Bicara soal kota Bandung rasanya kota ini bukan lagi kota kembang dengan segala tenangnya seperti yang ada di benak banyak orang. Nyatanya Bandung bertransformasi begitu cepat, sebagaian besar penduduknya menjalani rutinitas harian dengan menggunakan sepeda motor. Hampir seluruh jalan baik pagi, siang, sore, bahkan malam hari dipenuhi oleh membeludaknya kendaraan beroda dua tersebut. Tak heran kini bandung menjadi kota kedua setelah Jakarta dengan pengguna sepeda motor terbanyak, tercatat 1,81 juta unit pengguna kendaraan sepeda motor di kota Bandung.
Kebiasaan tersebut tentunya menjadi peran besar terhadap lancarnya hirup pikuk kehidupan kota yang akrab di sebut kota kembang ini. Kemacetan rasanya sudah jadi makanan sehari-hari warga dalam melakukan aktivitas. Bahkan bisa dibilang sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk menempuh perjalanan itu sendiri.
Sebagai mahasiswa rantau yang harus pulang pergi Cimahi ke Bandung hamper setiap hari, akhirnya saya paham bahwa perjalan di kota ini bukan hanya soal berpindah tempat. Ada tenaga yang terkuras, emosi yang naik turun, dan kesabaran yang pelan-pelan diuji di tengah jalan.
Awalnya saya selalu menganggap perjalanan Cimahi-Bandung adalah hal biasa. Toh jaraknya tidak sejauh orang-orang yang harus merantau antar kota. Namun semakin sering menjalani rutinitas itu, saya sadar kalau lelah ternyata tidak selalu diukur dari jauh atau dekatnya perjalanan. Kadang yang membuat lelah justru hal-hal kecil yang terus terjadi berulang setiap hari.
Berangkat dari kawasan Padasuka, Cimahi Tengah menuju Soekarno-Hatta arah Universitas Islam Nusantara hampir setiap hari membuat perjalanan terasa seperti bagian dari rutinitas hidup yang tidak bisa dipisahkan. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 14 sampai 18 kilometer tergantung jalan yang dilewati. Namun di Kota Bandung dan Cimahi, jarak sering kali kalah oleh kemacetan.
Pagi hari di Cimahi selalu terasa terburu-buru. Langit kadang masih gelap, tetapi suara kendaraan sudah memenuhi jalan. Orang-orang keluar rumah hampir bersamaan. Pelajar berangkat sekolah, pekerja mengejar absensi kantor, mahasiswa berusaha datang tepat waktu ke kampus. Semua bertemu di jalan yang sama dengan tujuan masing-masing.
Perjalanan menuju Bandung sering dimulai dengan antrean panjang di lampu merah yang rasanya menguras tenaga sejak pagi. Dari Cimahi menuju Soekarno-Hatta arah Uninus, setidaknya harus melewati beberapa titik lampu merah besar dengan durasi yang cukup lama. Dalam kondisi padat, satu lampu merah bisa memakan waktu dua sampai lima menit. Kadang baru bergerak beberapa meter, kendaraan kembali berhenti di persimpangan berikutnya. Belum lagi padatnya kendaraan di kawasan Amir Machmud, Leuwigajah, hingga memasuki jalur Soekarno-Hatta yang hampir tidak pernah benar-benar lengang.
Apalagi cuara akhir-akhir ini yang tak menentu langit cimahi dan langit bandung bisa berbeda dijangka waktu yang sama. Akhir-akhir ini Bandung seringkali diguyur hujan bahkan badai disertai angin kencang, tapi begitu memasuki wilayah cimahi langit justru cerah terang benerang, atau bisa jadi sebaliknya.
Di tengah situasi seperti itu, sering muncul pertanyaan sederhana di kepala: bagaimana orang-orang bisa tetap kuat menjalani semua ini setiap hari?

Rutinitas seperti itu jelas perlahan lahan membuat tubuh mudah drop. Namun istimewahnya bandung memang di penuhi orang-orang kuat yang terbiasa bertahan. Suasana macet yang memekakan telinga kini bisa dilihat darai kacamata lain, bahwa semua yang terlihat biasa saja itu padahal sedang membawa perjuangannya masing-masing.
Sebagai mahasiswa, perjalanan pulang-pergi Cimahi-Bandung akhirnya bukan cuma soal datang ke kampus lalu pulang ke rumah. Perjalanan itu perlahan mengajarkan banyak hal tentang sabar dan bertahan hidup. Waktu jadi terasa sangat berharga karena lima belas menit saja bisa menentukan apakah seseorang akan terjebak macet panjang atau tidak. Tenaga juga terasa mahal karena sebagian habis di jalan sebelum aktivitas benar-benar dimulai.
Bandung hari ini memang tidak lagi sama seperti yang sering dibayangkan orang-orang. Kota ini masih punya udara dingin, tempat nongkrong, dan sudut-sudut estetik yang ramai di media sosial. Namun di balik itu, ada ribuan orang yang setiap hari sedang berjuang melawan lelah di jalanan.
Ada mahasiswa yang harus berangkat lebih awal supaya tidak telat kuliah. Ada pekerja yang pulang malam dan tetap harus bangun pagi esok harinya. Ada orang-orang yang diam-diam lelah, tetapi tetap memilih berangkat karena hidup harus terus berjalan. Mungkin itu yang akhirnya membuat banyak warga Bandung dan Cimahi menjadi lebih kuat dibanding yang terlihat.
Sebab setelah melewati macet panjang, hujan, banjir, lampu merah yang terasa tidak selesai-selesai, dan perjalanan pulang yang menguras tenaga, orang-orang tetap bangun lagi keesokan paginya.
Tetap berangkat. Tetap bertahan.
Meski jalan yang dilewati setiap hari sering terasa melelahkan. (*)
