Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

3 menit baca
Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Pernahkah Anda bertanya tentang siapa yang menanam padi untuk nasi yang Anda santap hari ini? Jika kita menyisir petak-petak sawah di pinggiran Bandung Raya hingga hamparan agraris di Purworejo, kita akan menemukan pemandangan yang serupa yaitu punggung-punggung renta yang membungkuk di bawah terik matahari.

Data Sensus Pertanian 2023 telah membunyikan alarm keras bagi kedaulatan bangsa karena mayoritas petani Indonesia kini berada di kategori usia senja yakni di atas 55 tahun. Di sisi lain, regenerasi justru berjalan mundur sebab persentase pemuda usia 16 sampai 30 tahun yang bekerja di sektor pertanian merosot tajam menjadi hanya 18% pada tahun 2022. Fenomena petani menua ini bukan sekadar angka statistik melainkan sebuah ancaman nyata bahwa Indonesia berisiko mengalami kelangkaan produsen pangan dalam satu dekade ke depan.

Mengapa Sawah Tak Lagi Memikat Gen Z?

Kita tidak bisa sekadar menyalahkan generasi muda sebagai kelompok yang enggan kotor karena keengganan mereka sebenarnya berakar pada risiko sistemik yang sangat mencekik. Pertanian di Indonesia saat ini masih dianggap sebagai perjudian finansial yang melelahkan secara fisik namun tidak menjanjikan kemapanan di masa depan.

Ada beberapa faktor kunci yang membuat anak muda lebih memilih untuk menjadi buruh pabrik atau pekerja jasa di kota, di antaranya adalah:

1.    Ketidakpastian Ekonomi: Tingginya harga pupuk yang kian mahal serta fluktuatif diperparah dengan harga jual hasil panen yang sering kali dijatuhkan oleh permainan mafia tengkulak saat panen raya tiba.

2.    Krisis Lahan dan Modal: Mayoritas anak muda di desa tidak memiliki akses terhadap lahan yang luas sehingga mereka terjebak pada status petani gurem dengan modal yang sangat terbatas untuk memulai inovasi.

3.    Citra Negatif: Profesi petani masih dipandang sebagai pekerjaan kelas dua yang kotor serta tidak bergengsi jika dibandingkan dengan bekerja di kantor atau pabrik yang menawarkan gaji bulanan pasti.

Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)
Persawahan di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Sumber: Google map)

Menyadari adanya ancaman punahnya petani, Kementerian Pertanian bersama jajaran pemerintah daerah telah merancang berbagai strategi guna membedah kebuntuan ini. Respon pemerintah saat ini berfokus pada upaya mengubah wajah pertanian dari yang semula tradisional dan melelahkan menjadi lebih modern serta menguntungkan.

Beberapa langkah strategis yang kini tengah diimplementasikan meliputi:

1.    Akselerasi Smart Farming: Pemerintah mulai masif memperkenalkan penggunaan drone untuk pemupukan serta sensor kelembapan tanah dan sistem pengairan otomatis yang bertujuan memangkas biaya operasional sekaligus membuat pekerjaan tani menjadi lebih keren bagi generasi digital.

2.    Program DPM dan DPA: Inisiasi Duta Petani Milenial serta Duta Petani Andalan bertujuan untuk menciptakan role model di tingkat desa agar mereka dilatih menjadi Agripreneur atau pengusaha tani yang mampu melihat peluang bisnis dari hulu hingga ke hilir.

3.    Modernisasi Alsintan: Distribusi alat mesin pertanian seperti traktor modern dan combine harvester terus dipercepat guna menghilangkan stigma kerja kasar serta menggantinya dengan operasional mesin yang lebih efisien.

Tantangan antara Kebijakan dan Implementasi Lapangan

Meski respon pemerintah terlihat menjanjikan di atas kertas, namun tantangan besar masih tetap membayangi. Regenerasi tidak akan terjadi hanya melalui pembagian bibit gratis atau sekadar kampanye di media sosial karena masalah mendasar tetap terletak pada perlindungan harga serta akses permodalan.

Pemerintah perlu memastikan bahwa Kredit Usaha Rakyat atau KUR benar-benar mudah diakses oleh petani muda yang tidak memiliki jaminan aset besar. Selain itu, jaminan pasar yang stabil adalah harga mati karena tanpa adanya kepastian bahwa bertani bisa memberikan taraf hidup yang layak, maka program Petani Milenial berisiko hanya menjadi seremonial belaka atau menjadi macan kertas yang terlihat cantik dalam laporan namun sepi di lapangan.

Baca Juga: Kakaretaan, Yuk!

Indonesia yang secara historis merupakan negara agraris tidak boleh membiarkan profesi petani menjadi peninggalan masa lalu. Menjaga ketahanan pangan adalah tugas konstitusional negara untuk memastikan profesi petani menjadi profesi yang terhormat dan modern serta sejahtera.

Anak muda tidak menjauh karena mereka malas melainkan mereka menjauh karena mereka ingin hidup dengan layak. Jika pemerintah benar-benar ingin menyelamatkan masa depan pangan kita, maka ekosistem pertanian harus segera diperbaiki mulai dari kepastian lahan hingga perlindungan harga dan dukungan teknologi. Sebelum petani terakhir meletakkan cangkulnya, sekarang adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berpihak pada mereka yang menjaga isi piring kita. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Tentang Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)