Ikhtiar Memuliakan Guru dan Menjemput Fajar Kesejahteraan Honorer

Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan Kamis 19 Feb 2026, 16:01 WIB
Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)

Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)

Dalam setiap narasi kemajuan sebuah bangsa, ada sosok yang jarang tampil di panggung utama namun perannya paling menentukan: guru. Mengajar bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah kemuliaan yang menuntut dedikasi penuh untuk membentuk karakter generasi masa depan. Namun, di balik kemuliaan itu, kita masih menghadapi kenyataan tentang nasib para guru honorer. Mereka adalah garda terdepan yang mengisi kekosongan ruang kelas di pelosok negeri, sering kali dengan beban kerja yang setara dengan guru ASN, namun dengan kompensasi yang selama ini belum sepenuhnya ideal. Guru honorer sering kali menjadi "pahlawan dalam sunyi" yang menjaga agar lonceng sekolah tetap berbunyi meski di tengah keterbatasan.

Paradoks ini sudah berlangsung lama. Di satu sisi, guru honorer memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan sistem pendidikan nasional. Tanpa mereka, banyak sekolah di Indonesia akan mengalami kelumpuhan operasional. Di sisi lain, mereka sering terjebak dalam ketidakpastian status dan penghasilan yang kadang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum. Ketimpangan fiskal antar-daerah menambah beban ini, di mana nasib guru sangat bergantung pada kemampuan APBD masing-masing daerah yang tidak seragam. Namun, memasuki tahun 2026, kita melihat sebuah ikhtiar nyata dari pemerintah untuk memutus rantai ketidakpastian ini melalui serangkaian kebijakan yang lebih manusiawi dan terukur. Ini adalah langkah berani untuk memastikan bahwa kesejahteraan bukan lagi sekadar janji, melainkan hak yang diterima secara nyata.

Secara hukum, hak guru atas penghidupan yang layak sebenarnya sudah dijamin oleh konstitusi kita. Dalam Pasal 28D ayat (2) UUD 1945, ditegaskan bahwa setiap orang berhak bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dalam hubungan kerja. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen juga dengan tegas menyatakan bahwa guru berhak atas penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Inilah yang menjadi landasan moral bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk tidak hanya menuntut profesionalisme, tapi juga memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang nyata sebagai bentuk keadilan sosial. Jika kita sepakat bahwa pendidikan adalah hak asasi, maka menyejahterakan gurunya adalah kewajiban asasi negara yang tidak bisa ditawar.

Ilustrasi murid dan guru di Indonesia. (Sumber: Pixabay | Foto: Syahdannugraha)
Ilustrasi murid dan guru di Indonesia. (Sumber: Pixabay | Foto: Syahdannugraha)

Langkah Strategis Kemendikdasmen dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Pemerintah menyadari bahwa visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua" mustahil tercapai jika fondasi dasarnya, yaitu kesejahteraan guru masih goyah. Oleh karena itu, di tahun 2026 ini, Kemendikdasmen melakukan lompatan besar dengan mengalokasikan anggaran lebih dari Rp14 triliun khusus untuk aneka tunjangan guru non-ASN. Salah satu kebijakan yang paling dirasakan dampaknya adalah kenaikan tunjangan insentif dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan untuk hampir 800 ribu guru honorer. Kenaikan ini bukan sekadar angka administratif, melainkan bentuk pengakuan negara bahwa jerih payah guru honorer diakui keberadaannya. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan upah dalam UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja yang menekankan pentingnya penghidupan yang layak (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 45/sipers/A6/I/2026).

Selain insentif, pemerintah juga menyalurkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) kepada lebih dari 400 ribu guru non-ASN yang telah memiliki sertifikasi pendidik. Kabar baiknya, besaran TPG bagi mereka yang telah memiliki inpassing kini disesuaikan dengan gaji pokok, dengan kenaikan rata-rata mencapai Rp500 ribu dibanding tahun sebelumnya. Bagi mereka yang bertugas di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), pemerintah memberikan Tunjangan Khusus (TKG) sebesar Rp2 juta per bulan. Tidak berhenti di situ, Bantuan Subsidi Upah (BSU) juga menyasar lebih dari 253 ribu guru PAUD nonformal yang selama ini sering terabaikan dalam sistem pengupahan nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa Kemendikdasmen mencoba menyisir setiap celah kerentanan yang dialami oleh para pendidik di berbagai jenjang (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 58/sipers/A6/I/2026).

Upaya ini tidak hanya fokus pada materi, tapi juga pada peningkatan martabat melalui jalur akademik dan karier. Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) kini memberi kesempatan bagi guru honorer untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S-1) dengan mengakui pengalaman mengajar mereka sebagai kredit akademik. Ditambah lagi dengan pelatihan keterampilan masa depan seperti bahasa Inggris, coding, hingga kecerdasan buatan (AI). Semua ini adalah paket lengkap untuk memastikan guru honorer kita tidak hanya sejahtera secara finansial, tapi juga kompeten dan relevan di era digital. Dengan meningkatkan kualifikasi akademik, guru honorer memiliki peluang lebih besar dalam sistem kepegawaian nasional, termasuk melalui jalur PPPK (Kemendikdasmen, 2026).

Dampak Positif dan Asa Baru di Ruang Kelas

Intervensi kebijakan ini mulai menunjukkan dampak positif yang nyata, baik secara proses maupun hasil di lapangan. Dari sisi proses, kepastian tunjangan ini memberikan "ketenangan batin" bagi para pendidik dalam menjalankan tugas pokoknya. Seperti pengakuan Ismi Ifarianti, seorang guru TK di Jakarta, tunjangan ini membuatnya lebih fokus mengajar dan lebih semangat mendampingi tumbuh kembang siswa. Ketika guru tidak lagi harus membagi pikiran untuk mencari kerja sampingan yang melelahkan demi menyambung hidup, maka kualitas interaksi di dalam kelas akan meningkat drastis. Motivasi yang tumbuh dari rasa dihargai akan melahirkan inovasi dalam pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna bagi siswa (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 45/sipers/A6/I/2026).

Secara hasil, peningkatan kesejahteraan ini menjadi mesin penggerak bagi profesionalisme guru. Dengan penghasilan yang lebih baik, guru memiliki kemampuan untuk meningkatkan kompetensi mandiri, seperti membeli buku literasi, mengakses jurnal ilmiah, atau mengikuti pelatihan tambahan. Hal ini sejalan dengan teori motivasi dua faktor yang menyatakan bahwa pemenuhan faktor hygiene seperti upah merupakan syarat mutlak sebelum seseorang mencapai tingkat motivasi kerja yang tinggi (Herzberg, 1959). Investasi pada guru honorer pada akhirnya adalah investasi pada kualitas manusia Indonesia. Kita sedang membangun ekosistem pendidikan di mana guru merasa aman, didukung, dan dihargai sebagai pilar utama pembangunan bangsa.

Baca Juga: Bukan Hanya Pengabdian, Guru Honorer Juga Butuh Kesejahteraan

Harapan kita ke depan adalah agar program rekrutmen ASN PPPK yang telah mengangkat lebih dari 900 ribu guru terus diperluas dengan skema yang adil dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembiayaan pendidikan juga menjadi kunci agar tidak ada lagi ketimpangan nasib guru antar-wilayah. Kita tidak ingin kesejahteraan guru hanya ditentukan oleh "keberuntungan" geografis di mana mereka mengajar. Negara tidak boleh hanya menuntut pengabdian tanpa perlindungan, namun guru pun perlu menjawab kesejahteraan ini dengan dedikasi, loyalitas, dan integritas tinggi dalam mendidik anak bangsa.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kutipan dari Nelson Mandela: "Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan Anda bisa mengubah dunia." Berbagai skema tunjangan dan kebijakan afirmasi ini adalah upaya kita memastikan senjata itu tetap tajam dan berada di tangan guru yang sejahtera, berdaya, dan bermartabat. Jika guru sejahtera, maka fajar masa depan Indonesia akan bersinar lebih terang dari ruang-ruang kelas kita. Pendidikan bermutu bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang kita bangun bersama dengan memuliakan para gurunya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Eka Nurmawati
Tentang Eka Nurmawati
Seorang pembelajar yang suka dunia literasi

News Update

Ayo Netizen 19 Feb 2026, 18:51 WIB

Hari Pekerja: Nestapa Lansia Tertatih Menyambung Kehidupan tanpa Jaminan Sosial

Selain lansia pekerja informal, mantan pekerja formal pun jika sudah pensiun kondisinya juga banyak yang memprihatinkan.
Ilustrasi pekerja lansia (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 16:01 WIB

Ikhtiar Memuliakan Guru dan Menjemput Fajar Kesejahteraan Honorer

Opini tentang urgensi kesejahteraan guru honorer & kebijakan Kemendikdasmen 2026.
Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 15:00 WIB

Kosakata Khas Ramadan yang Murni Berasal dari Bahasa Arab, Memahami Makna Asli

Beberapa istilah berakar dari bahasa Arab yang paling sering terdengar selama Ramadan
Ilustrasi nuansa khas budaya Arab. (Sumber: Unsplash | Foto: Anis Coquelet)
Bandung 19 Feb 2026, 13:59 WIB

Ngabuburit di Istiqamah, Surga Takjil Legendaris di Jantung Kota Bandung

Ngabuburit sembari berburu takjil dan minuman manis telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari denyut nadi warga Kota Kembang setiap sorenya.
Ilustrasi. Ngabuburit sembari berburu takjil dan minuman manis telah menjadi tradisi yang tak terpisahkan dari denyut nadi warga Kota Kembang setiap sorenya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 13:37 WIB

Bank Sampah RESIK 04: Inisiatif Warga Pinggiran Kota di Tengah Krisis Sampah Bandung

Krisis sampah di Kota Bandung mendorong lahirnya Bank Sampah RESIK 04 di RW 04 Cipadung Kulon.
Pengurus Bank Sampah Resik 04 (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Alpian)
Bandung 19 Feb 2026, 13:07 WIB

Aseupan di Tengah Gaya Hidup Sehat Masyarakat Bandung, Takjil Sehat Murah Meriah ala Dewi Hanya Rp2000-an

Topik soal mengurangi minyak hingga ke tema mindful eating di kalangan generasi muda kian menyebar secara positif, hingga membentuk pola kampanye menyelamatkan diri dari risiko penyakit sejak dini.
Dewi (19) berinisiatif untuk berjualan makanan yang hanya direbus tanpa adanya penambahan MSG atau bahan pengawet lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 19 Feb 2026, 11:54 WIB

Kreativitas Tanpa Batas Yogi Studio Membawa Nama Bandung ke Panggung Mode Dunia

Kisah Yogi Studio by The Blew diharapkan dapat memberi motivasi bagi UMKM lain untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Kisah Yogi Studio by The Blew diharapkan dapat memberi motivasi bagi UMKM lain untuk terus berinovasi dan memperkuat kualitas produk agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 11:17 WIB

Gandok, Jejak Longsor Masa Lalu

Nama geografis Gandok ada di semua Kabupaten dan Kota di Jawa Barat.
Terlihat jelas Lengkungan Ci Kapundung, karena adanya desakan longsor dari arah barat, yang membentuk jarikaki longsor, yang sama dengan lebar lengkungan itu. (Heritage Collection | Peta 1910 Bandoeng en omstreken/Topographische Inrichting)
Beranda 19 Feb 2026, 08:49 WIB

Polusi Udara di Cekungan Bandung Raya Lewati Ambang Batas, Transportasi Publik Jadi Kebutuhan Mendesak

Di Cekungan Bandung, situasinya bahkan lebih mengkhawatirkan. Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, menyebut hampir seluruh parameter pencemar udara sudah melewati ambang batas
Penggunaan kendaraan pribadi dan kemacetan di Bandung raya menyebabkan polusi udara sudah melebihi ambang batas. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 19 Feb 2026, 06:52 WIB

Hey Bandung: Menguji Kekuatan dan Dampak Homeless Media dari Sudut Pandang Warga

Sejak awal peluncuran, Hey Bandung menerapkan strategi agresif untuk membangun distribusi konten. Pada masa awal, mereka bisa mengunggah hampir 20 konten per hari.
Pengelola Hey Bandung Fajar Asmara, Fajar Matasa, dan Firman Hendika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 19 Feb 2026, 05:48 WIB

Tidak Berasal dari Arab, 5 Kata yang Jadi Ciri Khas Ramadan di Indonesia

Berikut beberapa kata non-Arab yang hampir mustahil dipisahkan dari Ramadan di Indonesi
Ilustrasi Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Thirdman)
Bandung 18 Feb 2026, 20:53 WIB

Bukan Cuma Pas Ramadhan, Toko Kurma di Antapani Ini Malah Banjir Cuan Sepanjang Tahun

Bagi Toko Medina Herbal yang terletak di Daerah Antapani, Bandung, kurma merupakan komoditas produk utama yang menjadi salah satu pilar penegak dalam aktivitas transaksi di setiap harinya.
Bagi Toko Medina Herbal yang terletak di Daerah Antapani, Bandung, kurma merupakan komoditas produk utama yang menjadi salah satu pilar penegak dalam aktivitas transaksi di setiap harinya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 18:10 WIB

Menjaga Kesucian Ramadan, Merawat Lingkungan

Lonjakan sampah saat Ramadan di Bandung Raya menuntut perubahan perilaku konsumsi demi menjaga lingkungan dan keberlanjutan kota.
Masjid Pusdai Bandung. (Sumber: Freepik @rako349)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 17:07 WIB

Mapag Puasa

Ihwal menyambut Ramadan berarti menjemput cahaya dengan kesungguhan. Bukan sekadar merayakan datangnya bulan suci, tetapi menyiapkan diri agar hati benar-benar siap diterangi.
Asyiknya pawai obor (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 16:01 WIB

Kampung Gajah: Viral ketika Berjaya dan karena Tercium 'Bau Busuk'

Kampung Gajah, berdiri 2009, dulu sempat viral dan berjaya pada zamannya.
Gerbandung Kampung Gajah. (Sumber: Ayobandung)
Beranda 18 Feb 2026, 15:26 WIB

Meracik Kopi, Merajut Harapan: Kisah Difabel di Balik Meja Bar Kibi Kopi

Di wajah para pengunjung, tak tampak rasa iba. Yang terlihat justru penghargaan atas kerja keras dan ketekunannya.
Calvin, salah satu peserta pelatihan Difabel Empowerment in a Cup di Kibi Kopi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 15:17 WIB

Nostalgia Dapur Ramadan Tempo Dulu ala Pembaca Mangle

Nama “Manglé” berarti untaian bunga atau ranggeuyan kembang, sebuah metafora bagi ragam isi yang dirangkai dalam satu terbitan.
Majalah Mangle terbitan tahun 1960-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 13:20 WIB

Bukan Hanya Pengabdian, Guru Honorer Juga Butuh Kesejahteraan

Sudah seharusnya guru honorer mendapat kesejahteraan yang layak.
Ilustrasi murid dan guru di Indonesia. (Sumber: Pixabay | Foto: Syahdannugraha)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 11:25 WIB

Menonton Kolonialitas di Neftlix: Pinocchio, Pachamama, dan Over the Moon Tidak Hanya Jadi Film Animasi

Paradoks antara komitmen pada inklusivitas atau pendangkalan perspektif yang dengan mudahnya dikomodifikasi.
Film "Over the Moon" (2020). (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 18 Feb 2026, 10:08 WIB

Tarhib Ramadhan: Menghidupkan Masjid dan Menguatkan Kepedulian Sosial

Salah satu tradisi yang hidup di tengah masyarakat Muslim adalah kegiatan tarhib Ramadhan.
Ibu-ibu Yayasan An-Nisaa Bersama anak-anak yang akan dikhitan. (Sumber: Dokumentasi panitia khitanan massal)