Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 14 Feb 2026, 19:20 WIB
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Hujan turun perlahan di kawasan Dago Atas, Kamis sore (12/2/2026). Jalan menuju Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) tampak basah, udara lebih dingin dari biasanya. Di ruang yang lazimnya dipenuhi karya seni, kursi-kursi disusun menghadap layar presentasi. Sore itu, yang dipamerkan bukan lukisan atau instalasi, melainkan pengetahuan tentang tanah yang selama ini dipijak bersama.

Bandung Review #006 digelar pukul 15.30 WIB hingga menjelang magrib, mengangkat tema “Hidup Harmoni di Cekungan Bandung”. Program ini terbilang baru—baru memasuki edisi keenam—namun mulai membentuk karakter sebagai ruang diskusi lintas disiplin tentang kota.

Percakapan sore itu bergerak dari sejarah danau purba hingga potensi risiko gempa. Namun ketika sesi tanya jawab dibuka, diskusi berubah menjadi lebih personal. Isu yang semula terdengar ilmiah perlahan terasa dekat, karena menyangkut rumah, lingkungan, dan masa depan bersama.

Di antara peserta, Fikri (29) datang dengan kebutuhan yang cukup spesifik. Ia tengah melakukan riset bersama temannya tentang kawasan Bandung Utara dan merasa perlu memperkaya perspektifnya.

“Sebetulnya saya lagi riset sama teman soal kawasan Bandung Utara. Kebetulan saya latar belakang sosial, jadi nggak begitu ngerti faktor-faktor alamnya, batuan dan sebagainya. Jadi saya harap datang ke diskusi ini bisa dapat sedikit informasi yang bisa mancing saya buat cari informasi lanjutan,” ujarnya.

Ia mengaku sebelumnya hanya mengetahui kondisi ekologis Bandung secara umum.

“Tahu sih tahu, tapi bukan yang begitu paham banget. Cuma sedikit-sedikit saja.”

Namun setelah mengikuti diskusi, ia tidak pulang dengan rasa cemas.

“Kalau khawatir sih enggak. Justru makin clear. Jadi semakin kenal dengan Bandung, semakin tahu gimana cara ‘treatment’-nya lah, kasarnya. Kalau gempa harus gimana, kalau ada potensi ambles itu seperti apa, apa yang bisa dimitigasi, dan lain-lain.”

Menurutnya, warga Bandung sebenarnya sudah cukup sadar soal risiko banjir, gempa, hingga keberadaan Sesar Lembang. Namun, kesadaran saja belum cukup untuk mendorong gerakan bersama.

“Cukup sadar sih. Cuma memang sadar aja kadang nggak cukup. Tetap butuh dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain. Dan walaupun kita nggak bisa nunggu semua bergerak, tetap butuh simpul. Butuh jaringan teman-teman lain supaya inisiatif dari bawah bisa berkembang dan lebih kuat.”

Pandangan itu sejalan dengan pesan yang disampaikan narasumber utama, T. Bachtiar, dalam forum tersebut. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti pada tahap memahami.

“Pengetahuan itu tidak boleh berhenti di tahap tahu. Harus jadi tindakan. Harus jadi kebiasaan. Kalau tidak, ya hanya jadi bahan diskusi,” ujarnya.

Bagi Bachtiar, harmoni dengan cekungan bukan berarti hidup tanpa ancaman, melainkan memahami risiko dan menyesuaikan diri dengannya.

Bagi pihak Selasar Sunaryo, mengangkat isu Cekungan Bandung bukan sesuatu yang keluar dari konteks ruang seni.

Ravli Ferial (27), staf program SSAS, menjelaskan bahwa Bandung Review dirancang sebagai forum berbagi pengetahuan yang tidak dibatasi bidang tertentu dan digelar rutin dua kali dalam sebulan.

“Kita enggak terbatas di seni rupa doang. Kemarin film juga ada. Jadi memang bukan diskusi yang kaku seperti biasanya, tapi lebih kasual dan terbuka buat orang bertanya,” katanya.

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.

Menurut Ravli, menghadirkan isu kebencanaan merupakan bagian dari orientasi edukasi yang sejak awal melekat pada Selasar.

“Isu-isu seperti ini memang harus terus disampaikan. Apalagi kita yang bergerak di bidang seni bukan cuma membuat karya. Dalam karya seni itu perlu ada dampak. Dan Selasar dari dulu orientasinya memang edukasi.”

Ia mengakui ada kegelisahan yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut. Meski begitu, audiensnya terbuka untuk siapa saja.

“Targetnya umum. Edukasi tidak membatasi kelompok. Semakin luas, semakin bagus.”

Menjelang magrib, diskusi ditutup tanpa kesimpulan formal. Hujan telah reda. Dari kawasan Dago yang lebih tinggi, lampu-lampu Bandung mulai menyala.

Sebagian peserta masih bertahan, berbincang dalam kelompok kecil. Tidak ada deklarasi, tidak ada rekomendasi kebijakan. Namun ada percakapan yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan tentang kota yang sama.

Di ruang yang biasanya dipenuhi karya seni, sore itu yang mengemuka adalah kesadaran—dan mungkin, seperti yang dikatakan Fikri, Bandung tidak hanya membutuhkan warga yang sadar, tetapi juga warga yang saling terhubung.

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)