Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

6 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Persib Bandung telah resmi menyandang gelar juara di Super League 2025/2026. Bandung selalu punya cara sendiri untuk merayakan Persib.

Klakson bersahutan. Biru mendominasi jalanan. Ribuan bobotoh memenuhi ruas kota, menyanyikan lagu kemenangan, mengibarkan syal, membakar flare, dan mengubah malam menjadi pesta panjang.

Hingga Sabtu, 23 Mei 2025, tengah malam pun euforia tak kunjung padam. Dengan rasa bangga, mereka terus hadir dan merayakan. Namun, lambat laun euforia mulai surut dan memperlihatkan wajah lainnya.

Di beberapa sudut kota terlihat tumpukan sampah. Ada yang masih berserakan di tengah jalan, ada pula yang menumpuk di trotoar. Taman kota dipenuhi sampah. Di kawasan Asia Afrika, sekitar Alun-Alun, sampai ruas jalan menuju Banceuy, pesta itu meninggalkan jejak yang tak ikut pulang bersama konvoi. Botol minuman berserakan di pinggir trotoar. Plastik makanan menumpuk di sudut jalan. Kardus, bungkus rokok, sisa jajanan, hingga pecahan sampah kecil memenuhi beberapa titik pusat kota.

Sampah bekas konvoi Persib di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sampah bekas konvoi Persib di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Saat sebagian warga Bandung masih membicarakan kemenangan Persib, Hendi Suhendi justru baru memulai pekerjaannya. Pria 54 tahun itu merupakan petugas kebersihan yang bertugas di kawasan pusat kota. Sejak pukul sembilan malam, ia bersama rekan-rekannya mulai menyisir area Asia Afrika, lampu merah Tamblong, Alun-Alun, belokan menuju Banceuy, depan Pendopo Wali Kota, hingga sekitar Dewi Sartika.

Malam itu bukan malam kerja biasa.

Sampahna mah di mana-mana. Ini empat kali lipat dibanding Lebaran. Dengan personel 10 orang mah enggak mungkin cepat beres kalau kondisinya begini. Mobil sampah juga kayaknya enggak bakal muat, ini sudah penuh,” ujar Hendi sambil tetap membereskan tumpukan sampah di pinggir jalan.

Kalau hari normal kawasan itu hanya menghasilkan dua tong sampah besar, malam pascaperayaan Persib menghadirkan volume yang jauh berbeda.

Bukan lagi hitungan tong.

“Hari biasa dari Tamblong sampai Otista paling dua hengkar kiri kanan. Sekarang? Bisa lebih dari 10 kubik. Bahkan 20 kubik juga mungkin. Ini Asia Afrika saja sudah hampir tiga jam dibersihin, tapi belum beres,” katanya.

Jenis sampah yang ditemukan pun beragam. Namun yang paling dominan, menurut Hendi, adalah botol minuman. Tak sedikit yang memenuhi karung besar.

“Yang karung 25 kilo juga penuh. Botol plastik ada, botol minuman alkohol juga ada. Campur sama plastik, kardus, sisa makanan, macam-macam lah. Pokokna membeludak,” ucapnya.

Sebagai warga Bandung, Hendi tidak menampik dirinya ikut senang melihat Persib kembali berjaya. Ia tumbuh di lingkungan yang akrab dengan sepak bola. Anak-anaknya pun menyukai Persib.

Namun, di balik rasa bangga itu, ada pekerjaan panjang yang harus diselesaikan setelah pesta selesai.

“Senang mah lain senang deui. Persib juara pasti urang bungah. Anak-anak oge resep, keluarga senang. Tapi di sisi lain, ya ieu sudah jadi tugas kami beberes setelah semua selesai,” katanya.

Meski lelah menghadapi tumpukan sampah yang menurutnya empat kali lebih banyak dibanding masa Lebaran, Hendi mengaku tidak ingin melihat euforia Persib hilang dari Kota Bandung. Yang ia harapkan justru cara merayakannya bisa semakin dewasa.

“Mudah-mudahan taun hareup, lamun Persib juara deui atanapi aya konvoi deui, suasanana tetap rame, tetap aman, tapi sampahna bisa leuwih tertib. Konvoina ayeuna mah sebenarnya sudah aman, sudah tertib, enggak ada kejadian apa-apa. Tinggal soal kebersihannya wae nu dipikirkeun deui,” ujarnya.

Ia berharap bobotoh dan warga Bandung bisa ikut menjaga kota yang mereka rayakan bersama.

“Buat bobotoh, kalau melihat dari konvoinya mah sudah bagus, aman, tertib. Cuma soal miceun sampahna, punten lah… tong asal miceun. Biar kota ieu tetap bersih. Karena setelah pesta selesai, sampahna tetap kudu aya nu beberes,” kata Hendi.

Di sudut kota lain, euforia Persib juga menghadirkan cerita berbeda bagi para pengemudi ojek online. Kemacetan panjang, jalan ditutup, titik jemput yang sulit diakses, sampai penumpang yang mulai gelisah karena keterlambatan menjadi bagian dari ritme kerja mereka selama perayaan berlangsung.

Aji tetap menarik penumpang di tengah konvoi Persib sambil menikmati suasana kemenangan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Aji tetap menarik penumpang di tengah konvoi Persib sambil menikmati suasana kemenangan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Aji, pengemudi ojol berusia 37 tahun yang biasa beroperasi di wilayah Bandung Kota, merasakan langsung dampaknya.

Meski begitu, ia justru tidak menganggap situasi tersebut sepenuhnya merugikan.

“Kalau orderan mah waktu konvoi sedikit lebih susah. Jalan macet, kadang enggak gerak, harus muter jauh juga. Tapi unikna, order memang lebih sedikit, cuma uangna malah lebih gede,” katanya sambil tertawa.

Menurutnya, ongkos perjalanan naik karena rute menjadi lebih panjang dan waktu tempuh bertambah akibat kepadatan jalan. Jadi, walaupun jumlah order berkurang, pemasukan tetap terjaga.

“Biasanya sehari bisa 150 sampai 200 ribu. Waktu konvoi mah orderan enggak sebanyak biasa, tapi karena ongkos naik, pemasukan mah malah bisa lebih. Jadi ya dinikmati wae,” ujarnya.

Tetap saja, pekerjaan di lapangan tidak selalu mulus.

Ia bercerita pernah menghadapi penumpang yang mulai cemas karena proses penjemputan terlambat akibat kondisi jalan.

“Ada yang buru-buru, pas dijemput telat gara-gara macet. Saya kasih tahu kondisi jalan lagi susah, mau nunggu atau gimana. Untungnya mau nunggu. Memang sempat rewel sedikit, tapi akhirnya paham juga karena situasinya memang lagi konvoi,” katanya.

Sebagai bobotoh, Aji memilih melihat semua itu sebagai bagian dari perayaan kota.

“Saya mah enjoy wae. Anggap sambil narik sambil ikut konvoi. Persib juara itu momen besar buat Bandung. Jadi kerja tetap jalan, tapi suasananya juga dinikmati,” ucapnya.

Tias, pengemudi ojol asal Cimahi, harus menghadapi macet dan jalan ditutup saat euforia kemenangan Persib berlangsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Tias, pengemudi ojol asal Cimahi, harus menghadapi macet dan jalan ditutup saat euforia kemenangan Persib berlangsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Cerita serupa datang dari Tias, pengemudi ojol 25 tahun yang biasa menarik penumpang dari kawasan Cimahi hingga Bandung Kota.

Baginya, hari pascakonvoi adalah kombinasi antara pekerjaan, kemacetan, hujan, dan kesabaran ekstra.

“Sedikit chaos sih. Kejebak macet, hujan, jalan ditutup, muter-puter. Pokokna mantap lah,” katanya sambil tertawa kecil.

Di tengah situasi tersebut, order justru sedikit meningkat. Sebagian warga memilih menggunakan jasa ojol dibanding membawa kendaraan pribadi ke tengah kondisi jalan yang padat.

Namun, kenaikan order itu datang bersama konsekuensi lain.

Cancel order banyak pisan. Penumpang juga susah dijemput. Kadang kita harus muter jauh, bensin jadi lebih boros. Tapi ya dibawa enjoy aja,” ujarnya.

Sebagai warga Bandung dan bobotoh, Tias mengaku sulit benar-benar mengeluh di tengah suasana kemenangan Persib.

“Di satu sisi kita happy karena Persib juara. Di sisi lain pekerjaan juga harus jalan. Jadi ya dinikmati aja. Cuma mungkin ke depannya pengaturan jalannya bisa lebih kondusif lagi, lebih rapih,” katanya.

Tidak semua orang menghadapi dampak yang melelahkan dari pesta kota. Bagi sebagian pedagang kecil, perayaan Persib justru menjadi momen panen rezeki.

Abdul Syukur atau Gapuy mengaku omzet jualan tahu bulatnya naik hingga tujuh kali lipat saat perayaan juara Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Abdul Syukur atau Gapuy mengaku omzet jualan tahu bulatnya naik hingga tujuh kali lipat saat perayaan juara Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di sekitar Alun-Alun Bandung, Abdul Syukur (24), pedagang tahu bulat yang akrab dipanggil Gapuy, merasakan lonjakan pembeli yang jarang terjadi di hari biasa.

Tanpa perlu berpikir lama, ia menyebut perbedaan omzet hari biasa dengan masa konvoi seperti bumi dan langit.

“Rame pisan. Kalau dibanding hari biasa mah bisa tujuh kali lipat,” katanya.

Gapuy yang sudah berjualan sejak 2020 itu mengaku momen kemenangan Persib membawa berkah nyata bagi pedagang kecil sepertinya.

Jalanan yang penuh orang berarti peluang jualan yang ikut membesar.

“Buat pedagang mah mantap. Persib juara itu mantap pisan,” ucapnya singkat.

Bandung memang selalu hidup bersama Persib. Ketika klub itu menang, kota ikut berpesta.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Agu 2026, 16:57

Harga Daging Ayam Melambung Tinggi, Simalakama Makanan Bergizi

Masalah klasik peternakan rakyat terkait dengan pakan dan pengadaan bibit ayam perlu segera dibenahi.

Ilustrasi pedagang daging ayam di pasar tradisional (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 13:45

Uswah: Ketika Orang Tua Ingin Melahirkan Keturunan yang Saleh

Jika ingin anak menjadi saleh, jangan hanya sibuk menasihatinya. Jadilah teladan yang baik. Sebab anak mungkin lupa kata-kata kita, tetapi ia akan mengingat siapa kita di hadapannya.

Ringkasan tulisan. (Sumber: chtgpt | Foto: chtgpt)
Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)