Official Persib Logo
1933
1933

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 14 Feb 2026, 19:20 WIB
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Hujan turun perlahan di kawasan Dago Atas, Kamis sore (12/2/2026). Jalan menuju Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) tampak basah, udara lebih dingin dari biasanya. Di ruang yang lazimnya dipenuhi karya seni, kursi-kursi disusun menghadap layar presentasi. Sore itu, yang dipamerkan bukan lukisan atau instalasi, melainkan pengetahuan tentang tanah yang selama ini dipijak bersama.

Bandung Review #006 digelar pukul 15.30 WIB hingga menjelang magrib, mengangkat tema “Hidup Harmoni di Cekungan Bandung”. Program ini terbilang baru—baru memasuki edisi keenam—namun mulai membentuk karakter sebagai ruang diskusi lintas disiplin tentang kota.

Percakapan sore itu bergerak dari sejarah danau purba hingga potensi risiko gempa. Namun ketika sesi tanya jawab dibuka, diskusi berubah menjadi lebih personal. Isu yang semula terdengar ilmiah perlahan terasa dekat, karena menyangkut rumah, lingkungan, dan masa depan bersama.

Di antara peserta, Fikri (29) datang dengan kebutuhan yang cukup spesifik. Ia tengah melakukan riset bersama temannya tentang kawasan Bandung Utara dan merasa perlu memperkaya perspektifnya.

“Sebetulnya saya lagi riset sama teman soal kawasan Bandung Utara. Kebetulan saya latar belakang sosial, jadi nggak begitu ngerti faktor-faktor alamnya, batuan dan sebagainya. Jadi saya harap datang ke diskusi ini bisa dapat sedikit informasi yang bisa mancing saya buat cari informasi lanjutan,” ujarnya.

Ia mengaku sebelumnya hanya mengetahui kondisi ekologis Bandung secara umum.

“Tahu sih tahu, tapi bukan yang begitu paham banget. Cuma sedikit-sedikit saja.”

Namun setelah mengikuti diskusi, ia tidak pulang dengan rasa cemas.

“Kalau khawatir sih enggak. Justru makin clear. Jadi semakin kenal dengan Bandung, semakin tahu gimana cara ‘treatment’-nya lah, kasarnya. Kalau gempa harus gimana, kalau ada potensi ambles itu seperti apa, apa yang bisa dimitigasi, dan lain-lain.”

Menurutnya, warga Bandung sebenarnya sudah cukup sadar soal risiko banjir, gempa, hingga keberadaan Sesar Lembang. Namun, kesadaran saja belum cukup untuk mendorong gerakan bersama.

“Cukup sadar sih. Cuma memang sadar aja kadang nggak cukup. Tetap butuh dukungan pemerintah dan pihak-pihak lain. Dan walaupun kita nggak bisa nunggu semua bergerak, tetap butuh simpul. Butuh jaringan teman-teman lain supaya inisiatif dari bawah bisa berkembang dan lebih kuat.”

Pandangan itu sejalan dengan pesan yang disampaikan narasumber utama, T. Bachtiar, dalam forum tersebut. Ia menegaskan bahwa pengetahuan tidak boleh berhenti pada tahap memahami.

“Pengetahuan itu tidak boleh berhenti di tahap tahu. Harus jadi tindakan. Harus jadi kebiasaan. Kalau tidak, ya hanya jadi bahan diskusi,” ujarnya.

Bagi Bachtiar, harmoni dengan cekungan bukan berarti hidup tanpa ancaman, melainkan memahami risiko dan menyesuaikan diri dengannya.

Bagi pihak Selasar Sunaryo, mengangkat isu Cekungan Bandung bukan sesuatu yang keluar dari konteks ruang seni.

Ravli Ferial (27), staf program SSAS, menjelaskan bahwa Bandung Review dirancang sebagai forum berbagi pengetahuan yang tidak dibatasi bidang tertentu dan digelar rutin dua kali dalam sebulan.

“Kita enggak terbatas di seni rupa doang. Kemarin film juga ada. Jadi memang bukan diskusi yang kaku seperti biasanya, tapi lebih kasual dan terbuka buat orang bertanya,” katanya.

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.

Menurut Ravli, menghadirkan isu kebencanaan merupakan bagian dari orientasi edukasi yang sejak awal melekat pada Selasar.

“Isu-isu seperti ini memang harus terus disampaikan. Apalagi kita yang bergerak di bidang seni bukan cuma membuat karya. Dalam karya seni itu perlu ada dampak. Dan Selasar dari dulu orientasinya memang edukasi.”

Ia mengakui ada kegelisahan yang melatarbelakangi pemilihan tema tersebut. Meski begitu, audiensnya terbuka untuk siapa saja.

“Targetnya umum. Edukasi tidak membatasi kelompok. Semakin luas, semakin bagus.”

Menjelang magrib, diskusi ditutup tanpa kesimpulan formal. Hujan telah reda. Dari kawasan Dago yang lebih tinggi, lampu-lampu Bandung mulai menyala.

Sebagian peserta masih bertahan, berbincang dalam kelompok kecil. Tidak ada deklarasi, tidak ada rekomendasi kebijakan. Namun ada percakapan yang mempertemukan pengetahuan, pengalaman, dan kegelisahan tentang kota yang sama.

Di ruang yang biasanya dipenuhi karya seni, sore itu yang mengemuka adalah kesadaran—dan mungkin, seperti yang dikatakan Fikri, Bandung tidak hanya membutuhkan warga yang sadar, tetapi juga warga yang saling terhubung.

News Update

Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)