Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

7 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Sarkanjut (Sumber: Google Earth)
Sarkanjut (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Di Garut bagian utara, ada sebuah kampung yang namanya kerap lebih dulu membuat orang tersenyum sebelum bertanya letaknya. Kampung Sarkanjut. Bukan Sukamaju, bukan Mekarsari, apalagi Harumwangi. Sarkanjut berdiri dengan nama yang terasa terlalu blak blakan untuk zaman yang gemar membungkus segalanya dengan istilah ramah telinga. Banyak orang datang ke Garut membawa daftar tempat indah. Sedikit yang datang membawa kesiapan mental untuk menyebut Sarkanjut tanpa salah tingkah.

Padahal Kampung Sarkanjut tidak pernah berniat lucu. Ia ada jauh sebelum kamus populer dan sensor sosial bekerja terlalu keras. Kampung ini tumbuh di Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, wilayah yang lebih sering berbicara lewat sawah, bukit, dan aliran air daripada papan nama. Sarkanjut hidup sebagai kampung agraris biasa. Pagi dimulai dengan langkah ke sawah. Siang diisi kerja sunyi. Sore ditutup dengan obrolan ringan yang lebih sering membahas cuaca daripada masa depan.

Soalnya hanya satu. Nama Sarkanjut.

Bagi telinga hari ini, nama itu terdengar seperti candaan yang lupa diedit. Banyak pendatang menahannya di ujung lidah, mengulang pelan pelan, lalu tertawa sendiri. Ada pula yang memilih singkatan agar tetap sopan. Warga Sarkanjut sudah hafal pola ini. Mereka tahu, kampungnya sering kalah sebelum cerita dimulai. Nama sudah lebih dulu mencuri perhatian.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Tapi justru di situlah daya pikatnya. Dalam dunia toponimi, nama tempat bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah arsip ingatan, catatan budaya, dan kadang juga lelucon yang diwariskan turun-temurun. Sarkanjut adalah contoh sempurna bagaimana sebuah kampung di Garut menyimpan lapisan sejarah, mitologi, dan humor lokal dalam satu kata yang nyeleneh.

Kampung Sarkanjut kini tercatat sebagai salah satu kampung terbesar di wilayah Desa Dungusiku. Jumlah penduduknya terus bertambah dari tahun ke tahun, didorong oleh arus pendatang yang menetap. Tetapi jauh sebelum menjadi kampung padat penduduk, Sarkanjut lebih dulu hidup sebagai cerita. Cerita tentang situ, tentang kantong, tentang warisan yang kecil tapi dijaga mati-matian.

Berdasarkan risalah toponimi Kampung Sarkanjut yang ditulis Hadianto, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, wilayah ini memiliki hubungan erat dengan tetangganya, Kampung Panunggangan dan Kampung Nenggeng. Hubungan itu bukan hubungan administratif, melainkan hubungan emosional dan mitologis yang dibentuk oleh cerita rakyat.

Cerita Kelahiran Sarkanjut

Dalam cerita yang dituturkan Abah Karya, salah satu sesepuh, Kampung Sarkanjut lahir setelah sebuah peristiwa peperangan pasukan berkuda dari Panunggangan. Seusai perang, Eyang Dipajaya atau Eyang Aub berkeinginan menghubungkan lahan kosong tempat hilangnya jimat dengan Kampung Dungusiku di sebelah barat. Masalahnya, lahan kosong itu dipisahkan oleh sebuah situ, kolam besar dan dalam, yang dalam istilah Sunda disebut balong jero jeung lega sebagaimana dicatat R A Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda.

Baca Juga: Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung

Berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan situ itu. Urugan dari kapur dan cadas dicoba, namun selalu gagal. Seolah-olah alam punya kehendak sendiri untuk mempertahankan jarak. Sampai akhirnya Eyang Dipajaya mendapat wangsit untuk menggelar sayembara. Siapa pun yang mampu menghubungkan lahan kosong dengan Kampung Dungusiku akan diangkat menjadi menantu.

Datanglah seorang santri dari Cirebon bernama Eyang Sura. Ia berhasil menyambungkan dua wilayah yang terpisah itu. Hadiahnya bukan sekadar pernikahan dengan anak Eyang Dipajaya, tetapi juga tempat tinggal lengkap dengan situ sebagai sumber penghidupan. Sebagai bekal hidup, Eyang Sura diberi sebuah kanjut kundang berisi benih ikan. Dari sinilah Sarkanjut bermula, bukan dari istana, bukan dari pasar, melainkan dari sebuah kantong kain.

Sarkanjut kemudian tumbuh menjadi penanda ruang dan makna. Menurut Hadianto dalam risalahnya, kata sarkanjut berasal dari dua unsur bahasa Sunda, sar dan kanjut. Sar berarti asup atau masuk, sedangkan kanjut adalah kantong kecil dari kain untuk menyimpan uang receh. Dalam pengertian lain, kanjut juga merujuk pada kanjut kundang, wadah untuk menyimpan panglay dan jaringao yang biasa digunakan ibu pascamelahirkan. Panglay dan jaringao sendiri dikenal sebagai tanaman beraroma kuat yang dipercaya mampu menolak gangguan gaib, sebagaimana dicatat R A Danadibrata dan R Satjadibrata.

Dari segi arti, nama Sarkanjut dengan demikian dapat dimaknai sebagai sesuatu yang dimasukkan ke dalam kantong. Sebuah frasa yang secara semantik sederhana, tetapi secara simbolik rumit. Kanjut bukan sekadar wadah, melainkan simbol harta warisan. Isinya boleh sedikit, bahkan receh, tetapi harus dijaga agar tidak tercecer. Harta itu tidak untuk dihamburkan, apalagi dijual keluar, melainkan untuk menopang kehidupan keluarga dan keturunan.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Jejak makna itu hidup dalam kisah Situ Sarkanjut. Situ ini diwariskan sebagai sumber pangan utama warga. Ikan di dalamnya selalu tersedia, terutama saat musim hujan. Tetapi ada kepercayaan tak tertulis bahwa ikan di situ hanya untuk warga Sarkanjut. Tidak ada larangan memancing bagi orang luar, tetapi cerita rakyat menyebutkan ikan-ikan itu enggan dijual keluar kampung. Hadianto mencatat kisah yang beredar di masyarakat tentang ikan yang dibawa ke Majalaya untuk dijual, namun tak satu pun laku hingga akhirnya dibagikan kembali kepada warga Sarkanjut.

Situ Sarkanjut (Sumber: Kementerian PUPR)
Situ Sarkanjut (Sumber: Kementerian PUPR)

Dalam bahasa Sunda, Hadianto menyebut keadaan ini disebut dikanjutan. Ditempatkan dalam kantongnya sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk diperdagangkan, hanya untuk bertahan hidup. Sarkanjut dengan demikian bukan hanya nama tempat, tetapi konsep ekonomi tradisional yang sederhana dan keras kepala.

Pakar toponimi Titi Bachtiar menawarkan pembacaan yang lebih geomorfologis. Mengutip Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata, kanjut berarti kantong kecil. Sementara unsur sar di depan kata kanjut bukan hanya berasal dari bahasa Sunda, tetapi juga dari bahasa Kawi. Menurut S Wojowasito dalam Kamus Kawi Indonesia, sar atau sâr bermakna sebar atau terserak. Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia juga mencatat makna serupa, yaitu tersebar.

Dengan demikian, menurutnya Sarkanjut dapat diartikan sebagai kantong-kantong yang tersebar. Bukan satu kantong, melainkan banyak. Dalam cara berpikir karuhun Sunda, wilayah yang cekung dianalogikan sebagai kantong. Jawa Barat penuh dengan toponim serupa, seperti Cikampék, Salopa, Cikandé, atau Cikadut. Semua merujuk pada bentuk alam yang menampung sesuatu.

Titi Bachtiar menjelaskan bahwa toponim Sarkanjut pada awalnya tidak menunjuk pada satu situ saja. Ia menamai sebuah kawasan yang memiliki banyak cekungan berair. Hal ini diperkuat oleh peta topografi lama, antara lain Peta Topografi Lembar Leles terbit 1886 dan 1908, serta Lembar Cibatu dan Cikawao terbit 1908. Dari peta-peta itu tercatat sedikitnya 13 situ dan ranca di kawasan tersebut, mulai dari Situ Cangkuang, Situ Sarkanjut, Situ Sarjambe, Situ Bagendit, hingga Ranca Kukuk dan Ranca Gabus. Jumlahnya mungkin lebih banyak, tetapi tidak semua tergambar karena keterbatasan skala peta.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Karenanya, Sarkanjut adalah lanskap, bukan sekadar kampung. Ia adalah gugusan kantong air yang tersebar, sebuah dapur alam raksasa yang menopang kehidupan manusia sejak lama. Nama yang terdengar konyol itu justru lahir dari pengamatan ekologis yang tajam.

Di sisi lain, Sarkanjut juga bertetangga dengan Kampung Nenggeng, kampung dengan nama yang tak kalah jenaka. Menurut Hadianto, ada dua pendapat tentang asal-usul nama Nenggeng. Salah satunya berasal dari kata tenggeng, ejekan untuk orang dengan bokong menonjol. Pendapat lain mengaitkannya dengan konflik rumah tangga dan rasa tersinggung yang diwariskan menjadi nama tempat. Dalam legenda yang dituturkan Abah Karya, ejekan itu berkembang menjadi sentimen laten antara dua kampung yang sesekali memicu gesekan.

Dalam perkembangan waktu, interpretasi populer terhadap nama Sarkanjut mulai bergeser. Seiring dengan perkembangan bahasa dan perubahan sosial, kata "kanjut" yang dalam bahasa Sunda modern memiliki konotasi vulgar, membuat nama danau ini terdengar nyeleneh dan bahkan jorok di telinga masyarakat luas. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai mitos dan cerita rakyat yang mengaitkan nama tersebut dengan simbol kejantanan pria, semakin memperkuat persepsi yang salah kaprah terhadap makna sebenarnya.

Seperti banyak tempat bersejarah lainnya di Jawa Barat, Situ Sarkanjut juga diliputi oleh berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Salah satu cerita yang cukup populer adalah tentang seorang sesepuh kampung yang mendapat bisikan gaib saat tengah berhadapan dengan pasukan Belanda. Bisikan tersebut menginstruksikan sang sesepuh untuk memegang kemaluannya sebanyak tiga kali agar masyarakat kampung tersebut selamat dari serangan. Konon, setelah ritual tersebut dilakukan, warga setempat berhasil selamat dan terhindar dari ancaman Belanda.

Selain itu, ada pula kepercayaan lokal yang berkaitan dengan penunggu situ. Masyarakat setempat mempercayai bahwa Situ Sarkanjut dijaga oleh dua makhluk halus yang dikenal dengan nama Keling dan Dongkol. Keling dipercaya sebagai siluman ular, sementara Dongkol adalah siluman kerbau. Konon, beberapa warga pernah melihat penampakan kedua makhluk tersebut, terutama Dongkol yang sering menampakkan diri saat hujan besar terjadi di kawasan danau. Ada cerita tentang warga yang melihat Dongkol berenang dengan cepat lalu menenggelamkan diri di tengah-tengah danau.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)