Ulah Unggut Kalinduan Bila Dimaknai sebagai Upaya Mitigasi Gempa Bumi

5 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari nama geografis ini menunjukkan kampung ini pernah diguncang gempabumi yang membuat pusing dan mual. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Dari nama geografis ini menunjukkan kampung ini pernah diguncang gempabumi yang membuat pusing dan mual. (Sumber: Citra satelit: Google maps)

Peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, merupakan ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang kuat godaan atau tahan uji. Walau digoyang lindu, digoyang gempabumi, terangguk pun tidak. 

Lahirnya kata-kata bijak dan filosofis yang mewujud dalam peribahasa Sunda ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan, pastilah orang yang pernah mengalami langsung diguncang gempabumi dan ditiup anginpuyuh. Lalu dia mengkristalkannya menjadi peribahasa, sebagai kompas hidup bermasyarakat.

Kenampakan rona bumi Tatar Sunda saat ini yang bergunung-gunung, dengan torehan sungai yang dalam sampai di dasar lembah, dengan gawir yang tegak memanjang curam. Semuanya itu menyiratkan, bahwa di dalam kulit buminya terdapat garis-garis patahan atau sesar yang silang-siur memanjang dari satu tempat ke tempat lainnya. Adanya patahan-patahan inilah yang menyebabkan getaran gempa dapat merambat sampai jauh. Magma dapat menerobos kulit bumi membentuk gunung-gunung, dan panas buminya menembus batuan hingga ke permukaan, memanaskan air tanah, keluar menjadi sumber air panas. Panas magma yang menjalar dapat mencairkan beragam logam dalam batuan, memanaskan endapan membentuk batu mulia yang beragam kekuatan dan keindahannya. Rona Bumi Tatar Sunda ini seperti yang sekarang, tidaklah sudah terbentuk sejak awal. Tapi, dinamika bumi Jawa Baratlah yang membentuk keadaan itu. 

Satu dari sekian banyak gejala kebumian yang menjadi topik tulisan ini adalah lini, lindu, atau gempabumi. Gempabumi pernah menggoyang wilayah-wilayah di Tatar Sunda dari waktu ke waktu. Kemungkinan besar masyarakat pernah mengalami goyangan gempabumi, besar atau kecil, selama dalam hidupnya. Inilah beberapa bukti kejadian gempa bumi yang terjadi di beberapa daerah yang dicatat dalam berita koran pada masa kolonial.

Senin, 15 Januari 1900, gempa bumi dahsyat terjadi di Sukabumi, yang mengakibatkan banyak bangunan tidak dapat dihuni, namun tidak ada korban jiwa (Algemeen Handelsblad, 16-01-1900). Rumah-rumah, terutama gedung-gedung pemerintah rusak parah dan tidak layak huni. Penduduk mengungsi (The Locomotive, 16 Januari 1900).

Baca Juga: Toponimi Kampung Muril: Serasa Berputar karena Gempa Sesar Lembang

Gempabumi terjadi di Cirebon pada sore hari tanggal 11 Februari 1903. Guncangan horizontal yang cukup kuat (The Locomotive, 27 Februari 1903).

Gempabumi terjadi tanggal 27 Juli 1906 sekitar pukul lima pagi, dirasakan cukup lama di Bandung, cukup kuat dirasakan di Lembang dan Malabar. Gempabumi juga terasa ringan di Garut dan Bogor pukul 5:10 (Land en volk, 29 Agustus 1906).

Gempabumi yang terjadi di Majalengka tanggal 18 Oktober 1912, menyebabkan di beberapa tempat telah ambles sekitar 5 cm, dan jalan menuju Madja telah naik 1,5 meter. (Bataviaasch Nieuwsblad, 19 Oktober 1912).

Gempabumi terjadi Bandung 12 Agustus 1913 sekitar pukul 12.45. Gempabumi dirasakan kuat di Lembang, yang berlangsung sekitar satu menit (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 13 Agustus 1913). 

Pada tanggal 2 Juni 1914 pukul 11.50 malam, Garut diguncang gempa bumi kuat (Bataviaasch Nieuwsblad, 3 Juni 1914). Tanggal 3 Juni 1914 gempabumi yang kuat kembali dirasakan di Bandung, juga dirasakan di Sumedang (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 05-06-1914).

Pada tanggal 4 Februari 1916, gempabumi yang terasa di Bandung telah dikonfirmasi oleh seismograf di Malabar (Bataviaasch Nieuwsblad, 5 Februari 1916). Pukul 6 sore tanggal 1 Oktober 1918, terjadi gempa bumi yang sangat kuat, tercatat seismograf di Malabar (De Locomotief, 2 Oktober 1918).

Gempabumi terjadi di Bandung tanggal 24 November 1924 pukul 03.20. Observatorium di Malabar merasakan guncangan yang cukup hebat. Pada tanggal yang sama, gempabumi juga terjadi di Selat Sunda (Algemeen Handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 25-11-1924).

Gempabumi terjadi 2 November 1925, pukul 12:19 siang, dengan episentrum sekitar 500 km dari Bandung. Waktu gempa 2 menit (De Locomotief, 03-11-1925). Gempabumi terasa kuat di Bandung, pada 13 Februari 1926 pukul 5.00 pagi. Episentrumnya berjarak 240 kilometer dari Bandung, dengan durasi dua menit (Algemeen handelsblad voor Nederlandsch-Indië, 15 Februari 1926).

Gempabumi di Ngamplang, Garut, dirasakan sangat kuat, terjadi pada tanggal 8 Oktober 1927. Gempabumi yang berkepanjangan, sehingga para tamu hotel yang berada di ruang makan berhamburan diri ke luar (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 10 Oktober 1927).

Dan, sudah sejak lama, masyarakat Sunda memberikan nama tempat sesuai dengan peristiwa kebumian yang terjadi di lokasi itu. Toponim yang berkaitan dengan gempa bumi, misalnya, ada Cieundeur di Cianjur, yang bermakna desa itu pernah diguncang gempa besar yang merusak bangunan. Di Kabupaten Bandung Barat terdapat toponim Kampung Muril dan Kampung Gadogmuril.

Kembali ke peribahasa ulah unggut kalinduan, dalam arti yang sesungguhnya, merupakan upaya mengingatkan, upaya mitigasi gempabumi yang seharusnya terus diajarkan kepada masyarakat di Tatar Sunda. Upaya mengajarkan mitigasi dengan cara mengenali berapa kekuatan gempa bumi, berapa besar kerusakannya, berapa korban jiwa, adakah retakan, rekahan, amblesan, dll. Setelah mengenali akibat gempa bumi yang ditimbulkan, disusun skenario upaya apa yang harus dilakukan secara terus bertahap, menerus, agar peristiwa kebumian itu tidak menimbulkan korban jiwa dengan kerusakan besar.

Misalnya, bagaimana membangun rumah, gedung, pabrik, sekolah, tempat ibadah, jembatan, jalan raya, jalan tol, jalan layang, bendungan, pasar raya, rel kereta api, tempat wisata pantai, dan lain-lain dengan konstruksi bangunan yang tahan gempabumi, dan memperhitungkan ancaman tsunami bila berada di pantai. Apalagi bila di teluk, di muara sungai, di pantai yang datar, dll.

Mitigasi merupakan upaya, merupakan jawaban yang harus terus dilaksanakan. Apa yang harus diperbuat sebelum, pada saat, dan setelah gempa bumi terjadi. Kejadian gempa bumi itu sangat singkat, menimbulkan mual, pusing, dan dapat merobohkan bangunan, membengkokkan rel kereta api, mengambrukkan jembatan, membobol bendungan, melongsorkan tebing, dan menimbulkan korban jiwa.

Peribahasa ulah unggut kalinduan dapat juga dimaknai dalam arti yang sesungguhnya, karena sangat berkaitan, sangat berhubungan dengan upaya mitigasi gempabumi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)