Kereta Bandung–Ciwidey Datang, Gema Kehidupan Lama Terhenti

10 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Proses pembangunan jalur Kereta Cepat Whoosh yang juga berdampak terhadap sejumlah lahan warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Proses pembangunan jalur Kereta Cepat Whoosh yang juga berdampak terhadap sejumlah lahan warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Setengah abad yang lalu, rel kereta api jalur Bandung-Ciwidey berhenti beroperasi. Namun, bagi sejumlah warga yang membangun rumah di atasnya, itu adalah awal dari sebuah perubahan signifikan dalam gaya hidup mereka.

Di atas besi yang mulai ditelan karat dan disampingnya, berdiri rumah-rumah penuh cerita. Di dalam salah satunya, Enik Supriyati, sedang berbincang dengan kerabatnya.

Keluarganya telah tinggal di kawasan tersebut sejak ia masih berusia batita. Rumahnya beralamat di Kampung Maleer Utara, RT 6 RW 4 Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Bangunan rumahnya sederhana, ada halaman, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan dua kamar tidur. Luasnya hanya berkisar tiga kali enam meter persegi. Tapi itu cukup buat menampung tiga generasi keluarganya.

Wanita 63 tahun itu bercerita, dulu, sang ayah merupakan salah satu pekerja di Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA). Sekitar tahun 1960-an, ayahnya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut.

Lokasinya hanya berjarak sekitar 7 meter dari samping rel kereta api. Kala itu, kereta masih berlalu-lalang, menandakan rel jalur Bandung-Ciwidey masih aktif. Kereta yang melintas kebanyakan mengangkut komoditas bumi, salah satunya teh dan kopi. Tak jarang juga 'ular besi' itu mengangkut orang-orang.

"Dulu kalau ayah lewat naik kereta saya suka dadah-dadah ke dia. Kalau hari Minggu saya diajak naik kereta," kata Enik sambil mengenang masa lalunya.

Kampung Maleer Utara pada tahun 60-an belum menjadi permukiman padat. Pemandangan perkebunan, tanah tak bertuan, hingga sawah tak sukar untuk ditemui. Hanya ada beberapa rumah saja. Jarak antar rumah pun terbilang cukup jauh.

Enik bercerita beberapa warga tidak langsung mendirikan rumah di gang tersebut. Mulanya, mereka hanya membuat kandang ayam atau tempat untuk menjemur pakaian. Waktu berlalu dan akhirnya warga menyulapnya menjadi rumah.

Tanah yang kini telah dibangun rumah Enik juga awalnya lahan liar milik DJKA. Dia bilang, sang ayah kemudian meminta izin kepada pemilik lahan untuk membangun rumah. Akhirnya, rumah yang kini ditinggali Enik bersama dua anak dan 4 cucunya dibangun.

Namun rumah tersebut pernah ditempati oleh adiknya yang juga pernah bekerja di DJKA. Cukup lama sang adik, kata Enik, menempati rumah tersebut. Itu karena Enik diboyong suaminya tinggal di rumah mertua.

Kemudian saat ia tengah hamil anak pertama, dia memutuskan untuk kembali ke rumah yang dibangun ayahnya. Ia membeli rumah itu dengan harga sekitar 1 sampai 3 juta rupiah. Kembalilah rumah sang ayah ke tangannya.

Sekitar tahun 2007, Enik pernah menangis histeris. Kabar rencana pembongkaran rumah yang berada di sekitaran rel kereta api jalur Bandung-Ciwidey sampai ke telinganya. Dia panik. Sebab jika digusur, Enik tak tahu harus tinggal di mana.

"Saya nangis ke adik saya kenapa di bongkar. Katanya jalur mau aktif lagi. Terus ada pengukuran gitu, satu meternya kalau ngga salah ingat Rp250 ribu," ungkapnya.

Beruntungnya wacana tersebut tidak terealisasi. Rumahnya dan warga yang lain masih berdiri kokoh hingga sekarang. Di satu sisi, ternyata selama ini ia membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kepada pemerintah.

Kepada AyoBandung, Enik menunjukkan surat bukti pembayaran sebanyak 6 kertas berwarna merah muda. Pembayaran terakhir yaitu pada 2024 dan yang paling lama adalah tahun 2022. Dia mengaku, rutin membayar PBB setiap tahunnya.

Belakangan ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi hendak mereaktivasi jalur kereta api Bandung-Ciwidey dan 4 jalur lainnya. Rumah Nenik terancam digusur oleh proyek tersebut. Meski rencana itu masih digodok pemerintah, Enik sedikit khawatir.

Tetapi di satu sisi, ia tak keberatan jika Dedi Mulyadi hendak mengaktifkan kembali jalur yang telah lama mati itu. Menurutnya, selama ini, ia mengakui bahwa tanah yang digunakan untuk membangun rumah bukan miliknya. Enik juga menyampaikan bahwa ia tak memiliki bukti sah sebagai pemilik lahan.

Sekali waktu, mendiang ayahnya pernah berpesan kepada dirinya. Pesan itu untuk mengingatkan Enik jika tanah yang mereka tempati bukan miliknya. Sehingga jika pemilik hendak memanfaatkan kembali lahan tersebut, maha Enik harus merelakannya.

"Yah kalau saya mah legowo aja kalau mau ada reaktivasi rel lagi. Soalnya ini kan bukan tanah kita, tanah DJKA," ucapnya sambil melirik ke halaman depan.

Kendati begitu, Enik berharap ada uang ganti rugi dari pemerintah. Menurutnya itu untuk menggantikan biaya pembangunan rumah. Berapapun itu, asal nominalnya dirasa cocok, ia akan merelakan rumahnya rata dengan tanah.

(Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Rel yang berada di jalan gang Maleer Utara membentang sepanjang sekitar 450 meter. Di beberapa titik, rel telah ditutupi oleh bangunan, mulai dari rumah, gudang, kontrakan, hingga kandang ayam.

Jalan gang hanya bisa dilewati maksimal oleh dua sepeda motor. Kawasan itu terbilang padat. Saat AyoBandung menyusuri nya, banyak anak-anak yang tengah bermain, bapak-bapak yang nongkrong, hingga ibu-ibu yang merumpi di sebuah warung sayuran.

Sebagaimana hiruk pikuk kehidupan di kota, suasana di sana tak jauh berbeda. Paginya orang dewasa bekerja, anak-anak pergi ke sekolah, dan ibu-ibu mengurus rumahnya. Beberapa bangunan terlihat dibangun menggunakan bata merah atau bata ringan. Ada juga yang menggunakan triplek.

Bangunan di sana dibangun tidak hanya untuk rumah saja. Cukup banyak yang dijadikan tempat usaha seperti galon isi ulang dan warung. Kebutuhan pangan cukup tersedia di kawasan tersebut.

Di sebelah barat gang, berdiri salah satu mall ternama di Kota Bandung. Keadaan yang ada di dalam mal berbanding terbalik dengan di gang tersebut; pengunjung mal makan enak, warga di samping mal berjuang untuk hidup.

Sementara itu, ketua RT 6, Sopian (42) mengatakan ada 88 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal. Dia juga menyampaikan banyak rumah yang sudah dibangun sejak lama, sekitar awal 2000-an.

Untuk konstruksi bangunan, ia menyebut rata-rata semi permanen. Terkait surat kepemilikan, Sopian menyebut warganya tidak memiliki bukti yang sah. Sebab kebanyakan warga tinggal di atas lahan milik DJKA.

"Warga ngga ada yang punya sertifikat," ucapnya saat ditemui di lokasi.

Para penghuni yang berjuang untuk hidup kebanyakan bekerja sebagai buruh. Entah itu buruh pabrik, toko, atau menjadi ojek online (ojol). Tak sedikit juga yang membuka usaha kecil-kecilan.

Ditanya soal reaktivasi jalur rel kereta api Bandung-Ciwidey, Sopian dengan senyum lebarnya menyatakan tak keberatan. Sama seperti Enik, dia mengakui tinggal di tanah yang bukan miliknya. Sehingga jika pemilik tanah hendak memanfaatkan lahan tersebut, ia bersiap untuk pindah.

"Ya ngga apa-apa, setuju aja kalau saya mah. Ini kan bukan lahan kita," bebernya.

Warga lainnya, Paini juga merupakan penghuni lama kawasan Maleer Utara. Sejak kecil ia sudah tinggal di sana hingga kini memiliki anak dan cucu.

Perempuan 60 tahun itu bilang, saat rel masih aktif, banyak anak-anak yang senang ketika melihat kereta melintas. Mereka, kenangnya, melambaikan tangan kepada kereta.

Dulu, ia menyebut kala itu rumah di kawasan tersebut tidak seramai sekarang. Tumbuhan liar dan sawah kangkung lebih banyak jumlahnya ketimbang rumah. Tapi kini keadaannya terbalik. Lahan dan sawah telah diubah menjadi bangunan rumah, toko, hingga mal.

"Sekarang mah anak-anak kalau mau main tempatnya sempit, nggak kaya dulu," ujarnya.

Sementara ditanya soal pendapatnya tentang reaktivasi jalur rel KA Bandung-Ciwidey, awalnya ia tertawa kecil. Setelah itu, Paini mengutarakan pendapatnya. Dia mengaku tak keberatan jika harus pindah. "Ngga apa-apa kan ini bukan tanah kita juga," ungkapnya.

Baik Sopian dan Paini, keduanya sama-sama berharap ada uang ganti rugi dari pemerintah jika wacana reaktivasi jalur rel yang mati terealisasi.

Jalur rel Bandung-Ciwidey membentang dari tengah kota Bandung menuju lembah-lembah di selatan, berkelok melalui hamparan sawah dan hutan yang dulu makmur oleh komoditas ekspor.

Dibangun lebih dari seabad silam, ia kini nyaris lenyap ditelan aspal dan bangunan permanen. Ironisnya, saat pembangunan infrastruktur modern kini dihadang biaya dan birokrasi, rel tua warisan kolonial itu justru membuktikan bahwa ambisi besar pernah benar-benar diwujudkan.

Pada mulanya, adalah perusahaan kereta api kolonial, Staatsspoorwegen (SS), yang membangun jalur ini pada 1917. Bukan untuk kepentingan mobilitas warga, melainkan untuk melayani industri perkebunan yang saat itu mendominasi bentang alam Bandung Selatan.

SS membentangkan rel dari Stasiun Cikudapateuh, lalu menyusuri Buah Batu, Bojongsoang, Soreang, hingga ke kaki pegunungan Ciwidey. Proyek ini digarap dengan penuh perhitungan dan tak sedikit biaya yang dikucurkan.

Segmen Bandung–Soreang saja menguras hingga 1,5 juta gulden. Adapun segmen Soreang–Ciwidey ditaksir mencapai 1,7 juta gulden. Di Sadu, sebuah jembatan dibangun menggunakan besi bekas dari Karawang. Pilihan ini diambil demi menekan ongkos. Namun hasilnya tak bisa dianggap remeh, jembatan itu masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Rencana reaktivasi rel ini sempat mencuat, membuka kembali lembaran sejarah panjang yang nyaris terlupakan. Jalur ini bukan hanya soal logistik atau angkutan penumpang, melainkan juga sebuah jejak ekonomi kolonial. Jalur itu dulu dibangun bukan sekadar untuk transportasi warga, tapi untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi.

Kala itu, Bandung Selatan adalah lumbung kekayaan agraria. Teh, kina, kopi, hingga kayu rasamala diangkut dari lahan-lahan milik pengusaha Eropa seperti Ir. Kerkhoven dan K.A.R. Bosscha.

Di Banjaran saja, tercatat ada 27 persil perkebunan seluas 5.904 bau—sekitar 4.130 hektare. Di Majalaya dan Cisondari, ribuan hektare lahan diselimuti komoditas yang menjanjikan untung besar.

Kini, kejayaan itu tinggal cerita. Rel tua yang pernah menjadi urat nadi perdagangan dan industri, telah tertimbun waktu, aspal, dan dinding beton. Kejayaan rel tersebut masih terngiang di ingatan Nono Gunawan, warga RT 6 RW 2 Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung.

Sewaktu masih duduk di bangku SMP, Nono sering menaiki kereta api tanpa tiket. Istilahnya penumpang gelap. Namun ia melakukan itu hanya untuk bersenang-senang saja.

"Iseng aja itu naik kereta, dari Cibangkong atau Buahbatu sampai ke sini (Kujangsari) atau kabupaten," kata dia sambil menghembuskan asap rokok.

Pria 57 tahun itu bercerita asal usul permukiman di gang Jalan Ciparay. Lebar jalan gang itu hanya sekitar dua motor. Jalan gangnya pun dibangun tepat di atas rel. Material jalan terbuat dari paving blok yang disusun di area rel. Sehingga besi yang jadi lintasan roda kereta menyembul ke atas.

Kata dia, dulu banyak persawahan di sekitaran rel kereta api yang saat itu masih aktif. Rumah juga hanya masih bisa terhitung oleh jari. Namun jumlahnya bertambah ketika jalur sudah tidak aktif.

Satu per satu rumah dibangun. Termasuk rumahnya yang telah berdiri sejak sekitar tahun 70-an. Beberapa warga bahkan awalnya membangun kandang ayam. Kemudian warga tersebut membangun rumah di lahan tersebut.

Jarak rumahnya ke rel hanya satu meter saja. Jika perlintasan KA masih aktif, bagian depan rumahnya mungkin tergerus kereta. Untungnya jalur sudah tidak beroperasi.

Sekitar tahun 2000-an kawasan terus berubah menjadi pemukiman warga. Tahun demi tahun berganti, kini daerah tersebut menjadi padat penduduk.

Kebanyakan warga membangun rumah dengan material bata merah dan bata ringan. Tetapi ada juga yang masih menggunakan triplek. Warung dan beberapa usaha kecil pun dapat dijumpai di sana.

"Nggak ada sertifikat resmi. Kan ini bukan tanah kita," ucapnya di halaman rumahnya, yang kini hanya berjarak sejengkal dari bekas jalur rel.

Warga lainnya, Dakri, 64 tahun, yang sudah tinggal di wilayah itu sejak akhir 1970-an, masih menyimpan nostalgia akan geliat kawasan yang dahulu sunyi, sejuk, dan lengang. Ia masih ingat betul ketika suara peluit kereta menjadi penanda waktu yang akrab di telinga.

"Kalau pagi-pagi suka denger suara kereta lewat, getaran tanahnya juga kerasa. Sekarang mah paling cuma motor lewat," ujar Dakri.

Dulu, ia biasa melihat petani membawa hasil panen dari sawah-sawah di sekitar rel. Kini, sawah itu telah berganti menjadi deretan bangunan rumah dan toko kelontong.

"Lahan yang dulu hijau semua, sekarang udah jadi bangunan," katanya pelan.

Walaupun kawasan tersebut berkembang pesat, jejak sejarah rel kereta api itu tak pernah benar-benar hilang. Besi rel yang masih menyembul dari tanah menjadi saksi bisu masa lalu.

Beberapa warga bahkan memanfaatkan lahan sisi rel sebagai jemuran atau batas halaman rumah. Ada pula yang sengaja membiarkannya tetap terbuka, sebagai pengingat asal-usul tempat mereka berdiri.

Upaya reaktivasi jalur kereta Bandung-Ciwidey sempat digaungkan kembali oleh Dedi Mulyadi. Nono dan Dakri sudah mengetahui kabar tersebut. Keduanya mengaku tak keberatan.

Wacana memunculkan pro dan kontra di kalangan warga. Sebagian berharap geliat ekonomi lokal bisa tumbuh dengan dibukanya kembali jalur Ciwidey–Bandung, namun sebagian lain khawatir akan kehilangan rumah yang sudah puluhan tahun mereka tempati.

"Kalau jadi reaktivasi, entah rumah saya masih berdiri atau nggak," kata Nono sambil tersenyum.

"Saya mah legowo aja," sambungnya.

Sampai hari ini, belum ada kepastian dari pemerintah terkait kelanjutan proyek reaktivasi jalur ini. Namun bagi warga seperti Enik, Sopian, Paini, Nono dan Dakri, sejarah rel itu bukan hanya tentang kereta dan stasiun, tapi juga tentang perjalanan hidup yang terpatri di atasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)