Pensiun Jadi Pemburu THR: Selamat Datang Gen Z di Fase 'Berbagi Berkah' demi Senyum Keponakan

Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Kamis 12 Mar 2026, 10:37 WIB
Ilustrasi amplop THR lucu (Sumber: Koleksi pribadi)

Ilustrasi amplop THR lucu (Sumber: Koleksi pribadi)

Ramai di sosial media dengan konten "Gen Z lebih butuh THR". Terkesan memaksakan, tapi sebagai salah satu bagian dari Gen Z, saya merasa ada benarnya juga. Mencoba flashback pada saat saya masih menjadi 'penerima' THR tetap dari saudara. Dulu, Lebaran adalah ajang panen raya. Ritualnya sederhana: pakai baju baru (meskipun sudah dicobain berkali-kali semalam sebelum Lebaran), ziarah, hingga keliling rumah saudara.

Kami sudah ancang-ancang memasang wajah paling lucu agar dinotice saudara, lalu pulang dengan tas kecil yang tebal berisi amplop warna-warni. Bagi kita para Gen Z, itulah masa keemasan di mana status "anak kecil" adalah aset finansial paling berharga.

Namun, waktu berputar lebih cepat. Memasuki Lebaran 2026, tiba-tiba ada pergeseran status yang tidak diumumkan di grup WhatsApp keluarga. Saya—dan mungkin bagi jutaan Gen Z lainnya—resmi dinyatakan pensiun dini dari dunia per-THR-an.

Tidak ada lagi amplop yang mendarat di tangan; yang ada justru tangan-tangan mungil keponakan yang menengadah sambil melempar pertanyaan horor: "Teh, mana THR-na? Hoyong sapuluh rebu." Lucu, sepertinya pertanyaan itu jauh lebih baik dibanding pertanyaan horor lain yang lazim di hari itu: "Tos damel di mana? Gajih sabaraha? Bade iraha nikah?"  Sungguh sebuah simalakama; rentetan pertanyaan yang sanggup membuat ketupat di piring mendadak terasa hambar dan sulit ditelan.

Diplomasi Amplop Estetik dan Siasat Saldo Pas-pasan

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)

Selamat datang di fase 'Berbagi Berkah'. Sebuah fase di mana kita belajar bahwa kebahagiaan Idulfitri ternyata tidak lagi diukur dari berapa banyak kita dapat THR, melainkan dari seberapa banyak saldo yang ikhlas kita hibahkan demi melihat senyum keponakan.

Di sinilah letak ujian sesungguhnya, ketika bingung berapa nominal yang harus dikasih kepada keponakan dengan melihat situasi dan kondisi keuangan. Namun, Gen Z tak pernah kehabisan jalan. Karena paling jago kalau urusan estetika, maka senjata utama kami adalah amplop. Kita bakal cari amplop dengan desain paling lucu, paling estetik, atau yang ada tulisan-tulisan humorisnya. Harapannya sih cuma satu: semoga si keponakan lebih fokus mengagumi tulisan atau gambarnya dibanding meratapi nominal uang di dalamnya.

Meskipun jarang dari mereka yang benar-benar hanya mengagumi luar dibanding isi amplop, ini adalah salah satu usaha diplomasi finansial paling halus yang bisa Gen Z lakukan. Bagi Gen Z, isi dompet boleh kritis, tapi tampilan luar harus tetap estetik—termasuk urusan amplop.

Saat Saldo Berkurang, Status Meningkat

Secara tidak sadar, momen ketika kita mulai membagikan amplop untuk keponakan adalah seremoni pelantikan menjadi dewasa yang paling nyata di keluarga. Tanpa perlu ikrar atau surat pengumuman resmi, saat kita memberi, di situlah keluarga besar akan menganggap kita sudah 'jadi orang'.

Mungkin akan ada rasa bangga yang terselip di antara rasa nyesek saat melihat saldo berkurang. Namun, melihat mata mereka berbinar persis seperti kita sepuluh tahun lalu, menyadarkan saya bahwa peran ini memang harus bergulir. Dulu kita yang disubsidi, sekarang kita yang menyubsidi kebahagiaan.

Baca Juga: Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Menjadi Gen Z di hari Lebaran memang sebuah dilema besar. Di satu sisi, batin kita mungkin masih menjerit butuh subsidi, namun di sisi lain, status sosial menuntut kita untuk mulai menjadi donatur.

Tapi, di balik drama pencarian amplop estetik dan saldo m-banking yang kian menipis, ada satu pelajaran berharga yang akhirnya kita bawa: kedewasaan ternyata bukan soal seberapa banyak yang kita kantongi, melainkan seberapa mampu kita membuat orang lain tersenyum dengan apa yang kita miliki.

Selamat pensiun bagi para pemburu THR. Selamat datang di dunia nyata, di mana tangan di atas ternyata jauh lebih melegakan daripada sekadar tangan yang menengadah. Percayalah, apa yang keluar hari ini akan diganti dengan yang lebih baik secepatnya. Sebab, di balik amplop lucu yang kita bagikan, ada doa-doa tulus yang ikut menyertai. Tenang, Tuhan bersama Gen Z. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)