Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Hilangnya lahan sawah bukan sekadar melukai hati masyarakat namun membuat masyarakat merubah pola pikirnya. Lahan sawah yang seharusnya produktif untuk perekonomian masyarakat telah tergantikan.

Pola pikir masyarakat terhadap pendidikan pertanian diramal mengalami kemunduran. Sebab pendidikan pertanian justru tidak melahirkan petani baru dari generasi milenial atau generasi Z, tetapi semakin terkikis dari generasi sebelumnya.

Petani dari generasi terbaru masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Generasi yang ingin menjadi petani tidak mengalami peningkatan signifikan. Stigma masyarakat terhadap profesi petani jauh dari harapan.

Sementara lahan sawah yang sudah beralih fungsi mengalami peningkatan yang terbilang sangat miris. Berdasar data ATR/BPN pada lima tahun terakhir ini Indonesia telah kehilangan 79.607 hektar kurang lebihnya. Ekspansi kawasan industri dan pendirian pemukiman makin diminati di wilayah pinggiran kota.

Dampaknya sangat drastis dirasakan oleh masyarakat  utamanya generasi yang mesti mendalami tentang pertanian, pasti tidak tahu lagi tentang lahan sawahnya.

Pentingnya Regenerasi Petani

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis. Data Badan Pusat Statistik menyebutkan 70% petani berusia di atas 45 tahun, hanya sekitar 8% berusia di bawah 35 tahun, adapun prosentase jumlah penduduk di Indonesia yang berprofesi petani yaitu 86,02 persen. Artinya yang menggantungkan hidupnya sebagai petani cukup banyak. Seharusnya didukung pula oleh lahan sawah yang dapat digarap dan regenerasinya tidak berhenti.

Keperluan lahan sawah yang dibutuhkan oleh petani sudah sulit, dan perlu ada kebijakan bahwa petani baru mesti digalakkan dan dimunculkan kembali menjadi program terbarukan dari pemerintah.

Putusnya regenerasi petani menimbulkan persoalan baru di masa depan. Kebutuhan akan tenaga petani menjadi langka. Persiapan dari pendidikan pun sebagai solusi berjangka.

Kebutuhan petani baru dari generasi milenial dan generasi Z ini menjadi keniscayaan. Selain karena minat menjadi petani sudah sangat sedikit, dan lahan sawah semakin sempit.

Maka dari itu, pemerintah harus membuat konsep kebijakan dari program yang diutamakan. Jangan sampai terjadi ketimpangan berkepanjangan. Adanya petani dari generasi milenial dan Z ini akan memudahkan swasembada pangan. Sebab jika tergantung pada petani yang berumur tentu berisiko tinggi.

Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)
Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)

Peluang dan Tantangan Pendidikan Pertanian

Sejumlah program pendidikan menengah dan pendidikan tinggi harus berinovasi untuk membuka peluang bagi masyarakat agar tertarik mempelajari ilmu pertanian.

Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat untuk membuka peluang masyarakat tertarik menjadi petani yang handal harus disempurnakan. Menurut data PDDikti disebut bahwa program studi di bidang pertanian terdapat ratusan mulai dari jenjang diploma sampai strata tiga.

Maka tidak lagi menjadi alasan bagi masyarakat untuk meraih pendidikan sekaligus berprofesi petani. Peluangnya cukup besar. Kreativitas dalam memeroleh lahan sawah jika sudah berpendidikan tinggi sangat diandalkan.

Adapun tantangannya pun beragam. Utamanya regenerasi petani yang perlu mendapat perhatian serius. Generasi milenial dan Z inilah yang menjadi harapan. Capaian kurikulum dan lulusan di tingkat pendidikan harus relevan dengan kebutuhan pasar. Sebab keilmuan pertanian ini menjadi tulang punggung bagi negeri agraris.

Selain itu, kompetensi dan kapasitas sumberdaya dapat diupayakan. Pertanian berkelanjutan tidak sekadar membicarakan lahan sawah yang hilang, tetapi inovasi dan keunggulan dari sektor pertanian yang modern inilah harus tercipta dari generasi petani baru.

Tantangan lainnya dari kebijakan pemerintah yang berpihak kepada masyarakat. Moratorium pembukaan lahan non pertanian sangat penting. Kecintaan akan sawah dari generasi milenial dan Z yang berkurang tidak dipandang sebagai kewajaran semata akibat teknologi. Justru ketersediaan teknologi inilah yang akan membantu petani-petani dari generasi melek digital yang adaptif terhadap perkembangan ekonomi.

Pada akhirnya, ketersiapan dari regenerasi petani bukan sebagai program usang, tetapi pemerintah harus bisa mengambil alih dan menyiapkan sedini mungkin atas program-program yang berpihak pada sektor pertanian.

Pendidikan pertanian tidak dapat ditinggalkan. Pendidikan pertanian sebagai wadah keilmuan bagi masyarakat. Pemerintah wajib membuka peluang, menyediakan fasilitas beasiswa, membuka lahan sawah baru, memberikan stimulus lainnya sehingga pertanian masih menjadi primadona di negeri tercinta.

Pendidikan pertanian dapat dimulai dari pendidikan formal atau pendidikan non formal. Pembiayaan dari pendidikan pertanian tentu tidak sia-sia. Sebab sektor pertanian masih diharapkan agar swasembada pangan dari hulu ke hilir terbentuk.

Dukungan pemerintah dapat direalisasikan manakala memikirkan regenerasi petani yang menjadi sorotan utamanya. Jika tidak disegerakan, lima tahun mendatang. Mungkin saja, tidak ada petani baru dari generasi sekarang, terancam tidak ada lagi petani unggul, dampaknya sangat luas.

Impor pangan? Entahlah. Semoga perhatian khusus ke regenerasi petani diprogramkan dan direalisasikan secara efektif dan solutif demi potensi hasil pertanian berkelanjutan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)