Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 17:48 WIB
Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)

Jika pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat Bandung terbiasa melihat antrean panjang di bank-bank kawasan Jalan Asia Afrika untuk menukar uang baru menjelang Lebaran, pemandangan itu mulai berubah pada 2026. Semakin banyak warga, terutama kalangan milenial dan Gen Z, memilih membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) secara digital melalui dompet elektronik.

Aplikasi seperti GoPay, OVO, DANA, hingga ShopeePay kini tidak hanya digunakan untuk pembayaran sehari-hari, tetapi juga menjadi sarana baru berbagi “salam tempel”. Hanya dengan beberapa ketukan di layar ponsel, uang dapat dikirim kepada saudara atau keponakan yang berada di kota berbeda.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi mulai beradaptasi dengan budaya Lebaran yang telah lama menjadi bagian penting dari masyarakat Indonesia.

Peralihan ke THR digital tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan pembayaran nontunai di Indonesia berkembang sangat pesat.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan bahwa jumlah pengguna sistem pembayaran QRIS telah melampaui puluhan juta orang secara nasional hingga 2025, dengan pertumbuhan signifikan di kota-kota besar seperti Bandung. Sistem pembayaran ini memungkinkan transaksi cepat tanpa uang tunai, bahkan di warung kecil sekalipun.

Di berbagai kawasan kuliner dan pusat UMKM seperti Braga Street atau Dago, pembayaran menggunakan QRIS kini sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak sedikit orang tua yang memilih mentransfer THR langsung ke ponsel anak atau keponakannya agar bisa langsung digunakan untuk membeli makanan, pakaian, atau kebutuhan lainnya setelah Lebaran.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Bagi banyak orang, THR digital menawarkan berbagai kemudahan yang sulit ditolak. Pengirim tidak perlu lagi menyiapkan uang tunai dalam jumlah besar, membeli amplop, atau khawatir uang tercecer.

Selain itu, sebagian aplikasi dompet digital kini menyediakan fitur “amplop digital” dengan desain bertema Lebaran yang dapat dikirim ke banyak penerima sekaligus. Proses ini hanya membutuhkan waktu beberapa detik.

Keuntungan lain adalah adanya riwayat transaksi yang tercatat secara otomatis. Fitur ini membantu pemberi THR mengontrol pengeluaran selama masa Lebaran agar tidak berlebihan. Dari sisi lingkungan, penggunaan THR digital juga secara tidak langsung mengurangi penggunaan amplop kertas yang biasanya hanya dipakai sekali.

Etika Salam Tempel Digital: Jangan Sekadar Transfer

Meski menawarkan kepraktisan, tidak sedikit orang yang merasa bahwa THR digital terasa lebih “dingin” dibandingkan pemberian amplop secara langsung. Dalam tradisi Lebaran, momen salam tempel biasanya menjadi bagian dari interaksi emosional dalam keluarga.

Karena itu, muncul etika baru dalam berbagi THR di era digital.

Pertama, jangan hanya mengirim uang. Sebaiknya transfer digital tetap disertai ucapan hangat melalui pesan pribadi di aplikasi seperti WhatsApp atau kartu ucapan digital. Hal ini membantu menjaga nuansa silaturahmi yang menjadi inti dari Lebaran.

Kedua, perhatikan usia penerima. Bagi anak-anak kecil, sensasi menerima uang kertas baru di dalam amplop masih memiliki daya tarik tersendiri. Sementara itu, THR digital biasanya lebih cocok diberikan kepada remaja atau mahasiswa yang sudah terbiasa menggunakan ponsel dan dompet digital.

Ketiga, jaga privasi nominal. Dalam grup keluarga atau komunitas, sebaiknya gunakan fitur yang tidak menampilkan jumlah uang yang dikirim untuk menghindari potensi kecemburuan sosial.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels/Ahsanjaya)

Meski praktis, tren THR digital juga menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian nilai tradisi Lebaran dapat memudar. Bagi generasi yang lebih tua, momen memberikan amplop secara langsung setelah sungkeman merupakan simbol kedekatan dan kasih sayang yang sulit digantikan oleh notifikasi saldo di layar ponsel.

Selain itu, fenomena berbagi THR digital kadang juga dibarengi dengan tren memamerkan transfer uang di media sosial. Hal ini berisiko menggeser makna asli dari tradisi berbagi yang seharusnya dilakukan dengan ketulusan.

Dalam konteks ini, penting untuk mengingat bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai utama dari Lebaran tetap terletak pada silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi kebahagiaan bersama keluarga.

Baca Juga: Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Perubahan cara berbagi THR pada Lebaran 2026 menunjukkan bahwa tradisi dapat terus berkembang mengikuti zaman. Dompet digital telah menjadi “amplop modern” yang memudahkan orang berbagi, terutama ketika jarak memisahkan keluarga.

Namun, di balik kemudahan teknologi tersebut, kehangatan interaksi manusia tetap tidak tergantikan. Salam tempel bukan hanya soal nominal uang yang diberikan, tetapi juga tentang perhatian, doa, dan kebersamaan.

Karena itu, di tengah berkembangnya THR digital, menjaga adab dan kehangatan tradisi tetap menjadi hal yang paling penting dalam merayakan hari kemenangan pada Eid al-Fitr.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

Berita Terkait

Ayo Netizen 12 Mar 2026, 16:07

Cik, THR-na?

Cik, THR-na?

News Update

Ayo Netizen 03 Mei 2026, 14:25

Hari Pendidikan Nasional 2026: Akses, Mutu, Relevansi, dan Efisiensi di Tengah Wacana Penataan Program Studi

Pendidikan adalah investasi peradaban. Setiap kebijakan, harus diarahkan untuk memastikan bahwa investasi itu benar-benar menghasilkan manusia yang unggul, berdaya, dan siap menghadapi masa depan.

Untuk menciptakan pendidikan yang bermutu, kita dihadapkan pada sederet tantangan. (Sumber: Pexels/muallim nur)
Wisata & Kuliner 03 Mei 2026, 11:58

Kebun Teh Ciater, Wisata Hijau dengan Sejarah Panjang di di Kaki Gunung Tangkuban Parahu

Dari eksploitasi kolonial hingga wisata populer, Kebun Teh Ciater menyuguhkan sejarah dan panorama alam yang menenangkan.

Kebun Teh Ciater, Subang. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 09:36

Hardiknas 2026: Partisipasi Semesta Tanpa Fondasi Kuat Berisiko Jadi Semu

Partisipasi semesta dalam pendidikan tinggi menghadapi tantangan kualitas, relevansi prodi, dan kesejahteraan dosen, sehingga perlu penguatan kebijakan berbasis data dan kolaborasi.

Potret Ki Hadjar Dewantara yang dianugerahi gelar sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 03 Mei 2026, 09:12

Mereka Tak Melihat Dunia, Tapi Dunia Perlu Melihat Mereka

Kisah pelajar difabel di SLB ABCD Caringin yang belajar mandiri, menghadapi keterbatasan, dan menunjukkan bahwa mereka mampu berkarya serta layak mendapat perhatian dan kesempatan setara.

Fathur Rohman M. Farel dan Aulia Ramadhani, siswa SLB ABCD Caringin, menjalani proses belajar dengan cara masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 08:37

Renjana: Hidup yang Tertunda di Bandung

Bandung bukan sekadar tempat hidup, tetapi ruang bertahan. Melalui Renjana, tulisan ini membaca kesabaran, kerja, dan pengorbanan sebagai hidup yang terus tertunda.

Gitar disebuah taman kecil. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 03 Mei 2026, 07:12

Buruh, Kerja, dan Ibadah

Saatnya menempatkan empat falsafah kerja: ikhlas, cerdas, keras, dan tuntas.

Aksi Hari Buruh di Dago Diwarnai Pembakaran Water Barrier (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Langkah Panjang Tatang Bangun SLB ABCD Caringin bagi Anak Difabel di Bandung

Kisah Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, yang berjuang membangun sekolah difabel dari rumah demi membuka akses pendidikan inklusif di Bandung.

Tatang, pendiri SLB ABCD Caringin, mendedikasikan hidupnya untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak difabel di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 02 Mei 2026, 18:34

Ketika Api Menjadi Guru: Pelajaran Bertahan Hidup Mengatasi Kebakaran Tanpa Panik

Kunjungan edukatif yang mengajak peserta masuk lebih dalam ke dunia para penjaga garis terdepan dari ancaman api.

Acara "Siaga Rumah Aman 2026" pada 2 Mei 2026, di Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 02 Mei 2026, 12:47

Di Tengah Riuh Stasiun Bandung, Musisi Tunanetra Menemukan Irama Kehidupan

Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Bandung, musisi tunanetra menghadirkan harmoni yang tak hanya menghibur, tetapi juga menjadi cara mereka bertahan, berkarya, dan menantang stigma.

Virly Aulyvia, Rendra Jaya Ambara, dan Martin Aflatun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 02 Mei 2026, 12:01

Panduan Wisata Pantai Ujung Genteng Sukabumi: Estimasi Biaya, Penginapan dan Spot Pilihan

Panduan lengkap Ujung Genteng Sukabumi mulai dari rute perjalanan, biaya tiket, penginapan, hingga pantai terbaik dan konservasi penyu.

Pantai Tenda Biru Ujung Genteng Sukabumi. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 01 Mei 2026, 20:54

Terima Kasih Kawan! Jalan Masih Panjang

Hari ini 1 Mei 2026, ayobandung.id tepat berusia satu tahun. Ini adalah catatan reflektif.

ayobandung.id mensyukuri perjalanan 1 tahun. (Sumber: Unsplash | Foto: Marcel Eberle)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 20:01

Potret Buruh Perempuan di Bandung: Independent Woman atau Tuntutan Kapitalisme?

Independent women acap kali lahir dari kesadaran seorang perempuan untuk berdikari sebagai manusia. Tapi apakah buruh perempuan juga lahir dari itu atau menjelma dari sistem kapitalis?

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 01 Mei 2026, 18:04

Jangan Anggap Sepele, Kelalaian Kecil di Rumah Bisa Picu Kebakaran Besar

Kelalaian kecil di rumah seperti listrik dan gas bisa memicu kebakaran besar. Simak langkah sederhana untuk mencegah dan melindungi diri serta keluarga dari risiko kebakaran.

Petugas Damkar Kota Bandung melakukan pendinginan usai kebakaran kios barang bekas di Jalan Soekarno-Hatta, Kamis (26/3/2026) dini hari yang menghanguskan belasan bangunan tanpa korban jiwa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 01 Mei 2026, 15:40

Jelajah Taman Cimanuk, Ruang Publik Bersejarah di Pusat Indramayu

Jelajahi Taman Cimanuk Indramayu dengan panduan lengkap mencakup sejarah pelabuhan, fasilitas taman, serta aktivitas santai di ruang publik kota.

Taman Cimanuk, Indramayu.
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 14:58

Di Kampung Beledug, Pernah Terdengar Ledakan dari Dalam Bumi

Dalam bahasa Sunda (RA Danadibrata, 2015), lema beledug dapat berarti suara guludug atau petir di langit, atau suara letusan di kejauhan.

Peta daerah Cintapada dan Maja tahun 1914-1916. (Sumber: Peta koleksi KITLV)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 12:40

Membaca May Day, sebagai Proses Komunikasi

Hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 dimaknai sebagai arena komunikasi publik, tempat buruh merebut ruang sosial, membentuk agenda, dan menegosiasikan kuasa di era digital.

Sejumlah buruh perempuan melakukan aksi peringatan Hari Perempuan Internasional di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (8/3/2018). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 01 Mei 2026, 10:40

Refleksi Awal Bulan Mei: Belajar dari Perilaku Binatang

Mungkinkah kita belajar dari perilaku binatang?

Boli dan Cimol berbagi tempat dan pengasuhan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kurniawan Abuwijdan)
Beranda 01 Mei 2026, 04:20

Potret Kehidupan Warga Usia Senja di Kecamatan dengan Jumlah Lansia Terbanyak di Kota Bandung

Potret keseharian warga lanjut usia di kecamatan dengan jumlah lansia terbanyak di Kota Bandung, menghadapi tantangan kesehatan, ekonomi, dan kesepian di tengah perubahan kota.

Lili Sutisna menikmati masa lansianya dengan aktif bekerja dan mengurus kebun kecilnya di Kiaracondong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)