Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Buku-buku di ruangan itu menumpuk hingga menyentuh langit-langit. Jumlahnya begitu banyak sampai menutupi jendela, membuat jalan di seberang tak lagi terlihat. Susunannya padat dan tidak serapi perpustakaan modern. Beberapa buku bahkan diselipkan mendatar di antara deretan buku lama yang warnanya sudah memudar.

Di sudut ruangan, sebuah meja kecil dipenuhi map arsip dan tumpukan buku yang baru dikembalikan pengunjung. Di samping laptop yang masih menyala, Anton Solihin (58) duduk membuka lembar demi lembar dokumen tua berisi arsip Perpustakaan Batu Api.

Topi pet putih dan kacamata yang dikenakannya agak menurun seolah menyatu dengan ruangan kecil tersebut. Sesekali ia menunjukkan beberapa poster kegiatan yang pernah diadakan perpustakaan ini beberapa waktu silam. Mulai dari diskusi tentang gay, penayangan film, hingga pembakaran buku.

Di belakangnya, ribuan buku hampir menutupi seluruh dinding Perpustakaan Batu Api, ruang baca yang ia bangun di Jatinangor sejak tahun 1999.

“Hidup saya di dieu (di sini),” kata Anton saat ditanya mengenai aktivitasnya, Sabtu 9 Mei 2026.

Bagi Anton, Batu Api bukan hanya perpustakaan alternatif atau ruang literasi seperti yang sering orang sebut. Tempat itu adalah bagian dari kehidupannya. Ruang untuk bertahan, berpikir, dan menyimpan buku-buku yang dianggapnya berharga untuk dijaga.

Anton kini berusia 58 tahun. “Sudah tua,” katanya sambil tertawa. Ibunya asli Bandung, sedangkan ayahnya dari Palembang. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara. Anton tidak tumbuh besar di Bandung. Saat duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), ia tinggal di Pulau Timor, NTT, mengikuti sang ayah yang bekerja di sana.

Ia melanjutkan studi di Ilmu Sejarah Unpad dan lulus pada 1994, sebelum akhirnya mendirikan Perpustakaan Batu Api pada 1999. Sebelum dikenal sebagai pengelola Batu Api, Anton lebih dulu terjun ke dunia musik. Masa mudanya dihabiskan dengan nongkrong di lapak musik dan mencari album fisik saat akses terhadap musik masih sangat terbatas.

“Saya nongkrong di British Council, di Cihapit, di tempat Pak Udin,” katanya dengan kacamatanya yang dibiarkan menurun dan suaranya yang pelan.

Ia mengenang masa ketika album CD impor sangat mahal bagi mahasiswa pada era 1990-an. Keinginan untuk mengoleksi musik berujung pada semacam “dendam” yang akhirnya terbayarkan di era digital. Dalam ceritanya, saat ini Anton memiliki lebih dari 11 ribu koleksi rekaman musik dari berbagai negara dengan genre rock n roll kesukaannya.

Namun, kecintaannya pada buku muncul dari sudut-sudut pasar loakan di Bandung. Anton muda rutin mengunjungi lapak buku bekas milik Pak Udin di daerah Cihapit. Dari sanalah, ia mulai membeli buku-buku tua, terkadang dengan cara berutang karena belum memiliki banyak uang.

“Kadang-kadang beli itu dari ngutang. Dia tahu saya masih mahasiswa atau belum punya duit,” kata Anton sambil tertawa santai.

Pengunjung memanfaatkan koleksi buku alternatif di Perpustakaan Batu Api untuk kebutuhan riset dan bacaan pribadi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Pengunjung memanfaatkan koleksi buku alternatif di Perpustakaan Batu Api untuk kebutuhan riset dan bacaan pribadi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hidup Bersama Batu Api

Hobi berburu buku itu terus ia pelihara hingga kini. Hari libur Batu Api pada Minggu sering diisi oleh Anton dan istrinya, Arum, untuk mencari buku dari lapak loakan, Palasari, atau Gramedia.

Arum terpaut 10 tahun lebih muda dari Anton. Usianya yang menuju 50 tahun tidak memudarkan parasnya yang masih terlihat muda dengan nada bicara yang begitu ramah. Tubuhnya kecil dengan rambut hitam sebahu.

Arum bercerita, hari Minggunya bersama Anton sering dihabiskan dengan menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki untuk berburu buku. Mobil tua yang terparkir di depan perpustakaan jarang mereka gunakan. Katanya, mobil itu “banyak jajannya”, belum lagi macet dan sebagainya, ujarnya sambil tertawa. Setelah menjelajahi tumpukan buku, mereka biasanya menutup hari dengan makan bersama.

“Minggu mah ngebaso sama si teteh (Arum),” ujar Anton saat ditanya aktivitasnya ketika perpustakaan tutup.

Rumah Anton dan Arum terletak tepat di belakang Perpustakaan Batu Api. Bagian depannya sebagian tertutup bangunan Batu Api. Anton bercerita, di rumahnya ia dan Arum memiliki empat ekor kucing yang menemani mereka.

Arum telah menemani Anton mengelola Batu Api sejak pertama kali berdiri pada 1999. Ia paham betul bagaimana kehidupan mereka berjalan jauh dari apa yang dianggap “normal” oleh kebanyakan orang.

“Hidup sama dia tuh harus nggak waras,” kata Arum sambil tertawa.

Pernyataan itu bukan keluhan. Arum justru mengatakannya dengan kesadaran bahwa bertahan hidup dari perpustakaan independen selama 27 tahun memang terdengar mustahil. Namun, pada kenyataannya mereka tetap bertahan hingga kini.

“Karena harus sama-sama nggak waras buat bisa bertahan hidup dari penghasilan Batu Api sendiri,” lanjutnya.

Arum bercerita, sebagian besar buku di Batu Api berasal dari pembelian dan koleksi pribadi. Ia mencontohkan buku yang dibeli seharga ratusan ribu rupiah, tetapi dipinjamkan hanya dengan biaya Rp5 ribu per minggu. Belum lagi risiko rusak atau hilang setelah dipinjamkan. Entah bagaimana cara balik modalnya, katanya sambil terkekeh.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pengumpul “Runtah” Budaya

Anton sendiri tidak pernah sepenuhnya memahami bagaimana tempat itu bisa tetap bertahan hingga kini. Ia juga mengaku tidak memahami ilmu perpustakaan, seperti pelabelan atau pengkategorian buku sebagaimana diajarkan dalam teori perpustakaan. Ia menyimpan buku sesuai keinginannya, tetapi selalu ingat posisi setiap buku yang ada di sana.

“Ya, kayak (buku-buku) tentang Israel misalnya di atas sana. Ini Arab di sini,” kata Anton sambil menunjuk satu sudut rak ke sudut lainnya.

“Ini mereka berhadapan tiap malam kan sengaja biar sering papelong-papelong (lihat-lihatan),” lanjutnya sambil tertawa.

Kesederhanaan Anton terlihat dari cara dia mengelola Batu Api. Ia menolak menyebut tempat itu sebagai perpustakaan karena merasa sistemnya terlalu barbar untuk ukuran perpustakaan formal.

“Kalau perpustakaan harus begini, harus katalogisasi. Kalau di sini mah numpuk cuma tetap bisa ngenah (nyaman),” ujarnya.

Selama bertahun-tahun, Anton mengumpulkan berbagai hal yang dianggap tidak penting oleh banyak orang. Buku-buku langka, arsip budaya populer, rekaman musik tua, kliping koran, hingga dokumen yang bahkan tidak dimiliki institusi resmi.

Ia baru menyadari nilai dari koleksinya ketika banyak mahasiswa, peneliti, dan akademisi datang mencari bahan yang sulit ditemukan di tempat lain, tetapi tersedia di Batu Api. Salah satunya ketika seorang mahasiswa menemukan informasi tentang tokoh arsip nasional Indonesia dari koleksi pribadi Anton.

“UGM itu sudah lama nyari orang ini, bukunya di mana sih? Ternyata saya nyimpan semuanya,” ujar Anton.

Batu Api kemudian berubah menjadi tempat singgah bagi berbagai orang dengan kebutuhan yang berbeda. Ada mahasiswa yang mencari referensi skripsi, peneliti budaya populer, penggemar musik lama, hingga orang-orang yang sekadar ingin mengobrol dan bercerita.

Selama obrolan berlangsung, orang silih berganti duduk di kursi depan meja Anton. Mulai dari mahasiswa yang bertanya mengenai referensi judul skripsi, orang yang mencari satu judul buku tertentu, hingga dosen yang meminjam belasan buku.

“Saya merasa seperti mantri atau tukang obat. Orang datang bawa macam-macam cerita,” ujar Anton di akhir obrolan.

Meski begitu, Anton menolak disebut sebagai penyelamat literasi. Ia merasa hanya melakukan apa yang ia cintai selama bertahun-tahun.

“Pengumpul ‘runtah’ budaya,” ucap Anton ketika diminta mendefinisikan dirinya sendiri.

Di tengah berkembangnya ruang baca modern dan budaya digital yang serba cepat, Batu Api tetap bertahan dengan caranya sendiri. Sempit, tetapi tetap hidup dan terawat. Seperti pemiliknya, ruang itu tidak dirancang untuk sempurna, melainkan untuk tetap menyala.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 12 Agu 2026, 19:54

Mengapa Bahasa Merek Berubah Saat Pindah ke Instagram?

Membahas bagaimana satu merek menyesuaikan gaya bahasa di website dan Instagram saat menyampaikan pesan Ramadhan, tanpa kehilangan pesan utama kepada publik.

Ilustrasi masakan. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 17:20

Aku, ‘Preman Pensiun’, dan Terminal Cicaheum

Mengajak pembaca menyusuri kenangan personal di Terminal Cicaheum, dari masa kecil hingga era Preman Pensiun.

Suasana Terminal Cicaheum pada pagi hari, Kota Bandung, Rabu 24 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 15:24

Merawat Hutan, Menjaga Warisan Peradaban di Jawa Barat

Kondisi hutan di Jawa Barat saat ini berada dalam status darurat atau sinyal lampu merah yang berakibat dari kerusakan dan penyusutan tutupan hutan yang masif.

Sejumlah pengunjung berfoto di Jembatan Gantung Curug Koleang, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda, Bandung, Sabtu (9/2/2019). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 13:38

Cuaca Ekstrem Kota Bandung Akan Menimbulkan Kerawanan Bahaya Kebakaran

Cuaca ekstrem acapkali menjadi peringatan alam, bukan hanya sekadar perubahan musim tetapi peningkatan suhu mengakibatkan kekeringan yang memiliki potensi besar untuk terjadinya kerawanan kebakaran

Sawah mengalami kekeringan di musim Kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 11:24

Defisit Rp300 Miliar, Siapa yang Gagal Mengelola Bandung?

Defisit Rp300 miliar itu tentu saja merupakan cerita yang jauh lebih kompleks dari sekadar kekurangan duit kas.

Balai Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Humas Setda Kota Bandung  via ayobandung.com)
Ayo Netizen 12 Agu 2026, 08:18

Merdeka dalam Berpikir, Merdeka dalam Bertindak

Makna kemerdekaan di era digital tercermin dari kemampuan masyarakat dalam berpikir kritis, menyaring informasi, dan bertindak secara bertanggung jawab.

Ilustrasi orang Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Heru Dharma)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)