Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Selasa 12 Mei 2026, 12:27 WIB
Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Papan kayu bertuliskan “Perpustakaan Batu Api” menggantung miring di gerbang berwarna putih. Saat memasuki gerbang, terdapat area parkir kendaraan. Di teras perpustakaan, lima kursi mengelilingi sebuah meja kecil di tengah ruangan.

Di aplikasi pemetaan navigasi, perpustakaan ini tercatat berada di Jl. Raya Jatinangor No. 42 A, Cikeruh, Jatinangor, Sumedang. Namun, pemilik perpustakaan ini, Anton Solihin (58), enggan menyebut alamatnya demikian. Ia lebih suka menamai tempat itu sebagai Jl. Pramoedya Ananta Toer 142 A, Jatinangor. Kurang lebih begitu, sebagaimana yang ia sampaikan dan tuliskan di kartu keanggotaan.

“Jalan Pram itu cuma dari tembok sini sampai tembok sana,” katanya datar sambil menunjuk ujung kanan dan kiri bangunan perpustakaan.

Dari luar, tempat ini tidak terlalu mencolok. Meski berada tepat di sisi jalan raya, wajah bangunannya yang sempit dan terhimpit bangunan besar membuat Batu Api tampak seperti toko obat Cina lama yang nyaris tertelan bangunan kapitalis.

Lorong sempit di dalam Batu Api dipenuhi deretan buku yang menjulang hingga langit-langit. Sebagian tersusun rapi di rak kayu tua, sementara lainnya menumpuk di lantai, menutupi celah-celah ruangan. Saat membuka salah satu buku di sudut perpustakaan, tercium aroma kertas tua yang bercampur dengan suara percakapan pengunjung dari meja Anton yang datang silih berganti.

Di meja kecil itu, Anton Solihin duduk mengenakan topi pet putih dan kacamata yang merosot di ujung hidungnya. Ketika pengunjung menanyakan buku yang dicari, ia langsung menunjukkan rak tempat buku itu berada. Tangan dan ingatannya seolah menyatu dengan susunan buku yang terlihat acak tersebut.

Anton Solihin menunjukkan salah satu koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Anton Solihin menunjukkan salah satu koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Papan nama Perpustakaan Batu Api terpasang di depan gerbang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Papan nama Perpustakaan Batu Api terpasang di depan gerbang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Buku, Musik, dan Film

Batu Api lahir dari kenangan Anton atas hilangnya ruang-ruang yang dulu akrab baginya. Ia mengingat masa ketika perpustakaan dan ruang baca menjadi tempat berkumpul serta bertukar ide bersama teman-temannya pada era 1990-an.

“Yang saya ingat tuh dua itu yang paling penting. British Council sama perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika. Ketika itu berubah jadi lebih serius dan tertutup, saya jadi kehilangan tempat main,” kata Anton saat ditemui di mejanya sore itu.

Dari pengalaman tersebut, Anton mulai menciptakan ruangnya sendiri pada 1999. Tepatnya pada 1 April 1999, Perpustakaan Batu Api didirikan. Awalnya sederhana, ia hanya ingin membuat tempat berbagi untuk membaca, mendengarkan musik, atau menonton film bersama.

“Awalnya saya tiga dari awal. Buku, musik, film,” ucap Anton.

Batu Api kemudian berkembang layaknya organisme hidup. Tempat ini tidak dibangun dengan skema perpustakaan formal, melainkan tumbuh perlahan mengikuti kebiasaan, diskusi, dan barang-barang yang dikumpulkan Anton selama bertahun-tahun. Buku-bukunya berasal dari lapak loakan, Toko Buku Palasari, hingga Gramedia.

“Kalau ketemu buku yang saya suka di jalanan, nggak peduli ada yang minjem atau nggak, saya beli. Saya selamatkan,” ujar Anton.

Batu Api terletak tidak jauh dari Kampus Jatinangor, Universitas Padjadjaran, sekitar 800 meter. Dari Jatinangor Town Square (Jatos), jaraknya bahkan hanya sekitar 120 meter. Perpustakaan ini terhimpit di sisi kanan oleh Toko Buku AA Jatinangor dan di sisi kiri oleh Soto Betawi Pak Haji.

Di tengah kawasan pendidikan Jatinangor yang terus dipenuhi bangunan besar, Batu Api terasa seperti ruang yang terjebak di waktu berbeda. Nama Jl. Pramoedya Ananta Toer No. 142 A yang dipilih Anton lahir dari keresahannya terhadap kawasan Jatinangor.

“Katanya kawasan pendidikan, masa nama gang cuma Anggrek 1 sampai 12,” katanya menggerutu.

Anton bercerita, Orde Baru meninggalkan jejak tidak hanya dalam budaya, politik, dan cara pandang, tetapi juga pada penamaan jalan. Jalan-jalan besar di Kota Bandung dan sekitarnya, menurutnya, masih sangat kental nuansa militeristik, seperti Jalan Gatot Subroto, A.H. Nasution, hingga R.E. Martadinata.

“Yang pemikir mana? Saya bikin nama-nama jalan pakai nama pemikir,” katanya sambil menyebut nama Tan Malaka dan tokoh lainnya.

Ketertarikannya pada dunia sosial-humaniora membuat sebagian besar isi Perpustakaan Batu Api terasa seperti cerminan isi kepalanya sendiri. Semua koleksi buku di tempat itu merupakan milik pribadinya.

“Banyaknya humaniora. Seperti sains populer, ada biografi, agama, sastra, ada tentang budaya,” kata Anton sambil matanya melihat gunungan buku di depannya.

“Tentang wayang, fashion, psikologi, musik, film, seks, riwayat Nabi, binatang, komik, buku-buku Sunda juga ada,” lanjutnya.

Saat ditanya mengenai buku yang paling sering dicari pengunjung, raut wajah Anton tiba-tiba berubah masam.

“Buku tentang self improvement, sama Tere Liye. Tuh, saya sembunyiin di belakang pintu,” katanya sambil melirik tajam ke rak buku di dekat pintu keluar.

“Males, nggak suka saya. Padahal laku itu. Kalau ada yang nanya aja, ‘tuh di belakang pintu’ kata saya,” ujarnya sambil tertawa.

Suasana lorong sempit yang dipenuhi koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana lorong sempit yang dipenuhi koleksi buku di Perpustakaan Batu Api, Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Buku Israel-Arab dan Pacar Goenawan Mohamad

Anton tidak terlalu ingin menyebut Batu Api sebagai perpustakaan. Baginya, tempat ini lebih mirip warung. Ruangannya terlalu dinamis untuk diberi definisi resmi. Tidak ada katalog digital, nomor klasifikasi, atau aturan baku seperti perpustakaan pada umumnya.

“Malu saya kalau namanya perpustakaan. Saya lebih senang nyebut ini warung,” ujar Anton.

Dua puluh tujuh tahun berdiri dan dikelola sendiri membuat Anton tak lagi ingat berapa jumlah buku yang kini memenuhi ruangannya.

“Misalnya buku Sunda awalnya cuma empat biji, lama-lama jadi satu rak,” katanya.

Begitu pula dengan susunan buku di Batu Api yang tidak mengikuti ilmu perpustakaan formal. Buku-buku di sana dikategorikan berdasarkan pola yang dibuat Anton sendiri.

“Ya, kayak Israel misalnya di atas sana. Ini Arab di sini. Ini mereka berhadapan tiap malam kan sengaja biar papelong-pelong (saling lihat),” ucapnya terkekeh.

“Ada gosip Goenawan Mohamad tuh pacar-pacarnya kan ada si Ayu Utami, si Laksmi. Itu saya simpan di sini semua. Jadi barengan pacar-pacarannya,” lanjutnya sambil tertawa.

Perlahan, koleksi Batu Api berkembang mengikuti rasa ingin tahu pemiliknya. Rak yang awalnya hanya berisi beberapa buku tentang Sunda kini telah penuh. Koleksi musik, film, sejarah, budaya populer, hingga arsip langka pun ikut bertambah.

“Saya seperti menambahkan apa yang kurang di kampus,” ungkap Anton.

Tumpukan buku di Perpustakaan Batu Api menjadi bagian dari ruang baca alternatif yang telah berdiri sejak 1999. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tumpukan buku di Perpustakaan Batu Api menjadi bagian dari ruang baca alternatif yang telah berdiri sejak 1999. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Cerita-Cerita dari Batu Api

Menjelang petang, pengunjung terus berdatangan ke Batu Api. Ada mahasiswa yang mencari referensi skripsi, peneliti yang memburu arsip lama, hingga orang-orang FOMO yang sekadar penasaran ingin datang dan melihat-lihat. Sebagian datang sendiri, sebagian lain bersama teman-temannya.

Anton mengingat banyak orang yang tumbuh bersama tempat itu. Ada pengunjung yang dulu datang saat masih mahasiswa, lalu kembali setelah mulai bekerja. Bahkan, anak dari pengunjung lama kini ikut datang ke Batu Api.

“Dulu ibunya yang ke sini tahun 99. Sekarang anaknya yang datang,” ucapnya sambil mengenang.

Selama 27 tahun mengelola Batu Api, Anton menyimpan banyak cerita tentang orang-orang unik yang datang ke perpustakaannya.

“Ada cowok tiap datang nyari buku seks terus. Saya kasih buku paling seks yang pernah ada. Eh, bukunya nggak balik,” katanya dengan mimik serius.

Kisah cinta juga pernah terabadikan di tempat itu. Anton bercerita, salah satu Ketua BEM Unpad pernah melakukan sesi prewedding di Batu Api.

“Pernah ada prewedding di sini,” katanya sambil menatap lurus ke sudut rak buku.

Pada kesempatan lain, suasana Batu Api pernah berubah lebih riuh dari biasanya. Kamera, lampu, dan kru produksi memenuhi sela-sela tumpukan buku.

“Video klip juga pernah,” ucapnya sambil mencoba mengingat nama band yang pernah syuting di sana, meski hingga akhir obrolan ia tetap tidak mengingatnya.

Di tengah perkembangan budaya digital yang serba cepat, Batu Api tetap mempertahankan identitasnya. Rak-raknya semakin penuh, lorongnya kian sempit, bahkan cahaya matahari yang masuk perlahan tertutup tumpukan buku.

Anton menyaksikan perubahan itu secara bertahap. Belakangan, menurutnya, semakin banyak orang datang bukan hanya untuk mencari referensi skripsi, tetapi juga benar-benar ingin membaca dan meminjam buku untuk dinikmati.

“Entah gimmick atau bukan, tapi minat baca lumayan sekarang,” ujar Anton, masih dengan kacamata yang turun di bawah matanya.

Ia tidak terlalu memikirkan rencana besar untuk Batu Api di masa depan. Baginya, tempat ini cukup berjalan sebagaimana mestinya, seperti ketika pertama kali ia memulainya.

“Kita hadapi saja,” ujarnya singkat di akhir obrolan.

Setiap Senin hingga Sabtu, Anton hanya duduk di belakang meja kecilnya. Menunggu orang-orang baru datang membawa kebutuhan, rasa ingin tahu, atau sekadar cerita.

“Saya cuma nunggu di sini dan orang datang silih berganti dengan berbagai cerita,” pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)