Buku, Keluarga, dan Literasi

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Saat asyik membaca siaran pers bertajuk tema dan logo HUT ke-46 Perpusnas, Cerminkan Semangat Penguatan Literasi untuk Bangsa Bermartabat, pikiran seakan-akan diajak berhenti sejenak dari segala tek tek bengek rutinitas. 

Rangkaian kalimat terasa menenangkan, terlebih ketika mengeja tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tajuk yang unik dan apik. Pasalnya, bangsa besar selalu lahir dari tradisi membaca, merawat ilmu, dan menjaga ingatan kolektifnya.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia beserta pengelolaan pengetahuan menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf, melainkan jalan panjang dalam membentuk masyarakat yang cerdas, bijak, dan bermartabat.

Refleksi itu mendadak terhenti oleh dering telepon (hp) berbunyi, dari seberang, suara istri terdengar ringan dan tegas. “Bah, uih jam baraha?”

“Tabuh 16.30 WIB,” jawabku singkat.

Setengah lima kurang sepuluh menit. Waktu pulang. Dengan merapikan meja kerja, mematikan komputer perlahan, lalu berpamitan kepada kawan-kawan dan satpam yang masih berjaga. “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum.”

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Di tengah perjalanan pulang, entah mengapa tema soal literasi tadi masih terngiang di benak kepala. Mulai dari buku, pustaka, bangsa sampai masa depan. Teradang kita terlalu jauh mencari makna besar (yang berada di luar), padahal sesunguhnya tumbuh dari aktivitas sederhana (kecil yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, anak, istri) dengan membuka ruang (perjumpaan autentik) untuk menumbuhkan minat terhadap buku, cerita, hingga merawat imajinasi. 

Sesampainya di rumah, pintu dibuka oleh Aa Akil, anak kedua (11 tahun) yang langsung menyambut sambil memeluk dan menanyakan koran kebanggaan Jawa Barat. “Bah bawa Koran kan...! Ieu Aa

Belum sempat duduk, dari belakang Kakang, anak ketiga (4 tahun), mendekat dengan membawakan kabar. “Kata Mbu, Kakang dibeliin buku cerita?” asyik sambil berlari-lari kecil.

Muhun,” jawabku singkat sambil mengusap kepalanya.

Istri menimpali sambil tersenyum kecil. “Atos dipeserkeun buku OSN Aa, buku carita Kakang, tinggal bayarna.”

Siap!”

Tanpa berkata-kata bocah kelas 5 SD ini langsung tancap gas melahap informasi yang ada di Koran, terutama rubrik Tunggu Dulu dan Gelora. Kutinggalkan untuk bersih-bersih. Selesai mandi. Aa Akil memanggil dan bertanya, "Bah kan tanggal 17 Mei Hari Buku Nasional. Katanya berkat Pak Malik Fadjar?" 

"Wih Aa teurang geuning!"

Abdul Malik Fadjar, tokoh intelektual di balik pencetusan Hari Buku Nasional pada tahun 2002. (Sumber: Instagram @rbc.institute)
Abdul Malik Fadjar, tokoh intelektual di balik pencetusan Hari Buku Nasional pada tahun 2002. (Sumber: Instagram @rbc.institute)

Malik Fadjar, Pencetus Hari Buku Nasional

Di tengah-tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan masifnya arus informasi instan yang memicu krisis daya kritis masyarakat modern, ancaman matinya nalar menjadi tantangan besar bangsa. Pada peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei 2026, ingatan publik patut dikembalikan pada sosok pencetus peringatan itu, mendiang Abdul Malik Fadjar.

Tokoh Muhammadiyah yang pernah menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Menteri Pendidikan Nasional itu bukan sekadar birokrat, melainkan visioner yang mendedikasikan hidupnya bagi penguatan literasi bangsa.

Direktur Rumah Baca Cerdas (RBC) A. Malik Fadjar Institute UMM Faizin menjelaskan, Malik Fadjar memandang persoalan bangsa bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi melemahnya tradisi berpikir. Parahnya, keberadaan buku kerap direduksi sekadar pelengkap pendidikan formal.

“Bagi Pak Malik, bangsa yang tidak akrab dengan buku akan mudah kehilangan arah, gampang diprovokasi, dan lemah daya nalarnya. Karena itu, Hari Buku Nasional yang beliau gagas bukan sekadar hari peringatan, tetapi alarm kebudayaan agar bangsa kembali membangun tradisi membaca sebagai fondasi kemajuan"

Keputusan Malik Fadjar mencetuskan Hari Buku Nasional pada 2002 merupakan bentuk rekayasa budaya yang disengaja. Momentum 17 Mei dipilih untuk menghubungkan buku dengan gerakan bersama yang menyadarkan public, literasi merupakan pilar kebangsaan.

“Sebagai pencetus, beliau melihat buku sebagai alat pembebasan berpikir. Dalam pemikiran Prof Malik, masyarakat yang rajin membaca akan tumbuh menjadi insan yang kritis, toleran, dan rasional. Literasi benar-benar menjadi fondasi kokoh bagi demokrasi" 

Kesadaran akan bahaya krisis nalar itu pula yang mendorong Malik Fadjar mendirikan Rumah Baca Cerdas (RBC) di pusat Kota Malang. Demi menjaga ekosistem literasi tetap hidup di Kota Pendidikan, tokoh Muhammadiyah itu menghibahkan ribuan buku koleksi pribadinya agar dapat diakses publik secara luas.

“Agar budaya baca tidak hilang tertelan hiruk-pikuk zaman, Prof Malik rela memindahkan koleksi pribadinya untuk memenuhi rak-rak perpustakaan RBC. Beliau ingin ekosistem literasi ini terus terjaga dan menjadi nyala semangat yang tidak boleh ditinggalkan generasi muda" 

Kini, semangat itu diteruskan RBC A. Malik Fadjar Institute yang bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran dan pusat pembentukan nalar publik. Ikhtiar ini diwujudkan dalam bentuk empat program unggulan. Ruang gagasan, riset pengembangan mutu pendidikan, pendampingan pengembangan lembaga pendidikan, serta perpustakaan keliling mobil bakti untuk bangsa.

Perjalanan panjang dan keteladanan Malik Fadjar meninggalkan pesan mendalam bagi lintas generasi. Merawat tradisi membaca di era post-truth bukan sekadar hobi, melainkan benteng pertahanan terakhir dari kebodohan. Memperingati Hari Buku Nasional sejatinya menjadi momentum memperbarui komitmen kolektif untuk menghidupkan budaya ilmu dan merawat akal sehat bangsa demi meneruskan api perjuangan Malik Fadjar. (www.klikmu.co)

Yuk, rayakan Hari Buku Nasional dengan mulai meluangkan waktu untuk membaca dan menularkan semangat literasi kepada sekitar kita. (Sumber: Instagram @rbc.institute)
Yuk, rayakan Hari Buku Nasional dengan mulai meluangkan waktu untuk membaca dan menularkan semangat literasi kepada sekitar kita. (Sumber: Instagram @rbc.institute)

Bukan Sekadar Perayaan Biasa 

Hari Buku Nasional Indonesia (Harbuknas) merupakan peringatan tahunan yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat terhadap budaya membaca buku. Perayaan Harbuknas bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yaitu pada 17 Mei 1980. Harbuknas pertama kali digagas oleh Menteri Pendidikan, Abdul Mailik Fadjar yang menjabat di era Kabinet Gotong-Royong (2001-2004).

Harbuknas pertama kali diperingati pada 2002 oleh Abdul Malik Fadjar. Peringatan Harbuknas dilatarbelakangi oleh rendahnya angka melek huruf dan penjualan buku Indonesia saat itu. 

Data UNESCO tahun 2002, angka melek huruf orang Indonesia dewasa, penduduk berusia 15 tahun ke atas hanya 87,9 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen) dan Thailand (92,6 persen). Indonesia hanya mampu mencetak rata-rata 18.000 buku per tahun, jauh di bawah Jepang (40.000 judul) dan Cina (140.000 judul).

Abdul Malik Fadjar mengetahui membaca buku adalah salah satu cara untuk memperluas pengetahuan seseorang dan tetap up to date dengan perkembangan dunia modern.

Caranya dengan mengajak masyarakat Indonesia untuk lebih memikirkan membaca buku dan mengembangkan literasi sebagai modal dasar pembangunan negara. Harapannya Hari Buku Nasional dapat memberikan dorongan untuk merevitalisasi industri buku nasional yang saat itu tertinggal. (Tempo 17 Mei 2024 | 17.23 WIB).

Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)
Frekuensi Publik Membaca Buku (Sumber: www.goodstats.id | Foto: GoodStats)

Tinggi (IPLM) Koleksi, Gagap (Budaya) Literasi 

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Suharyanto, menjelaskan pada saat menjadi narasumber Seminar Bermartabat dengan Buku dalam rangka Festival Hari Buku Nasional 2026, Selasa, (19/5/2026).

Koleksi Perpusnas itu meliputi 2.299.888 judul atau 4.012.561 eksemplar koleksi deposit, serta 1.326.273 judul atau 5.857.488 eksemplar koleksi layanan.

"Perpusnas menjaga 3,6 juta judul koleksi. Dari jumlah itu, 61,1% atau 2,2 juta judul adalah koleksi fisik, dan 33,3% atau 1,2 juta judul adalah koleksi digital. Hingga Maret 2026, enam dari sepuluh koleksi Perpusnas masih berwujud fisik" 

Seminar bertema 'Menguatkan Literasi di Era Digital, dari Membaca, Memahami, hingga Bertindak' itu, Suharyanto memaparkan perkembangan layanan ISBN nasional. Selama 40 tahun, sejak 1986 hingga 2026, tercatat sebanyak 1.249.049 judul yang telah terdaftar dengan total 1.374.206 ISBN dan jumlah anggota ISBN sebanyak 26.329 penerbit.

Perpusnas mencatat jumlah kunjungan pemustaka pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 3.409.741 kunjungan atau rata-rata 38.786 orang per hari. Dari jumlah ini, dominasi layanan digital terlihat sangat kuat. Data menunjukkan kunjungan melalui layanan digital mencapai 37.338 orang per hari, setara 96,27% dari total kunjungan. Untuk kunjungan langsung ke gedung perpustakaan tercatat 1.448 orang per hari atau 3,73%.

"Angka ini menegaskan pergeseran pola akses masyarakat terhadap layanan perpustakaan di era digital. Layanan daring saat ini menjadi pintu utama masyarakat dalam mengakses koleksi, meski layanan tatap muka tetap berjalan" 

Pada momentum peringatan HUT ke-46 Perpusnas tahun ini, terdapat kebijakan terkait pemutihan suspend bagi anggota Perpusnas yang terlambat mengembalikan pinjaman koleksi selama periode bulan Mei 2026.

Sejauh ini, telah tercapai 141 orang yang telah memanfaatkan kebijakan. Sebanyak 332 judul buku telah kembali dan jumlah keterlambatan paling banyak adalah 895 hari atau 2 tahun 4 bulan. Dengan kebijakan pemutihan ini diharapkan dapat menguatkan kembali semangat literasi masyarakat demi menuju bangsa yang lebih bermartabat. (www.perpusnas.go.id).

Sejumlah anak membaca dan menggambar di Perpustakaan Alam Malabar, Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Selasa (19/2/2019). (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa)

Kendati Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) mencatat jumlah koleksi, hingga Maret 2026 sebanyak 3.626.161 judul (9.870.049 eksemplar). Rupanya, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang menjadi cerminan dalam melihat kualitas intelektual SDM di suatu daerah sangat beragam.

Padahal, angka yang menggambarkan tingkat usaha yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (tingkat provinsi dan kabupaten/kota) dalam membina dan mengembangkan perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat untuk mencapai budaya literasi masyarakat.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat untuk sepuluh provinsi dengan IPLM tertinggi pada tahun 2025 ada Jawa Timur menempati posisi puncak dengan skor yang cukup signifikan (56,29), menjadikannya satu-satunya provinsi yang berhasil meraih skor di atas 50. Posisi selanjutnya diikuti oleh Banten (48,59), DI Yogyakarta (48,05), Sulawesi Selatan (47,74), Aceh (45,29), Nusa Tenggara Timur (40,56), Sumatra Barat, (43,36), Sumatra Utara (40,54).

Rentang skor antara peringkat pertama dan peringkat kesepuluh menunjukkan adanya variasi tingkat capaian pengembangan literasi antarwilayah unggulan.

Sebelumnya, instrumen yang dinilai dalam IPLM ini mencakup tujuh bagian yang disebut Unsur Pembangunan Literasi Masyarakat (UPLM). Komponennya terdiri dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi, ketercukupan tenaga perpustakaan, tingkat kunjungan masyarakat per hari, jumlah perpustakaan ber-SNP, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan sosialisasi, dan anggota perpustakaan. (www.goodstats.id).

Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Aa Akil anak kedua dan Kakang anak ketiga asyik membaca buku, Ahad (26/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)

Rumah manjadi garda terdepan aktivitas literasi dalam menemukan maknanya yang paling sederhana dan penting. Ya bukan semata hadir di gedung perpustakaan besar, deretan rak penuh koleksi pengetahuan, justru tumbuh subur dari kebiasaan membaca bersama di pagi, sore, malam hari, cerita pengantar tidur, keluarga yang menjadikan buku sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Walhasil, dari rumah-rumah kecil itulah budaya literasi lahir, tumbuh, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di ruang keluarga (tegas, ruang tengah, kamar) itu anak menunggu dongeng sebelum tidur terlelap, kakaknya membuka buku pelajaran untuk meraih cita-cita, orang tua terus berusaha menjaga harapan dalam halaman yang dibaca.

Dengan demikian, buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat. Keluarga menjadi pondasi utama dalam membangun budaya literasi yang hidup, hangat, dan bersahaja. Sebab bangsa yang bermartabat selalu berawal dari rumah yang masih percaya pada dahsyatnya kekuatan buku. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)