Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan
Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)

Mari kita buka artikel ini dengan sebuah pengakuan jujur. Kasur itu magnetnya kuat banget, ya? Apalagi kalau dipadukan dengan AC adem, selimut tebal, dan HP di tangan yang lagi memutar video random di TikTok atau YouTube jam 2 pagi. Surga duniawi!

Ada sebuah pepatah kuno yang bilang, "Kemalasan adalah kesuksesan yang tertunda." Tapi mari kita koreksi sedikit dengan kacamata realitas zaman sekarang: Kemalasan adalah penderitaan yang sedang dicicil dengan bunga berbunga.

Kita sering menyalahkan takdir, menyalahkan keadaan, atau menyalahkan algoritma medsos atas hidup kita yang begini-begini aja. Padahal, kalau mau jujur sambil ngaca di kamar mandi, musuh terbesar kita bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri yang hobi bilang, "Ah, ntar aja deh, lima menit lagi."

1. Tragedi "Nanti Dulu" dan Penderitaan yang Menumpuk

Malas itu sifatnya menipu. Di awal, dia terasa seperti sahabat yang paling pengertian. Dia menawarkan kenyamanan. Tapi perlahan, dia berubah jadi rentenir yang menagih utang di masa depan.

  • Malas belajar hal baru? Penderitaannya adalah lima tahun lagi kamu bakal bengong melihat teman seangkatan sudah jadi manajer, sementara kamu masih stuck di posisi yang sama dengan gaji yang cuma numpang lewat.

  • Malas gerak alias mager? Penderitaannya bukan sekarang, tapi nanti pas umur 30-an ketika bangun tidur mendadak encok, pinggang serasa mau copot, dan jalan kaki sedikit aja napasnya udah kayak kereta uap.

Kita menderita bukan karena kita enggak punya peluang, tapi karena peluang itu sering kali minder duluan melihat kita yang masih asyik pelukan sama guling. Kita menciptakan penderitaan kita sendiri lewat tumpukan penundaan.

2. Upgrade Diri: Bukan Biar Keren, Tapi Biar Enggak "Punah"

Nah, obat dari segala penderitaan berkedok kenyamanan ini cuma satu kata yang sering diucapkan para motivator, tapi jarang dipraktikkan: Upgrade Diri.

Dunia ini berputar cepat banget. Kalau kemampuan kita dari tahun ke tahun cuma begitu-begitu aja, kita enggak sedang berjalan di tempat, kita sebenarnya lagi berjalan mundur. Upgrade diri itu mirip kayak memperbarui sistem operasi di HP kamu. Kalau enggak pernah di update, aplikasinya bakal crash, lemot, dan akhirnya dibuang karena enggak bisa dipakai lagi.

Menyentuh hati sedikit, ya: coba bayangkan orang-orang yang kamu sayangi orang tua, pasangan, atau anak. Apakah mereka layak mendapatkan versi diri kamu yang malas-malasan ini? Tentu enggak. Mereka layak mendapatkan versi terbaik dari dirimu. Dan versi terbaik itu enggak akan pernah lahir dari dalam selimut yang hangat.

3. Cara Upgrade Diri Tanpa Perlu Siksa Lahir Batin

Enggak usah muluk-muluk langsung pengen menguasai tiga bahasa asing dalam seminggu atau baca buku tebal 500 halaman sehari. Mulai aja dari hal-hal kecil yang "manusiawi" ini:

  • Aturan 2 Menit

Kalau mau melakukan sesuatu yang bikin malas (misal: baca buku, beresin kamar, olahraga), paksa diri melakukannya cuma selama 2 menit. Biasanya, bagian paling berat itu cuma memulainya. Begitu udah jalan 2 menit, otak kita bakal ketagihan buat nerusin.

  • Kurangi Durasi Scrolling Tanpa Arah

Medsos itu candu. Coba batasi. Gunakan waktu yang tadinya buat kepoin hidup orang lain, buat dengerin podcast yang berbobot atau ikut kelas online gratisan. Anggap aja kamu lagi menyuapi otakmu dengan makanan bergizi, bukan "gorengan" gosip.

  • Berdamai dengan Rasa Lelah

Belajar atau bekerja keras itu emang melelahkan. Tapi tahu enggak apa yang lebih melelahkan? Rasa penyesalan. Lelah karena berjuang itu efeknya bikin tidur nyenyak, tapi lelah karena menyesal itu efeknya bikin insomnia sambil menatap langit-langit kamar sampai subuh.

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. Begitu kamu menguasai skill baru, rasa lelahnya hilang, tersisa bangganya. Tapi menderita karena kemalasan itu sifatnya permanen dan makin lama makin perih.

Jadi, buat kamu yang membaca artikel ini sambil rebahan dan HP nya hampir jatuh mengenai muka: yuk, taruh HP nya sebentar. Duduk tegak, ambil napas dalam-dalam, dan mulailah melangkah.

Kasurmu emang empuk dan bisa membuat nyaman, tapi dia enggak bisa dipakai buat membayar dan merubah masa depan. Upgrade dirimu sekarang, sebelum keadaan memaksa kamu buat berubah dalam kondisi yang sudah terlambat! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Deden Ibn Suja
Tentang Deden Ibn Suja
Belajar nulis lewat cakrawala

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)