Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

siffa nurfauziah
Ditulis oleh siffa nurfauziah diterbitkan Minggu 10 Mei 2026, 09:41 WIB
Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)

Bicara soal kota Bandung rasanya kota ini bukan lagi kota kembang dengan segala tenangnya seperti yang ada di benak banyak orang. Nyatanya Bandung bertransformasi begitu cepat, sebagaian besar penduduknya menjalani rutinitas harian dengan menggunakan sepeda motor. Hampir seluruh jalan baik pagi, siang, sore, bahkan malam hari dipenuhi oleh membeludaknya kendaraan beroda dua tersebut. Tak heran kini bandung menjadi kota kedua setelah Jakarta dengan pengguna sepeda motor terbanyak, tercatat 1,81 juta unit pengguna kendaraan sepeda motor di kota Bandung.

Kebiasaan tersebut tentunya menjadi peran besar terhadap lancarnya hirup pikuk kehidupan kota yang akrab di sebut kota kembang ini. Kemacetan rasanya sudah jadi makanan sehari-hari warga dalam melakukan aktivitas. Bahkan bisa dibilang sebagian besar waktu kita dihabiskan untuk menempuh perjalanan itu sendiri.

Sebagai mahasiswa rantau yang harus pulang pergi Cimahi ke Bandung hamper setiap hari, akhirnya saya paham bahwa perjalan di kota ini bukan hanya soal berpindah tempat. Ada tenaga yang terkuras, emosi yang naik turun, dan kesabaran yang pelan-pelan diuji di tengah jalan.

Awalnya saya selalu menganggap perjalanan Cimahi-Bandung adalah hal biasa. Toh jaraknya tidak sejauh orang-orang yang harus merantau antar kota. Namun semakin sering menjalani rutinitas itu, saya sadar kalau lelah ternyata tidak selalu diukur dari jauh atau dekatnya perjalanan. Kadang yang membuat lelah justru hal-hal kecil yang terus terjadi berulang setiap hari.

Berangkat dari kawasan Padasuka, Cimahi Tengah menuju Soekarno-Hatta arah Universitas Islam Nusantara hampir setiap hari membuat perjalanan terasa seperti bagian dari rutinitas hidup yang tidak bisa dipisahkan. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, sekitar 14 sampai 18 kilometer tergantung jalan yang dilewati. Namun di Kota Bandung dan Cimahi, jarak sering kali kalah oleh kemacetan.

Pagi hari di Cimahi selalu terasa terburu-buru. Langit kadang masih gelap, tetapi suara kendaraan sudah memenuhi jalan. Orang-orang keluar rumah hampir bersamaan. Pelajar berangkat sekolah, pekerja mengejar absensi kantor, mahasiswa berusaha datang tepat waktu ke kampus. Semua bertemu di jalan yang sama dengan tujuan masing-masing.

Perjalanan menuju Bandung sering dimulai dengan antrean panjang di lampu merah yang rasanya menguras tenaga sejak pagi. Dari Cimahi menuju Soekarno-Hatta arah Uninus, setidaknya harus melewati beberapa titik lampu merah besar dengan durasi yang cukup lama. Dalam kondisi padat, satu lampu merah bisa memakan waktu dua sampai lima menit. Kadang baru bergerak beberapa meter, kendaraan kembali berhenti di persimpangan berikutnya. Belum lagi padatnya kendaraan di kawasan Amir Machmud, Leuwigajah, hingga memasuki jalur Soekarno-Hatta yang hampir tidak pernah benar-benar lengang.

Apalagi cuara akhir-akhir ini yang tak menentu langit cimahi dan langit bandung bisa berbeda dijangka waktu yang sama. Akhir-akhir ini Bandung seringkali diguyur hujan bahkan badai disertai angin kencang, tapi begitu memasuki wilayah cimahi langit justru cerah terang benerang, atau bisa jadi sebaliknya.

Di tengah situasi seperti itu, sering muncul pertanyaan sederhana di kepala: bagaimana orang-orang bisa tetap kuat menjalani semua ini setiap hari?

Rutinitas seperti itu jelas perlahan lahan membuat tubuh mudah drop. Namun istimewahnya bandung memang di penuhi orang-orang kuat yang terbiasa bertahan. Suasana macet yang memekakan telinga kini bisa dilihat darai kacamata lain, bahwa semua yang terlihat biasa saja itu padahal sedang membawa perjuangannya masing-masing.

Sebagai mahasiswa, perjalanan pulang-pergi Cimahi-Bandung akhirnya bukan cuma soal datang ke kampus lalu pulang ke rumah. Perjalanan itu perlahan mengajarkan banyak hal tentang sabar dan bertahan hidup. Waktu jadi terasa sangat berharga karena lima belas menit saja bisa menentukan apakah seseorang akan terjebak macet panjang atau tidak. Tenaga juga terasa mahal karena sebagian habis di jalan sebelum aktivitas benar-benar dimulai.

Bandung hari ini memang tidak lagi sama seperti yang sering dibayangkan orang-orang. Kota ini masih punya udara dingin, tempat nongkrong, dan sudut-sudut estetik yang ramai di media sosial. Namun di balik itu, ada ribuan orang yang setiap hari sedang berjuang melawan lelah di jalanan.

Ada mahasiswa yang harus berangkat lebih awal supaya tidak telat kuliah. Ada pekerja yang pulang malam dan tetap harus bangun pagi esok harinya. Ada orang-orang yang diam-diam lelah, tetapi tetap memilih berangkat karena hidup harus terus berjalan. Mungkin itu yang akhirnya membuat banyak warga Bandung dan Cimahi menjadi lebih kuat dibanding yang terlihat.

Sebab setelah melewati macet panjang, hujan, banjir, lampu merah yang terasa tidak selesai-selesai, dan perjalanan pulang yang menguras tenaga, orang-orang tetap bangun lagi keesokan paginya.

Tetap berangkat. Tetap bertahan.

Meski jalan yang dilewati setiap hari sering terasa melelahkan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

siffa nurfauziah
mari berpikir tanpa batas

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Mei 2026, 13:15

Menghapus Sekat Pendidikan dari Pinggiran Nusantara

Negara hadir di daerah 3T lewat revitalisasi sekolah Rp1,38T & digitalisasi 100%. Prestasi Kemendikdasmen ini kunci mutu pendidikan & martabat guru menuju Indonesia Emas 2045!

Ilustrasi visual berbasis kecerdasan buatan (AI) (Foto: Artificial Intelligence (AI))
Wisata & Kuliner 10 Mei 2026, 09:42

Panduan Wisata Sentul Paradise Park, Curug dan Kolam Rekreasi di Pinggiran Bogor

Panduan lengkap Sentul Paradise Park, dari tiket, akses, fasilitas, hingga tips berkunjung ke wisata air dengan Curug Bidadari di kawasan Sentul.

Sentul Paradise Park.
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 09:41

Bandung Tak Lagi Sama, Jalanannya Mengajarkan Orang-Orang Bertahan Hidup

Perjalanan Cimahi-Bandung bukan sekadar rutinitas, tapi perjuangan menghadapi macet, hujan, dan lelah yang datang setiap hari.

Suasana Kota. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)