Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya. William James pernah bilang bahwa pengalaman keagamaan itu sering terasa paling nyata justru di tengah tekanan batin. Sekarang mah dengan banyak jalan tol, Mudik tak identik lagi dengan macet.
Nah, kalau Pak Willie (William James) pernah naik elf jurusan Garut-Bandung waktu musim mudik, mungkin kutipannya bakal ditambah: “dan juga saat AC mati, paha lengket, dan klakson jadi zikir kolektif.” Saya masih ingat, berangkat pukul 6 pagi dengan niat suci ingin cepat sampai, tapi niat itu pelan-pelan berubah jadi latihan sabar tingkat dewa.
Elf yang saya tumpangi itu bukan sekadar kendaraan, tapi ekosistem berjalan. Ada yang tidur dengan kepala nyender ke bahu orang asing (yang pasrah seperti wali), ada yang ngemil tanpa henti seolah sedang mempersiapkan cadangan energi untuk kiamat kecil bernama macet total. Di tengah perjalanan, aroma Elf pun mulai bertransformasi—dari parfum murah, gorengan, sampai sesuatu yang tak terdefinisi tapi sangat “membumi.”
William James mungkin akan menyebut ini sebagai pengalaman transenden: melampaui batas kenyamanan manusia biasa. Jam demi jam berlalu, dan kami belum juga keluar dari lingkaran kemacetan yang tampaknya punya filosofi sendiri. Setiap meter terasa seperti pencapaian spiritual. Ketika akhirnya azan maghrib berkumandang, kami baru sampai di Kadungora.
Dari Garut ke Kadungora, saudara-saudara. Itu bukan perjalanan, itu meditasi panjang dengan bonus pegal dan krisis eksistensial. Saya mulai paham kenapa orang bilang mudik itu ibadah—karena tanpa iman, Anda sudah turun di kilometer pertama.

Dan tentu saja, ada satu fenomena yang tak bisa dihindari: elf berubah fungsi jadi WC kedua. Bukan karena keinginan, tapi karena keadaan yang memaksa manusia berdamai dengan realitas. Dalam situasi seperti itu, batas antara sakral dan profan jadi kabur.
William James pasti tersenyum getir melihat bagaimana manusia menemukan “makna” bahkan dalam kondisi paling tidak ideal—atau mungkin beliau akan turun di tengah jalan sambil berkata, “ini di luar penelitian saya.”
Anehnya, sekarang ketika jalanan lebih lancar, kendaraan lebih nyaman, dan perjalanan lebih singkat, justru ada yang terasa hilang. Tidak ada lagi percakapan absurd dengan penumpang sebelah, tidak ada lagi solidaritas diam-diam saat semua orang sama-sama terjebak, dan tentu saja, tidak ada lagi drama elf yang berubah jadi ruang ujian kesabaran kolektif.
Mungkin benar, yang bikin kangen dari mudik itu bukan sampainya, tapi macetnya—karena di situlah kita belajar jadi manusia, sekaligus sedikit lebih religius… meski dengan cara yang sangat tidak terduga.
Macet: Kurikulum Memahami Hidup
Kalau dipikir-pikir, mudik zaman itu seperti kurikulum tak resmi untuk memahami hidup. Tidak ada silabus, tapi materinya lengkap: kesabaran, empati, sampai kemampuan menahan hal-hal yang seharusnya tidak ditahan.
Di dalam elf yang padat itu, semua orang seperti dipaksa jadi filsuf dadakan. Seorang bapak-bapak di depan saya pernah nyeletuk, “Hidup ini kayak macet, Dek. Kita nggak tahu kapan jalan, tapi harus tetap jalanin.”
Saya curiga beliau belum pernah baca William James, tapi semangatnya sudah sampai ke sana—mengolah penderitaan jadi makna, meski sambil kipas-kipas pakai tiket bekas.
Di tengah macet yang seperti tidak punya ujung, muncul juga fenomena sosial yang jarang terjadi di luar konteks ini: keakraban instan. Orang yang tadinya tidak saling kenal, tiba-tiba saling tukar cerita hidup, dari masalah kerja sampai rencana menikah yang tertunda karena “nunggu rezeki dulu.” Ada semacam pengakuan diam-diam bahwa semua orang di dalam elf itu adalah satu komunitas sementara, diikat oleh nasib yang sama: terjebak.
William James mungkin akan menyebut ini sebagai “kesadaran kolektif yang lahir dari tekanan,” tapi versi lokalnya lebih sederhana: “ya sudah, daripada stres, mending ngobrol.”
Namun tentu saja, tidak semua momen penuh kebijaksanaan. Ada juga drama kecil yang justru jadi bumbu utama. Seorang ibu-ibu yang mulai gelisah karena anaknya rewel, seorang pemuda yang pura-pura tidur supaya tidak kebagian gendong bayi, sampai sopir yang sesekali mengumpat pelan seolah sedang berdialog dengan takdir.
Klakson jadi bahasa utama, dan setiap bunyinya seperti doa yang dilempar ke langit: semoga depan sana sedikit longgar. Tapi langit, seperti biasa, punya rencana sendiri—dan biasanya rencananya adalah “tahan dulu.”
Menariknya, di tengah segala ketidaknyamanan itu, manusia tetap menemukan cara untuk bertahan. Ada yang mulai bercanda, ada yang menyanyi pelan, bahkan ada yang benar-benar bisa tidur nyenyak di posisi yang secara ilmiah seharusnya mustahil.
Itu mungkin yang dimaksud William James ketika berbicara tentang kapasitas manusia untuk beradaptasi secara spiritual—bahwa bahkan dalam kondisi yang paling sempit sekalipun, jiwa tetap mencari ruang untuk bernapas. Meski kadang, yang bernapas itu bukan cuma jiwa, tapi juga aroma yang semakin “berkembang.”
Ketika akhirnya perjalanan itu selesai—entah pukul berapa, karena waktu sudah kehilangan maknanya—ada perasaan aneh yang muncul. Bukan sekadar lega, tapi semacam kebanggaan kecil. Seolah-olah kita baru saja melewati ritual yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah mengalaminya.
Tidak ada sertifikat, tidak ada medali, tapi ada cerita yang akan terus diulang setiap tahun, dengan sedikit tambahan dramatis di sana-sini. Karena seperti semua kenangan, yang sulit justru sering jadi yang paling layak dikenang.
Baca Juga: Apa yang Hilang dalam Lebaran
Sekarang, ketika mudik bisa ditempuh dengan lebih cepat, dengan AC dingin dan kursi yang tidak saling menempel seperti takdir yang dipaksakan, pengalaman itu terasa lebih… praktis, tapi kurang berwarna. Tidak ada lagi ruang untuk refleksi yang dipicu oleh penderitaan kecil, tidak ada lagi “pencerahan” yang datang karena terjebak terlalu lama dengan pikiran sendiri.
William James mungkin akan bilang bahwa pengalaman keagamaan memang tidak harus selalu lahir dari kesulitan, tapi entah kenapa, kita justru lebih mudah menemukannya di sana.
Jadi mungkin benar, yang kita rindukan bukan macetnya itu sendiri, tapi versi diri kita yang muncul karenanya—yang lebih sabar, lebih peka, dan sedikit lebih bijak, meski terpaksa. Mudik dulu mengajarkan bahwa perjalanan bukan soal seberapa cepat sampai, tapi seberapa dalam kita mengalami setiap detiknya.
Bahkan jika detik itu diisi dengan klakson, keringat, dan doa yang setengah serius. Dan di situlah letak humornya: bahwa di tengah kekacauan yang terasa tidak masuk akal, kita justru menemukan sesuatu yang… masuk akal sekali tentang menjadi manusia. (*)
