Membuka kembali kliping media cetak terbitan tahun 1995 tentang kemenangan Persib Bandung di Liga Indonesia musim 1994–1995 seperti harian Pikiran Rakyat Bandung, tabloid olahraga BOLA, Tribun Olahraga, hingga tabloid Gema Olahraga (GO), dan puluhan media cetak lainnya, menghadirkan kembali suasana haru dan kebanggaan yang pernah menyelimuti masyarakat Jawa Barat. Lembaran-lembaran koran lawas itu seakan menjadi mesin waktu yang membawa ingatan bobotoh kembali ke sebuah malam bersejarah ketika Persib berdiri di puncak sepak bola nasional.
Kemenangan Persib Bandung melangkah ke partai puncak Liga Super Indonesia 2026 pun membuat kenangan itu kembali terasa dekat. Tepat 31 tahun silam, Persib menorehkan sejarah besar dengan menjuarai Liga Indonesia musim 1994–1995 sebuah momen yang hingga kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat Jawa Barat.
Malam itu, 30 Juli 1995, Stadion Utama Senayan Jakarta, yang kini bernama Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi lahirnya salah satu kisah terbesar dalam perjalanan sepak bola nasional. Ribuan bobotoh datang dari Bandung dan berbagai kota di Jawa Barat. Tribun Senayan berubah menjadi lautan biru. Nyanyian menggema tanpa henti, doa dan harapan para bobotoh mewarnai suasana ibu kota saat itu.
Di hadapan lawan tangguh, Petrokimia Putra, Persib tampil bukan sebagai tim bertabur bintang. Maung Bandung hadir sebagai kesebelasan yang dibangun dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekuatan pemain-pemain lokal hasil pembinaan sendiri.
Musim 1994–1995 memang menjadi musim yang sangat istimewa dalam sejarah sepak bola Indonesia. Untuk pertama kalinya, kompetisi Perserikatan dan Galatama dilebur menjadi satu kompetisi nasional bernama Liga Indonesia Divisi Utama, yang kala itu lebih populer dengan sebutan Liga Dunhill.
Sebanyak 34 klub ikut ambil bagian. Tim-tim eks Galatama datang dengan reputasi modern, dukungan finansial kuat, pemain asing, dan nama-nama besar. Sementara klub-klub eks Perserikatan, termasuk Persib, dipandang sebelah mata. Banyak yang meragukan mereka mampu bersaing di tengah perubahan sepak bola Indonesia yang mulai bergerak ke arah profesional dan komersial.
Namun Persib menjawab semua keraguan itu dengan cara paling indah lewat perjuangan di lapangan hijau.
Perjalanan Maung Bandung tidak selalu mudah. Mereka melangkah perlahan, tetapi pasti. Persib tampil solid, disiplin, dan penuh daya juang. Satu demi satu fase berhasil dilewati ketika banyak tim unggulan mulai tersingkir. Bahkan Persib menjadi satu-satunya wakil eks Perserikatan yang mampu menembus delapan besar hingga akhirnya melaju ke partai final.

Laga puncak melawan Petrokimia Putra berlangsung menegangkan. Stadion Senayan malam itu seperti menahan napas. Petrokimia sempat membobol gawang Persib melalui Jacksen F. Tiago, namun gol tersebut dianulir karena offside. Ketegangan semakin terasa di setiap menit pertandingan.
Hingga akhirnya, sejarah itu lahir pada menit ke-76.
Sutiono Lamso mencetak gol yang mengubah segalanya. Senayan bergemuruh. Bobotoh bersorak, saling berpelukan, sebagian tak kuasa menahan air mata haru. Bandung larut dalam kebanggaan. Jawa Barat berpesta.
Gol kemenangan itu bukan sekadar memastikan skor 1-0 untuk Persib. Lebih dari itu, gol tersebut menjadi simbol bahwa sepak bola daerah, pembinaan pemain lokal, dan semangat kebersamaan masih mampu berdiri tegak di tengah arus profesionalisme sepak bola nasional yang terus berubah.
Nama-nama seperti Robby Darwis, Sutiono Lamso, Yudi Guntara, Kekey Zakaria, dan para pemain Persib lainnya pada musim itu, hingga kini tetap hidup dalam ingatan bobotoh. Mereka bukan hanya pemain sepak bola, tetapi telah menjadi bagian dari sejarah dan kebanggaan masyarakat Sunda.

Kini, tiga puluh satu tahun telah berlalu.
Generasi telah berganti. Stadion berubah wajah. Kompetisi pun berganti nama dan format. Sepak bola Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Namun satu hal tetap sama cinta bobotoh kepada Persib tak pernah berubah.
Saat Persib kembali membuka peluang meraih gelar Liga Super Indonesia 2026 sekaligus mencatatkan hattrick juara, kenangan tentang malam magis di Senayan 1995 kembali terasa begitu dekat. Seolah sorak-sorai bobotoh dari masa lalu masih menggema hingga hari ini.

Sejarah itu kini bukan sekadar nostalgia. Ia telah menjadi sumber semangat, pengingat bahwa Persib selalu memiliki cara untuk bangkit, berjuang, dan menorehkan kebanggaan bagi masyarakat Jawa Barat.
Dari Senayan 1995 hingga Liga Super Indonesia 2026, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Persib adalah identitas, harga diri, dan denyut kebanggaan urang Sunda. Dan setiap kali Maung Bandung melangkah menuju tahta juara, kenangan 31 tahun silam itu selalu kembali hidup. (*)
