Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Rabu 18 Mar 2026, 13:12 WIB
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya. William James pernah bilang bahwa pengalaman keagamaan itu sering terasa paling nyata justru di tengah tekanan batin. Sekarang mah dengan banyak jalan tol, Mudik tak identik lagi dengan macet.

Nah, kalau Pak Willie (William James) pernah naik elf jurusan Garut-Bandung waktu musim mudik, mungkin kutipannya bakal ditambah: “dan juga saat AC mati, paha lengket, dan klakson jadi zikir kolektif.” Saya masih ingat, berangkat pukul 6 pagi dengan niat suci ingin cepat sampai, tapi niat itu pelan-pelan berubah jadi latihan sabar tingkat dewa.

Elf yang saya tumpangi itu bukan sekadar kendaraan, tapi ekosistem berjalan. Ada yang tidur dengan kepala nyender ke bahu orang asing (yang pasrah seperti wali), ada yang ngemil tanpa henti seolah sedang mempersiapkan cadangan energi untuk kiamat kecil bernama macet total. Di tengah perjalanan, aroma Elf pun mulai bertransformasi—dari parfum murah, gorengan, sampai sesuatu yang tak terdefinisi tapi sangat “membumi.”

William James mungkin akan menyebut ini sebagai pengalaman transenden: melampaui batas kenyamanan manusia biasa. Jam demi jam berlalu, dan kami belum juga keluar dari lingkaran kemacetan yang tampaknya punya filosofi sendiri. Setiap meter terasa seperti pencapaian spiritual. Ketika akhirnya azan maghrib berkumandang, kami baru sampai di Kadungora.

Dari Garut ke Kadungora, saudara-saudara. Itu bukan perjalanan, itu meditasi panjang dengan bonus pegal dan krisis eksistensial. Saya mulai paham kenapa orang bilang mudik itu ibadah—karena tanpa iman, Anda sudah turun di kilometer pertama.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dan tentu saja, ada satu fenomena yang tak bisa dihindari: elf berubah fungsi jadi WC kedua. Bukan karena keinginan, tapi karena keadaan yang memaksa manusia berdamai dengan realitas. Dalam situasi seperti itu, batas antara sakral dan profan jadi kabur.

William James pasti tersenyum getir melihat bagaimana manusia menemukan “makna” bahkan dalam kondisi paling tidak ideal—atau mungkin beliau akan turun di tengah jalan sambil berkata, “ini di luar penelitian saya.”

Anehnya, sekarang ketika jalanan lebih lancar, kendaraan lebih nyaman, dan perjalanan lebih singkat, justru ada yang terasa hilang. Tidak ada lagi percakapan absurd dengan penumpang sebelah, tidak ada lagi solidaritas diam-diam saat semua orang sama-sama terjebak, dan tentu saja, tidak ada lagi drama elf yang berubah jadi ruang ujian kesabaran kolektif.

Mungkin benar, yang bikin kangen dari mudik itu bukan sampainya, tapi macetnya—karena di situlah kita belajar jadi manusia, sekaligus sedikit lebih religius… meski dengan cara yang sangat tidak terduga.

Macet: Kurikulum Memahami Hidup

Kalau dipikir-pikir, mudik zaman itu seperti kurikulum tak resmi untuk memahami hidup. Tidak ada silabus, tapi materinya lengkap: kesabaran, empati, sampai kemampuan menahan hal-hal yang seharusnya tidak ditahan.

Di dalam elf yang padat itu, semua orang seperti dipaksa jadi filsuf dadakan. Seorang bapak-bapak di depan saya pernah nyeletuk, “Hidup ini kayak macet, Dek. Kita nggak tahu kapan jalan, tapi harus tetap jalanin.”

Saya curiga beliau belum pernah baca William James, tapi semangatnya sudah sampai ke sana—mengolah penderitaan jadi makna, meski sambil kipas-kipas pakai tiket bekas.

Di tengah macet yang seperti tidak punya ujung, muncul juga fenomena sosial yang jarang terjadi di luar konteks ini: keakraban instan. Orang yang tadinya tidak saling kenal, tiba-tiba saling tukar cerita hidup, dari masalah kerja sampai rencana menikah yang tertunda karena “nunggu rezeki dulu.” Ada semacam pengakuan diam-diam bahwa semua orang di dalam elf itu adalah satu komunitas sementara, diikat oleh nasib yang sama: terjebak.

William James mungkin akan menyebut ini sebagai “kesadaran kolektif yang lahir dari tekanan,” tapi versi lokalnya lebih sederhana: “ya sudah, daripada stres, mending ngobrol.”

Namun tentu saja, tidak semua momen penuh kebijaksanaan. Ada juga drama kecil yang justru jadi bumbu utama. Seorang ibu-ibu yang mulai gelisah karena anaknya rewel, seorang pemuda yang pura-pura tidur supaya tidak kebagian gendong bayi, sampai sopir yang sesekali mengumpat pelan seolah sedang berdialog dengan takdir.

Klakson jadi bahasa utama, dan setiap bunyinya seperti doa yang dilempar ke langit: semoga depan sana sedikit longgar. Tapi langit, seperti biasa, punya rencana sendiri—dan biasanya rencananya adalah “tahan dulu.”

Menariknya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, manusia tetap menemukan cara untuk bertahan. Ada yang mulai bercanda, ada yang menyanyi pelan, bahkan ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak di posisi yang secara ilmiah seharusnya mustahil.

Itu mungkin yang dimaksud William James ketika berbicara tentang kapasitas manusia untuk beradaptasi secara spiritual—bahwa bahkan dalam kondisi yang paling sempit sekalipun, jiwa tetap mencari ruang untuk bernapas. Meski kadang, yang bernapas itu bukan cuma jiwa, tapi juga aroma yang semakin “berkembang.”

Ketika akhirnya perjalanan itu selesai—entah pukul berapa, karena waktu sudah kehilangan maknanya—ada perasaan aneh yang muncul. Bukan sekadar lega, tapi semacam kebanggaan kecil. Seolah-olah kita baru saja melewati ritual yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya.

Tidak ada sertifikat, tidak ada medali, tapi ada cerita yang akan terus diulang setiap tahun, dengan sedikit tambahan dramatis di sana-sini. Karena seperti semua kenangan, yang sulit justru sering jadi yang paling layak dikenang.

Baca Juga: Apa yang Hilang dalam Lebaran

Sekarang, ketika mudik bisa ditempuh dengan lebih cepat, dengan AC dingin dan kursi yang tidak saling menempel seperti takdir yang dipaksakan, pengalaman itu terasa lebih… praktis, tapi kurang berwarna. Tidak ada lagi ruang untuk refleksi yang dipicu oleh penderitaan kecil, tidak ada lagi “pencerahan” yang datang karena terjebak terlalu lama dengan pikiran sendiri.

William James mungkin akan bilang bahwa pengalaman keagamaan memang tidak harus selalu lahir dari kesulitan, tapi entah kenapa, kita justru lebih mudah menemukannya di sana.

Jadi mungkin benar, yang kita rindukan bukan macetnya itu sendiri, tapi versi diri kita yang muncul karenanya—yang lebih sabar, lebih peka, dan sedikit lebih bijak, meski terpaksa. Mudik dulu mengajarkan bahwa perjalanan bukan soal seberapa cepat sampai, tapi seberapa dalam kita mengalami setiap detiknya.

Bahkan jika detik itu diisi dengan klakson, keringat, dan doa yang setengah serius. Dan di situlah letak humornya: bahwa di tengah kekacauan yang terasa tidak masuk akal, kita justru menemukan sesuatu yang… masuk akal sekali tentang menjadi manusia. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung
Tag Terkait

Berita Terkait

Ayo Netizen 15 Mar 2026, 08:21

Hayu Mudik?

Hayu Mudik?

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)