Cincin Api Pasifik dan Negara Rawan Gempa Bumi

4 menit baca
Suhendi Al Wasim
Ditulis oleh Suhendi Al Wasim diterbitkan
Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)
Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)

Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat gempa bumi tertinggi di dunia.

Hampir setiap tahun, bahkan setiap bulan, masyarakat Jepang merasakan guncangan dengan skala yang beragam, mulai dari yang ringan hingga merusak.

Kondisi ini sering memunculkan pertanyaan, terutama dari masyarakat luar Jepang.

Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat Jepang tidak hanya sebagai negara maju dengan teknologi tinggi.

Akan tetapi, sebagai wilayah yang secara geografis berada di posisi yang sangat rawan bencana alam.

Penjelasan berikut akan menguraikan penyebab gempa bumi di Jepang secara bertahap, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Apa Faktor Terjadinya Gempa di Jepang?

Terdapat beberapa penyebab mengapa Negeri Sakura tersebut sering mengalami bencana gempa bumi.

1. Letak Geografis Jepang yang Sangat Aktif Secara Tektonik

Secara umum, penyebab utama gempa bumi di Jepang berkaitan erat dengan posisi geografisnya.

Jepang terletak di kawasan yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire.

Wilayah ini merupakan jalur panjang di sekitar Samudra Pasifik yang sangat aktif secara geologi.

Cincin Api Pasifik menjadi tempat bertemunya berbagai lempeng tektonik besar dunia.

Akibatnya, aktivitas gempa dan gunung berapi di kawasan ini jauh lebih sering dibandingkan wilayah lain.

2. Pertemuan Beberapa Lempeng Tektonik

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik.

Jepang berada di titik pertemuan empat lempeng besar, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara.

Pertemuan empat lempeng ini membuat tekanan di bawah permukaan bumi terus menumpuk.

Ketika tekanan tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi.

Inilah alasan utama mengapa Jepang mengalami gempa dengan frekuensi tinggi.

3. Proses Subduksi yang Terus Berlangsung

Selain bertemunya lempeng, Jepang juga berada di zona subduksi. Subduksi adalah proses ketika satu lempeng bergerak menekan dan masuk ke bawah lempeng lainnya.

Proses ini tidak terjadi dalam hitungan hari atau bulan, melainkan berlangsung selama jutaan tahun.

Namun, pergerakan yang lambat ini justru menyimpan energi besar. Ketika energi tersebut dilepaskan, guncangan yang terjadi bisa sangat kuat.

Oleh karena itu, banyak gempa besar di Jepang berasal dari gempa subduksi di bawah laut.

4. Aktivitas Gunung Berapi yang Tinggi

Selain gempa tektonik, Jepang juga memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi.

Tercatat, Jepang memiliki lebih dari 100 gunung berapi aktif, menjadikannya salah satu negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia.

Keberadaan gunung berapi ini masih berkaitan dengan posisi Jepang di Cincin Api Pasifik.

Aktivitas magma di bawah permukaan bumi dapat memicu gempa vulkanik, meskipun skalanya umumnya lebih kecil dibandingkan gempa tektonik.

5. Hubungan Gunung Berapi dan Gempa Bumi

Sebelum magma mencapai permukaan, biasanya terjadi tekanan dan pergerakan batuan di dalam bumi. Proses ini sering menimbulkan gempa kecil sebagai tanda awal aktivitas vulkanik.

Meskipun tidak selalu berbahaya, gempa jenis ini tetap menunjukkan bahwa wilayah Jepang secara alami sangat aktif dan dinamis dari sisi geologi.

6. Kondisi Jepang yang Didominasi Lautan

Faktor lain yang memperbesar risiko gempa di Jepang adalah kondisi geografisnya sebagai negara kepulauan. Sebagian besar gempa kuat di Jepang justru terjadi di bawah laut.

Ketika gempa bawah laut terjadi, dampaknya tidak hanya berupa guncangan di darat, tetapi juga berpotensi memicu tsunami.

Peristiwa gempa dan tsunami besar tahun 2011 menjadi contoh nyata bagaimana gempa bawah laut dapat membawa dampak luas.

7. Potensi Tsunami Akibat Gempa Besar

Sebelum masuk ke pembahasan lebih teknis, perlu dipahami bahwa tidak semua gempa memicu tsunami.

Namun, gempa besar yang terjadi di dasar laut dan menyebabkan pergeseran vertikal lempeng memiliki potensi tinggi untuk memindahkan massa air laut.

Perpindahan air laut inilah yang kemudian membentuk gelombang tsunami dan bergerak menuju daratan dengan kecepatan tinggi.

Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)
Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)

Mengapa Jepang Tetap Aman untuk Ditinggali?

Melihat tingginya frekuensi gempa, banyak orang bertanya-tanya mengapa Jepang tetap menjadi negara yang aman dan nyaman untuk ditinggali.

Jawabannya terletak pada kesiapan sistem dan budaya mitigasi bencana.

Jepang telah lama hidup berdampingan dengan gempa bumi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakatnya membangun sistem peringatan dini, standar bangunan tahan gempa, serta edukasi kebencanaan sejak usia dini.

Sebelum gempa besar terjadi, sistem peringatan dini di Jepang mampu mendeteksi gelombang awal dan memberikan peringatan beberapa detik hingga menit sebelumnya. Waktu singkat ini sangat berharga untuk menyelamatkan diri.

Selain itu, bangunan di Jepang dirancang dengan teknologi peredam guncangan yang mampu mengurangi kerusakan dan korban jiwa secara signifikan.

Baca Juga: Mengapa Banyak Anak Muda Indonesia Memilih Jepang sebagai Tujuan Karier?

Berdasarkan penjelasan di atas, jawaban dari pertanyaan mengapa di Jepang sering terjadi gempa bumi terletak pada kombinasi faktor geografis dan geologis.

Jepang berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, termasuk zona subduksi, serta masuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik.

Ditambah dengan banyaknya gunung berapi aktif dan kondisi negara kepulauan yang dikelilingi laut, Jepang secara alami memiliki risiko gempa yang tinggi.

Namun, melalui teknologi, edukasi, dan kesiapan masyarakat, Jepang mampu meminimalkan dampak buruk dari bencana tersebut dan tetap menjadi salah satu negara paling maju dan aman di dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)