Jujur meski saya kelahiran Kota Bandung- awalnya saya tidak punya ketertarikan dengan Persib beserta bobotohnya. Saat temen SMP saya merayakan kejuaran persib dengan konvoi justru saya bertanya dalam diri apa urgensinya?. Namun beranjak dewasa saya sedikit lebih memahami apa yang dirasakan oleh bobotoh meski beberapa part masih menganggu ketika membuat kemacetan dan sebagiannya ada yang bersikap anarkis.
Menurut observasi saya bobotoh adalah supporter bola yang paling loyal kepada tim sepak bola yang menjadi favoritnya yaitu Persib Bandung. Setiap kemenangannya tidak lekang dari perayaan sederhana hingga megah. Berbodong ke satu titik di Gedung Sate untuk menyanyikan lagu kemenangan—mengibarkan birunya bendera yang menjadi simbol kemenangan hingga menggunakan baju dan aksesoris secara totalitas.
Banjir-Hujan-Macet tak Menjadi Halangan
Sabtu (23/5) saat terdengar bobotoh akan mulai nobar dan konvoi – satu suasana yang sudah terbayang di benak saya adalah macet. Namun di jam 14:00 langit Bandung tampak mendung dan benar saja tak lama hujan deras mengguyur Bandung. Saya pun meneduh sambil makan mie kocok di sekitaran Cibaduyut Lama. Jam 15:00 hujan mulai mereda tapi benar saja banjir besar menutupi jalan Cibaduyut. Dibandingkan motor rusak saya memilih putar balik ke jalan kopo. Siapa sangka ternyata meski sudah hujan besar dan juga banjir jalanan masih macet oleh sejumlah kendaraan termasuk bobotoh.
Ada satu momen menarik yang luput terdokumentasikan ketika ada bobotoh persib yang membawa motornya ditengah hujan dengan wajah yang sumringah. Sepertinya tidak ada kekhawatiran motornya mogok di tengah banjir mereka justru bersorai-sorak membawa semangat dan kibaran bendera kebanggaan.
Dilansir dari video tiktok ayobandung.com juga mengabarkan sejumlah warga Kabupaten Bandung dengan kondisi banjir tidak menyurutkan mereka untuk melakukan konvoi dan merayakan kemenangan Persib. Satu sikap loyal dan pantang menyerah yang bisa diadaptasi ke arah hal-hal dengan isu penting.
Bobotoh Persib Merangkul Semua Kalangan

Bobotoh tidak hanya digemari oleh kaum laki-laki tapi juga banyak Perempuan yang senang terhadap klub Persib. Hal ini bisa terlihat ketika acara konvoi sejumlah Perempuan turut meramaikan kondisi jalanan. Dari anak kecil, remaja, dewasa, manula, berbagai macam profesi status sosial ikut melebur menjadi satu saat perayaan itu terjadi. Bahkan bayi yang belum mengerti apapun seringkali diberikan aksesoris baju Persib sebagai bentuk dukungan dari orag tuanya yang mencintai Persib.
Menurut saya hal ini tentu menjadi kekuatan karena bisa mempengaruhi orang banyak tanpa bersusah payah untuk mempromosikan atau memaksa ikut bergabung dalam mendukung Persib. Bahkan menurut saya kecintaan itu sudah dibangun dengan akar yang kuat sejak anak-anak kelahiran Sunda dilahirkan bahwa menyukai Persib seperti sebuah kewajiban yang harus tetap dijaga oleh generasi selanjutnya melalui simbol-simbol yang dikenakan.
Loyalitas-Humanitas-Solid
Kata Bobotoh sendiri berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti membangkitkan semangat. Hal ini tercermin dari salah satu sikap bobotoh yang loyal terhadap klubnya yaitu persib. Bahkan menurut saya Persib bukan sekedar klub biasa melainkan sudah termanifestasi menjadi identitas diri dan kultural dari masyarakat Jawa Barat.
Dilansir dari kumparan.com bahwasannya fenomena konvoi yang dilakukan oleh Bobotoh Persib terasa menarik dan dan menggetarkan karena bukan sekedar selebrasi kemenangan klub bola melainkan ledakan cinta, loyalitas dan keterikatan emosional yang sangat mendalam terhadap klub yang mereka puja.
Bahkan Maung Bandung yang sering menjadi simbol yang merepresentasikan identitas harimau dengan karakter buas, kuat dan tangguh di lapangan. Juga sering dijadikan patung dibeberapa titik yang semakin memperkuat hewan buas tersebut sebagai ikon Kota Bandung.
Loyalitas ini juga tercermin dari bagaimana bobotoh loyal membelanjakan uangnya untuk membeli jersey serta merchandise yang terafiliasi secara langsung dengan sponsor Persib. Bahkan tak jarang sikap ini juga ikut meningkatkan perekonomian masyarakat kecil yang juga menjual produk yang sama.
Bobotoh dari semua daerah di Kota maupun Kabupaten Bandung berkumpul menjadi satu. Beberapa kegiatan yang merujuk pada aspek sosial dan kemanusiaan klub seperti program kepedulian supporter dalam donor darah, fogging hingga acara menonton bareng untuk amal. Aspek tersebut sangat mencerimankan humanitas antara bobotoh yang satu dengan lainnya.
Bobotoh juga memiliki solidaritas yang tinggi, hal ini tercermin dari bagaimana cara mereka mendukung terlepas pemain Persib sedang turun performa apalagi ketika naik. Bobotoh selalu hadir di laga tandang yang seringkali mendominasi stadion lawan dengan lautan bendera dan baju berwarna biru. Bahkan menariknya ada salah satu supporter yang tinggal di Amerika dan tetap merayakan kemenangan Persib meski dari jarak jauh yang videonya bisa ditemukan di Tiktok Skor.id dengan statmentnya yang sangat menarik.
Money is not the problem. Nggak ada artinya uang dibandingkan dengan Persib. Saya akan datang biarpun dan dimanapun. Persib bahasa hate (hati), eta anu penting.
Saya rasa dibalik beberapa kegiatan konvoi yang meresahkan seperti macet, tindakan anarkis atau sebagiannya digunakan untuk ajang mabuk-mabukan. Antusiasme tinggi dari bobotoh patut untuk diapresiasi. Saya rasa untuk memperbaiki segala kekurangan dan ketimpangan sosial yang terjadi di Indonesia kita bisa memulai dan mencontoh dari bobotoh. Di mana loyalitas, humanitas, solid dan suportif adalah hal dasar (bare minimum) yang dibutuhkan oleh warga negara untuk membuat sebuah perubahan.

Bisa dibayangkan jika semangat ini bisa menular dan terarah ke hal-hal penting seperti isu kenegaraan. Maka ketimpangan yang terjadi kepada masyarakat desa atau perkotaan akan sangat mudah untuk diminimalisir. Bagaimana semua kalangan dan gender bersatu memperjuangkan hak bersama untuk meminta pertanggung jawaban negara kepada rakyatnya terkhusus untuk keadilan hukum, hak hidup layak dan kesejahteraan sosial.
Memimpikan semua perubahan kecil itu bisa dimulai dari semangat bobotoh dan Kota Bandung untuk Indonesia. (*)
