumah tangga.

“Harus dipaksa waktu itu, karena lagi darurat sampah,” ujar Dian.

“Kalau tidak memilah, saya ada punishment. Saya bilang ‘nggak akan bantu bikin KTP, KK dan sebagainya’,” tambahnya sambil mengangkat telunjuknya ke atas.

Seiring waktu, kebiasaan baru mulai terbentuk. Warga yang sebelumnya hanya mengumpulkan dan membuang sampah kini mulai memahami pentingnya pemilahan sejak dari rumah.

“Dulu mah warga tahunya sampah itu dikumpulkan, diangkut, dibuang. Sekarang dipilah dulu,” kata Enung, seorang tim Perelek lainnya.

Berbeda dengan program seperti Gaslah yang umumnya melibatkan satu petugas untuk satu RW dengan insentif bulanan, Perelek Sampah mengandalkan kekuatan kolektif. Lima orang bertanggung jawab atas tiga RT, sementara pengelolaan keuangan berasal dari hasil penjualan sampah dan produk olahan.

“Kita jalan mandiri, tanpa banyak dukungan pemerintah,” ujar Dian sambil tertawa tipis.

Tidak Dibayar tapi Enjoy

Setelah sampah terkumpul, proses pengolahan dilakukan. Sampah organik dan anorganik dipisahkan kembali di satu titik pengumpulan. Sampah organik, seperti limbah rumah tangga yang mudah terurai, disimpan dalam ember-ember untuk diolah lebih lanjut.

Dari total sekitar 390 kg sampah organik per minggu yang dihasilkan dari tiga RT di Cibogo, sebanyak 100 kg disalurkan ke Bening Saguling Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung Barat. Sisanya diolah secara mandiri menjadi kompos untuk kegiatan urban farming.

Hermawati menjelaskan bahwa proses ini membutuhkan ketelatenan. Namun, ia merasakan manfaat secara fisik dan sosial dari aktivitas tersebut.

“Capek sih, tapi enjoy. Jadi ngerasa lebih sehat,” ucap Hermawati tertawa.

Hermawati (kiri) dan Siti Oliah, rekannya di Tim Perelek Sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hermawati (kiri) dan Siti Oliah, rekannya di Tim Perelek Sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia juga menyinggung stigma yang masih melekat pada pekerjaan ini.

“Kadang orang ngerasa jijik, ‘kok mau’, nggak ada duitnya. Padahal, kan, ini untuk kebaikan lingkungan kita semua,” kata Hermawati.

Seiring berjalannya waktu, respons warga pun berubah. Dari yang awalnya acuh, kini justru bergantung pada keberlanjutan program.

“Sekarang mah kalau berhenti, warga malah nanya kapan diambil lagi,”

Perubahan ini terjadi melalui proses panjang, dari penolakan hingga penerimaan, seiring warga mulai merasakan langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah.

“Warga yang sudah memilah jadi merasakan sendiri manfaatnya,”

Sampah Jadi Cuan

Sementara itu, sampah anorganik dikumpulkan dan dipilah kembali berdasarkan jenisnya. Sampah yang telah dipilah kemudian dijual ke pengepul setiap tiga hingga empat minggu sekali.

Dian menyebutkan, dari sekitar 30–40 kilogram sampah anorganik, pihaknya bisa memperoleh Rp300.000 hingga Rp400.000. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan tim, kas komunitas, serta kegiatan sosial warga.

“Untuk menengok warga yang sakit, takziah warga yang meninggal, bantuan untuk PMT balita, dan konsumsi pengajian,” kata Ketua RT 02 Cibogo, Siti Oliah (46) atau yang akrab dipanggil Enung.

Bagi Neneng, nilai ekonomi tersebut cukup berarti, meskipun tidak besar.

“Membantu. Asalnya kita nggak ada uang, asalnya dari suami saja, sekarang kita juga ada. Dari sosial nya pun kita semakin dekat. Lingkungan terjaga,” ucapnya.

Kantong kresek bekas diolah menjadi produk bernilai guna melalui proses daur ulang oleh warga Cibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kantong kresek bekas diolah menjadi produk bernilai guna melalui proses daur ulang oleh warga Cibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Limbah plastik yang semula tak terpakai kini disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Limbah plastik yang semula tak terpakai kini disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dari sampah menjadi berkah, kantong kresek dianyam menjadi berbagai produk seperti tas dan tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dari sampah menjadi berkah, kantong kresek dianyam menjadi berbagai produk seperti tas dan tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Produk hasil olahan sampah warga Cibogo ini dijual hingga ke berbagai negara, seperti Jerman dan Polandia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Produk hasil olahan sampah warga Cibogo ini dijual hingga ke berbagai negara, seperti Jerman dan Polandia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tidak hanya dijual, sampah anorganik seperti kantong kresek juga diolah menjadi produk bernilai guna. Prosesnya meliputi pembersihan, penjemuran, pemotongan, hingga dianyam menjadi tas, tikar, sajadah, dan dompet.

Produk-produk tersebut bahkan telah menembus pasar internasional seperti Jerman dan Polandia, meskipun apresiasi di dalam negeri masih terbatas.

“Kalau di luar negeri malah lebih dihargai,” ucap Dian.

Sejak 2022, proses ini terus dijalankan secara konsisten. Setiap anyaman bukan sekadar produk, melainkan juga menyimpan cerita dan harapan warga Cibogo.

“Ini bukan program, ini sudah jadi kebiasaan,” tutup Dian.

Di tengah keterbatasan, tim Perelek Sampah membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil. Dari gang sempit dan tumpukan sampah, lahir gerakan yang tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menjaga budaya, memperkuat hubungan sosial, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut.

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara budidaya melon premium. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)