Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Jumat 22 Mei 2026, 19:17 WIB
Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Membuka kembali kliping media cetak terbitan tahun 1995 tentang kemenangan Persib Bandung di Liga Indonesia musim 1994–1995 seperti harian Pikiran Rakyat Bandung, tabloid olahraga BOLA, Tribun Olahraga, hingga tabloid Gema Olahraga (GO), dan puluhan media cetak lainnya, menghadirkan kembali suasana haru dan kebanggaan yang pernah menyelimuti masyarakat Jawa Barat. Lembaran-lembaran koran lawas itu seakan menjadi mesin waktu yang membawa ingatan bobotoh kembali ke sebuah malam bersejarah ketika Persib berdiri di puncak sepak bola nasional.

Kemenangan Persib Bandung melangkah ke partai puncak Liga Super Indonesia 2026 pun membuat kenangan itu kembali terasa dekat. Tepat 31 tahun silam, Persib menorehkan sejarah besar dengan menjuarai Liga Indonesia musim 1994–1995 sebuah momen yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Jawa Barat.

Malam itu, 30 Juli 1995, Stadion Utama Senayan Jakarta, yang kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi lahirnya salah satu kisah terbesar dalam perjalanan sepak bola nasional. Ribuan bobotoh datang dari Bandung dan berbagai kota di Jawa Barat. Tribun Senayan berubah menjadi lautan biru. Nyanyian menggema tanpa henti, doa dan harapan para bobotoh mewarnai suasana ibu kota saat itu.

Di hadapan lawan tangguh, Petrokimia Putra, Persib tampil bukan sebagai tim bertabur bintang. Maung Bandung hadir sebagai kesebelasan yang dibangun dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekuatan pemain-pemain lokal hasil pembinaan sendiri.

Musim 1994–1995 memang menjadi musim yang sangat istimewa dalam sejarah sepak bola Indonesia. Untuk pertama kalinya, kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu kompetisi nasional bernama Liga Indonesia Divisi Utama, yang kala itu lebih populer dengan sebutan Liga Dunhill.

Sebanyak 34 klub ikut ambil bagian. Tim-tim eks Galatama datang dengan reputasi modern, dukungan finansial kuat, pemain asing, dan nama-nama besar. Sementara klub-klub eks Perserikatan, termasuk Persib, dipandang sebelah mata. Banyak yang meragukan mereka mampu bersaing di tengah perubahan sepak bola Indonesia yang mulai bergerak ke arah profesional dan komersial.

Namun Persib menjawab semua keraguan itu dengan cara paling indah lewat perjuangan di lapangan hijau.

Perjalanan Maung Bandung tidak selalu mudah. Mereka melangkah perlahan, tetapi pasti. Persib tampil solid, disiplin, dan penuh daya juang. Satu demi satu fase berhasil dilewati ketika banyak tim unggulan mulai tersingkir. Bahkan Persib menjadi satu-satunya wakil eks Perserikatan yang mampu menembus delapan besar hingga akhirnya melaju ke partai final.

Kekey Zakaria, salah seorang ujung tombak andalan Persib Bandung pada kompetisi Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Tabloid Gema Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Kekey Zakaria, salah seorang ujung tombak andalan Persib Bandung pada kompetisi Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Tabloid Gema Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Laga puncak melawan Petrokimia Putra berlangsung menegangkan. Stadion Senayan malam itu seperti menahan napas. Petrokimia sempat membobol gawang Persib melalui Jacksen F. Tiago, namun gol tersebut dianulir karena offside. Ketegangan semakin terasa di setiap menit pertandingan.

Hingga akhirnya, sejarah itu lahir pada menit ke-76.

Sutiono Lamso mencetak gol yang mengubah segalanya. Senayan bergemuruh. Bobotoh bersorak, saling berpelukan, sebagian tak kuasa menahan air mata haru. Bandung larut dalam kebanggaan. Jawa Barat berpesta.

Gol kemenangan itu bukan sekadar memastikan skor 1-0 untuk Persib. Lebih dari itu, gol tersebut menjadi simbol bahwa sepak bola daerah, pembinaan pemain lokal, dan semangat kebersamaan masih mampu berdiri tegak di tengah arus profesionalisme sepak bola nasional yang terus berubah.

Nama-nama seperti Robby Darwis, Sutiono Lamso, Yudi Guntara, Kekey Zakaria, dan para pemain Persib lainnya pada musim itu, hingga kini tetap hidup dalam ingatan bobotoh. Mereka bukan hanya pemain sepak bola, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah dan kebanggaan masyarakat Sunda.

Robby Darwis diarak dengan sisingaan usai membawa Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Robby Darwis diarak dengan sisingaan usai membawa Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Kini, tiga puluh satu tahun telah berlalu.

Generasi telah berganti. Stadion berubah wajah. Kompetisi pun berganti nama dan format. Sepak bola Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Namun satu hal tetap sama cinta bobotoh kepada Persib tak pernah berubah.

Saat Persib kembali membuka peluang meraih gelar Liga Super Indonesia 2026 sekaligus mencatatkan hattrick juara, kenangan tentang malam magis di Senayan 1995 kembali terasa begitu dekat. Seolah sorak-sorai bobotoh dari masa lalu masih menggema hingga hari ini.

Sejarah itu kini bukan sekadar nostalgia. Ia telah menjadi sumber semangat, pengingat bahwa Persib selalu memiliki cara untuk bangkit, berjuang, dan menorehkan kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat.

Dari Senayan 1995 hingga Liga Super Indonesia 2026, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah identitas, harga diri, dan denyut kebanggaan urang Sunda. Dan setiap kali Maung Bandung melangkah menuju tahta juara, kenangan 31 tahun silam itu selalu kembali hidup. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.