Official Persib Logo
1933
1933

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan Minggu 24 Mei 2026, 13:07 WIB
Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)

Mari kita buka artikel ini dengan sebuah pengakuan jujur. Kasur itu magnetnya kuat banget, ya? Apalagi kalau dipadukan dengan AC adem, selimut tebal, dan HP di tangan yang lagi memutar video random di TikTok atau YouTube jam 2 pagi. Surga duniawi!

Ada sebuah pepatah kuno yang bilang, "Kemalasan adalah kesuksesan yang tertunda." Tapi mari kita koreksi sedikit dengan kacamata realitas zaman sekarang: Kemalasan adalah penderitaan yang sedang dicicil dengan bunga berbunga.

Kita sering menyalahkan takdir, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan algoritma medsos atas hidup kita yang begini-begini aja. Padahal, kalau mau jujur sambil ngaca di kamar mandi, musuh terbesar kita bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri yang hobi bilang, "Ah, ntar aja deh, lima menit lagi."

1. Tragedi "Nanti Dulu" dan Penderitaan yang Menumpuk

Malas itu sifatnya menipu. Di awal, dia terasa seperti sahabat yang paling pengertian. Dia menawarkan kenyamanan. Tapi perlahan, dia berubah jadi rentenir yang menagih utang di masa depan.

  • Malas belajar hal baru? Penderitaannya adalah lima tahun lagi kamu bakal bengong melihat teman seangkatan sudah jadi manajer, sementara kamu masih stuck di posisi yang sama dengan gaji yang cuma numpang lewat.

  • Malas gerak alias mager? Penderitaannya bukan sekarang, tapi nanti pas umur 30-an ketika bangun tidur mendadak encok, pinggang serasa mau copot, dan jalan kaki sedikit aja napasnya udah kayak kereta uap.

Kita menderita bukan karena kita enggak punya peluang, tapi karena peluang itu sering kali minder duluan melihat kita yang masih asyik pelukan sama guling. Kita menciptakan penderitaan kita sendiri lewat tumpukan penundaan.

2. Upgrade Diri: Bukan Biar Keren, Tapi Biar Enggak "Punah"

Nah, obat dari segala penderitaan berkedok kenyamanan ini cuma satu kata yang sering diucapkan para motivator, tapi jarang dipraktikkan: Upgrade Diri.

Dunia ini berputar cepat banget. Kalau kemampuan kita dari tahun ke tahun cuma begitu-begitu aja, kita enggak sedang berjalan di tempat, kita sebenarnya lagi berjalan mundur. Upgrade diri itu mirip kayak memperbarui sistem operasi di HP kamu. Kalau enggak pernah di update, aplikasinya bakal crash, lemot, dan akhirnya dibuang karena enggak bisa dipakai lagi.

Menyentuh hati sedikit, ya: coba bayangkan orang-orang yang kamu sayangi orang tua, pasangan, atau anak. Apakah mereka layak mendapatkan versi diri kamu yang malas-malasan ini? Tentu enggak. Mereka layak mendapatkan versi terbaik dari dirimu. Dan versi terbaik itu enggak akan pernah lahir dari dalam selimut yang hangat.

3. Cara Upgrade Diri Tanpa Perlu Siksa Lahir Batin

Enggak usah muluk-muluk langsung pengen menguasai tiga bahasa asing dalam seminggu atau baca buku tebal 500 halaman sehari. Mulai aja dari hal-hal kecil yang "manusiawi" ini:

  • Aturan 2 Menit

Kalau mau melakukan sesuatu yang bikin malas (misal: baca buku, beresin kamar, olahraga), paksa diri melakukannya cuma selama 2 menit. Biasanya, bagian paling berat itu cuma memulainya. Begitu udah jalan 2 menit, otak kita bakal ketagihan buat nerusin.

  • Kurangi Durasi Scrolling Tanpa Arah

Medsos itu candu. Coba batasi. Gunakan waktu yang tadinya buat kepoin hidup orang lain, buat dengerin podcast yang berbobot atau ikut kelas online gratisan. Anggap aja kamu lagi menyuapi otakmu dengan makanan bergizi, bukan "gorengan" gosip.

  • Berdamai dengan Rasa Lelah

Belajar atau bekerja keras itu emang melelahkan. Tapi tahu enggak apa yang lebih melelahkan? Rasa penyesalan. Lelah karena berjuang itu efeknya bikin tidur nyenyak, tapi lelah karena menyesal itu efeknya bikin insomnia sambil menatap langit-langit kamar sampai subuh.

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. Begitu kamu menguasai skill baru, rasa lelahnya hilang, tersisa bangganya. Tapi menderita karena kemalasan itu sifatnya permanen dan makin lama makin perih.

Jadi, buat kamu yang membaca artikel ini sambil rebahan dan HP nya hampir jatuh mengenai muka: yuk, taruh HP nya sebentar. Duduk tegak, ambil napas dalam-dalam, dan mulailah melangkah.

Kasurmu emang empuk dan bisa membuat nyaman, tapi dia enggak bisa dipakai buat membayar dan merubah masa depan. Upgrade dirimu sekarang, sebelum keadaan memaksa kamu buat berubah dalam kondisi yang sudah terlambat! (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)