Banyak Followers dan Following, tapi Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

4 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)

Di era media sosial, keberadaan seseorang sering kali diukur dari jejak digitalnya. Semakin aktif seseorang mengunggah foto, video, atau cerita keseharian, semakin “terlihat” pula dirinya di ruang digital. Namun menariknya, di tengah budaya media sosial yang serba terbuka, muncul fenomena akun Instagram dengan ratusan bahkan ribuan followers dan following, tetapi tanpa satu pun unggahan.

Mereka tetap aktif membuka Instagram setiap hari. Story orang lain dilihat, tren terbaru diikuti, bahkan percakapan di direct message tetap berjalan. Namun ketika membuka profil mereka sendiri, yang terlihat hanyalah foto profil, jumlah pengikut dan yang diikuti, serta ruang feed yang kosong. Fenomena ini dikenal sebagai silent user, yakni pengguna yang hadir di media sosial tetapi memilih tidak banyak menampilkan dirinya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa fungsi media sosial telah mengalami perubahan. Pada masa awal kemunculannya, Instagram lebih banyak digunakan sebagai ruang berbagi momen spontan dalam kehidupan sehari-hari. Orang mengunggah foto makanan, perjalanan, suasana kampus, hingga aktivitas sederhana tanpa terlalu memikirkan estetika. Kini, Instagram tidak hanya digunakan sebagai ruang berbagi, tetapi juga menjadi ruang membangun citra diri di dunia digital. Unggahan tidak lagi sekadar dokumentasi, melainkan juga representasi identitas.

Dalam kajian psikologi sosial, fenomena ini sering disebut sebagai lurking behavior atau perilaku pengguna pasif di media sosial. Penelitian Gong dkk (2015) menyebut bahwa pengguna pasif merupakan bagian besar dari komunitas digital yang aktif mengamati konten, tetapi minim membuat unggahan maupun interaksi publik. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu mendorong orang untuk tampil aktif, tetapi juga melahirkan budaya mengamati secara diam-diam.

Antara Privasi, Tekanan Sosial, dan Kepribadian Introvert

Perubahan budaya media sosial membuat sebagian pengguna merasa perlu lebih berhati-hati sebelum mengunggah sesuatu. Standar estetika, tren digital, dan kekhawatiran terhadap penilaian sosial membuat tidak sedikit orang memilih menjadi silent user. Mereka tetap menggunakan media sosial untuk mencari informasi, mengikuti perkembangan teman, atau menjaga koneksi sosial, tetapi tanpa banyak membagikan kehidupan pribadinya.

Selain faktor sosial, kesadaran terhadap privasi digital juga semakin meningkat. Banyak pengguna mulai memahami bahwa apa pun yang diunggah di internet dapat tersimpan dalam waktu lama dan berpotensi disalahgunakan. Karena itu, sebagian memilih membatasi jejak digital mereka sebagai bentuk perlindungan diri.

Fenomena silent user juga sering dikaitkan dengan kepribadian introvert. Orang introvert umumnya lebih nyaman menjaga ruang personal dan tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian. Karena itu, sebagian introvert cenderung menggunakan media sosial untuk mengamati dibanding aktif mengunggah kehidupan pribadinya.

Namun, tidak semua silent user adalah introvert. Banyak pengguna yang aktif bersosialisasi di dunia nyata juga memilih tidak aktif mengunggah konten karena mengalami kelelahan media sosial (social media fatigue) atau ingin menjaga kenyamanan pribadi. Penelitian Liu dkk (2024) menunjukkan bahwa kecemasan sosial, tekanan perbandingan sosial, dan kelelahan digital menjadi faktor yang mendorong seseorang lebih memilih menjadi pengamat dibanding pembuat konten di media sosial.

Dampak Positif dan Negatif Fenomena Silent User

Fenomena silent user memiliki sisi positif. Tidak aktif mengunggah konten dapat membantu seseorang menjaga privasi dan mengurangi tekanan sosial akibat tuntutan tampil sempurna di media sosial. Pengguna juga menjadi lebih selektif dalam membagikan informasi pribadi sehingga risiko penyalahgunaan data maupun perundungan digital dapat ditekan. Dalam beberapa kasus, memilih menjadi silent user membantu seseorang menjaga kesehatan mental karena tidak terlalu terobsesi mencari validasi melalui jumlah likes, komentar, atau viewers.

Selain itu, fenomena ini menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa eksistensi tidak selalu harus ditampilkan secara digital. Sebagian orang mulai memandang media sosial hanya sebagai alat komunikasi dan sumber informasi, bukan ukuran utama nilai diri. Sikap tersebut dapat dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap budaya digital yang semakin terbuka.

Namun di sisi lain, fenomena silent user juga memiliki tantangan tersendiri. Kebiasaan hanya mengamati kehidupan orang lain tanpa aktif berinteraksi dapat membuat hubungan sosial digital menjadi lebih pasif. Pengguna mengetahui banyak hal tentang kehidupan orang lain, tetapi tidak selalu membangun komunikasi yang mendalam.

Fenomena ini juga dapat memperkuat kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Karena lebih sering melihat unggahan terbaik dari pengguna lain, sebagian silent user dapat merasa minder terhadap kehidupannya sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memunculkan kecemasan sosial digital dan rasa tidak percaya diri untuk tampil di ruang publik digital.

Penelitian Hong dkk (2023) menunjukkan bahwa sebagian pengguna media sosial memilih menjadi “tidak terlihat” karena kelelahan menghadapi budaya keterbukaan digital dan tekanan sosial di media sosial. Hal ini memperlihatkan bahwa media sosial modern tidak selalu menjadi ruang ekspresi yang nyaman bagi semua orang.

Pada akhirnya, banyak followers dan following dengan nol postingan bukan sekadar tren digital generasi muda. Fenomena ini mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang eksistensi, privasi, dan interaksi sosial di era internet. Di tengah dunia digital yang semakin ramai oleh unggahan dan pencitraan, diam ternyata menjadi cara lain bagi sebagian orang untuk tetap hadir. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Angga Marditama Sultan Sufanir
Asst. Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)