AYOBANDUNG.ID - Di tengah lonjakan pemudik Lebaran 2025 yang diprediksi mencapai 12,74 juta pengguna sepeda motor atau sekitar 8,7% dari total pergerakan masyarakat, pilihan mudik dengan motor bukan sekadar tren, melainkan keputusan rasional. Bagi sebagian perantau jarak dekat, seperti Ersha Aisyah (22), motor adalah jalan tengah antara keterbatasan biaya dan keinginan pulang meski risiko di jalan tetap mengintai.
Mudik bukan hanya soal seberapa cepat sampai ke tujuan. Lebih dari itu, ia adalah hasil dari berbagai pertimbangan yang sering kali sangat sederhana: biaya, jarak, dan kondisi pribadi. Di jalur seperti Jatinangor menuju Subang, pilihan itu terasa nyata bagi para pemudik harian yang harus menimbang segalanya secara mandiri.
Salah satunya adalah Ersha Aisyah. Mahasiswa berusia 22 tahun itu sudah tiga kali mudik menggunakan sepeda motor. Keputusan tersebut, menurutnya, bukan tanpa alasan.
“Aku memutuskan mudik pakai motor karena ingin hemat. Soalnya transportasi umum yang biasa kupakai harganya naik,” kata Ersha.
Apa yang dialami Ersha mencerminkan fenomena yang lebih luas. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, sepeda motor menjadi moda transportasi signifikan dengan 12,74 juta pengguna. Angka ini bukan hanya besar, tetapi juga menunjukkan bahwa jutaan orang menghadapi situasi serupa: keterbatasan biaya membuat motor menjadi pilihan paling masuk akal.
Bagi Ersha, selisih biaya menjadi faktor utama. Dalam sekali perjalanan dari Jatinangor ke Subang, ia hanya perlu mengeluarkan biaya bensin yang relatif kecil.
“Kalau motor, sekali full tank Rp25 ribu sampai Rp30 ribu itu sudah nyampe rumah,” ujarnya.
Bandingkan dengan transportasi umum. Harga travel pada hari biasa saja sudah mencapai sekitar Rp120 ribu, dan akan melonjak saat musim Lebaran. Dalam kondisi keuangan terbatas, selisih ini menjadi pertimbangan yang sulit diabaikan.

Namun, pilihan hemat ini datang dengan konsekuensi. Waktu tempuh yang dihadapi tidak selalu sesuai dengan perkiraan.
“Kalau di Maps sebenarnya bisa 3 jam, tapi aku butuh 4 sampai 5 jam,” kata Ersha.
Ia memilih berkendara lebih santai demi keselamatan. Keputusan yang sama kemungkinan diambil oleh jutaan pemudik motor lainnya, yang pada akhirnya ikut memengaruhi kepadatan di jalan.
Data menunjukkan, 34,6% atau sekitar 4,41 juta pemudik motor memilih jalur arteri atau alternatif. Jalur inilah yang diprediksi menjadi titik penumpukan paling krusial. Kondisi ini sejalan dengan pengalaman Ersha yang kerap memilih jalur non-tol seperti Dago dengan rute dengan tanjakan dan turunan ekstrem.
“Aku lebih sering pilih jalur Dago, walaupun nanjak dan turunnya curam, itu cukup seram,” ujarnya.
Selain jalur arteri, pemudik motor juga tersebar di berbagai lintasan lain seperti Pantura (13,5%), jalur tengah Jawa (8,2%), hingga jalur selatan (3,5%). Artinya, kepadatan tidak hanya terpusat di satu titik, tetapi menyebar di banyak ruas jalan yang memiliki karakter berbeda, mulai dari jalan lurus panjang hingga jalur pegunungan.
Tantangan di jalan tidak hanya soal kemacetan. Faktor cuaca dan kondisi medan juga menjadi bagian dari risiko. Di wilayah seperti Lembang, suhu dingin bisa menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi pengendara dengan perlengkapan terbatas.
Ersha bahkan pernah mengalami kejadian yang nyaris berbahaya saat melintasi tanjakan.
“Aku pernah motor mati di tanjakan dan mundur, akhirnya aku sama saudaraku jatuh,” katanya.
Dalam situasi itu, ia harus mengambil keputusan cepat untuk menghindari risiko yang lebih besar.
“Jatuhnya memang sengaja dijatuhin, karena kalau enggak bisa mundur terus dan itu lebih bahaya,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai sebagian besar pemudik motor sudah memahami konsekuensi dari pilihan mereka. Persiapan teknis seperti pengecekan rem, oli, dan mesin menjadi langkah dasar yang dilakukan sebelum berangkat.

Namun, data menunjukkan ada tantangan lain yang tidak kalah penting. Sebanyak 33,9% atau sekitar 4,32 juta pemudik motor belum menentukan rute perjalanan. Ketidakpastian ini berpotensi memperparah kepadatan di lapangan, karena distribusi kendaraan menjadi sulit diprediksi.
Bagi Ersha, penggunaan motor masih terasa wajar selama jaraknya tidak terlalu jauh.
“Karena jaraknya dekat, di bawah 100 kilometer masih terasa wajar pakai motor,” ujarnya.
Strategi lain yang ia lakukan adalah berangkat lebih awal sebelum puncak arus mudik. Jalan yang lebih sepi memberikan ruang untuk berkendara lebih aman dan nyaman.
Di balik semua perhitungan itu, mudik tetap memiliki makna yang tidak bisa digantikan oleh angka. Bagi Ersha, perjalanan pulang adalah tentang pertemuan.
“Mudik itu momen buat kumpul sama keluarga yang jarang ketemu,” katanya.
Di tengah risiko, kelelahan, dan keterbatasan, alasan itu tetap menjadi yang paling kuat.
“Umur orang itu nggak ada yang tahu, jadi kalau ada waktu dan kesempatan, kenapa enggak pulang?” tutupnya.
