AYOBANDUNG.ID - Papan kayu bertuliskan “Perpustakaan Batu Api” menggantung miring di gerbang berwarna putih. Saat memasuki gerbang, terdapat area parkir kendaraan. Di teras perpustakaan, lima kursi mengelilingi sebuah meja kecil di tengah ruangan.
Di aplikasi pemetaan navigasi, perpustakaan ini tercatat berada di Jl. Raya Jatinangor No. 42 A, Cikeruh, Jatinangor, Sumedang. Namun, pemilik perpustakaan ini, Anton Solihin (58), enggan menyebut alamatnya demikian. Ia lebih suka menamai tempat itu sebagai Jl. Pramoedya Ananta Toer 142 A, Jatinangor. Kurang lebih begitu, sebagaimana yang ia sampaikan dan tuliskan di kartu keanggotaan.
“Jalan Pram itu cuma dari tembok sini sampai tembok sana,” katanya datar sambil menunjuk ujung kanan dan kiri bangunan perpustakaan.
Dari luar, tempat ini tidak terlalu mencolok. Meski berada tepat di sisi jalan raya, wajah bangunannya yang sempit dan terhimpit bangunan besar membuat Batu Api tampak seperti toko obat Cina lama yang nyaris tertelan bangunan kapitalis.
Lorong sempit di dalam Batu Api dipenuhi deretan buku yang menjulang hingga langit-langit. Sebagian tersusun rapi di rak kayu tua, sementara lainnya menumpuk di lantai, menutupi celah-celah ruangan. Saat membuka salah satu buku di sudut perpustakaan, tercium aroma kertas tua yang bercampur dengan suara percakapan pengunjung dari meja Anton yang datang silih berganti.
Di meja kecil itu, Anton Solihin duduk mengenakan topi pet putih dan kacamata yang merosot di ujung hidungnya. Ketika pengunjung menanyakan buku yang dicari, ia langsung menunjukkan rak tempat buku itu berada. Tangan dan ingatannya seolah menyatu dengan susunan buku yang terlihat acak tersebut.


Buku, Musik, dan Film
Batu Api lahir dari kenangan Anton atas hilangnya ruang-ruang yang dulu akrab baginya. Ia mengingat masa ketika perpustakaan dan ruang baca menjadi tempat berkumpul serta bertukar ide bersama teman-temannya pada era 1990-an.
“Yang saya ingat tuh dua itu yang paling penting. British Council sama perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Ketika itu berubah jadi lebih serius dan tertutup, saya jadi kehilangan tempat main,” kata Anton saat ditemui di mejanya sore itu.
Dari pengalaman tersebut, Anton mulai menciptakan ruangnya sendiri pada 1999. Tepatnya pada 1 April 1999, Perpustakaan Batu Api didirikan. Awalnya sederhana, ia hanya ingin membuat tempat berbagi untuk membaca, mendengarkan musik, atau menonton film bersama.
“Awalnya saya tiga dari awal. Buku, musik, film,” ucap Anton.
Batu Api kemudian berkembang layaknya organisme hidup. Tempat ini tidak dibangun dengan skema perpustakaan formal, melainkan tumbuh perlahan mengikuti kebiasaan, diskusi, dan barang-barang yang dikumpulkan Anton selama bertahun-tahun. Buku-bukunya berasal dari lapak loakan, Toko Buku Palasari, hingga Gramedia.
“Kalau ketemu buku yang saya suka di jalanan, nggak peduli ada yang minjem atau nggak, saya beli. Saya selamatkan,” ujar Anton.
Batu Api terletak tidak jauh dari Kampus Jatinangor, Universitas Padjadjaran, sekitar 800 meter. Dari Jatinangor Town Square (Jatos), jaraknya bahkan hanya sekitar 120 meter. Perpustakaan ini terhimpit di sisi kanan oleh Toko Buku AA Jatinangor dan di sisi kiri oleh Soto Betawi Pak Haji.
Di tengah kawasan pendidikan Jatinangor yang terus dipenuhi bangunan besar, Batu Api terasa seperti ruang yang terjebak di waktu berbeda. Nama Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142 A yang dipilih Anton lahir dari keresahannya terhadap kawasan Jatinangor.
“Katanya kawasan pendidikan, masa nama gang cuma Anggrek 1 sampai 12,” katanya menggerutu.
Anton bercerita, Orde Baru meninggalkan jejak tidak hanya dalam budaya, politik, dan cara pandang, tetapi juga pada penamaan jalan. Jalan-jalan besar di Kota Bandung dan sekitarnya, menurutnya, masih sangat kental nuansa militeristik, seperti Jalan Gatot Subroto, A.H. Nasution, hingga R.E. Martadinata.
“Yang pemikir mana? Saya bikin nama-nama jalan pakai nama pemikir,” katanya sambil menyebut nama Tan Malaka dan tokoh lainnya.
Ketertarikannya pada dunia sosial-humaniora membuat sebagian besar isi Perpustakaan Batu Api terasa seperti cerminan isi kepalanya sendiri. Semua koleksi buku di tempat itu merupakan milik pribadinya.
“Banyaknya humaniora. Seperti sains populer, ada biografi, agama, sastra, ada tentang budaya,” kata Anton sambil matanya melihat gunungan buku di depannya.
“Tentang wayang, fashion, psikologi, musik, film, seks, riwayat Nabi, binatang, komik, buku-buku Sunda juga ada,” lanjutnya.
Saat ditanya mengenai buku yang paling sering dicari pengunjung, raut wajah Anton tiba-tiba berubah masam.
“Buku tentang self improvement, sama Tere Liye. Tuh, saya sembunyiin di belakang pintu,” katanya sambil melirik tajam ke rak buku di dekat pintu keluar.
“Males, nggak suka saya. Padahal laku itu. Kalau ada yang nanya aja, ‘tuh di belakang pintu’ kata saya,” ujarnya sambil tertawa.

Buku Israel-Arab dan Pacar Goenawan Mohamad
Anton tidak terlalu ingin menyebut Batu Api sebagai perpustakaan. Baginya, tempat ini lebih mirip warung. Ruangannya terlalu dinamis untuk diberi definisi resmi. Tidak ada katalog digital, nomor klasifikasi, atau aturan baku seperti perpustakaan pada umumnya.
“Malu saya kalau namanya perpustakaan. Saya lebih senang nyebut ini warung,” ujar Anton.
Dua puluh tujuh tahun berdiri dan dikelola sendiri membuat Anton tak lagi ingat berapa jumlah buku yang kini memenuhi ruangannya.
“Misalnya buku Sunda awalnya cuma empat biji, lama-lama jadi satu rak,” katanya.
Begitu pula dengan susunan buku di Batu Api yang tidak mengikuti ilmu perpustakaan formal. Buku-buku di sana dikategorikan berdasarkan pola yang dibuat Anton sendiri.
“Ya, kayak Israel misalnya di atas sana. Ini Arab di sini. Ini mereka berhadapan tiap malam kan sengaja biar papelong-pelong (saling lihat),” ucapnya terkekeh.
“Ada gosip Goenawan Mohamad tuh pacar-pacarnya kan ada si Ayu Utami, si Laksmi. Itu saya simpan di sini semua. Jadi barengan pacar-pacarannya,” lanjutnya sambil tertawa.
Perlahan, koleksi Batu Api berkembang mengikuti rasa ingin tahu pemiliknya. Rak yang awalnya hanya berisi beberapa buku tentang Sunda kini telah penuh. Koleksi musik, film, sejarah, budaya populer, hingga arsip langka pun ikut bertambah.
“Saya seperti menambahkan apa yang kurang di kampus,” ungkap Anton.

Cerita-Cerita dari Batu Api
Menjelang petang, pengunjung terus berdatangan ke Batu Api. Ada mahasiswa yang mencari referensi skripsi, peneliti yang memburu arsip lama, hingga orang-orang FOMO yang sekadar penasaran ingin datang dan melihat-lihat. Sebagian datang sendiri, sebagian lain bersama teman-temannya.
Anton mengingat banyak orang yang tumbuh bersama tempat itu. Ada pengunjung yang dulu datang saat masih mahasiswa, lalu kembali setelah mulai bekerja. Bahkan, anak dari pengunjung lama kini ikut datang ke Batu Api.
“Dulu ibunya yang ke sini tahun 99. Sekarang anaknya yang datang,” ucapnya sambil mengenang.
Selama 27 tahun mengelola Batu Api, Anton menyimpan banyak cerita tentang orang-orang unik yang datang ke perpustakaannya.
“Ada cowok tiap datang nyari buku seks terus. Saya kasih buku paling seks yang pernah ada. Eh, bukunya nggak balik,” katanya dengan mimik serius.
Kisah cinta juga pernah terabadikan di tempat itu. Anton bercerita, salah satu Ketua BEM Unpad pernah melakukan sesi prewedding di Batu Api.
“Pernah ada prewedding di sini,” katanya sambil menatap lurus ke sudut rak buku.
Pada kesempatan lain, suasana Batu Api pernah berubah lebih riuh dari biasanya. Kamera, lampu, dan kru produksi memenuhi sela-sela tumpukan buku.
“Video klip juga pernah,” ucapnya sambil mencoba mengingat nama band yang pernah syuting di sana, meski hingga akhir obrolan ia tetap tidak mengingatnya.
Di tengah perkembangan budaya digital yang serba cepat, Batu Api tetap mempertahankan identitasnya. Rak-raknya semakin penuh, lorongnya kian sempit, bahkan cahaya matahari yang masuk perlahan tertutup tumpukan buku.
Anton menyaksikan perubahan itu secara bertahap. Belakangan, menurutnya, semakin banyak orang datang bukan hanya untuk mencari referensi skripsi, tetapi juga benar-benar ingin membaca dan meminjam buku untuk dinikmati.
“Entah gimmick atau bukan, tapi minat baca lumayan sekarang,” ujar Anton, masih dengan kacamata yang turun di bawah matanya.
Ia tidak terlalu memikirkan rencana besar untuk Batu Api di masa depan. Baginya, tempat ini cukup berjalan sebagaimana mestinya, seperti ketika pertama kali ia memulainya.
“Kita hadapi saja,” ujarnya singkat di akhir obrolan.
Setiap Senin hingga Sabtu, Anton hanya duduk di belakang meja kecilnya. Menunggu orang-orang baru datang membawa kebutuhan, rasa ingin tahu, atau sekadar cerita.
“Saya cuma nunggu di sini dan orang datang silih berganti dengan berbagai cerita,” pungkasnya.
