Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

4 menit baca
siffa nurfauziah
Ditulis oleh siffa nurfauziah diterbitkan
Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)

Bicara soal kota Bandung rasanya kota ini bukan lagi kota kembang dengan segala tenangnya seperti yang ada di benak banyak orang. Nyatanya Bandung bertransformasi begitu cepat, sebagaian besar penduduknya menjalani rutinitas harian dengan menggunakan sepeda motor. Hampir seluruh jalan baik pagi, siang, sore, bahkan malam hari dipenuhi oleh membeludaknya kendaraan beroda dua tersebut. Tak heran kini bandung menjadi kota kedua setelah Jakarta dengan pengguna sepeda motor terbanyak, tercatat 1,81 juta unit pengguna kendaraan sepeda motor di kota Bandung.

Kebiasaan tersebut tentunya menjadi peran besar terhadap lancarnya hirup pikuk kehidupan kota yang akrab di sebut kota kembang ini. Kemacetan rasanya sudah jadi makanan sehari-hari warga dalam melakukan aktivitas. Bahkan bisa dibilang sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk menempuh perjalanan itu sendiri.

Sebagai mahasiswa rantau yang harus pulang pergi Cimahi ke Bandung hamper setiap hari, akhirnya saya paham bahwa perjalan di kota ini bukan hanya soal berpindah tempat. Ada tenaga yang terkuras, emosi yang naik turun, dan kesabaran yang pelan-pelan diuji di tengah jalan.

Awalnya saya selalu menganggap perjalanan Cimahi-Bandung adalah hal biasa. Toh jaraknya tidak sejauh orang-orang yang harus merantau antar kota. Namun semakin sering menjalani rutinitas itu, saya sadar kalau lelah ternyata tidak selalu diukur dari jauh atau dekatnya perjalanan. Kadang yang membuat lelah justru hal-hal kecil yang terus terjadi berulang setiap hari.

Berangkat dari kawasan Padasuka, Cimahi Tengah menuju Soekarno-Hatta arah Universitas Islam Nusantara hampir setiap hari membuat perjalanan terasa seperti bagian dari rutinitas hidup yang tidak bisa dipisahkan. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 14 sampai 18 kilometer tergantung jalan yang dilewati. Namun di Kota Bandung dan Cimahi, jarak sering kali kalah oleh kemacetan.

Pagi hari di Cimahi selalu terasa terburu-buru. Langit kadang masih gelap, tetapi suara kendaraan sudah memenuhi jalan. Orang-orang keluar rumah hampir bersamaan. Pelajar berangkat sekolah, pekerja mengejar absensi kantor, mahasiswa berusaha datang tepat waktu ke kampus. Semua bertemu di jalan yang sama dengan tujuan masing-masing.

Perjalanan menuju Bandung sering dimulai dengan antrean panjang di lampu merah yang rasanya menguras tenaga sejak pagi. Dari Cimahi menuju Soekarno-Hatta arah Uninus, setidaknya harus melewati beberapa titik lampu merah besar dengan durasi yang cukup lama. Dalam kondisi padat, satu lampu merah bisa memakan waktu dua sampai lima menit. Kadang baru bergerak beberapa meter, kendaraan kembali berhenti di persimpangan berikutnya. Belum lagi padatnya kendaraan di kawasan Amir Machmud, Leuwigajah, hingga memasuki jalur Soekarno-Hatta yang hampir tidak pernah benar-benar lengang.

Apalagi cuara akhir-akhir ini yang tak menentu langit cimahi dan langit bandung bisa berbeda dijangka waktu yang sama. Akhir-akhir ini Bandung seringkali diguyur hujan bahkan badai disertai angin kencang, tapi begitu memasuki wilayah cimahi langit justru cerah terang benerang, atau bisa jadi sebaliknya.

Di tengah situasi seperti itu, sering muncul pertanyaan sederhana di kepala: bagaimana orang-orang bisa tetap kuat menjalani semua ini setiap hari?

Rutinitas seperti itu jelas perlahan lahan membuat tubuh mudah drop. Namun istimewahnya bandung memang di penuhi orang-orang kuat yang terbiasa bertahan. Suasana macet yang memekakan telinga kini bisa dilihat darai kacamata lain, bahwa semua yang terlihat biasa saja itu padahal sedang membawa perjuangannya masing-masing.

Sebagai mahasiswa, perjalanan pulang-pergi Cimahi-Bandung akhirnya bukan cuma soal datang ke kampus lalu pulang ke rumah. Perjalanan itu perlahan mengajarkan banyak hal tentang sabar dan bertahan hidup. Waktu jadi terasa sangat berharga karena lima belas menit saja bisa menentukan apakah seseorang akan terjebak macet panjang atau tidak. Tenaga juga terasa mahal karena sebagian habis di jalan sebelum aktivitas benar-benar dimulai.

Bandung hari ini memang tidak lagi sama seperti yang sering dibayangkan orang-orang. Kota ini masih punya udara dingin, tempat nongkrong, dan sudut-sudut estetik yang ramai di media sosial. Namun di balik itu, ada ribuan orang yang setiap hari sedang berjuang melawan lelah di jalanan.

Ada mahasiswa yang harus berangkat lebih awal supaya tidak telat kuliah. Ada pekerja yang pulang malam dan tetap harus bangun pagi esok harinya. Ada orang-orang yang diam-diam lelah, tetapi tetap memilih berangkat karena hidup harus terus berjalan. Mungkin itu yang akhirnya membuat banyak warga Bandung dan Cimahi menjadi lebih kuat dibanding yang terlihat.

Sebab setelah melewati macet panjang, hujan, banjir, lampu merah yang terasa tidak selesai-selesai, dan perjalanan pulang yang menguras tenaga, orang-orang tetap bangun lagi keesokan paginya.

Tetap berangkat. Tetap bertahan.

Meski jalan yang dilewati setiap hari sering terasa melelahkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

siffa nurfauziah
mari berpikir tanpa batas

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)