Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan Kamis 19 Mar 2026, 13:12 WIB
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Pernahkah Anda bertanya tentang siapa yang menanam padi untuk nasi yang Anda santap hari ini? Jika kita menyisir petak-petak sawah di pinggiran Bandung Raya hingga hamparan agraris di Purworejo, kita akan menemukan pemandangan yang serupa yaitu punggung-punggung renta yang membungkuk di bawah terik matahari.

Data Sensus Pertanian 2023 telah membunyikan alarm keras bagi kedaulatan bangsa karena mayoritas petani Indonesia kini berada di kategori usia senja yakni di atas 55 tahun. Di sisi lain, regenerasi justru berjalan mundur sebab persentase pemuda usia 16 sampai 30 tahun yang bekerja di sektor pertanian merosot tajam menjadi hanya 18% pada tahun 2022. Fenomena petani menua ini bukan sekadar angka statistik melainkan sebuah ancaman nyata bahwa Indonesia berisiko mengalami kelangkaan produsen pangan dalam satu dekade ke depan.

Mengapa Sawah Tak Lagi Memikat Gen Z?

Kita tidak bisa sekadar menyalahkan generasi muda sebagai kelompok yang enggan kotor karena keengganan mereka sebenarnya berakar pada risiko sistemik yang sangat mencekik. Pertanian di Indonesia saat ini masih dianggap sebagai perjudian finansial yang melelahkan secara fisik namun tidak menjanjikan kemapanan di masa depan.

Ada beberapa faktor kunci yang membuat anak muda lebih memilih untuk menjadi buruh pabrik atau pekerja jasa di kota, di antaranya adalah:

1.    Ketidakpastian Ekonomi: Tingginya harga pupuk yang kian mahal serta fluktuatif diperparah dengan harga jual hasil panen yang sering kali dijatuhkan oleh permainan mafia tengkulak saat panen raya tiba.

2.    Krisis Lahan dan Modal: Mayoritas anak muda di desa tidak memiliki akses terhadap lahan yang luas sehingga mereka terjebak pada status petani gurem dengan modal yang sangat terbatas untuk memulai inovasi.

3.    Citra Negatif: Profesi petani masih dipandang sebagai pekerjaan kelas dua yang kotor serta tidak bergengsi jika dibandingkan dengan bekerja di kantor atau pabrik yang menawarkan gaji bulanan pasti.

Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)
Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)

Menyadari adanya ancaman punahnya petani, Kementerian Pertanian bersama jajaran pemerintah daerah telah merancang berbagai strategi guna membedah kebuntuan ini. Respon pemerintah saat ini berfokus pada upaya mengubah wajah pertanian dari yang semula tradisional dan melelahkan menjadi lebih modern serta menguntungkan.

Beberapa langkah strategis yang kini tengah diimplementasikan meliputi:

1.    Akselerasi Smart Farming: Pemerintah mulai masif memperkenalkan penggunaan drone untuk pemupukan serta sensor kelembapan tanah dan sistem pengairan otomatis yang bertujuan memangkas biaya operasional sekaligus membuat pekerjaan tani menjadi lebih keren bagi generasi digital.

2.    Program DPM dan DPA: Inisiasi Duta Petani Milenial serta Duta Petani Andalan bertujuan untuk menciptakan role model di tingkat desa agar mereka dilatih menjadi Agripreneur atau pengusaha tani yang mampu melihat peluang bisnis dari hulu hingga ke hilir.

3.    Modernisasi Alsintan: Distribusi alat mesin pertanian seperti traktor modern dan combine harvester terus dipercepat guna menghilangkan stigma kerja kasar serta menggantinya dengan operasional mesin yang lebih efisien.

Tantangan antara Kebijakan dan Implementasi Lapangan

Meski respon pemerintah terlihat menjanjikan di atas kertas, namun tantangan besar masih tetap membayangi. Regenerasi tidak akan terjadi hanya melalui pembagian bibit gratis atau sekadar kampanye di media sosial karena masalah mendasar tetap terletak pada perlindungan harga serta akses permodalan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa Kredit Usaha Rakyat atau KUR benar-benar mudah diakses oleh petani muda yang tidak memiliki jaminan aset besar. Selain itu, jaminan pasar yang stabil adalah harga mati karena tanpa adanya kepastian bahwa bertani bisa memberikan taraf hidup yang layak, maka program Petani Milenial berisiko hanya menjadi seremonial belaka atau menjadi macan kertas yang terlihat cantik dalam laporan namun sepi di lapangan.

Baca Juga: Kakaretaan, Yuk!

Indonesia yang secara historis merupakan negara agraris tidak boleh membiarkan profesi petani menjadi peninggalan masa lalu. Menjaga ketahanan pangan adalah tugas konstitusional negara untuk memastikan profesi petani menjadi profesi yang terhormat dan modern serta sejahtera.

Anak muda tidak menjauh karena mereka malas melainkan mereka menjauh karena mereka ingin hidup dengan layak. Jika pemerintah benar-benar ingin menyelamatkan masa depan pangan kita, maka ekosistem pertanian harus segera diperbaiki mulai dari kepastian lahan hingga perlindungan harga dan dukungan teknologi. Sebelum petani terakhir meletakkan cangkulnya, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berpihak pada mereka yang menjaga isi piring kita. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)