Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Rabu 18 Mar 2026, 15:01 WIB
Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah lonjakan pemudik Lebaran 2025 yang diprediksi mencapai 12,74 juta pengguna sepeda motor atau sekitar 8,7% dari total pergerakan masyarakat, pilihan mudik dengan motor bukan sekadar tren, melainkan keputusan rasional. Bagi sebagian perantau jarak dekat, seperti Ersha Aisyah (22), motor adalah jalan tengah antara keterbatasan biaya dan keinginan pulang meski risiko di jalan tetap mengintai.

Mudik bukan hanya soal seberapa cepat sampai ke tujuan. Lebih dari itu, ia adalah hasil dari berbagai pertimbangan yang sering kali sangat sederhana: biaya, jarak, dan kondisi pribadi. Di jalur seperti Jatinangor menuju Subang, pilihan itu terasa nyata bagi para pemudik harian yang harus menimbang segalanya secara mandiri.

Salah satunya adalah Ersha Aisyah. Mahasiswa berusia 22 tahun itu sudah tiga kali mudik menggunakan sepeda motor. Keputusan tersebut, menurutnya, bukan tanpa alasan.

“Aku memutuskan mudik pakai motor karena ingin hemat. Soalnya transportasi umum yang biasa kupakai harganya naik,” kata Ersha.

Apa yang dialami Ersha mencerminkan fenomena yang lebih luas. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, sepeda motor menjadi moda transportasi signifikan dengan 12,74 juta pengguna. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga menunjukkan bahwa jutaan orang menghadapi situasi serupa: keterbatasan biaya membuat motor menjadi pilihan paling masuk akal.

Bagi Ersha, selisih biaya menjadi faktor utama. Dalam sekali perjalanan dari Jatinangor ke Subang, ia hanya perlu mengeluarkan biaya bensin yang relatif kecil.

“Kalau motor, sekali full tank Rp25 ribu sampai Rp30 ribu itu sudah nyampe rumah,” ujarnya.

Bandingkan dengan transportasi umum. Harga travel pada hari biasa saja sudah mencapai sekitar Rp120 ribu, dan akan melonjak saat musim Lebaran. Dalam kondisi keuangan terbatas, selisih ini menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Namun, pilihan hemat ini datang dengan konsekuensi. Waktu tempuh yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan perkiraan.

“Kalau di Maps sebenarnya bisa 3 jam, tapi aku butuh 4 sampai 5 jam,” kata Ersha.

Ia memilih berkendara lebih santai demi keselamatan. Keputusan yang sama kemungkinan diambil oleh jutaan pemudik motor lainnya, yang pada akhirnya ikut memengaruhi kepadatan di jalan.

Data menunjukkan, 34,6% atau sekitar 4,41 juta pemudik motor memilih jalur arteri atau alternatif. Jalur inilah yang diprediksi menjadi titik penumpukan paling krusial. Kondisi ini sejalan dengan pengalaman Ersha yang kerap memilih jalur non-tol seperti Dago dengan rute dengan tanjakan dan turunan ekstrem.

“Aku lebih sering pilih jalur Dago, walaupun nanjak dan turunnya curam, itu cukup seram,” ujarnya.

Selain jalur arteri, pemudik motor juga tersebar di berbagai lintasan lain seperti Pantura (13,5%), jalur tengah Jawa (8,2%), hingga jalur selatan (3,5%). Artinya, kepadatan tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi menyebar di banyak ruas jalan yang memiliki karakter berbeda, mulai dari jalan lurus panjang hingga jalur pegunungan.

Tantangan di jalan tidak hanya soal kemacetan. Faktor cuaca dan kondisi medan juga menjadi bagian dari risiko. Di wilayah seperti Lembang, suhu dingin bisa menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi pengendara dengan perlengkapan terbatas.

Ersha bahkan pernah mengalami kejadian yang nyaris berbahaya saat melintasi tanjakan.

“Aku pernah motor mati di tanjakan dan mundur, akhirnya aku sama saudaraku jatuh,” katanya.

Dalam situasi itu, ia harus mengambil keputusan cepat untuk menghindari risiko yang lebih besar.

“Jatuhnya memang sengaja dijatuhin, karena kalau enggak bisa mundur terus dan itu lebih bahaya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai sebagian besar pemudik motor sudah memahami konsekuensi dari pilihan mereka. Persiapan teknis seperti pengecekan rem, oli, dan mesin menjadi langkah dasar yang dilakukan sebelum berangkat.

Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Namun, data menunjukkan ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Sebanyak 33,9% atau sekitar 4,32 juta pemudik motor belum menentukan rute perjalanan. Ketidakpastian ini berpotensi memperparah kepadatan di lapangan, karena distribusi kendaraan menjadi sulit diprediksi.

Bagi Ersha, penggunaan motor masih terasa wajar selama jaraknya tidak terlalu jauh.

“Karena jaraknya dekat, di bawah 100 kilometer masih terasa wajar pakai motor,” ujarnya.

Strategi lain yang ia lakukan adalah berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik. Jalan yang lebih sepi memberikan ruang untuk berkendara lebih aman dan nyaman.

Di balik semua perhitungan itu, mudik tetap memiliki makna yang tidak bisa digantikan oleh angka. Bagi Ersha, perjalanan pulang adalah tentang pertemuan.

“Mudik itu momen buat kumpul sama keluarga yang jarang ketemu,” katanya.

Di tengah risiko, kelelahan, dan keterbatasan, alasan itu tetap menjadi yang paling kuat.

“Umur orang itu nggak ada yang tahu, jadi kalau ada waktu dan kesempatan, kenapa enggak pulang?” tutupnya.

News Update

Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 15:02

Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam.

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 18 Mar 2026, 15:01

Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Mudik Lebaran 2025 diprediksi melibatkan 12,74 juta pemudik sepeda motor, menjadikannya salah satu moda transportasi paling dominan di Indonesia.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 13:12

Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 18 Mar 2026, 11:36

Uniknya Pos Terpadu Nagreg, Lebih Mirip Restoran Nuansa Sunda

Pos terpadu di Nagreg tampil unik dengan konsep saung khas Sunda. Dilengkapi WiFi, area bermain anak, dan live music, tempat ini jadi rest area nyaman bagi pemudik.

Pos Terpadu Nagreg (Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 18 Mar 2026, 10:51

Ngabuburit Asyik dengan mobil Remote Control

Komunitas Bansel RC Lost Track mengisi ngabuburit dengan event Ramadan Adventure Ride & Enjoy di Banjaran. Lintasan buatan dan permainan seru membuat suasana lebih santai dan akrab.

Mobil remote control off-road. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 17:48

Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Meski dompet elektronik jadi "amplop modern" yang praktis, mampukah teknologi menggantikan hangatnya tradisi salam tempel?

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 16:01

Pasca-Lebaran: Simpul Perasaan, Peluang, dan Tantangan Baru di Tanah Parahyangan

Peralihan menuju Syawal menjadi titik awal baru bagi masyarakat, ditandai dengan arus urbanisasi, pergerakan pasar kerja, fluktuasi UMKM, hingga perubahan pola konsumsi.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 15:06

Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 14:11

Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ.

Jalan-jalan yang teratur, diberi warna kuning, di sanalah (A-B-C) dibangun 150 rumah tamanvilla. Situ Aksan menjadi kekuatannya. (Sumber: Sumber citra satelit: Google maps | Foto: T Bachtiar)
Linimasa 17 Mar 2026, 14:06

Kisah Balap Lari Pakansari, Dashrun Ramadan yang Lahir dari Jalanan

Setelah tarawih, kawasan Stadion Pakansari dipenuhi anak muda yang mengikuti balap lari pendek. Tradisi spontan ini berkembang menjadi agenda olahraga populer di Kabupaten Bogor.

Lomba lari Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. (Sumber: Pemkab Bogor)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 11:49

Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping.

Rengginang. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hayati Mayang Arum)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 10:29

Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Nastar dan ketupat sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Linimasa 17 Mar 2026, 09:45

Balada Lebaran Zaman Kolonial, Kala Pribumi Berburu Utang di Rumah Gadai

Tradisi baju baru saat Lebaran ternyata sudah kuat sejak zaman Hindia Belanda. Catatan majalah Indie 1922 menyebut banyak warga meminjam uang bahkan menggadaikan barang demi tampil rapi di hari raya.

ilustrasi pribumi menggadai barang untk keperluan lebaran.
Beranda 17 Mar 2026, 08:56

Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Kisah Surya Apandi, porter Stasiun Bandung yang telah bekerja selama 27 tahun, menggambarkan perjuangan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak menentu di tengah ramainya arus mudik.

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 16 Mar 2026, 21:01

Mendobrak Sekat Finansial, Cara Disabilitas di Jawa Barat Kini Lebih Berdaya Lewat DIA KITA

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 20:43

Pembatasan Media Sosial Anak Resmi Berlaku 28 Maret: Solusi atau Tantangan Baru bagi Indonesia?

Mulai 28 Maret, Permen Komdigi No. 9/2026 ubah total akses digital anak bawah 16 tahun.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)