Sejarah Pasar Cimol Gedebage Bandung, Surga Thrifting Kota Kembang di Ujung Jalan

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di sudut timur Kota Bandung, tepatnya di kawasan Gedebage, berdiri sebuah pasar yang telah menjadi legenda bagi para pemburu pakaian bekas berkualitas dengan harga terjangkau. Pasar Cimol Gedebage, demikian warga Bandung menyebutnya, bukan sekadar tempat jual beli barang second hand biasa. Pasar ini menyimpan perjalanan sejarah panjang penuh dinamika, yang mencerminkan perkembangan ekonomi informal dan budaya urban di Kota Kembang sepanjang lebih dari tiga dekade terakhir.

Embel-embel cimol sendiri sudah seperti mantra. Begitu diucapkan, ingatan orang Bandung langsung melayang pada pakaian second hand, kaus luar negeri, jaket tebal dari negeri empat musim, dan sepatu yang kisah perjalanannya mungkin lebih panjang daripada riwayat pemilik barunya. Namun sedikit yang benar-benar menelusuri dari mana pasar ini berasal dan bagaimana ia bisa berakhir di timur kota, jauh dari pusat keramaian lama Bandung.

Kisah Pasar Cimol bermula bukan di Gedebage, melainkan di jantung kota yang sejak lama berdenyut sebagai pusat perdagangan. Pada awal 1990-an, ketika Bandung masih belum seramai sekarang dan mal modern belum menjamur di setiap sudut, sejumlah pedagang mulai menjajakan pakaian bekas di kawasan Jalan Cibadak. Kawasan ini sejak lama dikenal sebagai wilayah niaga, tempat toko-toko berdiri rapat dan aktivitas jual beli berlangsung nyaris tanpa jeda.

Baca Juga: Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Para pedagang itu memanfaatkan emperan toko, sudut jalan, dan ruang-ruang kosong yang tersisa. Dagangan mereka berbeda dari pedagang pakaian kebanyakan. Yang dijual bukan busana baru dengan label licin, melainkan pakaian bekas impor yang datang dalam karung besar. Celana jins, jaket, kemeja flanel, hingga pakaian olahraga luar negeri digelar apa adanya. Murah, beragam, dan penuh kejutan.

Dari sinilah istilah Cibadak Mall lahir. Sebuah ironi yang kemudian menjadi identitas. Ia bukan mal dengan lift dan pendingin ruangan, melainkan bentangan lapak di jalanan terbuka. Nama itu lalu disingkat menjadi Cimall atau Cimol, mirip jajanan aci yang digoreng khas Bandung.

Seiring waktu, Cimol Cibadak tumbuh seperti organisme kota yang sulit dibendung. Jumlah pedagang bertambah, pembeli makin ramai, dan jalanan makin sesak. Kawasan yang semula menjadi ruang lalu lintas berubah menjadi pasar dadakan raksasa. Di satu sisi, Cimol menghidupi banyak keluarga. Di sisi lain, ia menjadi masalah klasik kota besar, kemacetan, kesemrawutan, dan keluhan soal ketertiban.

Ketika ruang kota mulai terasa sempit, Cimol pun harus bergerak. Sejarahnya kemudian diwarnai fase berpindah-pindah. Dari Cibadak, para pedagang sempat menepi ke kawasan lain seperti Tegalega dan Kebon Kelapa. Namun seperti siput yang membawa rumah di punggungnya, identitas Cimol selalu ikut serta. Nama itu sudah terlanjur melekat, menjadi penanda yang lebih kuat daripada alamat.

Baca Juga: Hikayat Jalan Braga Baheula, Kiblat Wajah Parijs van Java Bandung

Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)
Pasar Cimol Gedebage. (Sumber: Ayobandung)

Gedebage dan Perpindahan ke Timur Kota

Untuk memahami mengapa Cimol akhirnya berlabuh di Gedebage, perlu menoleh lebih jauh ke sejarah kawasan timur Bandung ini. Gedebage bukan wilayah baru dalam peta kota. Sejak masa kolonial, kawasan ini sudah memainkan peran penting sebagai wilayah logistik dan pengangkutan barang. Kehadiran stasiun kereta api di akhir abad ke-19 menjadikan Gedebage sebagai simpul distribusi hasil bumi dari pedalaman.

Wilayah ini juga punya latar geologis yang menarik. Dahulu, Gedebage merupakan bagian dari kawasan rawa yang tersisa dari Danau Purba Bandung. Perlahan, rawa itu dikeringkan dan berubah menjadi sawah. Dari tanah basah itulah kemudian tumbuh aktivitas ekonomi yang bergantung pada pergerakan barang dan lahan luas. Karakter ini kelak menjadi alasan mengapa Gedebage dipilih sebagai lokasi pasar besar.

Pada awal 2000-an, Pemerintah Kota Bandung akhirnya menetapkan Gedebage sebagai tempat relokasi permanen bagi pedagang Cimol. Lahan luas di kawasan Pasar Induk Gedebage dinilai mampu menampung ribuan pedagang yang sebelumnya tersebar tanpa aturan. Lokasinya di pinggir kota dianggap strategis, tidak terlalu mengganggu lalu lintas pusat kota, namun tetap mudah dijangkau.

Baca Juga: Sejarah Pasar Kosambi, Jejak Perdagangan Seabad Bandung

Tahun 2004 menjadi tonggak penting. Cimol resmi menempati Gedebage. Awalnya, wajah pasar ini masih jauh dari kesan rapi. Lapak terbuka berjajar di tanah lapang, debu beterbangan saat kemarau dan lumpur menguasai ketika hujan turun. Namun bagi para pedagang, itu bukan masalah besar. Yang penting berdagang bisa terus berjalan.

Justru di fase inilah Cimol Gedebage menemukan bentuknya sebagai pusat pakaian bekas terbesar di Bandung. Karung-karung pakaian datang silih berganti. Pembeli berdatangan dari berbagai penjuru kota. Ada yang sekadar mencari baju murah, ada pula yang serius berburu barang unik untuk dijual kembali. Dari sinilah Cimol perlahan menjadi ekosistem ekonomi tersendiri.

Saat memasuki akhir dekade 2000-an hingga awal 2010-an, Cimol Gedebage mencapai masa emasnya. Tren fesyen vintage dan gaya berpakaian unik mulai digemari anak muda. Cimol menjelma surga bagi mereka yang ingin tampil beda tanpa menguras dompet. Pasar ini tidak lagi dipandang sebagai tempat barang sisa, melainkan ladang harta karun.

Kebakaran dan Tantangan Zaman

Perjalanan Cimol tentu tidak selalu mulus. Tahun 2018 menjadi salah satu fase paling berat dalam sejarah pasar ini. Kebakaran besar melanda kawasan lama Cimol Gedebage, melalap ratusan kios dan memusnahkan stok dagangan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Dalam sekejap, api menghapus jejak kerja keras banyak pedagang.

Tapi seperti banyak kisah dalam sejarah pasar rakyat, musibah tidak menjadi akhir. Dari puing-puing kebakaran, Cimol justru dibangun ulang dengan wajah baru. Konsep pasar diperbaiki, kios permanen didirikan, dan tata ruang diatur lebih tertib. Los-los disusun rapi, jalur pengunjung diperjelas, dan kawasan pasar menjadi lebih manusiawi.

Baca Juga: Tragedi Longsor Sampah Leuwigajah 2005: Terburuk di Indonesia, Terparah Kedua di Dunia

Transformasi ini mengubah citra Cimol. Dari pasar yang identik dengan kesemrawutan, ia beralih menjadi pusat thrifting yang relatif tertata. Jumlah kios mencapai ribuan, menawarkan beragam barang mulai dari pakaian, sepatu, tas, hingga aksesori. Semua tetap dalam semangat lama, barang bekas berkualitas dengan harga yang bisa dinegosiasikan.

Tantangan berikutnya datang dari arah yang tak terduga. Pandemi COVID-19 menghantam hampir seluruh sektor ekonomi, termasuk Cimol Gedebage. Pembatasan aktivitas membuat pasar sepi. Kios-kios tutup berbulan-bulan. Stok menumpuk tanpa pembeli. Namun sekali lagi, Cimol bertahan. Perlahan, ketika aktivitas kota kembali bergerak, pasar ini pun bernapas lagi.

Tetapi, aral melintang lagi. Ritme pasar kembali tersendat pada Maret 2023, ketika larangan impor pakaian bekas kembali ditegaskan melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2021.

Bukan aparat yang lebih dulu datang, melainkan rasa takut. Seluruh pedagang memilih menutup kios secara serempak.

Pasokan dari gudang mendadak terputus, kabar razia beredar dari mulut ke mulut, dan pasar pun senyap. Yang menarik, penutupan itu bukan hanya dilakukan pedagang pakaian bekas. Penjual tas dan sepatu baru ikut menurunkan pintu kios. Di Pasar Cimol, satu kios tutup berarti efek domino bagi kios lainnya.

Beberapa hari kemudian, pasar kembali dibuka. Tapi denyutnya tak lagi sama. Pengunjung datang dengan ragu, pedagang berjualan dengan waswas. Sejak saat itu, Pasar Cimol hidup dalam fase baru: buka, tetapi tak sepenuhnya bernapas lega.

Tekanan belum berhenti di situ. Pada paruh akhir 2025, situasi memburuk. Wacana pemberantasan impor pakaian bekas ilegal kembali menguat. Dampaknya terasa cepat di lapak-lapak kecil Pasar Cimol. Omzet pedagang merosot drastis hingga 80%.

Lalu, bulan Agustus 2025 menjadi salah satu titik paling sunyi. Puluhan gudang thrifting di sekitar pasar mendadak dikosongkan. Bukan karena segel resmi, melainkan karena kabar akan adanya razia. Barang-barang disingkirkan, pintu gudang dikunci, dan alur distribusi berhenti seketika. Para pedagang eceran di pasar hanya bisa menghitung sisa stok di gantungan.

Dilema pun muncul. Bertahan dengan stok yang makin tipis berarti menunggu habis perlahan. Mencari pasokan baru nyaris mustahil karena jalur dari pelabuhan terputus. Menutup kios berarti kehilangan penghasilan sama sekali. Di tengah pilihan serba salah itu, Pasar Cimol terus berjalan terseok.

Di luar persoalan impor, Pasar Cimol menghadapi musuh yang tak kasatmata: layar ponsel. Aplikasi belanja online pelan-pelan mengubah cara orang membeli pakaian. Beberapa pedagang yang sempat beralih ke penjualan daring justru mendapat peringatan untuk menghapus produk thrifting dari etalase digital mereka. Ruang gerak semakin sempit.

Tetapi relasi Pasar Cimol dengan dunia digital tidak sepenuhnya berhadap-hadapan. Banyak pengunjung datang justru untuk berburu stok, lalu menjual ulang barang-barang itu lewat media sosial atau marketplace. Pasar ini berubah menjadi simpul awal rantai perdagangan digital, meski posisinya kian rapuh.

Berbagai kajian menunjukkan pasar tradisional makin ditinggalkan karena e-commerce menawarkan harga murah, kemudahan, dan promo tanpa henti. Pasar fisik kalah cepat, kalah praktis. Meski begitu, sebagian pedagang Cimol mencoba beradaptasi. Mereka belajar memotret barang, mengunggah ke media sosial, dan melayani pembeli jarak jauh. Pasar tak lagi berhenti di Gedebage, meski tetap berakar di sana.

Hari ini, Pasar Cimol Gedebage masih hidup. Ratusan kios tetap beroperasi. Anak-anak muda, terutama Gen Z, masih datang berburu jaket oversize atau celana lawas yang kembali tren. Riuh itu belum sepenuhnya hilang, hanya tak lagi sesering dulu.

Tapi masa depan pasar ini menggantung pada dua hal yang berada di luar kendali pedagang kecil: kebijakan negara dan perubahan zaman. Selama regulasi soal impor pakaian bekas terus berubah arah, Pasar Cimol akan hidup dalam bayang-bayang penutupan. Dan selama perilaku belanja terus bergeser ke layar ponsel, pasar ini dipaksa beradaptasi lebih cepat dari kemampuannya sendiri.

Pasar Cimol Gedebage kini bukan sekadar tempat jual beli. Ia menjadi cermin rapuhnya ekonomi kecil ketika berhadapan dengan kebijakan besar dan teknologi global. Di antara gantungan baju yang bergoyang pelan, pasar ini masih bertahan, meski tak lagi yakin sampai kapan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)