Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah lonjakan pemudik Lebaran 2025 yang diprediksi mencapai 12,74 juta pengguna sepeda motor atau sekitar 8,7% dari total pergerakan masyarakat, pilihan mudik dengan motor bukan sekadar tren, melainkan keputusan rasional. Bagi sebagian perantau jarak dekat, seperti Ersha Aisyah (22), motor adalah jalan tengah antara keterbatasan biaya dan keinginan pulang meski risiko di jalan tetap mengintai.

Mudik bukan hanya soal seberapa cepat sampai ke tujuan. Lebih dari itu, ia adalah hasil dari berbagai pertimbangan yang sering kali sangat sederhana: biaya, jarak, dan kondisi pribadi. Di jalur seperti Jatinangor menuju Subang, pilihan itu terasa nyata bagi para pemudik harian yang harus menimbang segalanya secara mandiri.

Salah satunya adalah Ersha Aisyah. Mahasiswa berusia 22 tahun itu sudah tiga kali mudik menggunakan sepeda motor. Keputusan tersebut, menurutnya, bukan tanpa alasan.

“Aku memutuskan mudik pakai motor karena ingin hemat. Soalnya transportasi umum yang biasa kupakai harganya naik,” kata Ersha.

Apa yang dialami Ersha mencerminkan fenomena yang lebih luas. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, sepeda motor menjadi moda transportasi signifikan dengan 12,74 juta pengguna. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga menunjukkan bahwa jutaan orang menghadapi situasi serupa: keterbatasan biaya membuat motor menjadi pilihan paling masuk akal.

Bagi Ersha, selisih biaya menjadi faktor utama. Dalam sekali perjalanan dari Jatinangor ke Subang, ia hanya perlu mengeluarkan biaya bensin yang relatif kecil.

“Kalau motor, sekali full tank Rp25 ribu sampai Rp30 ribu itu sudah nyampe rumah,” ujarnya.

Bandingkan dengan transportasi umum. Harga travel pada hari biasa saja sudah mencapai sekitar Rp120 ribu, dan akan melonjak saat musim Lebaran. Dalam kondisi keuangan terbatas, selisih ini menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Namun, pilihan hemat ini datang dengan konsekuensi. Waktu tempuh yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan perkiraan.

“Kalau di Maps sebenarnya bisa 3 jam, tapi aku butuh 4 sampai 5 jam,” kata Ersha.

Ia memilih berkendara lebih santai demi keselamatan. Keputusan yang sama kemungkinan diambil oleh jutaan pemudik motor lainnya, yang pada akhirnya ikut memengaruhi kepadatan di jalan.

Data menunjukkan, 34,6% atau sekitar 4,41 juta pemudik motor memilih jalur arteri atau alternatif. Jalur inilah yang diprediksi menjadi titik penumpukan paling krusial. Kondisi ini sejalan dengan pengalaman Ersha yang kerap memilih jalur non-tol seperti Dago dengan rute dengan tanjakan dan turunan ekstrem.

“Aku lebih sering pilih jalur Dago, walaupun nanjak dan turunnya curam, itu cukup seram,” ujarnya.

Selain jalur arteri, pemudik motor juga tersebar di berbagai lintasan lain seperti Pantura (13,5%), jalur tengah Jawa (8,2%), hingga jalur selatan (3,5%). Artinya, kepadatan tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi menyebar di banyak ruas jalan yang memiliki karakter berbeda, mulai dari jalan lurus panjang hingga jalur pegunungan.

Tantangan di jalan tidak hanya soal kemacetan. Faktor cuaca dan kondisi medan juga menjadi bagian dari risiko. Di wilayah seperti Lembang, suhu dingin bisa menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi pengendara dengan perlengkapan terbatas.

Ersha bahkan pernah mengalami kejadian yang nyaris berbahaya saat melintasi tanjakan.

“Aku pernah motor mati di tanjakan dan mundur, akhirnya aku sama saudaraku jatuh,” katanya.

Dalam situasi itu, ia harus mengambil keputusan cepat untuk menghindari risiko yang lebih besar.

“Jatuhnya memang sengaja dijatuhin, karena kalau enggak bisa mundur terus dan itu lebih bahaya,” jelasnya.

Meski demikian, ia menilai sebagian besar pemudik motor sudah memahami konsekuensi dari pilihan mereka. Persiapan teknis seperti pengecekan rem, oli, dan mesin menjadi langkah dasar yang dilakukan sebelum berangkat.

Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Namun, data menunjukkan ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Sebanyak 33,9% atau sekitar 4,32 juta pemudik motor belum menentukan rute perjalanan. Ketidakpastian ini berpotensi memperparah kepadatan di lapangan, karena distribusi kendaraan menjadi sulit diprediksi.

Bagi Ersha, penggunaan motor masih terasa wajar selama jaraknya tidak terlalu jauh.

“Karena jaraknya dekat, di bawah 100 kilometer masih terasa wajar pakai motor,” ujarnya.

Strategi lain yang ia lakukan adalah berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik. Jalan yang lebih sepi memberikan ruang untuk berkendara lebih aman dan nyaman.

Di balik semua perhitungan itu, mudik tetap memiliki makna yang tidak bisa digantikan oleh angka. Bagi Ersha, perjalanan pulang adalah tentang pertemuan.

“Mudik itu momen buat kumpul sama keluarga yang jarang ketemu,” katanya.

Di tengah risiko, kelelahan, dan keterbatasan, alasan itu tetap menjadi yang paling kuat.

“Umur orang itu nggak ada yang tahu, jadi kalau ada waktu dan kesempatan, kenapa enggak pulang?” tutupnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)