Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

3 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Hujan turun perlahan di kawasan Dago Atas, Kamis sore (12/2/2026). Jalan menuju Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) tampak basah, udara lebih dingin dari biasanya. Di ruang yang lazimnya dipenuhi karya seni, kursi-kursi disusun menghadap layar presentasi. Sore itu, yang dipamerkan bukan lukisan atau instalasi, melainkan pengetahuan tentang tanah yang selama ini dipijak bersama.

Bandung Review #006 digelar pukul 15.30 WIB hingga menjelang magrib, mengangkat tema “Hidup Harmoni di Cekungan Bandung”. Program ini terbilang baru—baru memasuki edisi keenam—namun mulai membentuk karakter sebagai ruang diskusi lintas disiplin tentang kota.

Percakapan sore itu bergerak dari sejarah danau purba hingga potensi risiko gempa. Namun ketika sesi tanya jawab dibuka, diskusi berubah menjadi lebih personal. Isu yang semula terdengar ilmiah perlahan terasa dekat, karena menyangkut rumah, lingkungan, dan masa depan bersama.

Di antara peserta, Fikri (29) datang dengan kebutuhan yang cukup spesifik. Ia tengah melakukan riset bersama temannya tentang kawasan Bandung Utara dan merasa perlu memperkaya perspektifnya.

“Sebetulnya saya lagi riset sama teman soal kawasan Bandung Utara. Kebetulan saya latar belakang sosial, jadi nggak begitu ngerti faktor-faktor alamnya, batuan dan sebagainya. Jadi saya harap datang ke diskusi ini bisa dapat sedikit informasi yang bisa mancing saya buat cari informasi lanjutan,” ujarnya.

Ia mengaku sebelumnya hanya mengetahui kondisi ekologis Bandung secara umum.

“Tahu sih tahu, tapi bukan yang begitu paham banget. Cuma sedikit-sedikit saja.”

Namun setelah mengikuti diskusi, ia tidak pulang dengan rasa cemas.

“Kalau khawatir sih enggak. Justru makin clear. Jadi semakin kenal dengan Bandung, semakin tahu gimana cara ‘treatment’-nya lah, kasarnya. Kalau gempa harus gimana, kalau ada potensi ambles itu seperti apa, apa yang bisa dimitigasi, dan lain-lain.”

Menurutnya, warga Bandung sebenarnya sudah cukup sadar soal risiko banjir, gempa, hingga keberadaan Sesar Lembang. Namun, kesadaran saja belum cukup untuk mendorong gerakan bersama.

“Cukup sadar sih. Cuma memang sadar aja kadang nggak cukup. Tetap butuh dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain. Dan walaupun kita nggak bisa nunggu semua bergerak, tetap butuh simpul. Butuh jaringan teman-teman lain supaya inisiatif dari bawah bisa berkembang dan lebih kuat.”

Pandangan itu sejalan dengan pesan yang disampaikan narasumber utama, T. Bachtiar, dalam forum tersebut. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti pada tahap memahami.

“Pengetahuan itu tidak boleh berhenti di tahap tahu. Harus jadi tindakan. Harus jadi kebiasaan. Kalau tidak, ya hanya jadi bahan diskusi,” ujarnya.

Bagi Bachtiar, harmoni dengan cekungan bukan berarti hidup tanpa ancaman, melainkan memahami risiko dan menyesuaikan diri dengannya.

Bagi pihak Selasar Sunaryo, mengangkat isu Cekungan Bandung bukan sesuatu yang keluar dari konteks ruang seni.

Ravli Ferial (27), staf program SSAS, menjelaskan bahwa Bandung Review dirancang sebagai forum berbagi pengetahuan yang tidak dibatasi bidang tertentu dan digelar rutin dua kali dalam sebulan.

“Kita enggak terbatas di seni rupa doang. Kemarin film juga ada. Jadi memang bukan diskusi yang kaku seperti biasanya, tapi lebih kasual dan terbuka buat orang bertanya,” katanya.

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.

Menurut Ravli, menghadirkan isu kebencanaan merupakan bagian dari orientasi edukasi yang sejak awal melekat pada Selasar.

“Isu-isu seperti ini memang harus terus disampaikan. Apalagi kita yang bergerak di bidang seni bukan cuma membuat karya. Dalam karya seni itu perlu ada dampak. Dan Selasar dari dulu orientasinya memang edukasi.”

Ia mengakui ada kegelisahan yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut. Meski begitu, audiensnya terbuka untuk siapa saja.

“Targetnya umum. Edukasi tidak membatasi kelompok. Semakin luas, semakin bagus.”

Menjelang magrib, diskusi ditutup tanpa kesimpulan formal. Hujan telah reda. Dari kawasan Dago yang lebih tinggi, lampu-lampu Bandung mulai menyala.

Sebagian peserta masih bertahan, berbincang dalam kelompok kecil. Tidak ada deklarasi, tidak ada rekomendasi kebijakan. Namun ada percakapan yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan tentang kota yang sama.

Di ruang yang biasanya dipenuhi karya seni, sore itu yang mengemuka adalah kesadaran—dan mungkin, seperti yang dikatakan Fikri, Bandung tidak hanya membutuhkan warga yang sadar, tetapi juga warga yang saling terhubung.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)