Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di satu sudut pemukiman di Cibogo, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, saat sinar matahari mulai menunjukkan wujudnya, Hermawati (68) beranjak dari rumah. Ia mengambil roda, siap berkeliling di sekitar area pemukimannya. Sampah menjadi pemandangan sehari-harinya.

Tidak hanya Hermawati, lima wanita dengan gerobak sederhana itu menjelajahi gang-gang sempit, berhenti dari rumah ke rumah untuk mengambil kantong-kantong sampah yang telah dipilah. Di balik rutinitas ini, terdapat gerakan kolektif masyarakat di bawah Komunitas Masagi Tjibogo yang secara perlahan berusaha menjaga lingkungan sekaligus memberdayakan masyarakat melalui program “Perelek Sampah”.

Istilah perelek bukanlah sekadar nama program. Itu berasal dari tradisi lama masyarakat Sunda, yakni kebiasaan menyisihkan sedikit beras untuk orang-orang yang membutuhkan. Jika istilah ini awalnya digunakan untuk beras, kini Dian Nurdyana (48), founder Komunitas Masagi Tjibogo, menggunakannya untuk menamai program pengelolaan sampah di wilayahnya, yang dihidupkan kembali dalam pemilahan dan pemungutan sampah berbasis budaya, sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Dian Nurdyana, founder Komunitas Masagi Tjibogo, menginisiasi Perelek Sampah sebagai gerakan berbasis budaya dan kebersamaan warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dian Nurdyana, founder Komunitas Masagi Tjibogo, menginisiasi Perelek Sampah sebagai gerakan berbasis budaya dan kebersamaan warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Perelek itu kan dari dulu budaya urang (Sunda), nyisihin sedikit buat bareng-bareng. Sekarang kita terapin ke sampah,” kata Dian saat diwawancarai bersama tim Perelek Sampah.

Menurut Dian, gerakan ini lebih dari sekadar program menjaga lingkungan. Lebih dari itu, telah menjadi kebiasaan warga. Ia memandangnya sebagai bentuk kerja sama yang dapat membantu dari sisi sosial dan ekonomi.

“Ini jadi sarana edukasi, supaya masyarakat terbiasa memilah dari rumah,” ujar Dian.

Bukan Bebas, Tapi Tertib Sampah

Perelek Sampah di Cibogo merupakan pengembangan dari program Bank Sampah yang dijalankan sejak 2019. Kini, konsepnya diperluas dengan pendekatan sosial yang lebih kuat, di mana hasil pengelolaan tidak diterima secara individu, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan kolektif warga.

Program ini dilaksanakan tiga kali seminggu, yakni pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu, mulai pukul 8 pagi hingga sekitar pukul 10 WIB. Lima penarik sampah membagi wilayah tiga RT, mengunjungi rumah-rumah untuk mengambil sampah organik dan anorganik yang telah dipilah oleh warga.

“Saya setuju dengan istilah The Power of Ibu-Ibu. Karena memang iya. Di sini kebanyakan ibu-ibu yang bantu,” ucap Dian sambil tertawa.

Seorang ibu tim Perelek Sampah di Kecamatan Cibogo sedang membersihkan dan memisahkan tutup botol plastik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Seorang ibu tim Perelek Sampah di Kecamatan Cibogo sedang membersihkan dan memisahkan tutup botol plastik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Dalam dua hari, tim Perelek Sampah dapat mengumpulkan sekitar 130 kilogram (kg) sampah organik dan 8–10 kg sampah anorganik. Angka ini menunjukkan bahwa upaya di tingkat RT dapat memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara kolektif.

Namun, proses membangun kesadaran warga tidaklah instan. Dian menyebut, dibutuhkan waktu sekitar satu tahun untuk mengedukasi masyarakat hingga terbiasa memilah sampah secara mandiri.

“Awalnya mah (katanya) ribet, riweuh, harus memilah segala macam,” kata Hermawati memperagakan omongan warga di sekitar rumahnya.

Momentum perubahan terjadi pada 2023, saat Bandung mengalami darurat sampah akibat kebakaran di TPA Sarimukti. Peristiwa tersebut membatasi kapasitas penampungan sampah dari berbagai TPS dan berdampak langsung hingga ke tingkat rumah tangga.

“Harus dipaksa waktu itu, karena lagi darurat sampah,” ujar Dian.

“Kalau tidak memilah, saya ada punishment. Saya bilang ‘nggak akan bantu bikin KTP, KK dan sebagainya’,” tambahnya sambil mengangkat telunjuknya ke atas.

Seiring waktu, kebiasaan baru mulai terbentuk. Warga yang sebelumnya hanya mengumpulkan dan membuang sampah kini mulai memahami pentingnya pemilahan sejak dari rumah.

“Dulu mah warga tahunya sampah itu dikumpulkan, diangkut, dibuang. Sekarang dipilah dulu,” kata Enung, seorang tim Perelek lainnya.

Berbeda dengan program seperti Gaslah yang umumnya melibatkan satu petugas untuk satu RW dengan insentif bulanan, Perelek Sampah mengandalkan kekuatan kolektif. Lima orang bertanggung jawab atas tiga RT, sementara pengelolaan keuangan berasal dari hasil penjualan sampah dan produk olahan.

“Kita jalan mandiri, tanpa banyak dukungan pemerintah,” ujar Dian sambil tertawa tipis.

Tidak Dibayar tapi Enjoy

Setelah sampah terkumpul, proses pengolahan dilakukan. Sampah organik dan anorganik dipisahkan kembali di satu titik pengumpulan. Sampah organik, seperti limbah rumah tangga yang mudah terurai, disimpan dalam ember-ember untuk diolah lebih lanjut.

Dari total sekitar 390 kg sampah organik per minggu yang dihasilkan dari tiga RT di Cibogo, sebanyak 100 kg disalurkan ke Bening Saguling Foundation, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah di Kabupaten Bandung Barat. Sisanya diolah secara mandiri menjadi kompos untuk kegiatan urban farming.

Hermawati menjelaskan bahwa proses ini membutuhkan ketelatenan. Namun, ia merasakan manfaat secara fisik dan sosial dari aktivitas tersebut.

“Capek sih, tapi enjoy. Jadi ngerasa lebih sehat,” ucap Hermawati tertawa.

Hermawati (kiri) dan Siti Oliah, rekannya di Tim Perelek Sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hermawati (kiri) dan Siti Oliah, rekannya di Tim Perelek Sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ia juga menyinggung stigma yang masih melekat pada pekerjaan ini.

“Kadang orang ngerasa jijik, ‘kok mau’, nggak ada duitnya. Padahal, kan, ini untuk kebaikan lingkungan kita semua,” kata Hermawati.

Seiring berjalannya waktu, respons warga pun berubah. Dari yang awalnya acuh, kini justru bergantung pada keberlanjutan program.

“Sekarang mah kalau berhenti, warga malah nanya kapan diambil lagi,”

Perubahan ini terjadi melalui proses panjang, dari penolakan hingga penerimaan, seiring warga mulai merasakan langsung manfaat dari kebiasaan memilah sampah.

“Warga yang sudah memilah jadi merasakan sendiri manfaatnya,”

Sampah Jadi Cuan

Sementara itu, sampah anorganik dikumpulkan dan dipilah kembali berdasarkan jenisnya. Sampah yang telah dipilah kemudian dijual ke pengepul setiap tiga hingga empat minggu sekali.

Dian menyebutkan, dari sekitar 30–40 kilogram sampah anorganik, pihaknya bisa memperoleh Rp300.000 hingga Rp400.000. Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan tim, kas komunitas, serta kegiatan sosial warga.

“Untuk menengok warga yang sakit, takziah warga yang meninggal, bantuan untuk PMT balita, dan konsumsi pengajian,” kata Ketua RT 02 Cibogo, Siti Oliah (46) atau yang akrab dipanggil Enung.

Bagi Neneng, nilai ekonomi tersebut cukup berarti, meskipun tidak besar.

“Membantu. Asalnya kita nggak ada uang, asalnya dari suami saja, sekarang kita juga ada. Dari sosial nya pun kita semakin dekat. Lingkungan terjaga,” ucapnya.

Kantong kresek bekas diolah menjadi produk bernilai guna melalui proses daur ulang oleh warga Cibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kantong kresek bekas diolah menjadi produk bernilai guna melalui proses daur ulang oleh warga Cibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Limbah plastik yang semula tak terpakai kini disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Limbah plastik yang semula tak terpakai kini disulap menjadi kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dari sampah menjadi berkah, kantong kresek dianyam menjadi berbagai produk seperti tas dan tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Dari sampah menjadi berkah, kantong kresek dianyam menjadi berbagai produk seperti tas dan tikar. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Produk hasil olahan sampah warga Cibogo ini dijual hingga ke berbagai negara, seperti Jerman dan Polandia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Produk hasil olahan sampah warga Cibogo ini dijual hingga ke berbagai negara, seperti Jerman dan Polandia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tidak hanya dijual, sampah anorganik seperti kantong kresek juga diolah menjadi produk bernilai guna. Prosesnya meliputi pembersihan, penjemuran, pemotongan, hingga dianyam menjadi tas, tikar, sajadah, dan dompet.

Produk-produk tersebut bahkan telah menembus pasar internasional seperti Jerman dan Polandia, meskipun apresiasi di dalam negeri masih terbatas.

“Kalau di luar negeri malah lebih dihargai,” ucap Dian.

Sejak 2022, proses ini terus dijalankan secara konsisten. Setiap anyaman bukan sekadar produk, melainkan juga menyimpan cerita dan harapan warga Cibogo.

“Ini bukan program, ini sudah jadi kebiasaan,” tutup Dian.

Di tengah keterbatasan, tim Perelek Sampah membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari hal kecil. Dari gang sempit dan tumpukan sampah, lahir gerakan yang tidak hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga menjaga budaya, memperkuat hubungan sosial, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 21 Jul 2026, 11:51

Debu Kapur Tak Kenal Batas Administratif, Derita Warga Cipatat Berlanjut

Sejauh ini, arah angin itu selalu membawa debu ke rumah-rumah warga, bukan ke meja rapat para pejabat yang seharusnya menanganinya sejak lama.

Pemandangan udara menunjukkan aktivitas pabrik pengolahan batu gamping di Kecamatan Cipatat, yang dilalui jalur utama penghubung Bandung menuju Padalarang dan Cianjur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 10:34

Adaptasi Batik terhadap Perubahan Gaya Hidup Masyarakat Modern

Adaptasi kain batik terhadap tren di era modern.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 10:33

Tamasya ke Leuwi Jurig Garut, Grand Canyon Sunda di Bungbulang

Panduan lengkap wisata Leuwi Jurig Garut, mulai dari harga tiket, jam buka, rute menuju lokasi, fasilitas, hingga peringatan keselamatan saat berenang.

Leuwi Jurig Bungbulang Garut. (Sumber: YouTube budi ahmadr)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 09:41

Belajar tentang Desain dari Monumen Jenderal Soedirman di Soreang

Di balik sebuah monumen, ternyata tumbuh ruang publik yang menghidupkan interaksi sosial, aktivitas ekonomi, dan kebersamaan masyarakat.

Monumen Jenderal Soedirman di Jalan Panglima Besar Jenderal Soedirman, Soreang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 19:14

Urgensi Sekolah Ramah, Aman dan Nyaman

Penciptaan lingkungan belajar yang berfokus pada daya dukung psikologis dan keterampilan sosial juga mampu dipenuhi praktik implementasi kerjasama dan empati.

Suasana MPLS di sekolah. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 18:01

Darurat Penerangan dan Melonjaknya Kriminalitas di Jalanan Kota Bandung

Bandung kini berbeda dan kenyamanan kotanya tak lagi sama. Kian hari tingkat kecelakaan lalu lintas dan tindak kriminalitas kian menjamur tanpa ada solusi yang nyata untuk menyelesaikannya.

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Magang Foto/Lukman Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 17:00

Pendidikan di Bandung pada Masa Pendudukan Jepang

Pendidikan dalam masa penjajahan Jepang diawali dengan dibukanya kembali sebagian dari sekolah-sekolah yang dahulu pernah berdiri.

Museum Geologi saat Masa Pendudukan Jepang. (Sumber: Koleksi Museum Geologi Bandung)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)