Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

6 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)

Setiap tanggal 24 September, kita memperingati Hari Tani Nasional untuk mengenang lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Tahun 1960.

Jika kita mendengar kata tani dan agraria, ingatan kita kerap melayang ke hamparan sawah luas di pedesaan atau konflik lahan perkebunan di pelosok daerah. Muncul sebuah pertanyaan menggelitik di benak kita, apakah isu ini masih relevan bagi masyarakat urban yang hidup di tengah kepungan beton Kota Bandung?

Lalu, apakah di kota sebesar ini masih ada petani dan denyut usaha pertanian yang bertahan?

Jawabannya adalah sangat relevan. Di era revolusi industri gelombang ke-empat, wajah reforma agraria di perkotaan tidak lagi sekadar bicara tentang pembagian lahan sawah.

Di kota besar seperti Bandung, urgensi agraria bertransformasi menjadi perjuangan mempertahankan ruang hidup, pemenuhan hak atas tanah rakyat, penyediaan pangan kota, serta pertempuran melawan jaringan mafia tanah yang kian cerdik di tengah masifnya pembangunan infrastruktur.

Sisa Nafas Pertanian di Tengah Kepungan Beton

Banyak orang mengira profesi petani telah punah dari ibu kota Provinsi Jawa Barat ini. Faktanya, petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan, meskipun ruang gerak mereka semakin terjepit oleh alih fungsi lahan menjadi pemukiman dan kawasan bisnis.

Berdasarkan data resmi hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik Kota Bandung, tercatat ada sebanyak 8.005 orang petani yang masih aktif beraktivitas di wilayah Kota Bandung.

Angka ini mencakup para petani yang mengandalkan lahan fisik konvensional maupun pelaku pertanian perkotaan, di mana 1.296 orang di antaranya merupakan petani milenial yang berada di rentang umur 19 hingga 39 tahun.

Dinamika usaha pertanian di kota ini pun ikut bergeser secara adaptif. Keterbatasan lahan melahirkan gerakan pertanian perkotaan atau urban farming yang masif, mulai dari pemanfaatan pekarangan rumah, sistem hidroponik, akuaponik, hingga pengoptimalan lahan kritis melalui program Buruan Sae yang digagas oleh pemerintah kota.

Komoditas yang dihasilkan pun bergeser ke arah tanaman hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti sayuran organik, buah-buahan semusim, dan tanaman hias. Potret ini membuktikan bahwa agraria perkotaan tidak melulu soal beton, tetapi juga tentang ketahanan pangan mandiri yang digerakkan oleh ribuan pasang tangan petani kota.

Ilustrasi urgensi reforma agraria dan perlindungan hak tanah bagi warga Bandung (Sumber: Ayobandung.com)
Ilustrasi urgensi reforma agraria dan perlindungan hak tanah bagi warga Bandung (Sumber: Ayobandung.com)

Urgensi Reforma Agraria bagi Masyarakat Perkotaan

Ketika ruang perkotaan kian padat dan nilai ekonomi tanah melejit, tanah berubah menjadi komoditas panas yang diperebutkan. Seiring meningkatnya jumlah penduduk yang begitu cepat, tingginya permintaan akan tanah untuk keperluan tempat tinggal hingga tempat usaha memicu ketimpangan penguasaan lahan.

Seringkali masyarakat merasa terusik rasa keadilannya saat melihat kemudahan akses bagi pihak tertentu, termasuk warga negara asing atau korporasi besar, dalam menguasai lahan yang sangat luas.

Filosofi tertinggi agraria kita sebenarnya sudah sangat jelas. Berdasarkan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Berdasarkan UUPA, hak menguasai dari negara ini diturunkan menjadi berbagai macam hak atas permukaan bumi yang dapat diberikan kepada individu maupun badan hukum.

Namun di lapangan, sengketa kerap terjadi akibat administrasi masa lalu yang lemah atau benturan kepentingan proyek strategis. Kita tentu belum lupa pada konflik agraria perkotaan skala besar seperti sengketa lahan di kawasan Dago Elos yang sempat menyita perhatian nasional, di mana ratusan warga harus bertaruh keringat dan air mata mempertahankan tanah yang sudah mereka tempati puluhan tahun dari klaim sepihak.

 Peran Badan Bank Tanah dan Tantangan Komunikasi Agraria

 Dalam mempercepat pembangunan infrastruktur dan mendorong investasi, pemerintah telah melibatkan Badan Bank Tanah. Lembaga ini sebenarnya mengemban amanat Reforma Agraria, di mana mereka wajib menyediakan paling sedikit 30 persen lahan dari Hak Pengelolaan miliknya untuk kepentingan rakyat.

Melalui skema ini, masyarakat yang menjadi subjek Reforma Agraria akan mendapatkan Hak Pakai selama 10 tahun, yang nantinya bisa ditingkatkan menjadi Sertifikat Hak Milik apabila lahan tersebut dimanfaatkan dengan baik. Di tingkat daerah, verifikasi subjek ini diketuai langsung oleh Wali Kota melalui Gugus Tugas Reforma Agraria.

Namun, pengadaan tanah oleh Bank Tanah ini berpotensi memicu konflik jika terjadi darurat komunikasi di lapangan. Masih banyak warga negara yang mengabaikan tanahnya atau tidak paham hukum pertanahan, sehingga rentan mengalami salah pengertian yang menghasilkan respons berlawanan.

Untuk itu, Badan Bank Tanah dan pemerintah daerah perlu membangun komunikasi agraria yang menyentuh hati rakyat melalui pembenahan sistem penyuluhan hukum yang efektif. Selama ini, penyuluhan yang diadakan oleh instansi terkait dinilai kurang efektif karena hanya berfokus pada formalitas output administratif atau sosialisasi kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang saja.

Pemerintah membutuhkan sosok penyuluh pertanahan yang andal, yang tidak hanya paham aspek hukum dan negosiasi ganti kerugian melalui tim appraisal, tetapi juga mampu melakukan sambung rasa dengan masyarakat untuk menghindari sengketa.

Mengendus Ragam Modus Operandi Gurita Mafia Tanah

Masalah komunikasi kian pelik karena ruang gelap pertanahan perkotaan masih diintai oleh mafia tanah. Kelompok kriminal ini secara diam-diam mengalihkan hak tanah rakyat, swasta, atau negara secara melawan hukum. Tragisnya, praktik ini kerap melibatkan oknum internal birokrasi pertanahan, kelurahan, hingga kecamatan yang memanfaatkan celah administrasi demi pungli dan korupsi. Kehadiran para penyuluh agraria di daerah sangat krusial untuk membantu masyarakat mendeteksi dan menghindari perangkap kelompok kriminal ini.

Modus operandi mafia tanah yang wajib diwaspadai di wilayah Bandung kini semakin beragam. Modus pertama adalah penerbitan atau penggunaan dokumen alas hak lama, seperti girik atau letter C, yang terindikasi palsu secara ganda pada satu bidang tanah yang sama.

Modus berikutnya adalah okupasi atau penguasaan fisik tanah milik orang lain secara ilegal tanpa izin. Selain itu, mereka juga sering memanipulasi batas lahan dengan mengubah atau menghilangkan patok tanda batas tanah milik orang lain. Bahkan, ada modus nekat di mana pelaku mengajukan permohonan sertifikat pengganti dengan dalih hilang, padahal sertifikat asli masih dipegang teguh oleh pemilik sahnya, sehingga memicu lahirnya sertifikat ganda.

PTSL Gratis Sebagai Benteng Hukum Ruang Hidup Warga

Menghadapi ancaman mafia tanah dan risiko pengadaan lahan, benteng hukum terkuat bagi warga adalah legalitas yang sah. Kementerian ATR/BPN terus mengakselerasi program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) gratis demi mewujudkan status Bandung Kota Lengkap. Status ini merupakan sebuah kondisi ideal di mana seluruh bidang tanah di kota ini telah terdaftar dan terpetakan secara digital tanpa ada celah kosong yang bisa dimanfaatkan oleh mafia tanah.

Di Kota Bandung sendiri, realisasi dan inovasi program pertanahan digenjot melalui beberapa langkah taktis untuk melayani karakteristik masyarakat urban. Salah satunya melalui Layanan Pelataran atau Pelayanan Tanah Akhir Pekan, yang memfasilitasi warga urban yang sibuk agar tetap bisa mengurus legalitas tanah pada hari Sabtu dan Minggu tanpa calo.

Selain itu, sistem pertanahan di Jawa Barat kini mulai bermigrasi ke bentuk Sertipikat Elektronik guna mempersempit ruang gerak mafia tanah dalam memalsukan dokumen fisik. Pemerintah juga memastikan biaya prapersiapan administrasi di tingkat dasar dibatasi maksimal Rp150.000 sesuai SKB 3 Menteri untuk mencegah pungutan liar oleh oknum kelurahan.

Momentum Hari Tani Nasional 2026 harus menjadi alarm pengingat bagi seluruh warga Kota Bandung, baik para pekerja kantoran maupun ribuan petani urban yang tersisa. Warga harus proaktif memetakan batasan fisik lahan mereka, memasang patok tanda batas yang jelas, dan segera mengurus sertifikat resminya melalui program PTSL. Menjaga tertib administrasi pertanahan adalah satu-satunya cara memastikan hak atas ruang hidup Anda tidak runtuh digusur para spekulan atau tergilas roda pembangunan yang abai pada hak rakyat. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)