Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya. William James pernah bilang bahwa pengalaman keagamaan itu sering terasa paling nyata justru di tengah tekanan batin. Sekarang mah dengan banyak jalan tol, Mudik tak identik lagi dengan macet.

Nah, kalau Pak Willie (William James) pernah naik elf jurusan Garut-Bandung waktu musim mudik, mungkin kutipannya bakal ditambah: “dan juga saat AC mati, paha lengket, dan klakson jadi zikir kolektif.” Saya masih ingat, berangkat pukul 6 pagi dengan niat suci ingin cepat sampai, tapi niat itu pelan-pelan berubah jadi latihan sabar tingkat dewa.

Elf yang saya tumpangi itu bukan sekadar kendaraan, tapi ekosistem berjalan. Ada yang tidur dengan kepala nyender ke bahu orang asing (yang pasrah seperti wali), ada yang ngemil tanpa henti seolah sedang mempersiapkan cadangan energi untuk kiamat kecil bernama macet total. Di tengah perjalanan, aroma Elf pun mulai bertransformasi—dari parfum murah, gorengan, sampai sesuatu yang tak terdefinisi tapi sangat “membumi.”

William James mungkin akan menyebut ini sebagai pengalaman transenden: melampaui batas kenyamanan manusia biasa. Jam demi jam berlalu, dan kami belum juga keluar dari lingkaran kemacetan yang tampaknya punya filosofi sendiri. Setiap meter terasa seperti pencapaian spiritual. Ketika akhirnya azan maghrib berkumandang, kami baru sampai di Kadungora.

Dari Garut ke Kadungora, saudara-saudara. Itu bukan perjalanan, itu meditasi panjang dengan bonus pegal dan krisis eksistensial. Saya mulai paham kenapa orang bilang mudik itu ibadah—karena tanpa iman, Anda sudah turun di kilometer pertama.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dan tentu saja, ada satu fenomena yang tak bisa dihindari: elf berubah fungsi jadi WC kedua. Bukan karena keinginan, tapi karena keadaan yang memaksa manusia berdamai dengan realitas. Dalam situasi seperti itu, batas antara sakral dan profan jadi kabur.

William James pasti tersenyum getir melihat bagaimana manusia menemukan “makna” bahkan dalam kondisi paling tidak ideal—atau mungkin beliau akan turun di tengah jalan sambil berkata, “ini di luar penelitian saya.”

Anehnya, sekarang ketika jalanan lebih lancar, kendaraan lebih nyaman, dan perjalanan lebih singkat, justru ada yang terasa hilang. Tidak ada lagi percakapan absurd dengan penumpang sebelah, tidak ada lagi solidaritas diam-diam saat semua orang sama-sama terjebak, dan tentu saja, tidak ada lagi drama elf yang berubah jadi ruang ujian kesabaran kolektif.

Mungkin benar, yang bikin kangen dari mudik itu bukan sampainya, tapi macetnya—karena di situlah kita belajar jadi manusia, sekaligus sedikit lebih religius… meski dengan cara yang sangat tidak terduga.

Macet: Kurikulum Memahami Hidup

Kalau dipikir-pikir, mudik zaman itu seperti kurikulum tak resmi untuk memahami hidup. Tidak ada silabus, tapi materinya lengkap: kesabaran, empati, sampai kemampuan menahan hal-hal yang seharusnya tidak ditahan.

Di dalam elf yang padat itu, semua orang seperti dipaksa jadi filsuf dadakan. Seorang bapak-bapak di depan saya pernah nyeletuk, “Hidup ini kayak macet, Dek. Kita nggak tahu kapan jalan, tapi harus tetap jalanin.”

Saya curiga beliau belum pernah baca William James, tapi semangatnya sudah sampai ke sana—mengolah penderitaan jadi makna, meski sambil kipas-kipas pakai tiket bekas.

Di tengah macet yang seperti tidak punya ujung, muncul juga fenomena sosial yang jarang terjadi di luar konteks ini: keakraban instan. Orang yang tadinya tidak saling kenal, tiba-tiba saling tukar cerita hidup, dari masalah kerja sampai rencana menikah yang tertunda karena “nunggu rezeki dulu.” Ada semacam pengakuan diam-diam bahwa semua orang di dalam elf itu adalah satu komunitas sementara, diikat oleh nasib yang sama: terjebak.

William James mungkin akan menyebut ini sebagai “kesadaran kolektif yang lahir dari tekanan,” tapi versi lokalnya lebih sederhana: “ya sudah, daripada stres, mending ngobrol.”

Namun tentu saja, tidak semua momen penuh kebijaksanaan. Ada juga drama kecil yang justru jadi bumbu utama. Seorang ibu-ibu yang mulai gelisah karena anaknya rewel, seorang pemuda yang pura-pura tidur supaya tidak kebagian gendong bayi, sampai sopir yang sesekali mengumpat pelan seolah sedang berdialog dengan takdir.

Klakson jadi bahasa utama, dan setiap bunyinya seperti doa yang dilempar ke langit: semoga depan sana sedikit longgar. Tapi langit, seperti biasa, punya rencana sendiri—dan biasanya rencananya adalah “tahan dulu.”

Menariknya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, manusia tetap menemukan cara untuk bertahan. Ada yang mulai bercanda, ada yang menyanyi pelan, bahkan ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak di posisi yang secara ilmiah seharusnya mustahil.

Itu mungkin yang dimaksud William James ketika berbicara tentang kapasitas manusia untuk beradaptasi secara spiritual—bahwa bahkan dalam kondisi yang paling sempit sekalipun, jiwa tetap mencari ruang untuk bernapas. Meski kadang, yang bernapas itu bukan cuma jiwa, tapi juga aroma yang semakin “berkembang.”

Ketika akhirnya perjalanan itu selesai—entah pukul berapa, karena waktu sudah kehilangan maknanya—ada perasaan aneh yang muncul. Bukan sekadar lega, tapi semacam kebanggaan kecil. Seolah-olah kita baru saja melewati ritual yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya.

Tidak ada sertifikat, tidak ada medali, tapi ada cerita yang akan terus diulang setiap tahun, dengan sedikit tambahan dramatis di sana-sini. Karena seperti semua kenangan, yang sulit justru sering jadi yang paling layak dikenang.

Baca Juga: Apa yang Hilang dalam Lebaran

Sekarang, ketika mudik bisa ditempuh dengan lebih cepat, dengan AC dingin dan kursi yang tidak saling menempel seperti takdir yang dipaksakan, pengalaman itu terasa lebih… praktis, tapi kurang berwarna. Tidak ada lagi ruang untuk refleksi yang dipicu oleh penderitaan kecil, tidak ada lagi “pencerahan” yang datang karena terjebak terlalu lama dengan pikiran sendiri.

William James mungkin akan bilang bahwa pengalaman keagamaan memang tidak harus selalu lahir dari kesulitan, tapi entah kenapa, kita justru lebih mudah menemukannya di sana.

Jadi mungkin benar, yang kita rindukan bukan macetnya itu sendiri, tapi versi diri kita yang muncul karenanya—yang lebih sabar, lebih peka, dan sedikit lebih bijak, meski terpaksa. Mudik dulu mengajarkan bahwa perjalanan bukan soal seberapa cepat sampai, tapi seberapa dalam kita mengalami setiap detiknya.

Bahkan jika detik itu diisi dengan klakson, keringat, dan doa yang setengah serius. Dan di situlah letak humornya: bahwa di tengah kekacauan yang terasa tidak masuk akal, kita justru menemukan sesuatu yang… masuk akal sekali tentang menjadi manusia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung
Tag Terkait

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:58

Pengembangan Mainan Anak Bercorak Tradisional

Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional dengan  menerapkan kemasan  yang menarik.

Permainan tradisional Sunda di halaman Gedung Pakuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:42

Menerobos Aturan di Simpang: Salah Pengendara atau Desain Jalan?

ATCS Dishub Kota Bandung mencatat ratusan pelanggaran di 10 lokasi simpang dengan tingkat pelanggaran tertinggi setiap bulan.

Dua pengendara sepeda motor kedapatan berhenti di zebra cross (4/5/2026). (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 16:04

Trotoar, PKL, dan Keadilan Ruang Kota

Kebutuhan trotoar, PKL yang tertata dan berkelanjutan hingga adanya keadilan ruang kota.

Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 15:11

Optimasi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Kendaraan Listrik

Audit teknologi tidak hanya terkait dengan transfer teknologi namun juga bertujuan untuk memperluas lapangan kerja yang layak secara berkesinambungan.

Ilustrasi kendaraan listrik. (Sumber: Pexels | Foto: Mad Knoxx)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:55

Kegagalan Penataan Kota, Menumbuhkan Tata Jalanan

Di balik semrawutnya Pasar Cicadas, membuat PKL terpaksa menutup akses toko. Namun justru memunculkan simbiosis sebagai jalan tengah keduanya tetap hidup.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:37

Fenomena Live Shopping, Mengapa Mahasiswa Sulit Menahan Godaan Belanja?

Menilik fenomena live shopping dari sudut pandang mahasiswa. Mengapa diskon temporal dan live shopping begitu adiktif hingga memicu gaya hidup konsumtif?

ilustrasi live shopping. (Sumber: gemini)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 12:26

World Cup TVRI

Selain tahun ini, TVRI pernah melakukannya pada tahun 1970.

Bola Piala Dunia 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: UKinUSA)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 11:51

Panduan Wisata Kota Lama Semarang: Riwayat Jejak Kolonial di Jantung Kota Pelabuhan

Kota Lama Semarang menawarkan pengalaman berjalan kaki di antara bangunan kolonial, museum, galeri seni, dan kuliner legendaris Jawa Tengah.

Kota Lama Semarang. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 11:40

Jejak Keemasan Majalah Vista

Jejak Keemasan Majalah Vista: Menelusuri Dunia Hiburan Era 1980-90-an

Pebulutangkis nasional Hastomo Arbi menghiasi sampul depan Majalah Vista edisi Juni 1985. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 10:48

Menelisik Bisnis Jastip Fashion, Antara Peluang Ekonomi dan Celah Kebocoran Pajak

Jastip fashion membuka peluang ekonomi, tetapi berisiko menimbulkan kebocoran pajak jika tidak diatur.

Ilustrasi jastip fashion. (Sumber: gemini.ai | Foto: gemini.ai)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 09:50

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu

Ritual Upacara Ngeurtakeun Bumi Lamba di Tangkuban Parahu adalah upacara adat Sunda untuk menjaga harmoni manusia dan alam, sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas budaya.

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu. (Sumber: Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 08:06

Menelusuri Jejak Selabintana, Hotel Tua di Sukabumi dari Masa Kolonial

Sekilas sejarah mengenai Hotel Selabintana, hotel legendaris dari masa kolonial yang masih bertahan hingga masa kini

Hotel Selabintana sekitar Tahun 1928 (Foto: Sumber: Digital Collection KITLV Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.