Cincin Api Pasifik dan Negara Rawan Gempa Bumi

Suhendi Al Wasim
Ditulis oleh Suhendi Al Wasim diterbitkan Jumat 20 Feb 2026, 14:25 WIB
Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)

Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)

Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat gempa bumi tertinggi di dunia.

Hampir setiap tahun, bahkan setiap bulan, masyarakat Jepang merasakan guncangan dengan skala yang beragam, mulai dari yang ringan hingga merusak.

Kondisi ini sering memunculkan pertanyaan, terutama dari masyarakat luar Jepang.

Untuk memahami jawabannya, kita perlu melihat Jepang tidak hanya sebagai negara maju dengan teknologi tinggi.

Akan tetapi, sebagai wilayah yang secara geografis berada di posisi yang sangat rawan bencana alam.

Penjelasan berikut akan menguraikan penyebab gempa bumi di Jepang secara bertahap, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Apa Faktor Terjadinya Gempa di Jepang?

Terdapat beberapa penyebab mengapa Negeri Sakura tersebut sering mengalami bencana gempa bumi.

1. Letak Geografis Jepang yang Sangat Aktif Secara Tektonik

Secara umum, penyebab utama gempa bumi di Jepang berkaitan erat dengan posisi geografisnya.

Jepang terletak di kawasan yang dikenal sebagai Cincin Api Pasifik atau Pacific Ring of Fire.

Wilayah ini merupakan jalur panjang di sekitar Samudra Pasifik yang sangat aktif secara geologi.

Cincin Api Pasifik menjadi tempat bertemunya berbagai lempeng tektonik besar dunia.

Akibatnya, aktivitas gempa dan gunung berapi di kawasan ini jauh lebih sering dibandingkan wilayah lain.

2. Pertemuan Beberapa Lempeng Tektonik

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk memahami bahwa gempa bumi terjadi akibat pergerakan lempeng tektonik.

Jepang berada di titik pertemuan empat lempeng besar, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara.

Pertemuan empat lempeng ini membuat tekanan di bawah permukaan bumi terus menumpuk.

Ketika tekanan tersebut dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi.

Inilah alasan utama mengapa Jepang mengalami gempa dengan frekuensi tinggi.

3. Proses Subduksi yang Terus Berlangsung

Selain bertemunya lempeng, Jepang juga berada di zona subduksi. Subduksi adalah proses ketika satu lempeng bergerak menekan dan masuk ke bawah lempeng lainnya.

Proses ini tidak terjadi dalam hitungan hari atau bulan, melainkan berlangsung selama jutaan tahun.

Namun, pergerakan yang lambat ini justru menyimpan energi besar. Ketika energi tersebut dilepaskan, guncangan yang terjadi bisa sangat kuat.

Oleh karena itu, banyak gempa besar di Jepang berasal dari gempa subduksi di bawah laut.

4. Aktivitas Gunung Berapi yang Tinggi

Selain gempa tektonik, Jepang juga memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi.

Tercatat, Jepang memiliki lebih dari 100 gunung berapi aktif, menjadikannya salah satu negara dengan jumlah gunung berapi terbanyak di dunia.

Keberadaan gunung berapi ini masih berkaitan dengan posisi Jepang di Cincin Api Pasifik.

Aktivitas magma di bawah permukaan bumi dapat memicu gempa vulkanik, meskipun skalanya umumnya lebih kecil dibandingkan gempa tektonik.

5. Hubungan Gunung Berapi dan Gempa Bumi

Sebelum magma mencapai permukaan, biasanya terjadi tekanan dan pergerakan batuan di dalam bumi. Proses ini sering menimbulkan gempa kecil sebagai tanda awal aktivitas vulkanik.

Meskipun tidak selalu berbahaya, gempa jenis ini tetap menunjukkan bahwa wilayah Jepang secara alami sangat aktif dan dinamis dari sisi geologi.

6. Kondisi Jepang yang Didominasi Lautan

Faktor lain yang memperbesar risiko gempa di Jepang adalah kondisi geografisnya sebagai negara kepulauan. Sebagian besar gempa kuat di Jepang justru terjadi di bawah laut.

Ketika gempa bawah laut terjadi, dampaknya tidak hanya berupa guncangan di darat, tetapi juga berpotensi memicu tsunami.

Peristiwa gempa dan tsunami besar tahun 2011 menjadi contoh nyata bagaimana gempa bawah laut dapat membawa dampak luas.

7. Potensi Tsunami Akibat Gempa Besar

Sebelum masuk ke pembahasan lebih teknis, perlu dipahami bahwa tidak semua gempa memicu tsunami.

Namun, gempa besar yang terjadi di dasar laut dan menyebabkan pergeseran vertikal lempeng memiliki potensi tinggi untuk memindahkan massa air laut.

Perpindahan air laut inilah yang kemudian membentuk gelombang tsunami dan bergerak menuju daratan dengan kecepatan tinggi.

Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)
Ilustrasi bekerja di Jepang. (Sumber: Pexels | Foto: Ryan Lee)

Mengapa Jepang Tetap Aman untuk Ditinggali?

Melihat tingginya frekuensi gempa, banyak orang bertanya-tanya mengapa Jepang tetap menjadi negara yang aman dan nyaman untuk ditinggali.

Jawabannya terletak pada kesiapan sistem dan budaya mitigasi bencana.

Jepang telah lama hidup berdampingan dengan gempa bumi. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakatnya membangun sistem peringatan dini, standar bangunan tahan gempa, serta edukasi kebencanaan sejak usia dini.

Sebelum gempa besar terjadi, sistem peringatan dini di Jepang mampu mendeteksi gelombang awal dan memberikan peringatan beberapa detik hingga menit sebelumnya. Waktu singkat ini sangat berharga untuk menyelamatkan diri.

Selain itu, bangunan di Jepang dirancang dengan teknologi peredam guncangan yang mampu mengurangi kerusakan dan korban jiwa secara signifikan.

Baca Juga: Mengapa Banyak Anak Muda Indonesia Memilih Jepang sebagai Tujuan Karier?

Berdasarkan penjelasan di atas, jawaban dari pertanyaan mengapa di Jepang sering terjadi gempa bumi terletak pada kombinasi faktor geografis dan geologis.

Jepang berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif, termasuk zona subduksi, serta masuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik.

Ditambah dengan banyaknya gunung berapi aktif dan kondisi negara kepulauan yang dikelilingi laut, Jepang secara alami memiliki risiko gempa yang tinggi.

Namun, melalui teknologi, edukasi, dan kesiapan masyarakat, Jepang mampu meminimalkan dampak buruk dari bencana tersebut dan tetap menjadi salah satu negara paling maju dan aman di dunia. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Suhendi Al Wasim
Mahasiswa Politeknik Siber Cerdika Internasional dan Penulis Seputar Negeri Sakura

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Feb 2026, 21:17 WIB

5 Aktivitas Ngabeubeurang yang Berfaedah

Dengan melakukan aktivitas ngabeubeurang, kita belajar ihwal puasa bukan sekadar ritual tahunan.
Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 18:55 WIB

Dari Godin hingga Nyemen, 5 Istilah Lokal untuk Batal Puasa

Istilah untuk membatalkan puasa sebelum waktunya, baik secara diam-diam maupun sengaja.
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)
Bandung 20 Feb 2026, 16:48 WIB

Rasa Legit Klepon di Tengah Munculnya Takjil Modern, Rana Rusmana Pilih Bertahan Sejak 2006

Klepon bukan sekedar jajanan kue basah biasa yang kerap ditemui di area pasar kaget saja, namun keberadaannya sudah dikenal dalam potret gastronomi nusantara pada masa-masa tradisional.
Klepon bukan sekedar jajanan kue basah biasa yang kerap ditemui di area pasar kaget saja, namun keberadaannya sudah dikenal dalam potret gastronomi nusantara pada masa-masa tradisional. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 16:14 WIB

Benarkah Guru Honorer Sudah Sejahtera?

Realitas memaparkan, masih banyak guru honorer yang gajinya di bawah standar.
Gambar mengajar di kelas (Sumber: / | Foto: pixabay.com)
Bandung 20 Feb 2026, 16:10 WIB

Wangi Uang Baru di Tanah Pasundan: Menjaga Tradisi "Deudeul" saat Lebaran di Tengah Arus Digitalisasi

Lembaran Rupiah yang masih kaku dan bersih bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kehormatan dalam tradisi deudeul atau memberikan uang jajan kepada sanak saudara saat Lebaran.
Lembaran Rupiah yang masih kaku dan bersih bukan sekadar alat tukar, melainkan simbol kehormatan dalam tradisi deudeul atau memberikan uang jajan kepada sanak saudara saat Lebaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 14:25 WIB

Cincin Api Pasifik dan Negara Rawan Gempa Bumi

Jepang dikenal sebagai negara maju dengan teknologi canggih, namun juga kerap diguncang gempa bumi.
Ilustrasi rumah setelah bencana gempa bumi. (Sumber: Pixabay/Angelo_Giordano)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 12:48 WIB

Lingkaran Setan Proyek Utilitas Kota dan Optimasi Padat Karya Pekerjaan Umum

Menyambut bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri, persoalan proyek utilitas kota Bandung perlu segera dituntaskan.
Ilustrasi galian kabel di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 10:43 WIB

Jejak Bahasa Ramadan, Harmoni Arab dan Lokal dalam Religiusitas

Kosakata Ramadan di Indonesia sebenarnya terbagi dalam dua arus besar.
Masjid Al-Jabbar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 20 Feb 2026, 06:39 WIB

Baru Lahir, @ceritahegarmanah Langsung Tancap Gas Angkat UMKM dan Cerita Warga Lokal

Hegarmanah—yang dalam bahasa Sunda berarti hati yang bersih dan tulus—pelan-pelan menemukan wajah digitalnya.
Wina Elia, admin homeless media @ceritahegarmanah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Feb 2026, 05:34 WIB

Berkat Teknologi Retort Industri Makanan Kian Berkembang

Perkembangan teknologi retort di Kota Bandung saat ini pesat karena didorong oleh inovasi kuliner
Ilustrasi menu makanan hasil teknologi retort. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 18:51 WIB

Hari Pekerja: Nestapa Lansia Tertatih Menyambung Kehidupan tanpa Jaminan Sosial

Selain lansia pekerja informal, mantan pekerja formal pun jika sudah pensiun kondisinya juga banyak yang memprihatinkan.
Ilustrasi pekerja lansia (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 16:01 WIB

Ikhtiar Memuliakan Guru dan Menjemput Fajar Kesejahteraan Honorer

Opini tentang urgensi kesejahteraan guru honorer & kebijakan Kemendikdasmen 2026.
Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 15:00 WIB

Kosakata Khas Ramadan yang Murni Berasal dari Bahasa Arab, Memahami Makna Asli

Beberapa istilah berakar dari bahasa Arab yang paling sering terdengar selama Ramadan
Ilustrasi nuansa khas budaya Arab. (Sumber: Unsplash | Foto: Anis Coquelet)
Bandung 19 Feb 2026, 13:59 WIB

Ngabuburit di Istiqamah, Surga Takjil Legendaris di Jantung Kota Bandung

Ngabuburit sembari berburu takjil dan minuman manis telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari denyut nadi warga Kota Kembang setiap sorenya.
Ilustrasi. Ngabuburit sembari berburu takjil dan minuman manis telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari denyut nadi warga Kota Kembang setiap sorenya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 13:37 WIB

Bank Sampah RESIK 04: Inisiatif Warga Pinggiran Kota di Tengah Krisis Sampah Bandung

Krisis sampah di Kota Bandung mendorong lahirnya Bank Sampah RESIK 04 di RW 04 Cipadung Kulon.
Pengurus Bank Sampah Resik 04 (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Alpian)
Bandung 19 Feb 2026, 13:07 WIB

Aseupan di Tengah Gaya Hidup Sehat Masyarakat Bandung, Takjil Sehat Murah Meriah ala Dewi Hanya Rp2000-an

Topik soal mengurangi minyak hingga ke tema mindful eating di kalangan generasi muda kian menyebar secara positif, hingga membentuk pola kampanye menyelamatkan diri dari risiko penyakit sejak dini.
Dewi (19) berinisiatif untuk berjualan makanan yang hanya direbus tanpa adanya penambahan MSG atau bahan pengawet lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 19 Feb 2026, 11:54 WIB

Kreativitas Tanpa Batas Yogi Studio Membawa Nama Bandung ke Panggung Mode Dunia

Kisah Yogi Studio by The Blew diharapkan dapat memberi motivasi bagi UMKM lain untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Kisah Yogi Studio by The Blew diharapkan dapat memberi motivasi bagi UMKM lain untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 11:17 WIB

Gandok, Jejak Longsor Masa Lalu

Nama geografis Gandok ada di semua Kabupaten dan Kota di Jawa Barat.
Terlihat jelas Lengkungan Ci Kapundung, karena adanya desakan longsor dari arah barat, yang membentuk jarikaki longsor, yang sama dengan lebar lengkungan itu. (Heritage Collection | Peta 1910 Bandoeng en omstreken/Topographische Inrichting)
Beranda 19 Feb 2026, 08:49 WIB

Polusi Udara di Cekungan Bandung Raya Lewati Ambang Batas, Transportasi Publik Jadi Kebutuhan Mendesak

Di Cekungan Bandung, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, menyebut hampir seluruh parameter pencemar udara sudah melewati ambang batas
Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)