Apa yang Hilang dalam Lebaran

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjelang Lebaran, ada satu perintah yang selalu kembali berulang di antara kita, pulanglah! Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa biasa saja bahkan mungkin terdengar klise. Apalagi bagi mereka yang sudah lama hidup di kota, bekerja dalam laju korporasi, bergerak di antara jadwal rapat, target produksi, dan notifikasi yang tak pernah berhenti. Pulang kampung bisa terasa seperti sesuatu yang kuno, terlalu sentimental, romantisasi, bahkan sedikit konservatif.

Namun malah pada momen tersebut letak perenungannya, apa yang sebenarnya hilang ketika kita terlalu lama tidak pulang? Kehidupan urban modern memberi kita banyak kemudahan. Kita bisa memesan apa saja lewat layar ponsel, dari makanan hingga pakaian. Kita bisa membeli kue Lebaran tanpa harus keluar rumah, cukup checkout dan menunggu kurir datang. Kita pun bisa mengirim uang kepada keluarga tanpa harus bertemu. Semua terasa cepat, efisien, dan praktis. Tetapi ada sesuatu yang perlahan menghilang dari semua kemudahan itu, yakni pengalaman manusiawi kita.

Dulu, menjelang Lebaran sering dimulai dari perjalanan ke pasar. Membeli bahan, tetapi juga sebuah peristiwa sosial kecil. Kita berjalan di antara kerumunan orang, mendengar tawar-menawar, mencium campuran aroma rempah, santan, dan seruan-seruan penjaga jongko. Ada percakapan pendek dengan pedagang yang mungkin sudah kita kenal sejak lama. Ada cerita pelanggan yang saling ditukar, ada tips dan trik untuk mendapatkan potongan harga tanpa melulu bergantung pada voucher gratis ongkir.

Mungkin kita juga ikut membuat kue di rumah. Hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang terlalu gosong, kadang terlalu keras, kadang bentuknya jauh dari resep yang berseliweran di TikTok. Tetapi kegagalan kecil itu justru menjadi bagian dari cerita kita. Ada tangan yang bekerja bersama, ibu, tante, sepupu, atau tetangga yang datang membantu. Di dapur yang hangat itu, obrolan mengalir begitu saja bisa tentang masa kecil, tentang kabar keluarga, tentang hal-hal remeh yang tidak pernah masuk ke dalam agenda rapat sepanjang tahun di dalam sesaknya napas kota.

Lebaran bukan sekadar tentang menerima atau memberi dalam jumlah besar. Utamanya dalam tradisi saling mengirim makanan dalam rantang-rantang bertingkat. Satu rumah mengirim opor, rumah lain mengirim ketan dan sambal goreng, rumah lain lagi mengirim nastar atau ketupat. Tidak selalu banyak, tidak selalu mewah. Tetapi yakinlah, hal itu melampaui paket-paket hampers kekinian bahwa ada perasaan saling berbagi yang hadir dan sentuhan koneksi batin secara langsung. Kita tidak hanya menerima makanan. Kita menerima kehadiran orang lain.

Begitu pula dengan pertemuan keluarga. Lebaran memberi kesempatan untuk duduk bersama orang-orang yang mungkin sudah lama tidak kita temui. Mm dan tante yang bercerita panjang, sekalipun basa-basinya mungkin menyebalkan. Lalu ada sepupu-sepupu yang dulu bermain bersama, ada guru sekolah yang kita datangi untuk bersalaman dan mengucapkan terima kasih lagi. Percakapan itu sering kali sederhana, tentang pekerjaan, kesehatan, tentang kenakalan masa kanak-kanak di masa lalu. Sungguh di dalamnya bersemayam rasa keterhubungan yang tidak bisa digantikan oleh pesan singkat atau panggilan video.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan yang sering dilakukan menjelang Lebaran yakni ziarah ke makam keluarga. Menabur bunga di pusara orang tua, kakek-nenek, dan leluhur sendiri. Aktivitas itu mungkin tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan makna yang dalam. Kita diingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang masa depan yang kita kejar, tetapi juga tentang masa lalu yang membentuk kita. Di sana, kita berdiri di antara dua waktu, yang telah pergi dan yang masih berjalan.

Di kampung, suasana Lebaran juga terasa berbeda dalam cara-cara yang sangat printilan. Kita bisa mendengar suara beduk atau kohkol dari masjid, tanda waktu salat atau tanda malam takbiran yang kian dekat. Anak-anak berlarian di halaman. Saf salat di masjid kampung mungkin tidak selalu penuh, orang-orang sudah lumrah merantai, tetapi justru di situlah terasa kedekatannya. Kita mengenali wajah-wajah yang salat di sebelah kita. Ternyata ada tetangga, ada teman lama, ada orang yang dulu mengajari kita membaca Iqra ketika masih kecil.

Dalam momen mudik, kadang kita juga meluangkan waktu untuk berjalan sebentar ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil. Sebuah langgar tempat pertama kali belajar mengaji, sekolah dasar yang dulu kita datangi setiap pagi, atau gang kecil tempat kita bermain sampai senja. Tempat-tempat itu mungkin tidak berubah banyak. Atau malah sudah berubah dan raib sama sekali. Tetapi ketika kita melihatnya kembali, ada bagian dari diri kita yang ikut pulang.

Lebaran juga sering dimulai dari pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah. Membersihkan halaman, mengepel lantai, mengecat tembok, atau merapikan barang-barang lama. Mungkin juga menanam bunga di depan rumah atau mengganti tirai yang sudah kusam. Bagi kita yang sudah terbiasa hidup dengan segala kemudahan kota, pekerjaan seperti itu bisa terasa melelahkan atau tidak efisien. Tetapi di dalamnya terkandung satu hal yang jarang kita lakukan di kehidupan modern, bekerja bersama untuk merawat hunian.

Kadang kita juga menerima hadiah kecil dari keluarga atau tetangga. Isinya mungkin sederhana seperti kue kering dalam toples plastik, sirup murah, atau bingkisan kecil yang secara estetika mungkin terasa biasa saja. Bagi orang yang sudah terbiasa dengan barang-barang yang lebih mahal dan lebih estetik, hadiah itu bisa tampak norak. Namun jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang lain, sebuah usaha memberi, ingatan kepada nama kita. Niat yang terkandung di dalam pemberian itu. Ada waktu yang diluangkan, ada perhatian yang diberikan. Nilainya pada hubungan yang menyertainya.

Pulang kampung pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah tempat. Mudik adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih sederhana kembali. Di kota, kita sering dibentuk oleh identitas profesional mulai dari jabatan, pencapaian, reputasi, atau gaya hidup. Akan tetapi ketika kita pulang, semua itu biasanya mencair. Kita kembali menjadi anak, menjadi cucu, menjadi keponakan, menjadi tetangga. Kita mungkin tidur berdesakan seperti dulu. Seprai dengan motif bunga-bunga atau corak lama yang mungkin tidak kita pilih jika membeli sendiri. Rumah yang tidak dirancang secara estetis seperti apartemen modern. Jendela kayu yang tua, kipas angin yang berputar pelan, atau lampu yang cahayanya redup. Dan anehnya, di situ kita sering menemukan rasa tenang yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Padahal sekarang kita mungkin sudah mampu membeli banyak hal. Kita bisa memilih furniture yang lebih bagus, seprai yang lebih mahal, atau rumah yang lebih rapi secara desain. Namun Lebaran kita tidak pernah sepenuhnya tentang itu. Lebaran adalah tentang kembali. Kembali kepada kefitrahan sebagai manusia yang hidup bersama orang lain. Kembali kepada kebudayaan yang membentuk kita. Kembali kepada rumah, bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang di mana hubungan-hubungan manusia tumbuh di dalamnya.

Baca Juga: Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Tentu tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk pulang. Sebagian terhalang oleh jarak, oleh pekerjaan, oleh kondisi keluarga yang tidak selalu sederhana. Ada pula yang pulang malah membawa luka atau kenangan yang tidak mudah. Di sela-sela itu, bagi mereka yang masih memiliki kesempatan untuk pulang, untuk bertemu, untuk merasakan kembali kehidupan kampung yang sederhana, mungkin ada baiknya kita mengambil waktu sejenak dari laju kehidupan modern. Pulanglah.

Jadilah “ngampung” untuk beberapa hari. Jadilah biasa saja. Seperti ketika kita masih kecil, tidur berdekatan dengan sepupu-sepupu, bangun pagi dengan suara dapur yang sibuk, mendengar anak-anak bermain di halaman, atau duduk lama di ruang tamu sambil mendengarkan cerita orang-orang tua. Karena mungkin yang sebenarnya kita cari dalam Lebaran tidaklah soal kesempurnaan perayaan. Melainkan kesempatan untuk mengingat kembali siapa kita, dari mana kita datang, dan bersama siapa kita pernah bertumbuh. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)