Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Kakaretaan, Yuk!

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 19 Mar 2026, 10:59 WIB
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Hari ini, Rabu (18/3/2026) petualangan mudik kakaretaan dimulai. Ya, bukan sekadar perpindahan dari satu Stasiun (Gedebage) ke Bandung, lanjut ke Pasar Senen, hingga berakhir di Tangerang, melainkan perjalanan asyik menembus ingatan, rasa, dan harapan yang pelan-pelan tersusun di atas (rel) waktu.

Betapa tidak, pagi yang masih dingin, basah, cebrek akibat guyuran hujan semalam, suara ayam kukuruyuk saling bersahutan milik tetangga. Berempat berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan Rasa, Merawat Asa

Setelah pesen mobil aplikasi yang menunggu di Golden Sata Cibiru, seolah-olah menjadi pengantar awal sebelum benar-benar menyerahkan diri sepenuhnya pada perjalanan panjang bernama mudik.

Jalanan belum sepenuhnya ramai, tetapi bayangan macet jelang Lebaran sudah cukup menjadi alasan untuk memilih jalur kereta api.

Alasan pilihan kakaretaan ini bukan tanpa musabab. Pasalnya, ingin menghadirkan suasana baru, ada keinginan sederhana dari Aa Akil, anak kedua yang berusia 11 tahun. Baginya, kereta api bukan sekadar alat transportasi, melainkan pengalaman berharga.

Bocah kelas 5 ini kerap tak kuat perjalanan jauh dengan mobil yang sering diwarnai mabuk, muntah, dan kelelahan. Kehadiran rel dan gerbong menjadi jawaban atas kenyamanan bisa tidur pulas dan kegembiraan yang luar biasa.

Pukul 05.33 tiba di Stasiun Gedebage. Suasana pagi itu terasa seperti ruang tunggu kehidupan. Beragam orang-orang dengan tujuan berbeda, tapi satu arah yang sama untuk pulang. Kereta lokal yang membawa menuju Stasiun Bandung berangkat pukul 06.25 WIB.

Sambil menunggu, waktu diisi dengan musik dari aplikasi, dan Aa Akil tak henti bertanya, “Kapan berangkat?”

Satu pertanyaan sederhana yang sesungguhnya menyimpan antusiasme yang sulit disembunyikan dan diceritakan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan singkat sekitar 22 menit membawa segudang harapan tiba di Stasiun Bandung. Di sana, waktu terasa melambat. Menunggu keberangkatan menuju Stasiun Pasar Senen dengan Kereta Api Cikuray.

Di sela jeda itu, Aa Akil dan Kakang larut dalam aktivitas kecil yang sering luput dari perhatian orang dewasa, dengan asyik melihat iklan warna-warni, sambil tertawa ringan, dan menikmati detik demi detik tanpa beban.

Posisi duduk di Gerbong 2, kursi 5A, 5B, 6A, dan 6B. Ruang kecil yang untuk tiga-empat jam ke depan akan menjadi rumah singgah tempat percakapan, diam, dan renungan berkelindan.

Kereta berangkat pukul 08.04. Rel mulai berbunyi ritmis bak dzikir panjang yang mengiringi perjalanan.

Dari jendela, lanskap berganti perlahan, ada kota, hamparan sawah, pabrik, sampai perkampungan khas pinggiran rel kereta. Semuanya ibarat fragmen kehidupan yang disusun tanpa banyak bicara dan kata-kata.

Sepanjang perjalanan Aa Akil tidur lebih dahulu dengan pulas, disusul Kakang yang bangun lebih awal dari biasanya dan ikut makan sahur jam 03.00-an.

Alih-alih takut ditinggal mudik dan tidak ketemu Kaka Fia, anak pertama yang sudah pulang dari Pondok Al Kamil, tapi tidak ke Bandung langsung ke Neneknya di Gembor Tangerang.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ngangon Nafsu, Kenali Diri

Saat asyik menulis selama perjalanan naik kereta api, tiba-tiba tulisan renyah dan bergizi hadir lewat (melintas) beranda medsos (facebook) dari Ki Guru, Dadan Rusmana, Dosen UIN Bandung yang berjudul Ngangon (Mengembala): Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput.

Hari ini, kita mungkin tidak lagi memegang tongkat bambu dan menggiring domba di perbukitan. Namun, filosofi ngangon ini menemukan momentum puncaknya justru di hari-hari akhir bulan suci Ramadan.

Sadar atau tidak, selama sebulan penuh ini Allah sedang menyuruh kita menjadi penggembala. Apa yang kita gembalakan? Bukan ternak, melainkan hewan buas yang bersemayam di dalam diri kita sendiri: hawa nafsu.

Sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, kita memegang erat "tongkat gembala" berupa syariat puasa. Kita menahan lapar, dahaga, amarah, dan syahwat agar "ternak" nafsu kita tidak berlarian merusak kebun pahala.

"Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah bertindak bodoh." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sama seperti Mama Ciwedus yang ditempa 12 tahun untuk mencapai futuh, kita pun sedang menjalani riyadhah di madrasah Ramadan. Kita diajarkan tawadhu saat menahan lapar bersama si miskin, kita dilatih siyasah saat mengatur ritme ibadah, dan kita diberi ruang tafakur saat beri'tikaf di penghujung malam.

Kini, wangi kemenangan Idulfitri sudah mulai tercium. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang penggembala bukan saat kawanannya berada di dalam kandang karantina, melainkan apa yang terjadi setelahnya.

Setelah Ramadan pergi dan "tongkat" puasa wajib diletakkan, apakah nafsu yang sudah kita jinakkan sebulan ini akan kembali liar dan buas?

Mari kita gemakan kembali amanat luhur ini di dalam dada, "Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya." (HR. Bukhari & Muslim)

Untuk menggapai langit kemenangan, kadang kita harus berani merendah ke bumi, bersabar menuntun jiwa kita sendiri agar tak tersesat dari jalan-Nya. Selamat merampungkan tugas ngangon di sisa Ramadan ini. Semoga kelak kita kembali menemu fitrah, seutuhnya takluk pada Sang Maha Pencipta.

Laku ngangon adalah mujahadah kita di alam zahir. Menahan lapar dan dahaga puasa adalah mujahadah kita di bulan Ramadan. Dan bagi mereka yang telaten menjadi penggembala bagi nafsunya sendiri, Allah telah menyiapkan hadiah terindah di alam batinnya. Musyahadah, sebuah futuh di mana hijab-hijab duniawi disingkapkan, dan jiwa kembali pulang merengkuh rida Tuhannya.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pancaran sinar pagi menembus jendela kereta yang semakin menghangatkan suasana. Aa Akil tambah pulas tidur alakadarnya yang membuat morongkol. Jaket tebal bulu angsa terus menemani perjalanan kakaretaan ini.

Kereta Cikuray melintasi rute panjang, dari Garut, Cibatu, Leles, Kiaracondong, Bandung, Cimahi, Purwakarta, Karawang, Bekasi, hingga akhirnya tiba di Pasar Senen.

Setiap stasiun menjadi pertanda titik singgah. Tiap nama memiliki segudang cerita. Dari pemberhentian yang ramai jadi bagian jeda untuk mengingat ihwal perjalanan ini bukan hanya tentang tujuan, melainkan soal proses pulang, kembali bertemu saudara, handai taulan di momen tahunan itu sendiri.

Saat berada di Stasiun Bekasi pukul 11.08, istri memanggil, “Bah, siap-siap… bangunkan Aa Akil.”

Jawabaku, "Muhun," sambil bertanya, “Sanes masih lami ka Senen?”

Ternyata akan turun di Jatinegara, keputusan kecil yang mengubah arah langkah berikutnya, sebab jika ke Senen nanti balik lagi.

Pukul 11.23 tiba di Jatinegara. Perjalanan belum usai. Mari melanjutkan kakaretaan dengan KRL Commuter Line menuju Duri, sempat bolak-balik mencari arah, seperti hidup yang kadang menguji kesabaran atas ketidakpastian yang harus dihadapi, dinikmati, dijalani dan disyukuri.

Dari stasiun Duri, pukul 12.40, berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Tangerang. Sambil menunggu, Aa Akil dan Kakang mengamati ikan-ikan di sekitar Stasiun, salah satu hiburan sederhana yang mengajarkan soal kebahagiaan sering hadir dari aktivitas dan pertemuan kecil.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pukul 13.09 tiba di Stasiun Tangerang dan beristirahat sejenak atas penatnya roda kehidupan dan drama mudik tahunan. Kakang yang dari tadi lapar (ingin ngagodin) dengan membeli roti.

Tepat pukul 13.36, setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan dengan mobil aplikasi menuju Gembor, titik akhir dari rangkaian panjang kakaretaan hari ini.

Saat tiba di rumah Nenek yang disambut oleh Kaka Fia, anak pertama tampak raut wajah bahagia ketika bertemu keluarga kecil.

Sesungguhnya, kakaretaan sambil ngabeubeurang yang sampai bukan hanya raga. Ada rasa syukur, kebersamaan, dan kesadaran yang ikut tiba mengiringi perjalanan. Ihwal mudik bukan sekadar perpindahan tempat. Justru perjalanan batin yang berusaha untuk menghadirkan kembali (waktu asali) pada asal, keluarga, kenangan, dan diri sendiri meraih kebahagiaan dan kemenangan hakiki.

Ingat, di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan. Kadang cepat, melambat. Sesekali berhenti sejenak untuk memberi jeda waktu memahami arah biar terarah dan mendapatkan berkah.

Ya selama kita tahu ke mana hendak pulang, bak perjalanan, dengan segala lika-liku kehidupannya akan selalu bersandar pada yang maha kuasa untuk menemukan makna dan keabadian sejati. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 15:02

Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam.

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 18 Mar 2026, 15:01

Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Mudik Lebaran 2025 diprediksi melibatkan 12,74 juta pemudik sepeda motor, menjadikannya salah satu moda transportasi paling dominan di Indonesia.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 13:12

Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 18 Mar 2026, 11:36

Uniknya Pos Terpadu Nagreg, Lebih Mirip Restoran Nuansa Sunda

Pos terpadu di Nagreg tampil unik dengan konsep saung khas Sunda. Dilengkapi WiFi, area bermain anak, dan live music, tempat ini jadi rest area nyaman bagi pemudik.

Pos Terpadu Nagreg (Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 18 Mar 2026, 10:51

Ngabuburit Asyik dengan mobil Remote Control

Komunitas Bansel RC Lost Track mengisi ngabuburit dengan event Ramadan Adventure Ride & Enjoy di Banjaran. Lintasan buatan dan permainan seru membuat suasana lebih santai dan akrab.

Mobil remote control off-road. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)