Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Membuka kembali kliping media cetak terbitan tahun 1995 tentang kemenangan Persib Bandung di Liga Indonesia musim 1994–1995 seperti harian Pikiran Rakyat Bandung, tabloid olahraga BOLA, Tribun Olahraga, hingga tabloid Gema Olahraga (GO), dan puluhan media cetak lainnya, menghadirkan kembali suasana haru dan kebanggaan yang pernah menyelimuti masyarakat Jawa Barat. Lembaran-lembaran koran lawas itu seakan menjadi mesin waktu yang membawa ingatan bobotoh kembali ke sebuah malam bersejarah ketika Persib berdiri di puncak sepak bola nasional.

Kemenangan Persib Bandung melangkah ke partai puncak Liga Super Indonesia 2026 pun membuat kenangan itu kembali terasa dekat. Tepat 31 tahun silam, Persib menorehkan sejarah besar dengan menjuarai Liga Indonesia musim 1994–1995 sebuah momen yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Jawa Barat.

Malam itu, 30 Juli 1995, Stadion Utama Senayan Jakarta, yang kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi lahirnya salah satu kisah terbesar dalam perjalanan sepak bola nasional. Ribuan bobotoh datang dari Bandung dan berbagai kota di Jawa Barat. Tribun Senayan berubah menjadi lautan biru. Nyanyian menggema tanpa henti, doa dan harapan para bobotoh mewarnai suasana ibu kota saat itu.

Di hadapan lawan tangguh, Petrokimia Putra, Persib tampil bukan sebagai tim bertabur bintang. Maung Bandung hadir sebagai kesebelasan yang dibangun dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekuatan pemain-pemain lokal hasil pembinaan sendiri.

Musim 1994–1995 memang menjadi musim yang sangat istimewa dalam sejarah sepak bola Indonesia. Untuk pertama kalinya, kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu kompetisi nasional bernama Liga Indonesia Divisi Utama, yang kala itu lebih populer dengan sebutan Liga Dunhill.

Sebanyak 34 klub ikut ambil bagian. Tim-tim eks Galatama datang dengan reputasi modern, dukungan finansial kuat, pemain asing, dan nama-nama besar. Sementara klub-klub eks Perserikatan, termasuk Persib, dipandang sebelah mata. Banyak yang meragukan mereka mampu bersaing di tengah perubahan sepak bola Indonesia yang mulai bergerak ke arah profesional dan komersial.

Namun Persib menjawab semua keraguan itu dengan cara paling indah lewat perjuangan di lapangan hijau.

Perjalanan Maung Bandung tidak selalu mudah. Mereka melangkah perlahan, tetapi pasti. Persib tampil solid, disiplin, dan penuh daya juang. Satu demi satu fase berhasil dilewati ketika banyak tim unggulan mulai tersingkir. Bahkan Persib menjadi satu-satunya wakil eks Perserikatan yang mampu menembus delapan besar hingga akhirnya melaju ke partai final.

Kekey Zakaria, salah seorang ujung tombak andalan Persib Bandung pada kompetisi Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Tabloid Gema Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Kekey Zakaria, salah seorang ujung tombak andalan Persib Bandung pada kompetisi Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Tabloid Gema Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Laga puncak melawan Petrokimia Putra berlangsung menegangkan. Stadion Senayan malam itu seperti menahan napas. Petrokimia sempat membobol gawang Persib melalui Jacksen F. Tiago, namun gol tersebut dianulir karena offside. Ketegangan semakin terasa di setiap menit pertandingan.

Hingga akhirnya, sejarah itu lahir pada menit ke-76.

Sutiono Lamso mencetak gol yang mengubah segalanya. Senayan bergemuruh. Bobotoh bersorak, saling berpelukan, sebagian tak kuasa menahan air mata haru. Bandung larut dalam kebanggaan. Jawa Barat berpesta.

Gol kemenangan itu bukan sekadar memastikan skor 1-0 untuk Persib. Lebih dari itu, gol tersebut menjadi simbol bahwa sepak bola daerah, pembinaan pemain lokal, dan semangat kebersamaan masih mampu berdiri tegak di tengah arus profesionalisme sepak bola nasional yang terus berubah.

Nama-nama seperti Robby Darwis, Sutiono Lamso, Yudi Guntara, Kekey Zakaria, dan para pemain Persib lainnya pada musim itu, hingga kini tetap hidup dalam ingatan bobotoh. Mereka bukan hanya pemain sepak bola, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah dan kebanggaan masyarakat Sunda.

Robby Darwis diarak dengan sisingaan usai membawa Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Robby Darwis diarak dengan sisingaan usai membawa Persib Bandung menjuarai Liga Indonesia 1994–1995. (Sumber: Harian Pikiran Rakyat, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)

Kini, tiga puluh satu tahun telah berlalu.

Generasi telah berganti. Stadion berubah wajah. Kompetisi pun berganti nama dan format. Sepak bola Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Namun satu hal tetap sama cinta bobotoh kepada Persib tak pernah berubah.

Saat Persib kembali membuka peluang meraih gelar Liga Super Indonesia 2026 sekaligus mencatatkan hattrick juara, kenangan tentang malam magis di Senayan 1995 kembali terasa begitu dekat. Seolah sorak-sorai bobotoh dari masa lalu masih menggema hingga hari ini.

Sejarah itu kini bukan sekadar nostalgia. Ia telah menjadi sumber semangat, pengingat bahwa Persib selalu memiliki cara untuk bangkit, berjuang, dan menorehkan kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat.

Dari Senayan 1995 hingga Liga Super Indonesia 2026, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah identitas, harga diri, dan denyut kebanggaan urang Sunda. Dan setiap kali Maung Bandung melangkah menuju tahta juara, kenangan 31 tahun silam itu selalu kembali hidup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)