Buku, Keluarga, dan Literasi

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 22 Mei 2026, 08:35 WIB
Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Saat asyik membaca siaran pers bertajuk tema dan logo HUT ke-46 Perpusnas, Cerminkan Semangat Penguatan Literasi untuk Bangsa Bermartabat, pikiran seakan-akan diajak berhenti sejenak dari segala tek tek bengek rutinitas. 

Rangkaian kalimat terasa menenangkan, terlebih ketika mengeja tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tajuk yang unik dan apik. Pasalnya, bangsa besar selalu lahir dari tradisi membaca, merawat ilmu, dan menjaga ingatan kolektifnya.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia beserta pengelolaan pengetahuan menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan jalan panjang dalam membentuk masyarakat yang cerdas, bijak, dan bermartabat.

Refleksi itu mendadak terhenti oleh dering telepon (hp) berbunyi, dari seberang, suara istri terdengar ringan dan tegas. “Bah, uih jam baraha?”

“Tabuh 16.30 WIB,” jawabku singkat.

Setengah lima kurang sepuluh menit. Waktu pulang. Dengan merapikan meja kerja, mematikan komputer perlahan, lalu berpamitan kepada kawan-kawan dan satpam yang masih berjaga. “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum.”

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Di tengah perjalanan pulang, entah mengapa tema soal literasi tadi masih terngiang di benak kepala. Mulai dari buku, pustaka, bangsa sampai masa depan. Teradang kita terlalu jauh mencari makna besar (yang berada di luar), padahal sesunguhnya tumbuh dari aktivitas sederhana (kecil yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, anak, istri) dengan membuka ruang (perjumpaan autentik) untuk menumbuhkan minat terhadap buku, cerita, hingga merawat imajinasi. 

Sesampainya di rumah, pintu dibuka oleh Aa Akil, anak kedua (11 tahun) yang langsung menyambut sambil memeluk dan menanyakan koran kebanggaan Jawa Barat. “Bah bawa Koran kan...! Ieu Aa

Belum sempat duduk, dari belakang Kakang, anak ketiga (4 tahun), mendekat dengan membawakan kabar. “Kata Mbu, Kakang dibeliin buku cerita?” asyik sambil berlari-lari kecil.

Muhun,” jawabku singkat sambil mengusap kepalanya.

Istri menimpali sambil tersenyum kecil. “Atos dipeserkeun buku OSN Aa, buku carita Kakang, tinggal bayarna.”

Siap!”

Tanpa berkata-kata bocah kelas 5 SD ini langsung tancap gas melahap informasi yang ada di Koran, terutama rubrik Tunggu Dulu dan Gelora. Kutinggalkan untuk bersih-bersih. Selesai mandi. Aa Akil memanggil dan bertanya, "Bah kan tanggal 17 Mei Hari Buku Nasional. Katanya berkat Pak Malik Fadjar?" 

"Wih Aa teurang geuning!"

Abdul Malik Fadjar, tokoh intelektual di balik pencetusan Hari Buku Nasional pada tahun 2002. (Sumber: Instagram @rbc.institute)
Abdul Malik Fadjar, tokoh intelektual di balik pencetusan Hari Buku Nasional pada tahun 2002. (Sumber: Instagram @rbc.institute)

Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional

Di tengah-tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern, ancaman matinya nalar menjadi tantangan besar bangsa. Pada peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2026, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan itu, mendiang Abdul Malik Fadjar.

Tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menteri Pendidikan Nasional itu bukan sekadar birokrat, melainkan visioner yang mendedikasikan hidupnya bagi penguatan literasi bangsa.

Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM Faizin menjelaskan, Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi melemahnya tradisi berpikir. Parahnya, keberadaan buku kerap direduksi sekadar pelengkap pendidikan formal.

“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan"

Keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 merupakan bentuk rekayasa budaya yang disengaja. Momentum 17 Mei dipilih untuk menghubungkan buku dengan gerakan bersama yang menyadarkan public, literasi merupakan pilar kebangsaan.

“Sebagai pencetus, beliau melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional. Literasi benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi" 

Kesadaran akan bahaya krisis nalar itu pula yang mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi menjaga ekosistem literasi tetap hidup di Kota Pendidikan, tokoh Muhammadiyah itu menghibahkan ribuan buku koleksi pribadinya agar dapat diakses publik secara luas.

“Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tidak boleh ditinggalkan generasi muda" 

Kini, semangat itu diteruskan RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Ikhtiar ini diwujudkan dalam bentuk empat program unggulan. Ruang gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan pengembangan lembaga pendidikan, serta perpustakaan keliling mobil bakti untuk bangsa.

Perjalanan panjang dan keteladanan Malik Fadjar meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukan sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar. (www.klikmu.co)

Yuk, rayakan Hari Buku Nasional dengan mulai meluangkan waktu untuk membaca dan menularkan semangat literasi kepada sekitar kita. (Sumber: Instagram @rbc.institute)
Yuk, rayakan Hari Buku Nasional dengan mulai meluangkan waktu untuk membaca dan menularkan semangat literasi kepada sekitar kita. (Sumber: Instagram @rbc.institute)

Bukan Sekadar Perayaan Biasa 

Hari Buku Nasional Indonesia (Harbuknas) merupakan peringatan tahunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap budaya membaca buku. Perayaan Harbuknas bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yaitu pada 17 Mei 1980. Harbuknas pertama kali digagas oleh Menteri Pendidikan, Abdul Mailik Fadjar yang menjabat di era Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).

Harbuknas pertama kali diperingati pada 2002 oleh Abdul Malik Fadjar. Peringatan Harbuknas dilatarbelakangi oleh rendahnya angka melek huruf dan penjualan buku Indonesia saat itu. 

Data UNESCO tahun 2002, angka melek huruf orang Indonesia dewasa, penduduk berusia 15 tahun ke atas hanya 87,9 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen) dan Thailand (92,6 persen). Indonesia hanya mampu mencetak rata-rata 18.000 buku per tahun, jauh di bawah Jepang (40.000 judul) dan Cina (140.000 judul).

Abdul Malik Fadjar mengetahui membaca buku adalah salah satu cara untuk memperluas pengetahuan seseorang dan tetap up to date dengan perkembangan dunia modern.

Caranya dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih memikirkan membaca buku dan mengembangkan literasi sebagai modal dasar pembangunan negara. Harapannya Hari Buku Nasional dapat memberikan dorongan untuk merevitalisasi industri buku nasional yang saat itu tertinggal. (Tempo 17 Mei 2024 | 17.23 WIB).

Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)
Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)

Tinggi (IPLM) Koleksi, Gagap (Budaya) Literasi 

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menjelaskan pada saat menjadi narasumber Seminar Bermartabat dengan Buku dalam rangka Festival Hari Buku Nasional 2026, Selasa, (19/5/2026).

Koleksi Perpusnas itu meliputi 2.299.888 judul atau 4.012.561 eksemplar koleksi deposit, serta 1.326.273 judul atau 5.857.488 eksemplar koleksi layanan.

"Perpusnas menjaga 3,6 juta judul koleksi. Dari jumlah itu, 61,1% atau 2,2 juta judul adalah koleksi fisik, dan 33,3% atau 1,2 juta judul adalah koleksi digital. Hingga Maret 2026, enam dari sepuluh koleksi Perpusnas masih berwujud fisik" 

Seminar bertema 'Menguatkan Literasi di Era Digital, dari Membaca, Memahami, hingga Bertindak' itu, Suharyanto memaparkan perkembangan layanan ISBN nasional. Selama 40 tahun, sejak 1986 hingga 2026, tercatat sebanyak 1.249.049 judul yang telah terdaftar dengan total 1.374.206 ISBN dan jumlah anggota ISBN sebanyak 26.329 penerbit.

Perpusnas mencatat jumlah kunjungan pemustaka pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 3.409.741 kunjungan atau rata-rata 38.786 orang per hari. Dari jumlah ini, dominasi layanan digital terlihat sangat kuat. Data menunjukkan kunjungan melalui layanan digital mencapai 37.338 orang per hari, setara 96,27% dari total kunjungan. Untuk kunjungan langsung ke gedung perpustakaan tercatat 1.448 orang per hari atau 3,73%.

"Angka ini menegaskan pergeseran pola akses masyarakat terhadap layanan perpustakaan di era digital. Layanan daring saat ini menjadi pintu utama masyarakat dalam mengakses koleksi, meski layanan tatap muka tetap berjalan" 

Pada momentum peringatan HUT ke-46 Perpusnas tahun ini, terdapat kebijakan terkait pemutihan suspend bagi anggota Perpusnas yang terlambat mengembalikan pinjaman koleksi selama periode bulan Mei 2026.

Sejauh ini, telah tercapai 141 orang yang telah memanfaatkan kebijakan. Sebanyak 332 judul buku telah kembali dan jumlah keterlambatan paling banyak adalah 895 hari atau 2 tahun 4 bulan. Dengan kebijakan pemutihan ini diharapkan dapat menguatkan kembali semangat literasi masyarakat demi menuju bangsa yang lebih bermartabat. (www.perpusnas.go.id).

Sejumlah anak membaca dan menggambar di Perpustakaan Alam Malabar, Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Selasa (19/2/2019). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa)

Kendati Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencatat jumlah koleksi, hingga Maret 2026 sebanyak 3.626.161 judul (9.870.049 eksemplar). Rupanya, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang menjadi cerminan dalam melihat kualitas intelektual SDM di suatu daerah sangat beragam.

Padahal, angka yang menggambarkan tingkat usaha yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (tingkat provinsi dan kabupaten/kota) dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat untuk mencapai budaya literasi masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk sepuluh provinsi dengan IPLM tertinggi pada tahun 2025 ada Jawa Timur menempati posisi puncak dengan skor yang cukup signifikan (56,29), menjadikannya satu-satunya provinsi yang berhasil meraih skor di atas 50. Posisi selanjutnya diikuti oleh Banten (48,59), DI Yogyakarta (48,05), Sulawesi Selatan (47,74), Aceh (45,29), Nusa Tenggara Timur (40,56), Sumatra Barat, (43,36), Sumatra Utara (40,54).

Rentang skor antara peringkat pertama dan peringkat kesepuluh menunjukkan adanya variasi tingkat capaian pengembangan literasi antarwilayah unggulan.

Sebelumnya, instrumen yang dinilai dalam IPLM ini mencakup tujuh bagian yang disebut Unsur Pembangunan Literasi Masyarakat (UPLM). Komponennya terdiri dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat per hari, jumlah perpustakaan ber-SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi, dan anggota perpustakaan. (www.goodstats.id).

Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Rumah manjadi garda terdepan aktivitas literasi dalam menemukan maknanya yang paling sederhana dan penting. Ya bukan semata hadir di gedung perpustakaan besar, deretan rak penuh koleksi pengetahuan, justru tumbuh subur dari kebiasaan membaca bersama di pagi, sore, malam hari, cerita pengantar tidur, keluarga yang menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Walhasil, dari rumah-rumah kecil itulah budaya literasi lahir, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di ruang keluarga (tegas, ruang tengah, kamar) itu anak menunggu dongeng sebelum tidur terlelap, kakaknya membuka buku pelajaran untuk meraih cita-cita, orang tua terus berusaha menjaga harapan dalam halaman yang dibaca.

Dengan demikian, buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Keluarga menjadi pondasi utama dalam membangun budaya literasi yang hidup, hangat, dan bersahaja. Sebab bangsa yang bermartabat selalu berawal dari rumah yang masih percaya pada dahsyatnya kekuatan buku. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)