Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan Minggu 24 Mei 2026, 13:07 WIB
Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)

Mari kita buka artikel ini dengan sebuah pengakuan jujur. Kasur itu magnetnya kuat banget, ya? Apalagi kalau dipadukan dengan AC adem, selimut tebal, dan HP di tangan yang lagi memutar video random di TikTok atau YouTube jam 2 pagi. Surga duniawi!

Ada sebuah pepatah kuno yang bilang, "Kemalasan adalah kesuksesan yang tertunda." Tapi mari kita koreksi sedikit dengan kacamata realitas zaman sekarang: Kemalasan adalah penderitaan yang sedang dicicil dengan bunga berbunga.

Kita sering menyalahkan takdir, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan algoritma medsos atas hidup kita yang begini-begini aja. Padahal, kalau mau jujur sambil ngaca di kamar mandi, musuh terbesar kita bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri yang hobi bilang, "Ah, ntar aja deh, lima menit lagi."

1. Tragedi "Nanti Dulu" dan Penderitaan yang Menumpuk

Malas itu sifatnya menipu. Di awal, dia terasa seperti sahabat yang paling pengertian. Dia menawarkan kenyamanan. Tapi perlahan, dia berubah jadi rentenir yang menagih utang di masa depan.

  • Malas belajar hal baru? Penderitaannya adalah lima tahun lagi kamu bakal bengong melihat teman seangkatan sudah jadi manajer, sementara kamu masih stuck di posisi yang sama dengan gaji yang cuma numpang lewat.

  • Malas gerak alias mager? Penderitaannya bukan sekarang, tapi nanti pas umur 30-an ketika bangun tidur mendadak encok, pinggang serasa mau copot, dan jalan kaki sedikit aja napasnya udah kayak kereta uap.

Kita menderita bukan karena kita enggak punya peluang, tapi karena peluang itu sering kali minder duluan melihat kita yang masih asyik pelukan sama guling. Kita menciptakan penderitaan kita sendiri lewat tumpukan penundaan.

2. Upgrade Diri: Bukan Biar Keren, Tapi Biar Enggak "Punah"

Nah, obat dari segala penderitaan berkedok kenyamanan ini cuma satu kata yang sering diucapkan para motivator, tapi jarang dipraktikkan: Upgrade Diri.

Dunia ini berputar cepat banget. Kalau kemampuan kita dari tahun ke tahun cuma begitu-begitu aja, kita enggak sedang berjalan di tempat, kita sebenarnya lagi berjalan mundur. Upgrade diri itu mirip kayak memperbarui sistem operasi di HP kamu. Kalau enggak pernah di update, aplikasinya bakal crash, lemot, dan akhirnya dibuang karena enggak bisa dipakai lagi.

Menyentuh hati sedikit, ya: coba bayangkan orang-orang yang kamu sayangi orang tua, pasangan, atau anak. Apakah mereka layak mendapatkan versi diri kamu yang malas-malasan ini? Tentu enggak. Mereka layak mendapatkan versi terbaik dari dirimu. Dan versi terbaik itu enggak akan pernah lahir dari dalam selimut yang hangat.

3. Cara Upgrade Diri Tanpa Perlu Siksa Lahir Batin

Enggak usah muluk-muluk langsung pengen menguasai tiga bahasa asing dalam seminggu atau baca buku tebal 500 halaman sehari. Mulai aja dari hal-hal kecil yang "manusiawi" ini:

  • Aturan 2 Menit

Kalau mau melakukan sesuatu yang bikin malas (misal: baca buku, beresin kamar, olahraga), paksa diri melakukannya cuma selama 2 menit. Biasanya, bagian paling berat itu cuma memulainya. Begitu udah jalan 2 menit, otak kita bakal ketagihan buat nerusin.

  • Kurangi Durasi Scrolling Tanpa Arah

Medsos itu candu. Coba batasi. Gunakan waktu yang tadinya buat kepoin hidup orang lain, buat dengerin podcast yang berbobot atau ikut kelas online gratisan. Anggap aja kamu lagi menyuapi otakmu dengan makanan bergizi, bukan "gorengan" gosip.

  • Berdamai dengan Rasa Lelah

Belajar atau bekerja keras itu emang melelahkan. Tapi tahu enggak apa yang lebih melelahkan? Rasa penyesalan. Lelah karena berjuang itu efeknya bikin tidur nyenyak, tapi lelah karena menyesal itu efeknya bikin insomnia sambil menatap langit-langit kamar sampai subuh.

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. Begitu kamu menguasai skill baru, rasa lelahnya hilang, tersisa bangganya. Tapi menderita karena kemalasan itu sifatnya permanen dan makin lama makin perih.

Jadi, buat kamu yang membaca artikel ini sambil rebahan dan HP nya hampir jatuh mengenai muka: yuk, taruh HP nya sebentar. Duduk tegak, ambil napas dalam-dalam, dan mulailah melangkah.

Kasurmu emang empuk dan bisa membuat nyaman, tapi dia enggak bisa dipakai buat membayar dan merubah masa depan. Upgrade dirimu sekarang, sebelum keadaan memaksa kamu buat berubah dalam kondisi yang sudah terlambat! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)