Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Kain batik beraneka motif itu tergantung rapi di dekat pintu masuk kantor Rumah BUMN Bandung. Posisinya strategis, siapa pun yang masuk langsung melihatnya. Bukan kebetulan. Itu adalah karya para penyandang disabilitas dari Kampung Kreatif Batik Difabel, Cimahi, yang sengaja dipajang di sana sebagai bentuk dukungan paling sederhana yang bisa diberikan: visibilitas.

Tapi bagi Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), visibilitas saja belum cukup. Di balik kain-kain indah yang terpajang itu, ada ruang produksi yang semakin sepi pesanan, sarana yang butuh diperbaiki, dan mesin jahit yang masih harus ditunggu kehadirannya.

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna itu bermula.

Mimpi yang Terbentur Anggaran

GHD bukan pemain baru dalam dunia pemberdayaan difabel. Sejak 2021, Kampung Kreatif Batik Difabel telah membina lebih dari 120 peserta dari berbagai penjuru Jawa Barat. Batiknya pernah dikenakan personel TWICE, pernah dibawa sebagai suvenir ke Italia. Nama GHD sudah melampaui batas Cimahi, bahkan melampaui batas negara.

Namun Andina menyimpan mimpi yang lebih besar dari sekadar viral di media sosial. Ia ingin Kampung Kreatif Batik Difabel benar-benar menjadi destinasi wisata edukasi. Tempat di mana turis lokal maupun mancanegara bisa datang, belajar membatik langsung dari tangan para difabel, dan pulang membawa cerita serta kain yang mereka buat sendiri.

"Kampung Kreatif Batik Difabel ini supaya bisa menjadi sarana wisata kalau turis-turis datang ke sini," buka Andina pada 10 April 2026.

Untuk mewujudkan itu, dibutuhkan sarana yang memadai. Ruang yang representatif. Fasilitas yang layak. Dan tentu saja, alat produksi yang mencukupi, termasuk mesin jahit dan komponen pendukungnya yang hingga kini masih menjadi kebutuhan mendesak.

“Anak-anak ini harusnya dapat toolkit. Jadi yang menjahit dapatnya mesin jahit dan juga komponen pelengkapnya. Tetapi, modalnya tidak ada. Nah, bisa, dong BRI masuk untuk modal mereka,” harap Andina sembari tersenyum.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Bantuan dari BUMN lain sebenarnya sudah pernah datang melalui program CSR. Tapi kebijakan efisiensi anggaran membuat bantuan itu tidak bisa maksimal. Ahlasil beberapa program tertunda, beberapa kebutuhan terpaksa digeser ke daftar tunggu yang entah kapan giliran dipenuhi.

"Sekarang karena efisiensi, kendala terberatnya pemasaran. Pesanan berkurang setengahnya. Kita harus sosialisasi lagi, promosi lagi," lanjut Andina, menggambarkan situasi yang dihadapi GHD hari ini.

Di tengah situasi itu, harapan Andina kepada BRI cukup jelas: ia ingin ada CSR dari BRI yang masuk langsung ke Kampung Kreatif Batik Difabel. Bukan sekadar pelatihan (meski pelatihan sudah sangat membantu) tapi dukungan yang menyentuh sisi fisik dan permodalan secara nyata.

Rumah BUMN: Katalis UMKM untuk ‘Naik Kelas’

A. Radinal Pramudha Sirat memahami betul posisi Rumah BUMN Bandung dalam ekosistem ini. Sebagai CEO lembaga yang lahir dari inisiatif BRI, ia tidak bisa menjanjikan CSR langsung ataupun tidak bisa mencairkan kredit, dan tidak bisa menjadi pengganti anggaran pemerintah yang menyusut. Tetapi Rumah BUMN punya peran yang strategis untuk pengembangan bisnis, agar dapat lebih kredibel “naik kelas”-nya ketika ditinjau oleh pihak bank. Pun membuka peluang melebarkan sayap bisnis sampai ke mancanegara.

“Rumah BUMN Bandung ini sudah ada dari tahun 2017, inisiasi dari Kementerian BUMN. Tujuan utamanya pemberdayaan UMKM, dari pelatihan, literasi keuangan mendasar, sertifikasi, dan sebagainya, kita ajarkan semua di sini," jelas Radinal.

Dalam konteks Kampung Kreatif Batik Difabel, Rumah BUMN sudah hadir melalui jalur yang paling bisa ia berikan: pelatihan digital marketing, pelatihan berbasis kecerdasan buatan, hingga pendampingan manajemen. Ini bukan hal kecil bagi komunitas yang sebelumnya hampir sepenuhnya mengandalkan pesanan langsung dan pameran tatap muka.

“Pelatihannya itu kita kerja sama dengan berbagai pihak, dengan universitas, ataupun startup dan lai sebagainya, pemerintahan juga, untuk memberikan pelatihan kepada UMKM kita. Kalau mau jadi anggota, tinggal daftar gratis. Tidak hanya pelaku UMKM saja, jadi untuk anak-anak muda yang mau belajar bisnis itu bisa daftar di sini sebagai anggota,” lanjutnya.

Adapun tentang konsep “UMKM naik kelas”, Radinal pun mengajarkannya cukup rinci.

“Syarat untuk jadi anggota (Rumah BUMN) tinggal daftar saja di-link yang sudah ada, gratis, dan nanti ikut disurvei maksudnya agar kita tahu ini usahanya di ‘kelas’ mana. Kalau dari Kementerian BUMN kita tetapkan ada 4 kelas, biar indikator ‘UMKM naik kelas’ benar-benar ada. Kalau masih basic kelas 1 itu, dia belum punya laporan keuangan, kita ajarin bikin laporan keuangan. Lalu misalnya dia kelas 2 (karena) dia ternyata sudah punya akun digital, lalu naik ke kelas 3 karena dia sudah bisa jualan melalui sarana digital tersebut. Kalau kelas 4 itu sudah siap ekspor,” tegasnya.

A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat, CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Tapi Radinal juga jujur soal batas kewenangannya. Ketika Andina berharap ada kredit modal usaha untuk membeli mesin jahit dan memperbaiki sarana, Radinal tidak bisa mengiyakan begitu saja, karena itu bukan ranah Rumah BUMN. Apa yang bisa ia lakukan adalah memandu UMKM agar profesionalitasnya bisa dibuktikan secara aksi, sertifikasi, dan membuka peluang untuk mengikuti expo internasional.

“Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya. Salah satu benefit dari ‘naik kelas’ ini adalah jadi referensi untuk expo, kita pasti akan mengundang yang sudah proper. Tema-tema masing-masing expo itu berbeda, nanti kita akan cari yang kelasnya sudah mumpuni, tidak mungkin kelas 1 kita terjunkan ke expo skala internasional,” imbuhnya.

Dua Harapan yang Mencari Titik Temu

Ada jarak yang sebetulnya bisa teratasi antara apa yang Andina butuhkan dan apa yang Radinal bisa berikan hari ini. Andina butuh CSR, butuh modal, butuh sarana fisik. Radinal menawarkan pelatihan, pendampingan, dan panduan “naik kelas”.

Jarak itu bukan kegagalan sistem. Ia adalah gambaran nyata tentang bagaimana ekosistem pemberdayaan bekerja atau seharusnya bekerja. Tidak ada satu pihak yang bisa menanggung segalanya. Jadi apa yang dibutuhkan adalah setiap pihak hadir sesuai kapasitasnya, dan kapasitas itu saling menyambung.

Rumah BUMN membangun fondasi: kapasitas, kepercayaan, dan koneksi. BRI sebagai institusi induk membuka akses permodalan bagi yang sudah siap. Pemerintah daerah menyediakan regulasi dan ruang. Masyarakat hadir sebagai konsumen yang sadar pilihan.

Ketika salah satu simpul melemah, seperti ketika efisiensi anggaran memotong peran pemerintah, simpul lain tidak bisa hanya diam. Di sinilah relevansi kehadiran Rumah BUMN menjadi paling terasa bukan sebagai pengganti, tapi sebagai penopang yang tidak absen.

“Ekonomi (sedang) kurang baik. Dari tahun lalu kita dilanda daya beli dari efisiensi pemerintahan. Tetapi kita ajarkan ke mereka (para pelaku UMKM) strategi bisnis mencari peluang-peluang yang bisa mereka maksimalkan, yang menyesuaikan target pasar. Misalnya harga bajunya biasanya Rp500 ribu, mereka bisa membuat klasifikasi (produk) yang lebih rendah lagi harganya, tetapi tetap kena ciri khas modelnya dengan kualitas agak berbeda. Mulai bikin sub kategori produk jualan biar banyak yang beli lagi,” tutur Radinal.

***

Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Andina menutup obrolannya dengan nada yang sama seperti cara ia memimpin GHD, penuh harapan dan terukur.

"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali. Kita ikut pelatihan AI, kemudian juga tentang manajemen. Dari BRI pelatihannya sangat bermanfaat sekali," ujarnya. 

"Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga."

Di ruang produksi GHD, para pembatik masih datang setiap hari. Canting masih bergerak, motif masih lahir, kain masih dijemur. Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka butuh ekosistem yang bekerja, di mana setiap pihak hadir sesuai perannya, dan tidak ada yang memilih absen hanya karena situasi sedang sulit.

Kain batik di dekat pintu masuk Rumah BUMN Bandung itu masih tergantung di sana. Menunggu lebih banyak orang yang melihatnya; dan lebih banyak pihak yang mau melakukan lebih dari sekadar memandang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)