Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Minggu 25 Jan 2026, 17:21 WIB
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di sudut timur Kota Bandung, tepatnya di kawasan Gedebage, berdiri sebuah pasar yang telah menjadi legenda bagi para pemburu pakaian bekas berkualitas dengan harga terjangkau. Pasar Cimol Gedebage, demikian warga Bandung menyebutnya, bukan sekadar tempat jual beli barang second hand biasa. Pasar ini menyimpan perjalanan sejarah panjang penuh dinamika, yang mencerminkan perkembangan ekonomi informal dan budaya urban di Kota Kembang sepanjang lebih dari tiga dekade terakhir.

Embel-embel cimol sendiri sudah seperti mantra. Begitu diucapkan, ingatan orang Bandung langsung melayang pada pakaian second hand, kaus luar negeri, jaket tebal dari negeri empat musim, dan sepatu yang kisah perjalanannya mungkin lebih panjang daripada riwayat pemilik barunya. Namun sedikit yang benar-benar menelusuri dari mana pasar ini berasal dan bagaimana ia bisa berakhir di timur kota, jauh dari pusat keramaian lama Bandung.

Kisah Pasar Cimol bermula bukan di Gedebage, melainkan di jantung kota yang sejak lama berdenyut sebagai pusat perdagangan. Pada awal 1990-an, ketika Bandung masih belum seramai sekarang dan mal modern belum menjamur di setiap sudut, sejumlah pedagang mulai menjajakan pakaian bekas di kawasan Jalan Cibadak. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai wilayah niaga, tempat toko-toko berdiri rapat dan aktivitas jual beli berlangsung nyaris tanpa jeda.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Para pedagang itu memanfaatkan emperan toko, sudut jalan, dan ruang-ruang kosong yang tersisa. Dagangan mereka berbeda dari pedagang pakaian kebanyakan. Yang dijual bukan busana baru dengan label licin, melainkan pakaian bekas impor yang datang dalam karung besar. Celana jins, jaket, kemeja flanel, hingga pakaian olahraga luar negeri digelar apa adanya. Murah, beragam, dan penuh kejutan.

Dari sinilah istilah Cibadak Mall lahir. Sebuah ironi yang kemudian menjadi identitas. Ia bukan mal dengan lift dan pendingin ruangan, melainkan bentangan lapak di jalanan terbuka. Nama itu lalu disingkat menjadi Cimall atau Cimol, mirip jajanan aci yang digoreng khas Bandung.

Seiring waktu, Cimol Cibadak tumbuh seperti organisme kota yang sulit dibendung. Jumlah pedagang bertambah, pembeli makin ramai, dan jalanan makin sesak. Kawasan yang semula menjadi ruang lalu lintas berubah menjadi pasar dadakan raksasa. Di satu sisi, Cimol menghidupi banyak keluarga. Di sisi lain, ia menjadi masalah klasik kota besar, kemacetan, kesemrawutan, dan keluhan soal ketertiban.

Ketika ruang kota mulai terasa sempit, Cimol pun harus bergerak. Sejarahnya kemudian diwarnai fase berpindah-pindah. Dari Cibadak, para pedagang sempat menepi ke kawasan lain seperti Tegalega dan Kebon Kelapa. Namun seperti siput yang membawa rumah di punggungnya, identitas Cimol selalu ikut serta. Nama itu sudah terlanjur melekat, menjadi penanda yang lebih kuat daripada alamat.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

Gedebage dan Perpindahan ke Timur Kota

Untuk memahami mengapa Cimol akhirnya berlabuh di Gedebage, perlu menoleh lebih jauh ke sejarah kawasan timur Bandung ini. Gedebage bukan wilayah baru dalam peta kota. Sejak masa kolonial, kawasan ini sudah memainkan peran penting sebagai wilayah logistik dan pengangkutan barang. Kehadiran stasiun kereta api di akhir abad ke-19 menjadikan Gedebage sebagai simpul distribusi hasil bumi dari pedalaman.

Wilayah ini juga punya latar geologis yang menarik. Dahulu, Gedebage merupakan bagian dari kawasan rawa yang tersisa dari Danau Purba Bandung. Perlahan, rawa itu dikeringkan dan berubah menjadi sawah. Dari tanah basah itulah kemudian tumbuh aktivitas ekonomi yang bergantung pada pergerakan barang dan lahan luas. Karakter ini kelak menjadi alasan mengapa Gedebage dipilih sebagai lokasi pasar besar.

Pada awal 2000-an, Pemerintah Kota Bandung akhirnya menetapkan Gedebage sebagai tempat relokasi permanen bagi pedagang Cimol. Lahan luas di kawasan Pasar Induk Gedebage dinilai mampu menampung ribuan pedagang yang sebelumnya tersebar tanpa aturan. Lokasinya di pinggir kota dianggap strategis, tidak terlalu mengganggu lalu lintas pusat kota, namun tetap mudah dijangkau.

Baca Juga: Sejarah Pasar Kosambi, Jejak Perdagangan Seabad Bandung

Tahun 2004 menjadi tonggak penting. Cimol resmi menempati Gedebage. Awalnya, wajah pasar ini masih jauh dari kesan rapi. Lapak terbuka berjajar di tanah lapang, debu beterbangan saat kemarau dan lumpur menguasai ketika hujan turun. Namun bagi para pedagang, itu bukan masalah besar. Yang penting berdagang bisa terus berjalan.

Justru di fase inilah Cimol Gedebage menemukan bentuknya sebagai pusat pakaian bekas terbesar di Bandung. Karung-karung pakaian datang silih berganti. Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru kota. Ada yang sekadar mencari baju murah, ada pula yang serius berburu barang unik untuk dijual kembali. Dari sinilah Cimol perlahan menjadi ekosistem ekonomi tersendiri.

Saat memasuki akhir dekade 2000-an hingga awal 2010-an, Cimol Gedebage mencapai masa emasnya. Tren fesyen vintage dan gaya berpakaian unik mulai digemari anak muda. Cimol menjelma surga bagi mereka yang ingin tampil beda tanpa menguras dompet. Pasar ini tidak lagi dipandang sebagai tempat barang sisa, melainkan ladang harta karun.

Kebakaran dan Tantangan Zaman

Perjalanan Cimol tentu tidak selalu mulus. Tahun 2018 menjadi salah satu fase paling berat dalam sejarah pasar ini. Kebakaran besar melanda kawasan lama Cimol Gedebage, melalap ratusan kios dan memusnahkan stok dagangan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dalam sekejap, api menghapus jejak kerja keras banyak pedagang.

Tapi seperti banyak kisah dalam sejarah pasar rakyat, musibah tidak menjadi akhir. Dari puing-puing kebakaran, Cimol justru dibangun ulang dengan wajah baru. Konsep pasar diperbaiki, kios permanen didirikan, dan tata ruang diatur lebih tertib. Los-los disusun rapi, jalur pengunjung diperjelas, dan kawasan pasar menjadi lebih manusiawi.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Transformasi ini mengubah citra Cimol. Dari pasar yang identik dengan kesemrawutan, ia beralih menjadi pusat thrifting yang relatif tertata. Jumlah kios mencapai ribuan, menawarkan beragam barang mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga aksesori. Semua tetap dalam semangat lama, barang bekas berkualitas dengan harga yang bisa dinegosiasikan.

Tantangan berikutnya datang dari arah yang tak terduga. Pandemi COVID-19 menghantam hampir seluruh sektor ekonomi, termasuk Cimol Gedebage. Pembatasan aktivitas membuat pasar sepi. Kios-kios tutup berbulan-bulan. Stok menumpuk tanpa pembeli. Namun sekali lagi, Cimol bertahan. Perlahan, ketika aktivitas kota kembali bergerak, pasar ini pun bernapas lagi.

Tetapi, aral melintang lagi. Ritme pasar kembali tersendat pada Maret 2023, ketika larangan impor pakaian bekas kembali ditegaskan melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021.

Bukan aparat yang lebih dulu datang, melainkan rasa takut. Seluruh pedagang memilih menutup kios secara serempak.

Pasokan dari gudang mendadak terputus, kabar razia beredar dari mulut ke mulut, dan pasar pun senyap. Yang menarik, penutupan itu bukan hanya dilakukan pedagang pakaian bekas. Penjual tas dan sepatu baru ikut menurunkan pintu kios. Di Pasar Cimol, satu kios tutup berarti efek domino bagi kios lainnya.

Beberapa hari kemudian, pasar kembali dibuka. Tapi denyutnya tak lagi sama. Pengunjung datang dengan ragu, pedagang berjualan dengan waswas. Sejak saat itu, Pasar Cimol hidup dalam fase baru: buka, tetapi tak sepenuhnya bernapas lega.

Tekanan belum berhenti di situ. Pada paruh akhir 2025, situasi memburuk. Wacana pemberantasan impor pakaian bekas ilegal kembali menguat. Dampaknya terasa cepat di lapak-lapak kecil Pasar Cimol. Omzet pedagang merosot drastis hingga 80%.

Lalu, bulan Agustus 2025 menjadi salah satu titik paling sunyi. Puluhan gudang thrifting di sekitar pasar mendadak dikosongkan. Bukan karena segel resmi, melainkan karena kabar akan adanya razia. Barang-barang disingkirkan, pintu gudang dikunci, dan alur distribusi berhenti seketika. Para pedagang eceran di pasar hanya bisa menghitung sisa stok di gantungan.

Dilema pun muncul. Bertahan dengan stok yang makin tipis berarti menunggu habis perlahan. Mencari pasokan baru nyaris mustahil karena jalur dari pelabuhan terputus. Menutup kios berarti kehilangan penghasilan sama sekali. Di tengah pilihan serba salah itu, Pasar Cimol terus berjalan terseok.

Di luar persoalan impor, Pasar Cimol menghadapi musuh yang tak kasatmata: layar ponsel. Aplikasi belanja online pelan-pelan mengubah cara orang membeli pakaian. Beberapa pedagang yang sempat beralih ke penjualan daring justru mendapat peringatan untuk menghapus produk thrifting dari etalase digital mereka. Ruang gerak semakin sempit.

Tetapi relasi Pasar Cimol dengan dunia digital tidak sepenuhnya berhadap-hadapan. Banyak pengunjung datang justru untuk berburu stok, lalu menjual ulang barang-barang itu lewat media sosial atau marketplace. Pasar ini berubah menjadi simpul awal rantai perdagangan digital, meski posisinya kian rapuh.

Berbagai kajian menunjukkan pasar tradisional makin ditinggalkan karena e-commerce menawarkan harga murah, kemudahan, dan promo tanpa henti. Pasar fisik kalah cepat, kalah praktis. Meski begitu, sebagian pedagang Cimol mencoba beradaptasi. Mereka belajar memotret barang, mengunggah ke media sosial, dan melayani pembeli jarak jauh. Pasar tak lagi berhenti di Gedebage, meski tetap berakar di sana.

Hari ini, Pasar Cimol Gedebage masih hidup. Ratusan kios tetap beroperasi. Anak-anak muda, terutama Gen Z, masih datang berburu jaket oversize atau celana lawas yang kembali tren. Riuh itu belum sepenuhnya hilang, hanya tak lagi sesering dulu.

Tapi masa depan pasar ini menggantung pada dua hal yang berada di luar kendali pedagang kecil: kebijakan negara dan perubahan zaman. Selama regulasi soal impor pakaian bekas terus berubah arah, Pasar Cimol akan hidup dalam bayang-bayang penutupan. Dan selama perilaku belanja terus bergeser ke layar ponsel, pasar ini dipaksa beradaptasi lebih cepat dari kemampuannya sendiri.

Pasar Cimol Gedebage kini bukan sekadar tempat jual beli. Ia menjadi cermin rapuhnya ekonomi kecil ketika berhadapan dengan kebijakan besar dan teknologi global. Di antara gantungan baju yang bergoyang pelan, pasar ini masih bertahan, meski tak lagi yakin sampai kapan.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)