Hayu Mudik?

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 15 Mar 2026, 08:21 WIB
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jelang Lebaran 1447 H ini, bekerja masih berlangsung hingga Selasa, (17/3/2026). Suasananya terasa sedikit berbeda. Di sela-sela aktivitas ngantor, seorang kawan lama bertanya ringan, seolah-olah mengingatkan pada satu tradisi yang selalu datang setiap akhir Ramadan.

“Hayu mudik. Emang belum liburan? Mudiknya ke Garut, kan?”

Kujawab singkat, “Ka mertua.”

Memang tahun ini rencana mudik bukan ke Bungbulang Garut Pakidulan, melainkan ke Tangerang sambil menjemput Kakak Fia, anak pertama yang sedang mondok di Pesantren Al Kamil.

Sejumlah anak bermain di kawasan Taman Alun-Alun Ujungberung, Kota Bandung pada Selasa, 10 Maret 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah anak bermain di kawasan Taman Alun-Alun Ujungberung, Kota Bandung pada Selasa, 10 Maret 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Rindu Kampung Halaman

Kehadiran mulih ka udik (mudik) selalu memiliki ceritanya sendiri. Mahalnya ongkos perjalanan yang melonjak dari tarif biasa, antrean panjang sejak subuh demi mendapatkan tiket kereta api, kapal laut, hingga berdesakan (bahkan) berdiri di angkutan umum. Semuanya seakan-akan bukan penghalang.

Pasalnya, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar perjalanan pulang. Kerinduan pada kampung halaman, mengulang waktu asali, asal usul kehidupan.

Tradisi ini telah mengakar lama. Silaturahmi, saling memaafkan, berbagi makanan, hingga halal bihalal setelah Lebaran menjadi penanda masyarakat yang menjaga adab dan keimanan yang kokoh.

Dalam tradisi itulah manusia seperti diingatkan soal hakikat dirinya. Menjalani kehidupan tidak hanya tentang dunia yang dapat dikejar.

Budaya Sunda, Jakob Sumardjo pernah menuliskan, “Harta dunia ini bisa dicari, tetapi berkah rohani munggah dan mudik itu tak bisa dibeli.”

Mudik, bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan (perjalanan) kerinduan batin. Pulang untuk meminta maaf kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi dengan saudara dan handai tolan.

Pekan-pekan menjelang Lebaran, sebagian masyarakat biasanya sudah berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan yang kerap terjadi pada H-5 hingga H-1.

Gelombang pemudik yang besar sering memadati jalur-jalur utama. Perilaku pengendara yang kurang tertib, pasar tumpah di pinggir jalan, hingga keterbatasan infrastruktur membuat perjalanan mudik kerap menjadi ujian kesabaran tersendiri. (Pikiran Rakyat, 7/10/2006 dan Tajuk Rencana Pikiran Rakyat, 22/8/2007)

Ingat, tradisi mudik tetap bertahan kuat. Peneliti asal Denmark, Andre Moller, selama tiga tahun meneliti fenomena Ramadan di Yogyakarta dan Blora, Jawa Tengah. Dengan menemukan fakta tradisi pulang ke udik melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat Muslim perkotaan. Mudik telah menjadi ritus sosial yang melampaui sekadar perjalanan (rutinitas) tahunan.

Pemerintah setiap tahun mempersiapkan berbagai moda transportasi tambahan untuk mengangkut jutaan pemudik yang bergerak hampir serentak.

Menariknya, ada dua alasan utama mengapa orang Indonesia begitu “menikmati” mudik. Pertama, kerinduan untuk bertemu orang tua, kerabat, dan sahabat, sekaligus saling memaafkan dan membersihkan diri dari kesalahan. Kedua, ada pula dimensi sosial, ketika sebagian perantau ingin menunjukkan keberhasilannya setelah bekerja keras selama setahun di kota.

Keberhasilan itu seringkali tampak dari oleh-oleh yang dibawa pulang, hadiah untuk keluarga, uang (angpao) yang dibagikan kepada kerabat dan anak-anak di kampung. Pemandangan berbagi rezeki seperti ini sudah menjadi bagian yang akrab dari suasana Lebaran. (Andre Moller, 2005: 322-324).

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mudik Aman Keluarga Bahagia

Dalam laporan Kompas TV, Jumat (13/3/2026, 10:18 WIB) disebutkan data dari Badan Kebijakan Transportasi (Baketrans) Kementerian Perhubungan memprakirakan puncak arus mudik Lebaran 2026 terjadi pada H-3 Rabu (18/3/2026).

Sebanyak 21,97 juta orang (15,26 persen) dari total pemudik akan melakukan perjalanan secara bersamaan.

Secara nasional, hasil survei Baketrans menunjukkan sebanyak 143,92 juta orang (50,6 persen) penduduk Indonesia berencana melakukan perjalanan selama periode libur Idulfitri 1447 Hijriah. Untuk puncak arus balik diprediksi jatuh pada H+6, Jumat, (27/3/2026).

Mari kita bandingkan dengan liputan Pikiran Rakyat bertajuk Jelang Mudik, Polda Jabar Unjuk Kekuatan. Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat ber­sama Pemerintah Provinsi Jabar, Kamis (12/3/2026), menyiagakan penuh kekuatan untuk mengamankan arus mudik dan balik Lebaran 2026.

Sinergitas yang ditandai dengan pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2026 ini dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat.

Kapolda Jabar Inspektur Jenderal Rudi Setiawan mengungkapkan, Operasi Ketupat Lodaya yang mengedepankan Mudik Aman Keluarga Bahagia akan bergulir mulai Jumat, (13/3/2026) pukul 00.00 hingga Rabu (25/3/ 2026).

"Semua masyarakat Jawa Barat yang melaksanakan mudik, maupun masyarakat dari daerah lain yang melintas di sini, semuanya harus aman. Aman di jalan raya, tempat wisata, tempat ibadah, dan aman dari segala macam bencana. Karena aman, maka­nya keluarga bahagia"

Berdasarkan pemetaan kepolisian, puncak arus mudik diprediksi terjadi dalam dua gelombang: pada akhir pekan ini (Sabtu dan Minggu) serta pada 19-20 Maret. Untuk arus balik diperkirakan mulai padat secara bergelombang pada 24-27 Maret 2026.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memaparkan sejumlah langkah taktis untuk memastikan kelancaran lalu lintas. Salah satu kebijakan yang diapresiasi oleh pihak kepolisian adalah pemberian kompensasi finansial kepada para pengemudi angkutan kota (angkot), andong, dan becak yang kerap beroperasi di titik-titik rawan kemacetan.

"Hari ini (kemarin) saya sudah cek ke Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah Provinsi Jawa Barat, seluruh uang (kompensasi) sudah mulai terdistribusi malam ini dan besok ditargetkan selesai semuanya. Jadi, mereka sementara waktu beristirahat, tetap dapat uang, dan lalu lintas bisa lancar" (Pikiran Rakyat, Jumat 13 Maret 2026).

Program Mudik Gratis Provinsi Jawa Barat 2026 di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Program Mudik Gratis Provinsi Jawa Barat 2026 di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan yang Tak Bisa Dibeli

Sore yang cerah itu, saat saya asyik membaca koran tentang mudik dengan segala keunikannya, tiba-tiba Aa Akil, anak kedua (11 tahun), berkata, “Uang bisa dicari, materi bisa dibeli, tapi mudik bareng keluarga tidak bisa dibeli.”

Sambil mendekat dan menatap, bocah kecil itu berkata, “Benar kan, Bah? Jadi mudik pakai kereta.”

"Muhun" jawabku. Memang tahun ini berencana mudik naik kereta dari Stasiun Bandung. Namun lebih dari sekadar perjalanan, mudik adalah momen langka untuk berkumpul dengan orang tua, saudara, dan keluarga dalam suasana Lebaran.

Baca Juga: Lebaran 'Fashion Show' Terbesar Setiap Tahun

Uang bisa dicari kapan saja. Tetapi kesempatan berkumpul dalam keadaan sehat dan penuh kehangatan tidak selalu datang dua kali.

Mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Justru perjalanan (napak tilas) batin yang berusaha menghidupkan kembali silaturahmi, mengingat akar, dan merasakan (merayakan) kekayaan sejati pada kebersamaan dengan orang-orang tercinta.

Walhasil, mudik adalah cara manusia mengingat dari mana datang, kepada siapa berutang kasih sayang, dan ke mana sebenarnya akan pulang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)