Kakaretaan, Yuk!

6 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hari ini, Rabu (18/3/2026) petualangan mudik kakaretaan dimulai. Ya, bukan sekadar perpindahan dari satu Stasiun (Gedebage) ke Bandung, lanjut ke Pasar Senen, hingga berakhir di Tangerang, melainkan perjalanan asyik menembus ingatan, rasa, dan harapan yang pelan-pelan tersusun di atas (rel) waktu.

Betapa tidak, pagi yang masih dingin, basah, cebrek akibat guyuran hujan semalam, suara ayam kukuruyuk saling bersahutan milik tetangga. Berempat berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan Rasa, Merawat Asa

Setelah pesen mobil aplikasi yang menunggu di Golden Sata Cibiru, seolah-olah menjadi pengantar awal sebelum benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya pada perjalanan panjang bernama mudik.

Jalanan belum sepenuhnya ramai, tetapi bayangan macet jelang Lebaran sudah cukup menjadi alasan untuk memilih jalur kereta api.

Alasan pilihan kakaretaan ini bukan tanpa musabab. Pasalnya, ingin menghadirkan suasana baru, ada keinginan sederhana dari Aa Akil, anak kedua yang berusia 11 tahun. Baginya, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan pengalaman berharga.

Bocah kelas 5 ini kerap tak kuat perjalanan jauh dengan mobil yang sering diwarnai mabuk, muntah, dan kelelahan. Kehadiran rel dan gerbong menjadi jawaban atas kenyamanan bisa tidur pulas dan kegembiraan yang luar biasa.

Pukul 05.33 tiba di Stasiun Gedebage. Suasana pagi itu terasa seperti ruang tunggu kehidupan. Beragam orang-orang dengan tujuan berbeda, tapi satu arah yang sama untuk pulang. Kereta lokal yang membawa menuju Stasiun Bandung berangkat pukul 06.25 WIB.

Sambil menunggu, waktu diisi dengan musik dari aplikasi, dan Aa Akil tak henti bertanya, “Kapan berangkat?”

Satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menyimpan antusiasme yang sulit disembunyikan dan diceritakan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan singkat sekitar 22 menit membawa segudang harapan tiba di Stasiun Bandung. Di sana, waktu terasa melambat. Menunggu keberangkatan menuju Stasiun Pasar Senen dengan Kereta Api Cikuray.

Di sela jeda itu, Aa Akil dan Kakang larut dalam aktivitas kecil yang sering luput dari perhatian orang dewasa, dengan asyik melihat iklan warna-warni, sambil tertawa ringan, dan menikmati detik demi detik tanpa beban.

Posisi duduk di Gerbong 2, kursi 5A, 5B, 6A, dan 6B. Ruang kecil yang untuk tiga-empat jam ke depan akan menjadi rumah singgah tempat percakapan, diam, dan renungan berkelindan.

Kereta berangkat pukul 08.04. Rel mulai berbunyi ritmis bak dzikir panjang yang mengiringi perjalanan.

Dari jendela, lanskap berganti perlahan, ada kota, hamparan sawah, pabrik, sampai perkampungan khas pinggiran rel kereta. Semuanya ibarat fragmen kehidupan yang disusun tanpa banyak bicara dan kata-kata.

Sepanjang perjalanan Aa Akil tidur lebih dahulu dengan pulas, disusul Kakang yang bangun lebih awal dari biasanya dan ikut makan sahur jam 03.00-an.

Alih-alih takut ditinggal mudik dan tidak ketemu Kaka Fia, anak pertama yang sudah pulang dari Pondok Al Kamil, tapi tidak ke Bandung langsung ke Neneknya di Gembor Tangerang.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ngangon Nafsu, Kenali Diri

Saat asyik menulis selama perjalanan naik kereta api, tiba-tiba tulisan renyah dan bergizi hadir lewat (melintas) beranda medsos (facebook) dari Ki Guru, Dadan Rusmana, Dosen UIN Bandung yang berjudul Ngangon (Mengembala): Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput.

Hari ini, kita mungkin tidak lagi memegang tongkat bambu dan menggiring domba di perbukitan. Namun, filosofi ngangon ini menemukan momentum puncaknya justru di hari-hari akhir bulan suci Ramadan.

Sadar atau tidak, selama sebulan penuh ini Allah sedang menyuruh kita menjadi penggembala. Apa yang kita gembalakan? Bukan ternak, melainkan hewan buas yang bersemayam di dalam diri kita sendiri: hawa nafsu.

Sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, kita memegang erat "tongkat gembala" berupa syariat puasa. Kita menahan lapar, dahaga, amarah, dan syahwat agar "ternak" nafsu kita tidak berlarian merusak kebun pahala.

"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah bertindak bodoh." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sama seperti Mama Ciwedus yang ditempa 12 tahun untuk mencapai futuh, kita pun sedang menjalani riyadhah di madrasah Ramadan. Kita diajarkan tawadhu saat menahan lapar bersama si miskin, kita dilatih siyasah saat mengatur ritme ibadah, dan kita diberi ruang tafakur saat beri'tikaf di penghujung malam.

Kini, wangi kemenangan Idulfitri sudah mulai tercium. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang penggembala bukan saat kawanannya berada di dalam kandang karantina, melainkan apa yang terjadi setelahnya.

Setelah Ramadan pergi dan "tongkat" puasa wajib diletakkan, apakah nafsu yang sudah kita jinakkan sebulan ini akan kembali liar dan buas?

Mari kita gemakan kembali amanat luhur ini di dalam dada, "Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk menggapai langit kemenangan, kadang kita harus berani merendah ke bumi, bersabar menuntun jiwa kita sendiri agar tak tersesat dari jalan-Nya. Selamat merampungkan tugas ngangon di sisa Ramadan ini. Semoga kelak kita kembali menemu fitrah, seutuhnya takluk pada Sang Maha Pencipta.

Laku ngangon adalah mujahadah kita di alam zahir. Menahan lapar dan dahaga puasa adalah mujahadah kita di bulan Ramadan. Dan bagi mereka yang telaten menjadi penggembala bagi nafsunya sendiri, Allah telah menyiapkan hadiah terindah di alam batinnya. Musyahadah, sebuah futuh di mana hijab-hijab duniawi disingkapkan, dan jiwa kembali pulang merengkuh rida Tuhannya.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pancaran sinar pagi menembus jendela kereta yang semakin menghangatkan suasana. Aa Akil tambah pulas tidur alakadarnya yang membuat morongkol. Jaket tebal bulu angsa terus menemani perjalanan kakaretaan ini.

Kereta Cikuray melintasi rute panjang, dari Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Karawang, Bekasi, hingga akhirnya tiba di Pasar Senen.

Setiap stasiun menjadi pertanda titik singgah. Tiap nama memiliki segudang cerita. Dari pemberhentian yang ramai jadi bagian jeda untuk mengingat ihwal perjalanan ini bukan hanya tentang tujuan, melainkan soal proses pulang, kembali bertemu saudara, handai taulan di momen tahunan itu sendiri.

Saat berada di Stasiun Bekasi pukul 11.08, istri memanggil, “Bah, siap-siap… bangunkan Aa Akil.”

Jawabaku, "Muhun," sambil bertanya, “Sanes masih lami ka Senen?”

Ternyata akan turun di Jatinegara, keputusan kecil yang mengubah arah langkah berikutnya, sebab jika ke Senen nanti balik lagi.

Pukul 11.23 tiba di Jatinegara. Perjalanan belum usai. Mari melanjutkan kakaretaan dengan KRL Commuter Line menuju Duri, sempat bolak-balik mencari arah, seperti hidup yang kadang menguji kesabaran atas ketidakpastian yang harus dihadapi, dinikmati, dijalani dan disyukuri.

Dari stasiun Duri, pukul 12.40, berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tangerang. Sambil menunggu, Aa Akil dan Kakang mengamati ikan-ikan di sekitar Stasiun, salah satu hiburan sederhana yang mengajarkan soal kebahagiaan sering hadir dari aktivitas dan pertemuan kecil.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pukul 13.09 tiba di Stasiun Tangerang dan beristirahat sejenak atas penatnya roda kehidupan dan drama mudik tahunan. Kakang yang dari tadi lapar (ingin ngagodin) dengan membeli roti.

Tepat pukul 13.36, setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan dengan mobil aplikasi menuju Gembor, titik akhir dari rangkaian panjang kakaretaan hari ini.

Saat tiba di rumah Nenek yang disambut oleh Kaka Fia, anak pertama tampak raut wajah bahagia ketika bertemu keluarga kecil.

Sesungguhnya, kakaretaan sambil ngabeubeurang yang sampai bukan hanya raga. Ada rasa syukur, kebersamaan, dan kesadaran yang ikut tiba mengiringi perjalanan. Ihwal mudik bukan sekadar perpindahan tempat. Justru perjalanan batin yang berusaha untuk menghadirkan kembali (waktu asali) pada asal, keluarga, kenangan, dan diri sendiri meraih kebahagiaan dan kemenangan hakiki.

Ingat, di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan. Kadang cepat, melambat. Sesekali berhenti sejenak untuk memberi jeda waktu memahami arah biar terarah dan mendapatkan berkah.

Ya selama kita tahu ke mana hendak pulang, bak perjalanan, dengan segala lika-liku kehidupannya akan selalu bersandar pada yang maha kuasa untuk menemukan makna dan keabadian sejati. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)