Ikhtiar Memuliakan Guru dan Menjemput Fajar Kesejahteraan Honorer

5 menit baca
Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan
Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)
Ruang kelas sekolah di Indonesia. (Foto: Ayu)

Dalam setiap narasi kemajuan sebuah bangsa, ada sosok yang jarang tampil di panggung utama namun perannya paling menentukan: guru. Mengajar bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah kemuliaan yang menuntut dedikasi penuh untuk membentuk karakter generasi masa depan. Namun, di balik kemuliaan itu, kita masih menghadapi kenyataan tentang nasib para guru honorer. Mereka adalah garda terdepan yang mengisi kekosongan ruang kelas di pelosok negeri, sering kali dengan beban kerja yang setara dengan guru ASN, namun dengan kompensasi yang selama ini belum sepenuhnya ideal. Guru honorer sering kali menjadi "pahlawan dalam sunyi" yang menjaga agar lonceng sekolah tetap berbunyi meski di tengah keterbatasan.

Paradoks ini sudah berlangsung lama. Di satu sisi, guru honorer memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan sistem pendidikan nasional. Tanpa mereka, banyak sekolah di Indonesia akan mengalami kelumpuhan operasional. Di sisi lain, mereka sering terjebak dalam ketidakpastian status dan penghasilan yang kadang berada di bawah standar kebutuhan hidup minimum. Ketimpangan fiskal antar-daerah menambah beban ini, di mana nasib guru sangat bergantung pada kemampuan APBD masing-masing daerah yang tidak seragam. Namun, memasuki tahun 2026, kita melihat sebuah ikhtiar nyata dari pemerintah untuk memutus rantai ketidakpastian ini melalui serangkaian kebijakan yang lebih manusiawi dan terukur. Ini adalah langkah berani untuk memastikan bahwa kesejahteraan bukan lagi sekadar janji, melainkan hak yang diterima secara nyata.

Secara hukum, hak guru atas penghidupan yang layak sebenarnya sudah dijamin oleh konstitusi kita. Dalam Pasal 28D ayat (2) UUD 1945, ditegaskan bahwa setiap orang berhak bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dalam hubungan kerja. UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen juga dengan tegas menyatakan bahwa guru berhak atas penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial. Inilah yang menjadi landasan moral bagi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk tidak hanya menuntut profesionalisme, tapi juga memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang nyata sebagai bentuk keadilan sosial. Jika kita sepakat bahwa pendidikan adalah hak asasi, maka menyejahterakan gurunya adalah kewajiban asasi negara yang tidak bisa ditawar.

Ilustrasi murid dan guru di Indonesia. (Sumber: Pixabay | Foto: Syahdannugraha)
Ilustrasi murid dan guru di Indonesia. (Sumber: Pixabay | Foto: Syahdannugraha)

Langkah Strategis Kemendikdasmen dalam Meningkatkan Kesejahteraan

Pemerintah menyadari bahwa visi "Pendidikan Bermutu untuk Semua" mustahil tercapai jika fondasi dasarnya, yaitu kesejahteraan guru masih goyah. Oleh karena itu, di tahun 2026 ini, Kemendikdasmen melakukan lompatan besar dengan mengalokasikan anggaran lebih dari Rp14 triliun khusus untuk aneka tunjangan guru non-ASN. Salah satu kebijakan yang paling dirasakan dampaknya adalah kenaikan tunjangan insentif dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan untuk hampir 800 ribu guru honorer. Kenaikan ini bukan sekadar angka administratif, melainkan bentuk pengakuan negara bahwa jerih payah guru honorer diakui keberadaannya. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan upah dalam UU No. 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja yang menekankan pentingnya penghidupan yang layak (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 45/sipers/A6/I/2026).

Selain insentif, pemerintah juga menyalurkan Tunjangan Profesi Guru (TPG) kepada lebih dari 400 ribu guru non-ASN yang telah memiliki sertifikasi pendidik. Kabar baiknya, besaran TPG bagi mereka yang telah memiliki inpassing kini disesuaikan dengan gaji pokok, dengan kenaikan rata-rata mencapai Rp500 ribu dibanding tahun sebelumnya. Bagi mereka yang bertugas di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), pemerintah memberikan Tunjangan Khusus (TKG) sebesar Rp2 juta per bulan. Tidak berhenti di situ, Bantuan Subsidi Upah (BSU) juga menyasar lebih dari 253 ribu guru PAUD nonformal yang selama ini sering terabaikan dalam sistem pengupahan nasional. Langkah ini menunjukkan bahwa Kemendikdasmen mencoba menyisir setiap celah kerentanan yang dialami oleh para pendidik di berbagai jenjang (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 58/sipers/A6/I/2026).

Upaya ini tidak hanya fokus pada materi, tapi juga pada peningkatan martabat melalui jalur akademik dan karier. Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) kini memberi kesempatan bagi guru honorer untuk melanjutkan studi ke jenjang sarjana (S-1) dengan mengakui pengalaman mengajar mereka sebagai kredit akademik. Ditambah lagi dengan pelatihan keterampilan masa depan seperti bahasa Inggris, coding, hingga kecerdasan buatan (AI). Semua ini adalah paket lengkap untuk memastikan guru honorer kita tidak hanya sejahtera secara finansial, tapi juga kompeten dan relevan di era digital. Dengan meningkatkan kualifikasi akademik, guru honorer memiliki peluang lebih besar dalam sistem kepegawaian nasional, termasuk melalui jalur PPPK (Kemendikdasmen, 2026).

Dampak Positif dan Asa Baru di Ruang Kelas

Intervensi kebijakan ini mulai menunjukkan dampak positif yang nyata, baik secara proses maupun hasil di lapangan. Dari sisi proses, kepastian tunjangan ini memberikan "ketenangan batin" bagi para pendidik dalam menjalankan tugas pokoknya. Seperti pengakuan Ismi Ifarianti, seorang guru TK di Jakarta, tunjangan ini membuatnya lebih fokus mengajar dan lebih semangat mendampingi tumbuh kembang siswa. Ketika guru tidak lagi harus membagi pikiran untuk mencari kerja sampingan yang melelahkan demi menyambung hidup, maka kualitas interaksi di dalam kelas akan meningkat drastis. Motivasi yang tumbuh dari rasa dihargai akan melahirkan inovasi dalam pembelajaran yang lebih kreatif dan bermakna bagi siswa (Siaran Pers Kemendikdasmen No: 45/sipers/A6/I/2026).

Secara hasil, peningkatan kesejahteraan ini menjadi mesin penggerak bagi profesionalisme guru. Dengan penghasilan yang lebih baik, guru memiliki kemampuan untuk meningkatkan kompetensi mandiri, seperti membeli buku literasi, mengakses jurnal ilmiah, atau mengikuti pelatihan tambahan. Hal ini sejalan dengan teori motivasi dua faktor yang menyatakan bahwa pemenuhan faktor hygiene seperti upah merupakan syarat mutlak sebelum seseorang mencapai tingkat motivasi kerja yang tinggi (Herzberg, 1959). Investasi pada guru honorer pada akhirnya adalah investasi pada kualitas manusia Indonesia. Kita sedang membangun ekosistem pendidikan di mana guru merasa aman, didukung, dan dihargai sebagai pilar utama pembangunan bangsa.

Baca Juga: Bukan Hanya Pengabdian, Guru Honorer Juga Butuh Kesejahteraan

Harapan kita ke depan adalah agar program rekrutmen ASN PPPK yang telah mengangkat lebih dari 900 ribu guru terus diperluas dengan skema yang adil dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pembiayaan pendidikan juga menjadi kunci agar tidak ada lagi ketimpangan nasib guru antar-wilayah. Kita tidak ingin kesejahteraan guru hanya ditentukan oleh "keberuntungan" geografis di mana mereka mengajar. Negara tidak boleh hanya menuntut pengabdian tanpa perlindungan, namun guru pun perlu menjawab kesejahteraan ini dengan dedikasi, loyalitas, dan integritas tinggi dalam mendidik anak bangsa.

Sebagai penutup, mari kita renungkan kutipan dari Nelson Mandela: "Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan Anda bisa mengubah dunia." Berbagai skema tunjangan dan kebijakan afirmasi ini adalah upaya kita memastikan senjata itu tetap tajam dan berada di tangan guru yang sejahtera, berdaya, dan bermartabat. Jika guru sejahtera, maka fajar masa depan Indonesia akan bersinar lebih terang dari ruang-ruang kelas kita. Pendidikan bermutu bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang kita bangun bersama dengan memuliakan para gurunya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)