Apa yang Hilang dalam Lebaran

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 18:56 WIB
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjelang Lebaran, ada satu perintah yang selalu kembali berulang di antara kita, pulanglah! Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa biasa saja bahkan mungkin terdengar klise. Apalagi bagi mereka yang sudah lama hidup di kota, bekerja dalam laju korporasi, bergerak di antara jadwal rapat, target produksi, dan notifikasi yang tak pernah berhenti. Pulang kampung bisa terasa seperti sesuatu yang kuno, terlalu sentimental, romantisasi, bahkan sedikit konservatif.

Namun malah pada momen tersebut letak perenungannya, apa yang sebenarnya hilang ketika kita terlalu lama tidak pulang? Kehidupan urban modern memberi kita banyak kemudahan. Kita bisa memesan apa saja lewat layar ponsel, dari makanan hingga pakaian. Kita bisa membeli kue Lebaran tanpa harus keluar rumah, cukup checkout dan menunggu kurir datang. Kita pun bisa mengirim uang kepada keluarga tanpa harus bertemu. Semua terasa cepat, efisien, dan praktis. Tetapi ada sesuatu yang perlahan menghilang dari semua kemudahan itu, yakni pengalaman manusiawi kita.

Dulu, menjelang Lebaran sering dimulai dari perjalanan ke pasar. Membeli bahan, tetapi juga sebuah peristiwa sosial kecil. Kita berjalan di antara kerumunan orang, mendengar tawar-menawar, mencium campuran aroma rempah, santan, dan seruan-seruan penjaga jongko. Ada percakapan pendek dengan pedagang yang mungkin sudah kita kenal sejak lama. Ada cerita pelanggan yang saling ditukar, ada tips dan trik untuk mendapatkan potongan harga tanpa melulu bergantung pada voucher gratis ongkir.

Mungkin kita juga ikut membuat kue di rumah. Hasilnya tidak selalu sempurna. Kadang terlalu gosong, kadang terlalu keras, kadang bentuknya jauh dari resep yang berseliweran di TikTok. Tetapi kegagalan kecil itu justru menjadi bagian dari cerita kita. Ada tangan yang bekerja bersama, ibu, tante, sepupu, atau tetangga yang datang membantu. Di dapur yang hangat itu, obrolan mengalir begitu saja bisa tentang masa kecil, tentang kabar keluarga, tentang hal-hal remeh yang tidak pernah masuk ke dalam agenda rapat sepanjang tahun di dalam sesaknya napas kota.

Lebaran bukan sekadar tentang menerima atau memberi dalam jumlah besar. Utamanya dalam tradisi saling mengirim makanan dalam rantang-rantang bertingkat. Satu rumah mengirim opor, rumah lain mengirim ketan dan sambal goreng, rumah lain lagi mengirim nastar atau ketupat. Tidak selalu banyak, tidak selalu mewah. Tetapi yakinlah, hal itu melampaui paket-paket hampers kekinian bahwa ada perasaan saling berbagi yang hadir dan sentuhan koneksi batin secara langsung. Kita tidak hanya menerima makanan. Kita menerima kehadiran orang lain.

Begitu pula dengan pertemuan keluarga. Lebaran memberi kesempatan untuk duduk bersama orang-orang yang mungkin sudah lama tidak kita temui. Mm dan tante yang bercerita panjang, sekalipun basa-basinya mungkin menyebalkan. Lalu ada sepupu-sepupu yang dulu bermain bersama, ada guru sekolah yang kita datangi untuk bersalaman dan mengucapkan terima kasih lagi. Percakapan itu sering kali sederhana, tentang pekerjaan, kesehatan, tentang kenakalan masa kanak-kanak di masa lalu. Sungguh di dalamnya bersemayam rasa keterhubungan yang tidak bisa digantikan oleh pesan singkat atau panggilan video.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perjalanan yang sering dilakukan menjelang Lebaran yakni ziarah ke makam keluarga. Menabur bunga di pusara orang tua, kakek-nenek, dan leluhur sendiri. Aktivitas itu mungkin tampak sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan makna yang dalam. Kita diingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang masa depan yang kita kejar, tetapi juga tentang masa lalu yang membentuk kita. Di sana, kita berdiri di antara dua waktu, yang telah pergi dan yang masih berjalan.

Di kampung, suasana Lebaran juga terasa berbeda dalam cara-cara yang sangat printilan. Kita bisa mendengar suara beduk atau kohkol dari masjid, tanda waktu salat atau tanda malam takbiran yang kian dekat. Anak-anak berlarian di halaman. Saf salat di masjid kampung mungkin tidak selalu penuh, orang-orang sudah lumrah merantai, tetapi justru di situlah terasa kedekatannya. Kita mengenali wajah-wajah yang salat di sebelah kita. Ternyata ada tetangga, ada teman lama, ada orang yang dulu mengajari kita membaca Iqra ketika masih kecil.

Dalam momen mudik, kadang kita juga meluangkan waktu untuk berjalan sebentar ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecil. Sebuah langgar tempat pertama kali belajar mengaji, sekolah dasar yang dulu kita datangi setiap pagi, atau gang kecil tempat kita bermain sampai senja. Tempat-tempat itu mungkin tidak berubah banyak. Atau malah sudah berubah dan raib sama sekali. Tetapi ketika kita melihatnya kembali, ada bagian dari diri kita yang ikut pulang.

Lebaran juga sering dimulai dari pekerjaan-pekerjaan sederhana di rumah. Membersihkan halaman, mengepel lantai, mengecat tembok, atau merapikan barang-barang lama. Mungkin juga menanam bunga di depan rumah atau mengganti tirai yang sudah kusam. Bagi kita yang sudah terbiasa hidup dengan segala kemudahan kota, pekerjaan seperti itu bisa terasa melelahkan atau tidak efisien. Tetapi di dalamnya terkandung satu hal yang jarang kita lakukan di kehidupan modern, bekerja bersama untuk merawat hunian.

Kadang kita juga menerima hadiah kecil dari keluarga atau tetangga. Isinya mungkin sederhana seperti kue kering dalam toples plastik, sirup murah, atau bingkisan kecil yang secara estetika mungkin terasa biasa saja. Bagi orang yang sudah terbiasa dengan barang-barang yang lebih mahal dan lebih estetik, hadiah itu bisa tampak norak. Namun jika kita berhenti sejenak dan melihat lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang lain, sebuah usaha memberi, ingatan kepada nama kita. Niat yang terkandung di dalam pemberian itu. Ada waktu yang diluangkan, ada perhatian yang diberikan. Nilainya pada hubungan yang menyertainya.

Pulang kampung pada akhirnya bukan hanya tentang berpindah tempat. Mudik adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih sederhana kembali. Di kota, kita sering dibentuk oleh identitas profesional mulai dari jabatan, pencapaian, reputasi, atau gaya hidup. Akan tetapi ketika kita pulang, semua itu biasanya mencair. Kita kembali menjadi anak, menjadi cucu, menjadi keponakan, menjadi tetangga. Kita mungkin tidur berdesakan seperti dulu. Seprai dengan motif bunga-bunga atau corak lama yang mungkin tidak kita pilih jika membeli sendiri. Rumah yang tidak dirancang secara estetis seperti apartemen modern. Jendela kayu yang tua, kipas angin yang berputar pelan, atau lampu yang cahayanya redup. Dan anehnya, di situ kita sering menemukan rasa tenang yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Padahal sekarang kita mungkin sudah mampu membeli banyak hal. Kita bisa memilih furniture yang lebih bagus, seprai yang lebih mahal, atau rumah yang lebih rapi secara desain. Namun Lebaran kita tidak pernah sepenuhnya tentang itu. Lebaran adalah tentang kembali. Kembali kepada kefitrahan sebagai manusia yang hidup bersama orang lain. Kembali kepada kebudayaan yang membentuk kita. Kembali kepada rumah, bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai ruang di mana hubungan-hubungan manusia tumbuh di dalamnya.

Baca Juga: Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Tentu tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk pulang. Sebagian terhalang oleh jarak, oleh pekerjaan, oleh kondisi keluarga yang tidak selalu sederhana. Ada pula yang pulang malah membawa luka atau kenangan yang tidak mudah. Di sela-sela itu, bagi mereka yang masih memiliki kesempatan untuk pulang, untuk bertemu, untuk merasakan kembali kehidupan kampung yang sederhana, mungkin ada baiknya kita mengambil waktu sejenak dari laju kehidupan modern. Pulanglah.

Jadilah “ngampung” untuk beberapa hari. Jadilah biasa saja. Seperti ketika kita masih kecil, tidur berdekatan dengan sepupu-sepupu, bangun pagi dengan suara dapur yang sibuk, mendengar anak-anak bermain di halaman, atau duduk lama di ruang tamu sambil mendengarkan cerita orang-orang tua. Karena mungkin yang sebenarnya kita cari dalam Lebaran tidaklah soal kesempurnaan perayaan. Melainkan kesempatan untuk mengingat kembali siapa kita, dari mana kita datang, dan bersama siapa kita pernah bertumbuh. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 17:48

Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Meski dompet elektronik jadi "amplop modern" yang praktis, mampukah teknologi menggantikan hangatnya tradisi salam tempel?

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 16:01

Pasca-Lebaran: Simpul Perasaan, Peluang, dan Tantangan Baru di Tanah Parahyangan

Peralihan menuju Syawal menjadi titik awal baru bagi masyarakat, ditandai dengan arus urbanisasi, pergerakan pasar kerja, fluktuasi UMKM, hingga perubahan pola konsumsi.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 15:06

Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 14:11

Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ.

Jalan-jalan yang teratur, diberi warna kuning, di sanalah (A-B-C) dibangun 150 rumah tamanvilla. Situ Aksan menjadi kekuatannya. (Sumber: Sumber citra satelit: Google maps | Foto: T Bachtiar)
Linimasa 17 Mar 2026, 14:06

Kisah Balap Lari Pakansari, Dashrun Ramadan yang Lahir dari Jalanan

Setelah tarawih, kawasan Stadion Pakansari dipenuhi anak muda yang mengikuti balap lari pendek. Tradisi spontan ini berkembang menjadi agenda olahraga populer di Kabupaten Bogor.

Lomba lari Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. (Sumber: Pemkab Bogor)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 11:49

Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping.

Rengginang. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hayati Mayang Arum)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 10:29

Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Nastar dan ketupat sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Linimasa 17 Mar 2026, 09:45

Balada Lebaran Zaman Kolonial, Kala Pribumi Berburu Utang di Rumah Gadai

Tradisi baju baru saat Lebaran ternyata sudah kuat sejak zaman Hindia Belanda. Catatan majalah Indie 1922 menyebut banyak warga meminjam uang bahkan menggadaikan barang demi tampil rapi di hari raya.

ilustrasi pribumi menggadai barang untk keperluan lebaran.
Beranda 17 Mar 2026, 08:56

Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Kisah Surya Apandi, porter Stasiun Bandung yang telah bekerja selama 27 tahun, menggambarkan perjuangan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak menentu di tengah ramainya arus mudik.

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 16 Mar 2026, 21:01

Mendobrak Sekat Finansial, Cara Disabilitas di Jawa Barat Kini Lebih Berdaya Lewat DIA KITA

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 20:43

Pembatasan Media Sosial Anak Resmi Berlaku 28 Maret: Solusi atau Tantangan Baru bagi Indonesia?

Mulai 28 Maret, Permen Komdigi No. 9/2026 ubah total akses digital anak bawah 16 tahun.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 17:18

Ngabuburit bersama ‘Jalan Sama Malia’

Selain meriset dan menulis, saya juga bekerja sebagai pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berfoto di depan mesjid Al imtizaj jalan ABC kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 16:09

Puasa (Menangkal) Hoaks

Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)
Bandung 16 Mar 2026, 15:40

Batik Bukan Lagi "Pakaian Kondangan", Cara NAYARA Mengubah Wastra Menjadi Fashion Harian yang Modis

Penggunaan palet warna yang tidak mencolok membuat koleksi NAYARA mudah dipadupadankan sebagai busana kantor yang memberikan kesan elegan namun tetap bersahaja.

Salah satu jenama mode yang memperkenalkan batik dengan sentuhan santai untuk penggunaan harian adalah NAYARA. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 16 Mar 2026, 14:50

Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Kisah perempuan pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 di Jatihandap Bandung yang memilah sampah warga demi menjaga lingkungan, meski kerap menghadapi stigma masyarakat.

Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 16 Mar 2026, 13:42

Sejak Kapan Ketupat jadi Sajian Khas Lebaran di Indonesia?

Ketupat identik dengan Lebaran, tetapi tradisinya jauh lebih tua. Jejaknya sudah muncul dalam sastra Jawa Kuno abad ke-9 dan kemudian mendapat makna baru ketika Islam berkembang di Jawa.

Ilustrasi ketupat lebaran.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 13:33

Smart Farming: Ketika Teknologi Membuka Peluang Baru bagi Generasi Muda di Sektor Pertanian Indonesia

Hadirnya smart farming dan inovasi agritech membuka peluang bagi Gen Z untuk menjadikan pertanian profesi modern yang menjanjikan.

Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)