Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Papan kayu bertuliskan “Perpustakaan Batu Api” menggantung miring di gerbang berwarna putih. Saat memasuki gerbang, terdapat area parkir kendaraan. Di teras perpustakaan, lima kursi mengelilingi sebuah meja kecil di tengah ruangan.

Di aplikasi pemetaan navigasi, perpustakaan ini tercatat berada di Jl. Raya Jatinangor No. 42 A, Cikeruh, Jatinangor, Sumedang. Namun, pemilik perpustakaan ini, Anton Solihin (58), enggan menyebut alamatnya demikian. Ia lebih suka menamai tempat itu sebagai Jl. Pramoedya Ananta Toer 142 A, Jatinangor. Kurang lebih begitu, sebagaimana yang ia sampaikan dan tuliskan di kartu keanggotaan.

“Jalan Pram itu cuma dari tembok sini sampai tembok sana,” katanya datar sambil menunjuk ujung kanan dan kiri bangunan perpustakaan.

Dari luar, tempat ini tidak terlalu mencolok. Meski berada tepat di sisi jalan raya, wajah bangunannya yang sempit dan terhimpit bangunan besar membuat Batu Api tampak seperti toko obat Cina lama yang nyaris tertelan bangunan kapitalis.

Lorong sempit di dalam Batu Api dipenuhi deretan buku yang menjulang hingga langit-langit. Sebagian tersusun rapi di rak kayu tua, sementara lainnya menumpuk di lantai, menutupi celah-celah ruangan. Saat membuka salah satu buku di sudut perpustakaan, tercium aroma kertas tua yang bercampur dengan suara percakapan pengunjung dari meja Anton yang datang silih berganti.

Di meja kecil itu, Anton Solihin duduk mengenakan topi pet putih dan kacamata yang merosot di ujung hidungnya. Ketika pengunjung menanyakan buku yang dicari, ia langsung menunjukkan rak tempat buku itu berada. Tangan dan ingatannya seolah menyatu dengan susunan buku yang terlihat acak tersebut.

Anton Solihin menunjukkan salah satu koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Anton Solihin menunjukkan salah satu koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Papan nama Perpustakaan Batu Api terpasang di depan gerbang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Papan nama Perpustakaan Batu Api terpasang di depan gerbang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Buku, Musik, dan Film

Batu Api lahir dari kenangan Anton atas hilangnya ruang-ruang yang dulu akrab baginya. Ia mengingat masa ketika perpustakaan dan ruang baca menjadi tempat berkumpul serta bertukar ide bersama teman-temannya pada era 1990-an.

“Yang saya ingat tuh dua itu yang paling penting. British Council sama perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Ketika itu berubah jadi lebih serius dan tertutup, saya jadi kehilangan tempat main,” kata Anton saat ditemui di mejanya sore itu.

Dari pengalaman tersebut, Anton mulai menciptakan ruangnya sendiri pada 1999. Tepatnya pada 1 April 1999, Perpustakaan Batu Api didirikan. Awalnya sederhana, ia hanya ingin membuat tempat berbagi untuk membaca, mendengarkan musik, atau menonton film bersama.

“Awalnya saya tiga dari awal. Buku, musik, film,” ucap Anton.

Batu Api kemudian berkembang layaknya organisme hidup. Tempat ini tidak dibangun dengan skema perpustakaan formal, melainkan tumbuh perlahan mengikuti kebiasaan, diskusi, dan barang-barang yang dikumpulkan Anton selama bertahun-tahun. Buku-bukunya berasal dari lapak loakan, Toko Buku Palasari, hingga Gramedia.

“Kalau ketemu buku yang saya suka di jalanan, nggak peduli ada yang minjem atau nggak, saya beli. Saya selamatkan,” ujar Anton.

Batu Api terletak tidak jauh dari Kampus Jatinangor, Universitas Padjadjaran, sekitar 800 meter. Dari Jatinangor Town Square (Jatos), jaraknya bahkan hanya sekitar 120 meter. Perpustakaan ini terhimpit di sisi kanan oleh Toko Buku AA Jatinangor dan di sisi kiri oleh Soto Betawi Pak Haji.

Di tengah kawasan pendidikan Jatinangor yang terus dipenuhi bangunan besar, Batu Api terasa seperti ruang yang terjebak di waktu berbeda. Nama Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142 A yang dipilih Anton lahir dari keresahannya terhadap kawasan Jatinangor.

“Katanya kawasan pendidikan, masa nama gang cuma Anggrek 1 sampai 12,” katanya menggerutu.

Anton bercerita, Orde Baru meninggalkan jejak tidak hanya dalam budaya, politik, dan cara pandang, tetapi juga pada penamaan jalan. Jalan-jalan besar di Kota Bandung dan sekitarnya, menurutnya, masih sangat kental nuansa militeristik, seperti Jalan Gatot Subroto, A.H. Nasution, hingga R.E. Martadinata.

“Yang pemikir mana? Saya bikin nama-nama jalan pakai nama pemikir,” katanya sambil menyebut nama Tan Malaka dan tokoh lainnya.

Ketertarikannya pada dunia sosial-humaniora membuat sebagian besar isi Perpustakaan Batu Api terasa seperti cerminan isi kepalanya sendiri. Semua koleksi buku di tempat itu merupakan milik pribadinya.

“Banyaknya humaniora. Seperti sains populer, ada biografi, agama, sastra, ada tentang budaya,” kata Anton sambil matanya melihat gunungan buku di depannya.

“Tentang wayang, fashion, psikologi, musik, film, seks, riwayat Nabi, binatang, komik, buku-buku Sunda juga ada,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai buku yang paling sering dicari pengunjung, raut wajah Anton tiba-tiba berubah masam.

“Buku tentang self improvement, sama Tere Liye. Tuh, saya sembunyiin di belakang pintu,” katanya sambil melirik tajam ke rak buku di dekat pintu keluar.

“Males, nggak suka saya. Padahal laku itu. Kalau ada yang nanya aja, ‘tuh di belakang pintu’ kata saya,” ujarnya sambil tertawa.

Suasana lorong sempit yang dipenuhi koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana lorong sempit yang dipenuhi koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Buku Israel-Arab dan Pacar Goenawan Mohamad

Anton tidak terlalu ingin menyebut Batu Api sebagai perpustakaan. Baginya, tempat ini lebih mirip warung. Ruangannya terlalu dinamis untuk diberi definisi resmi. Tidak ada katalog digital, nomor klasifikasi, atau aturan baku seperti perpustakaan pada umumnya.

“Malu saya kalau namanya perpustakaan. Saya lebih senang nyebut ini warung,” ujar Anton.

Dua puluh tujuh tahun berdiri dan dikelola sendiri membuat Anton tak lagi ingat berapa jumlah buku yang kini memenuhi ruangannya.

“Misalnya buku Sunda awalnya cuma empat biji, lama-lama jadi satu rak,” katanya.

Begitu pula dengan susunan buku di Batu Api yang tidak mengikuti ilmu perpustakaan formal. Buku-buku di sana dikategorikan berdasarkan pola yang dibuat Anton sendiri.

“Ya, kayak Israel misalnya di atas sana. Ini Arab di sini. Ini mereka berhadapan tiap malam kan sengaja biar papelong-pelong (saling lihat),” ucapnya terkekeh.

“Ada gosip Goenawan Mohamad tuh pacar-pacarnya kan ada si Ayu Utami, si Laksmi. Itu saya simpan di sini semua. Jadi barengan pacar-pacarannya,” lanjutnya sambil tertawa.

Perlahan, koleksi Batu Api berkembang mengikuti rasa ingin tahu pemiliknya. Rak yang awalnya hanya berisi beberapa buku tentang Sunda kini telah penuh. Koleksi musik, film, sejarah, budaya populer, hingga arsip langka pun ikut bertambah.

“Saya seperti menambahkan apa yang kurang di kampus,” ungkap Anton.

Tumpukan buku di Perpustakaan Batu Api menjadi bagian dari ruang baca alternatif yang telah berdiri sejak 1999. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tumpukan buku di Perpustakaan Batu Api menjadi bagian dari ruang baca alternatif yang telah berdiri sejak 1999. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Cerita-Cerita dari Batu Api

Menjelang petang, pengunjung terus berdatangan ke Batu Api. Ada mahasiswa yang mencari referensi skripsi, peneliti yang memburu arsip lama, hingga orang-orang FOMO yang sekadar penasaran ingin datang dan melihat-lihat. Sebagian datang sendiri, sebagian lain bersama teman-temannya.

Anton mengingat banyak orang yang tumbuh bersama tempat itu. Ada pengunjung yang dulu datang saat masih mahasiswa, lalu kembali setelah mulai bekerja. Bahkan, anak dari pengunjung lama kini ikut datang ke Batu Api.

“Dulu ibunya yang ke sini tahun 99. Sekarang anaknya yang datang,” ucapnya sambil mengenang.

Selama 27 tahun mengelola Batu Api, Anton menyimpan banyak cerita tentang orang-orang unik yang datang ke perpustakaannya.

“Ada cowok tiap datang nyari buku seks terus. Saya kasih buku paling seks yang pernah ada. Eh, bukunya nggak balik,” katanya dengan mimik serius.

Kisah cinta juga pernah terabadikan di tempat itu. Anton bercerita, salah satu Ketua BEM Unpad pernah melakukan sesi prewedding di Batu Api.

“Pernah ada prewedding di sini,” katanya sambil menatap lurus ke sudut rak buku.

Pada kesempatan lain, suasana Batu Api pernah berubah lebih riuh dari biasanya. Kamera, lampu, dan kru produksi memenuhi sela-sela tumpukan buku.

“Video klip juga pernah,” ucapnya sambil mencoba mengingat nama band yang pernah syuting di sana, meski hingga akhir obrolan ia tetap tidak mengingatnya.

Di tengah perkembangan budaya digital yang serba cepat, Batu Api tetap mempertahankan identitasnya. Rak-raknya semakin penuh, lorongnya kian sempit, bahkan cahaya matahari yang masuk perlahan tertutup tumpukan buku.

Anton menyaksikan perubahan itu secara bertahap. Belakangan, menurutnya, semakin banyak orang datang bukan hanya untuk mencari referensi skripsi, tetapi juga benar-benar ingin membaca dan meminjam buku untuk dinikmati.

“Entah gimmick atau bukan, tapi minat baca lumayan sekarang,” ujar Anton, masih dengan kacamata yang turun di bawah matanya.

Ia tidak terlalu memikirkan rencana besar untuk Batu Api di masa depan. Baginya, tempat ini cukup berjalan sebagaimana mestinya, seperti ketika pertama kali ia memulainya.

“Kita hadapi saja,” ujarnya singkat di akhir obrolan.

Setiap Senin hingga Sabtu, Anton hanya duduk di belakang meja kecilnya. Menunggu orang-orang baru datang membawa kebutuhan, rasa ingin tahu, atau sekadar cerita.

“Saya cuma nunggu di sini dan orang datang silih berganti dengan berbagai cerita,” pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 26 Jun 2026, 20:33

Menggerakkan Idealisme Mahasiswa Berprestasi

Apa yang membuat mahasiswa semangat menjalani hari-hari dan mengubah dirinya?

Ilustrasi gerakan mahasiswa berprestasi. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 19:38

Cek Kesehatan Gratis dan Investasi SDM Indonesia Emas 2045

Menganalisa manfaat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Kesehatan Gratis (Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis | Foto: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 18:39

Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks .

Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 17:25

Panduan Berkunjung ke Pantai Sawarna: Delapan Pantai, Gua, dan Lanskap Pesisir di Selatan Banten

Jelajahi Pantai Sawarna di Lebak, Banten, dengan deretan pantai indah, gua karst, spot surfing, dan panorama Samudra Hindia yang memukau.

Sunset Pantai Tanjung Layar Sawarna. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:30

Perempuan dan Polarisasi Modern

Perubahan zaman modern terkadang masih diselimuti oleh isu-isu kaum marjinal, terutama kaum perempuan.

Ilustrasi perempuan Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Ruly Nurul Ihsan)
Linimasa 26 Jun 2026, 16:25

Hikayat Pelatih Kuda Renggong, Bisa Berganti Ratusan Kuda Karena Tidak Cocok

Menjadi pelatih kuda renggong tak hanya butuh keahlian, tetapi juga chemistry. Usep telah berganti ratusan kuda demi menemukan pasangan terbaik.

Usep, salah seorang pelatih kuda renggong di Ujungberung, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:03

Publikasi Hasil Lisensi Klub Berhasil Menjaga Konsistensi Komunikasi pada Dua Platform Digital

Konsistensi komunikasi menjadi kunci kredibilitas sebuah perusahaan. Artikel ini menganalisis konsistensi komunikasi PT I.League pada dua platform digital.

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:24

Mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan salah satu figur Belanda yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia

Karel Albert Rudolf Bosscha. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Jodya Maulana)
Linimasa 26 Jun 2026, 15:18

Hikayat Kampung Pembuat Panci di Bandung, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Kampung Cikalang Kaler di Bandung telah puluhan tahun memproduksi panci. Kini mereka bertahan di tengah perubahan teknologi dapur modern.

Pengrajin di kampung pembuat panci Cileunyi, Kabupaten Bandung, bertahan di tengah perubahan zaman. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:04

Perkembangan Industri Perfilman Indonesia dari Tahun 1950-2026

Menelisik sejarah panjang perfilman di Indonesia dan karya-karya tersohor yang muncul sepanjang delapan dekade.

Judul film Darah dan Doa (1950). Film pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia (Sumber: Wikipedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:33

Eksistensi Arumba sebagai Musik Tradisional Sunda di Tengah Modernisasi

Arumba merupakan alat musik tradisional dari Sunda yang masih eksis hingga saat ini meskipun berada di tengah arus modernisasi.

Kegiatan siswa memainkan Arumba sebagai bentuj pelestarian seni musik tradisional Sunda di lingkungan sekolah (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:13

Kuy Ah ... ke Sekolah Swasta

Melihat sekolah swasta yang sekarang semakin banyak melahirkan pelajar berprestasi hebat.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 13:09

Perbankan di Indonesia Integrasikan UMKM dalam Membangun Citra Positif

Publikasi BSI terkait integrasi UMKM halal menarik dianalisis: website menggunakan kata kunci formal, sedangkan Instagram menggunakan bahasa yang lebih sederhana bagi audiens.

Kedai-kedai UMKM di Pasar Cihapit, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 12:50

Dari Patriarki ke Femisida: Membaca Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Warisan Struktur Historis

Bagaimana sistem kuasa yang diwariskan lintas generasi membentuk, menormalkan, dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan hingga titik terparahnya.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 11:25

Panduan Berkunjung ke Lembang Park and Zoo: Kebun Binatang Bergaya Eropa di Dataran Tinggi Bandung

Lembang Park and Zoo menawarkan kebun binatang modern, wahana bermain, safari mini, hingga cat café unik di kawasan sejuk Lembang.

Lembang Park and Zoo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:42

HANI dan Tren Modus Operandi Kasus Narkotika

Bandung Raya kian rawan narkoba dengan adanya industri rumahan tembakau sintetis.

Polda Jabar musnahkan narkotika. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan))
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:16

Peringatan Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

Mata dibutakan, bibir digunting: krisis keamanan berbasis gender yang mengancam perempuan.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 08:20

Memperjuangkan Representasi Anak-Anak Autis Bersama Komunitas Autistik

Peluncuran Boneka Barbie autis pada website dan instagram PT Mattel menunjukkan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada anak-anak penyandang autisme dalam bentuk boneka.

Ilustrasi anak autisme. (Sumber: Pexels | Foto: Mah mud)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 07:56

Makna Sejati Karangan Bunga KDM untuk Jakarta

Provinsi lain perlu belajar dari Jakarta terkait dengan keberhasilan mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM) dan sukses menata sistem pengembangan SDM.

Karangan bunga KDM untuk HUT Jakarta (Sumber: tangkapan layar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 20:12

Kembang Tanpa Dedaunan

Menjaga kondisi hawa atau cuaca di Kota Bandung agar tidak menjadi lebih panas di tahun-tahun berikiutnya sesuai dengan tema hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2026.

The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)