Kereta Bandung–Ciwidey Datang, Gema Kehidupan Lama Terhenti

10 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Proses pembangunan jalur Kereta Cepat Whoosh yang juga berdampak terhadap sejumlah lahan warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Proses pembangunan jalur Kereta Cepat Whoosh yang juga berdampak terhadap sejumlah lahan warga. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

AYOBANDUNG.ID - Setengah abad yang lalu, rel kereta api jalur Bandung-Ciwidey berhenti beroperasi. Namun, bagi sejumlah warga yang membangun rumah di atasnya, itu adalah awal dari sebuah perubahan signifikan dalam gaya hidup mereka.

Di atas besi yang mulai ditelan karat dan disampingnya, berdiri rumah-rumah penuh cerita. Di dalam salah satunya, Enik Supriyati, sedang berbincang dengan kerabatnya.

Keluarganya telah tinggal di kawasan tersebut sejak ia masih berusia batita. Rumahnya beralamat di Kampung Maleer Utara, RT 6 RW 4 Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Bangunan rumahnya sederhana, ada halaman, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan dua kamar tidur. Luasnya hanya berkisar tiga kali enam meter persegi. Tapi itu cukup buat menampung tiga generasi keluarganya.

Wanita 63 tahun itu bercerita, dulu, sang ayah merupakan salah satu pekerja di Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA). Sekitar tahun 1960-an, ayahnya memutuskan untuk tinggal di kawasan tersebut.

Lokasinya hanya berjarak sekitar 7 meter dari samping rel kereta api. Kala itu, kereta masih berlalu-lalang, menandakan rel jalur Bandung-Ciwidey masih aktif. Kereta yang melintas kebanyakan mengangkut komoditas bumi, salah satunya teh dan kopi. Tak jarang juga 'ular besi' itu mengangkut orang-orang.

"Dulu kalau ayah lewat naik kereta saya suka dadah-dadah ke dia. Kalau hari Minggu saya diajak naik kereta," kata Enik sambil mengenang masa lalunya.

Kampung Maleer Utara pada tahun 60-an belum menjadi permukiman padat. Pemandangan perkebunan, tanah tak bertuan, hingga sawah tak sukar untuk ditemui. Hanya ada beberapa rumah saja. Jarak antar rumah pun terbilang cukup jauh.

Enik bercerita beberapa warga tidak langsung mendirikan rumah di gang tersebut. Mulanya, mereka hanya membuat kandang ayam atau tempat untuk menjemur pakaian. Waktu berlalu dan akhirnya warga menyulapnya menjadi rumah.

Tanah yang kini telah dibangun rumah Enik juga awalnya lahan liar milik DJKA. Dia bilang, sang ayah kemudian meminta izin kepada pemilik lahan untuk membangun rumah. Akhirnya, rumah yang kini ditinggali Enik bersama dua anak dan 4 cucunya dibangun.

Namun rumah tersebut pernah ditempati oleh adiknya yang juga pernah bekerja di DJKA. Cukup lama sang adik, kata Enik, menempati rumah tersebut. Itu karena Enik diboyong suaminya tinggal di rumah mertua.

Kemudian saat ia tengah hamil anak pertama, dia memutuskan untuk kembali ke rumah yang dibangun ayahnya. Ia membeli rumah itu dengan harga sekitar 1 sampai 3 juta rupiah. Kembalilah rumah sang ayah ke tangannya.

Sekitar tahun 2007, Enik pernah menangis histeris. Kabar rencana pembongkaran rumah yang berada di sekitaran rel kereta api jalur Bandung-Ciwidey sampai ke telinganya. Dia panik. Sebab jika digusur, Enik tak tahu harus tinggal di mana.

"Saya nangis ke adik saya kenapa di bongkar. Katanya jalur mau aktif lagi. Terus ada pengukuran gitu, satu meternya kalau ngga salah ingat Rp250 ribu," ungkapnya.

Beruntungnya wacana tersebut tidak terealisasi. Rumahnya dan warga yang lain masih berdiri kokoh hingga sekarang. Di satu sisi, ternyata selama ini ia membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kepada pemerintah.

Kepada AyoBandung, Enik menunjukkan surat bukti pembayaran sebanyak 6 kertas berwarna merah muda. Pembayaran terakhir yaitu pada 2024 dan yang paling lama adalah tahun 2022. Dia mengaku, rutin membayar PBB setiap tahunnya.

Belakangan ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi hendak mereaktivasi jalur kereta api Bandung-Ciwidey dan 4 jalur lainnya. Rumah Nenik terancam digusur oleh proyek tersebut. Meski rencana itu masih digodok pemerintah, Enik sedikit khawatir.

Tetapi di satu sisi, ia tak keberatan jika Dedi Mulyadi hendak mengaktifkan kembali jalur yang telah lama mati itu. Menurutnya, selama ini, ia mengakui bahwa tanah yang digunakan untuk membangun rumah bukan miliknya. Enik juga menyampaikan bahwa ia tak memiliki bukti sah sebagai pemilik lahan.

Sekali waktu, mendiang ayahnya pernah berpesan kepada dirinya. Pesan itu untuk mengingatkan Enik jika tanah yang mereka tempati bukan miliknya. Sehingga jika pemilik hendak memanfaatkan kembali lahan tersebut, maha Enik harus merelakannya.

"Yah kalau saya mah legowo aja kalau mau ada reaktivasi rel lagi. Soalnya ini kan bukan tanah kita, tanah DJKA," ucapnya sambil melirik ke halaman depan.

Kendati begitu, Enik berharap ada uang ganti rugi dari pemerintah. Menurutnya itu untuk menggantikan biaya pembangunan rumah. Berapapun itu, asal nominalnya dirasa cocok, ia akan merelakan rumahnya rata dengan tanah.

(Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Rel yang berada di jalan gang Maleer Utara membentang sepanjang sekitar 450 meter. Di beberapa titik, rel telah ditutupi oleh bangunan, mulai dari rumah, gudang, kontrakan, hingga kandang ayam.

Jalan gang hanya bisa dilewati maksimal oleh dua sepeda motor. Kawasan itu terbilang padat. Saat AyoBandung menyusuri nya, banyak anak-anak yang tengah bermain, bapak-bapak yang nongkrong, hingga ibu-ibu yang merumpi di sebuah warung sayuran.

Sebagaimana hiruk pikuk kehidupan di kota, suasana di sana tak jauh berbeda. Paginya orang dewasa bekerja, anak-anak pergi ke sekolah, dan ibu-ibu mengurus rumahnya. Beberapa bangunan terlihat dibangun menggunakan bata merah atau bata ringan. Ada juga yang menggunakan triplek.

Bangunan di sana dibangun tidak hanya untuk rumah saja. Cukup banyak yang dijadikan tempat usaha seperti galon isi ulang dan warung. Kebutuhan pangan cukup tersedia di kawasan tersebut.

Di sebelah barat gang, berdiri salah satu mall ternama di Kota Bandung. Keadaan yang ada di dalam mal berbanding terbalik dengan di gang tersebut; pengunjung mal makan enak, warga di samping mal berjuang untuk hidup.

Sementara itu, ketua RT 6, Sopian (42) mengatakan ada 88 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal. Dia juga menyampaikan banyak rumah yang sudah dibangun sejak lama, sekitar awal 2000-an.

Untuk konstruksi bangunan, ia menyebut rata-rata semi permanen. Terkait surat kepemilikan, Sopian menyebut warganya tidak memiliki bukti yang sah. Sebab kebanyakan warga tinggal di atas lahan milik DJKA.

"Warga ngga ada yang punya sertifikat," ucapnya saat ditemui di lokasi.

Para penghuni yang berjuang untuk hidup kebanyakan bekerja sebagai buruh. Entah itu buruh pabrik, toko, atau menjadi ojek online (ojol). Tak sedikit juga yang membuka usaha kecil-kecilan.

Ditanya soal reaktivasi jalur rel kereta api Bandung-Ciwidey, Sopian dengan senyum lebarnya menyatakan tak keberatan. Sama seperti Enik, dia mengakui tinggal di tanah yang bukan miliknya. Sehingga jika pemilik tanah hendak memanfaatkan lahan tersebut, ia bersiap untuk pindah.

"Ya ngga apa-apa, setuju aja kalau saya mah. Ini kan bukan lahan kita," bebernya.

Warga lainnya, Paini juga merupakan penghuni lama kawasan Maleer Utara. Sejak kecil ia sudah tinggal di sana hingga kini memiliki anak dan cucu.

Perempuan 60 tahun itu bilang, saat rel masih aktif, banyak anak-anak yang senang ketika melihat kereta melintas. Mereka, kenangnya, melambaikan tangan kepada kereta.

Dulu, ia menyebut kala itu rumah di kawasan tersebut tidak seramai sekarang. Tumbuhan liar dan sawah kangkung lebih banyak jumlahnya ketimbang rumah. Tapi kini keadaannya terbalik. Lahan dan sawah telah diubah menjadi bangunan rumah, toko, hingga mal.

"Sekarang mah anak-anak kalau mau main tempatnya sempit, nggak kaya dulu," ujarnya.

Sementara ditanya soal pendapatnya tentang reaktivasi jalur rel KA Bandung-Ciwidey, awalnya ia tertawa kecil. Setelah itu, Paini mengutarakan pendapatnya. Dia mengaku tak keberatan jika harus pindah. "Ngga apa-apa kan ini bukan tanah kita juga," ungkapnya.

Baik Sopian dan Paini, keduanya sama-sama berharap ada uang ganti rugi dari pemerintah jika wacana reaktivasi jalur rel yang mati terealisasi.

Jalur rel Bandung-Ciwidey membentang dari tengah kota Bandung menuju lembah-lembah di selatan, berkelok melalui hamparan sawah dan hutan yang dulu makmur oleh komoditas ekspor.

Dibangun lebih dari seabad silam, ia kini nyaris lenyap ditelan aspal dan bangunan permanen. Ironisnya, saat pembangunan infrastruktur modern kini dihadang biaya dan birokrasi, rel tua warisan kolonial itu justru membuktikan bahwa ambisi besar pernah benar-benar diwujudkan.

Pada mulanya, adalah perusahaan kereta api kolonial, Staatsspoorwegen (SS), yang membangun jalur ini pada 1917. Bukan untuk kepentingan mobilitas warga, melainkan untuk melayani industri perkebunan yang saat itu mendominasi bentang alam Bandung Selatan.

SS membentangkan rel dari Stasiun Cikudapateuh, lalu menyusuri Buah Batu, Bojongsoang, Soreang, hingga ke kaki pegunungan Ciwidey. Proyek ini digarap dengan penuh perhitungan dan tak sedikit biaya yang dikucurkan.

Segmen Bandung–Soreang saja menguras hingga 1,5 juta gulden. Adapun segmen Soreang–Ciwidey ditaksir mencapai 1,7 juta gulden. Di Sadu, sebuah jembatan dibangun menggunakan besi bekas dari Karawang. Pilihan ini diambil demi menekan ongkos. Namun hasilnya tak bisa dianggap remeh, jembatan itu masih berdiri kokoh hingga hari ini.

Rencana reaktivasi rel ini sempat mencuat, membuka kembali lembaran sejarah panjang yang nyaris terlupakan. Jalur ini bukan hanya soal logistik atau angkutan penumpang, melainkan juga sebuah jejak ekonomi kolonial. Jalur itu dulu dibangun bukan sekadar untuk transportasi warga, tapi untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi.

Kala itu, Bandung Selatan adalah lumbung kekayaan agraria. Teh, kina, kopi, hingga kayu rasamala diangkut dari lahan-lahan milik pengusaha Eropa seperti Ir. Kerkhoven dan K.A.R. Bosscha.

Di Banjaran saja, tercatat ada 27 persil perkebunan seluas 5.904 bau—sekitar 4.130 hektare. Di Majalaya dan Cisondari, ribuan hektare lahan diselimuti komoditas yang menjanjikan untung besar.

Kini, kejayaan itu tinggal cerita. Rel tua yang pernah menjadi urat nadi perdagangan dan industri, telah tertimbun waktu, aspal, dan dinding beton. Kejayaan rel tersebut masih terngiang di ingatan Nono Gunawan, warga RT 6 RW 2 Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung.

Sewaktu masih duduk di bangku SMP, Nono sering menaiki kereta api tanpa tiket. Istilahnya penumpang gelap. Namun ia melakukan itu hanya untuk bersenang-senang saja.

"Iseng aja itu naik kereta, dari Cibangkong atau Buahbatu sampai ke sini (Kujangsari) atau kabupaten," kata dia sambil menghembuskan asap rokok.

Pria 57 tahun itu bercerita asal usul permukiman di gang Jalan Ciparay. Lebar jalan gang itu hanya sekitar dua motor. Jalan gangnya pun dibangun tepat di atas rel. Material jalan terbuat dari paving blok yang disusun di area rel. Sehingga besi yang jadi lintasan roda kereta menyembul ke atas.

Kata dia, dulu banyak persawahan di sekitaran rel kereta api yang saat itu masih aktif. Rumah juga hanya masih bisa terhitung oleh jari. Namun jumlahnya bertambah ketika jalur sudah tidak aktif.

Satu per satu rumah dibangun. Termasuk rumahnya yang telah berdiri sejak sekitar tahun 70-an. Beberapa warga bahkan awalnya membangun kandang ayam. Kemudian warga tersebut membangun rumah di lahan tersebut.

Jarak rumahnya ke rel hanya satu meter saja. Jika perlintasan KA masih aktif, bagian depan rumahnya mungkin tergerus kereta. Untungnya jalur sudah tidak beroperasi.

Sekitar tahun 2000-an kawasan terus berubah menjadi pemukiman warga. Tahun demi tahun berganti, kini daerah tersebut menjadi padat penduduk.

Kebanyakan warga membangun rumah dengan material bata merah dan bata ringan. Tetapi ada juga yang masih menggunakan triplek. Warung dan beberapa usaha kecil pun dapat dijumpai di sana.

"Nggak ada sertifikat resmi. Kan ini bukan tanah kita," ucapnya di halaman rumahnya, yang kini hanya berjarak sejengkal dari bekas jalur rel.

Warga lainnya, Dakri, 64 tahun, yang sudah tinggal di wilayah itu sejak akhir 1970-an, masih menyimpan nostalgia akan geliat kawasan yang dahulu sunyi, sejuk, dan lengang. Ia masih ingat betul ketika suara peluit kereta menjadi penanda waktu yang akrab di telinga.

"Kalau pagi-pagi suka denger suara kereta lewat, getaran tanahnya juga kerasa. Sekarang mah paling cuma motor lewat," ujar Dakri.

Dulu, ia biasa melihat petani membawa hasil panen dari sawah-sawah di sekitar rel. Kini, sawah itu telah berganti menjadi deretan bangunan rumah dan toko kelontong.

"Lahan yang dulu hijau semua, sekarang udah jadi bangunan," katanya pelan.

Walaupun kawasan tersebut berkembang pesat, jejak sejarah rel kereta api itu tak pernah benar-benar hilang. Besi rel yang masih menyembul dari tanah menjadi saksi bisu masa lalu.

Beberapa warga bahkan memanfaatkan lahan sisi rel sebagai jemuran atau batas halaman rumah. Ada pula yang sengaja membiarkannya tetap terbuka, sebagai pengingat asal-usul tempat mereka berdiri.

Upaya reaktivasi jalur kereta Bandung-Ciwidey sempat digaungkan kembali oleh Dedi Mulyadi. Nono dan Dakri sudah mengetahui kabar tersebut. Keduanya mengaku tak keberatan.

Wacana memunculkan pro dan kontra di kalangan warga. Sebagian berharap geliat ekonomi lokal bisa tumbuh dengan dibukanya kembali jalur Ciwidey–Bandung, namun sebagian lain khawatir akan kehilangan rumah yang sudah puluhan tahun mereka tempati.

"Kalau jadi reaktivasi, entah rumah saya masih berdiri atau nggak," kata Nono sambil tersenyum.

"Saya mah legowo aja," sambungnya.

Sampai hari ini, belum ada kepastian dari pemerintah terkait kelanjutan proyek reaktivasi jalur ini. Namun bagi warga seperti Enik, Sopian, Paini, Nono dan Dakri, sejarah rel itu bukan hanya tentang kereta dan stasiun, tapi juga tentang perjalanan hidup yang terpatri di atasnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)