Keadilan Ekonomi untuk Guru

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pendidikan menjadi pondasi dasar bagi masyarakat dan berdirinya negeri yang kokoh sekaligus menjadi ruang kosong bagi harapan dan keniscayaan. Di antaranya adalah dilema guru yang berkepanjangan. 

Sorotan tajam kepada guru yang terus mengejar kepastian. Ketika seorang jurnalis bertanya kepada presiden tentang kesejahteraan guru. Lantas belum ada jawaban yang pasti dan terkesan dengan kenyataan bahwa guru belum menjadi prioritas untuk ditingkatkan kesejahteraannya. 

Sejak jurnalis itu menyodorkan pertanyaan, yang ditunggu adalah jawaban paling menyenangkan bagi seluruh guru. Namun tak dapat disangkal lagi jika jawaban itu tidak bisa didengar dengan nyaman. Melainkan jawaban yang tidak seharusnya. 

Dari sini kita melihat pesimisme yang memuncak. Pesimis yang menjadi cikal tulisan ini diuraikan. Meskipun kita tidak bisa memaksakan lagi untuk apa seharusnya ini. Hanya harapan itu membakar diri seorang guru. Ketika guru masih membutuhkan waktu dan tenaganya disebutkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. 

Menilik dari gambaran sebagai pahlawan, pada akhirnya guru adalah profesi paling imut dan menegaskan bahwa profesi di dunia pendidikan tidak bisa menghadirkan sebuah kesempatan dan jalur yang tepat untuk menjadi sebuah pekerjaan.

Dari perspektif pendidikan, peranan guru sangat dibutuhkan. Guru adalah kepanjangan ilmu pengetahuan, yang ditransfer kepada murid dan untuk menerangi jalan cahaya bagi bangsa. Guru adalah motivator sekaligus fasilitator yang memberi inspirasi bagi murid. 

Sedangkan perspektif kesejahteraannya, guru belum mendapatkan hak yang sebenarnya. Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan. 

Dari problematika yang sering diangkat dan menjadi bahan diskusi, maka dalam tulisan ini membahas tentang kepedulian, ketidaksesuaian antara sejahtera dan politik keistimewaan. 

Kita mengurai kembali di balik status guru, di balik profesionalisme guru. Di balik kesejahteraan yang hanya berpihak kepada profesi selain pendidik. 

Jika kita mendengar kesejahteraan pendidik selalu ada hal tak terduga. 

Entah kebijakan menaikkan kesejahteraan seolah menjadi langkah yang sulit dan tidak mampu dilakukan secepatnya, sementara di kebijakan lainnya semudah mengganti peraturan. Tapi apakah kebijakan yang sulit diambil ini merupakan wujud dari ketidaksiapan pemerintah? 

Lantas apakah ketidaksiapan ini akan terus berlanjut sampai tak menentu di kemudian hari?

Mengejar Kesejahteraan 

Di balik harapan yang tinggi inilah guru mengejar kesejahteraan. Mengejar haknya. Mengejar segenggam keadilan. Di antara kebutuhan yang mahal dan kemampuan untuk membuat lingkungan yang positif. 

Pendidikan bukan karena mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi pendidikan memilih untuk memberikan kebahagiaan guru selamanya. Menitikberatkan kepada apresiasi dan penghargaan yang tak terhingga kepada guru. 

Lebih dari apapun, kekuatan guru sebenarnya lebih besar dalam mencurahkan jasanya dibandingkan cara menghargai guru. Dari tahun ke tahun, kebutuhan ekonomi yang sulit, ekonomi yang menghimpit, tetapi nominal pendapatan guru tak naik-naik. 

Kesadaran akan kebutuhan ini pemerintah sebenarnya tahu dan mengerti. Tetapi kebijakan ini yang ditunggu-tunggu. Kebijakan yang melambat dan belum ketok palu.

Pada dasarnya pemerintah mampu bersikap namun entah bagaimana ceritanya jika kebijakan belum pernah ada dalam peraturan pemerintah. Guru masih diposisikan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Sedangkan gelar pahlawan setiap tahun muncul dan dibacakan untuk disampaikan kepada masyarakat. Namun kebijakan kepada guru masih tenggelam dan tidak tertulis di dalamnya.

Keadilan Ekonomi

Selain mengejar kesejahteraan, guru mengajar peradaban. Sisanya mengeja keniscayaan yang tak menentu. Keadilan ekonomi bagi guru masih semu.

Sederhananya, jika peraturan kesejahteraan di balik status pendidik wajib diberikan bukan hanya diupayakan. Pandangan kita, guru mengajar dengan keilmuannya. Dasar ilmunya membutuhkan bertahun-tahun belajar pedagogi. 

Lantas kita tidak bisa melihat guru kurang dihargai. Kesejahteraan yang tidak diperjuangkan sama halnya menjadi ruang kegelapan di pikiran. Guru bukan dimaksudkan sebagai pahlawan, sementara permohonan bantuan kepada guru diharuskan menjadi tenaga dadakan. 

Bagaimana sikap guru? Tentu tidak berdaya. Siapapun merasa guru bukan sekadar pendidik di ruang kelas. 

Tetapi menggambarkan bahwa guru sudah menyiapkan generasi tangguh, generasi cerdas, generasi berkarakter, generasi bermanfaat untuk ummat.

Lalu untuk apakah ekonomi bagi guru? Sebagaimana dijelaskan di atas, kebutuhan di rumah tangga bukan sekadar diberi kesempatan merenungi dan sabar. Beli beras bukan dari kata-kata tapi nyatanya bantuan kepada guru masih diposisikan sebagai gratifikasi. 

Sesulit membeli bensin, bakso, baju, kupat tahu, timun, perlengkapan dapur, soklin, listrik, langganan internet, dan apakah pemerintah menyadari itu? 

Sejak kebutuhan masyarakat tidak sejalan dengan kenaikan kesejahteraan guru, mari kita berpikir sejenak, apakah kita bisa memakluminya? 

Tentu saja tidak, menanti keadilan ekonomi untuk guru sama halnya seperti menunggu ketidakpastian, keadilan ekonomilah yang sebenarnya memerdekakan kesejahteraan untuk guru. 

Jika dikatakan, guru harus mengajar dengan penghayatan dan hati yang besar, maka guru harus menerima kesejahteraan dengan keadilan. 

Demikianlah makna sebenarnya kesejahteraan, sebab kesejahteraan memaknai guru, memaknai pendidikan, memaknai keadilan sosial. Implementasi nilai-nilai Pancasila yang telah membumi di negeri kita. 

Untuk apakah menunda lagi jika peraturan kesejahteraan harus sama adilnya membuat kebijakan kenaikan harga-harga terbaru di negeri kita. Jika kita mengingat, guru bukan sekadar panggilan jiwa, bukan sekadar menunaikan ibadah terpanjang, bukan sekadar membuka wawasan, bukan sekadar itu. 

Di balik keadilan ekonomi itulah guru tidak hanya mengajarkan kebaikan tetapi menyiapkan generasi masa depan.

Jika tahun politik tiba, kesejahteraan guru belum nyata, mungkinkah janji lima tahunan terucap lebih banyak lagi? Sedangkan harga kebutuhan masyarakat esok juga naik lima kali. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muh Husen Arifin
Dosen Aktif di Prodi PGSD UPI Kampus Cibiru

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 14:42

216 Tahun Kota Bandung: Merawat Warisan dan Membangun Masa Depan Gastronomi Berkelanjutan

Lebih dari sekadar destinasi tempat orang mencari tempat makan yang estetis atau makanan lezat, Bandung pada hakikatnya adalah laboratorium budaya.

Kudapan tradisional khas Kota Kembang yang sangat populer antara lain cireng, cilok, seblak, dan telur gulung. (Sumber: Shutterstock | Foto: Hanifah Kurniati)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 12:21

Momentum Mahasiswa Meraih Prestasi

Mahasiswa sering menyalahkan diri dan keadaannya dalam situasi yang sulit. Menurut mahasiswa, bahwa keberadaannya belum tentu berprestasi. 

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Sep 2026, 10:40

Media Lokal Cari Model Bisnis Baru di Local Media Summit 2026

Media lokal tidak lagi hanya dituntut menjadi penerbit berita, tetapi juga dapat berkembang menjadi agensi lokal, pengelola komunitas.

Local Media Summit (LMS) akan kembali hadir di pada 22-23 Oktober 2026 di Hotel Manhattan Jakarta.
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:15

Jika Benzema Datang, Persib Sebenarnya Membeli Apa?

Status bebas transfer Benzema saat ini membuat sebuah pintu terbuka untuk Persib.

Karim Benzema (Sumber: ayobandung.com | Foto: Wikimedia Commons (Lisensi CC) via ayobandung.com)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 10:00

Urap: Jejak Mahakarya Kuliner Tertua dan Filosofi Kehidupan dalam Sepiring Sayuran Nusantara

Dalam khazanah gastronomi Indonesia, urap bukan sekadar komposisi sayuran dan kelapa parut.

Urap merupakan sajian sayuran tertua di tanah Jawa yang tercatat secara formal dalam literatur sejarah. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:31

Demokrasi yang Berakar: Ketika Politik Bertemu  Budaya dan Kepercayaan

Sebelum seseorang menjatuhkan pilihan politiknya, ada proses komunikasi yang panjang. Sebelum sebuah kekuasaan dianggap sah, ada proses pembentukan makna.

Diah Fatma Sjoraida merupakan Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. (Sumber: Gemini | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 19:01

Urgensi Kota Bandung: Persolan Sampah dan Kemacetan

Sampah dan kemacetan adalah dua persoalan besar yang dihadapi Bandung. Harus diatasi dengan membangun kesadaran bersama, yang akhirnya demi kenyamanan bagi warga Bandung, sebagai rumah bersama.

Pengendara melintas di dekat tumpukan sampah yang menggunung di TPS Jalan Makam Caringin, Kota Bandung, Kamis, 9 April 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 18:17

Imaji Papua Bersilaturahmi dengan Caraka Sundanologi Bandung

Imaji Papua membawa cerita tentang manusia, budaya, dan kehidupan Tanah Papua ke Bandung melalui film dan dialog lintas komunitas.

Caraka Sundanologi bersilaturahmi dengan komunitas Imaji Papua melalui pemutaran film dokumenter sebagai ruang berbagi cerita, budaya, dan pengalaman tentang Papua. (Sumber: Nonon Rachnaya)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 17:20

Bandung dan Terbentuknya Karyawan 'Flourish'

Ketika Pemkot Bandung berhasil memangkas hambatan birokrasi,sektor industri harus siapkan sistem rekrutmen yang presisi.

Bandung dan urgensi karyawan "Flourish" (Sumber: dokpri dengan kreasi chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 16:22

Tugu Proklamasi Cirebon: Jejak Pembacaan Proklamasi 15 Agustus 1945

Sebuah tugu berwarna putih di perempatan Jalan Siliwangi, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, itu menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia pernah diproklamirkan sebelum 17 Agustus 1945.

Tugu Proklamasi Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wahyu)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 15:58

Menimbang Dampak Pajak Otomatis di Tengah Melejitnya Lokapasar Kota Bandung

Proses perpajakan digital menuntut UMKM agar merapikan pembukuan mereka

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan (Kanan). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Ikon 21 Sep 2026, 15:33

Stasiun Cicalengka, dari Stasiun Bersejarah jadi Tinggal Sejarah

Stasiun Cicalengka berusia lebih dari seabad. Bangunan lamanya telah dibongkar, sementara tinggalan sejarahnya masih tersisa.

Stasiun Cicalengka, Bandung, antara tahun 1900-1920-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 13:41

Akar Historis dan Evolusi Gastronomi Sunda: Meneroka Budaya Pangan Tatar Parahyangan

Gastronomi bukan sekadar urusan pemuasan kebutuhan fisiologis manusia melalui asupan nutrisi, melainkan sebuah disiplin ilmu yang membedah korelasi intrinsik antara makanan dan kebudayaan.

Penjual makanan keliling di Jawa Barat sekitar tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 21 Sep 2026, 11:21

Bioskop sebagai Ruang Refleksi Diri

Bioskop di era modern tidak sekedar ajang hiburan tapi ruang refleksi yang membuat nyaman.

Ilustrasi bioskop. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)