Hikayat Sarkanjut, Kampung Kecil yang Termasyhur di Priangan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 22 Jan 2026, 13:58 WIB
Sarkanjut (Sumber: Google Earth)

Sarkanjut (Sumber: Google Earth)

AYOBANDUNG.ID - Di Garut bagian utara, ada sebuah kampung yang namanya kerap lebih dulu membuat orang tersenyum sebelum bertanya letaknya. Kampung Sarkanjut. Bukan Sukamaju, bukan Mekarsari, apalagi Harumwangi. Sarkanjut berdiri dengan nama yang terasa terlalu blak blakan untuk zaman yang gemar membungkus segalanya dengan istilah ramah telinga. Banyak orang datang ke Garut membawa daftar tempat indah. Sedikit yang datang membawa kesiapan mental untuk menyebut Sarkanjut tanpa salah tingkah.

Padahal Kampung Sarkanjut tidak pernah berniat lucu. Ia ada jauh sebelum kamus populer dan sensor sosial bekerja terlalu keras. Kampung ini tumbuh di Desa Dungusiku, Kecamatan Leuwigoong, wilayah yang lebih sering berbicara lewat sawah, bukit, dan aliran air daripada papan nama. Sarkanjut hidup sebagai kampung agraris biasa. Pagi dimulai dengan langkah ke sawah. Siang diisi kerja sunyi. Sore ditutup dengan obrolan ringan yang lebih sering membahas cuaca daripada masa depan.

Soalnya hanya satu. Nama Sarkanjut.

Bagi telinga hari ini, nama itu terdengar seperti candaan yang lupa diedit. Banyak pendatang menahannya di ujung lidah, mengulang pelan pelan, lalu tertawa sendiri. Ada pula yang memilih singkatan agar tetap sopan. Warga Sarkanjut sudah hafal pola ini. Mereka tahu, kampungnya sering kalah sebelum cerita dimulai. Nama sudah lebih dulu mencuri perhatian.

Baca Juga: Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Tapi justru di situlah daya pikatnya. Dalam dunia toponimi, nama tempat bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah arsip ingatan, catatan budaya, dan kadang juga lelucon yang diwariskan turun-temurun. Sarkanjut adalah contoh sempurna bagaimana sebuah kampung di Garut menyimpan lapisan sejarah, mitologi, dan humor lokal dalam satu kata yang nyeleneh.

Kampung Sarkanjut kini tercatat sebagai salah satu kampung terbesar di wilayah Desa Dungusiku. Jumlah penduduknya terus bertambah dari tahun ke tahun, didorong oleh arus pendatang yang menetap. Tetapi jauh sebelum menjadi kampung padat penduduk, Sarkanjut lebih dulu hidup sebagai cerita. Cerita tentang situ, tentang kantong, tentang warisan yang kecil tapi dijaga mati-matian.

Berdasarkan risalah toponimi Kampung Sarkanjut yang ditulis Hadianto, dosen Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, wilayah ini memiliki hubungan erat dengan tetangganya, Kampung Panunggangan dan Kampung Nenggeng. Hubungan itu bukan hubungan administratif, melainkan hubungan emosional dan mitologis yang dibentuk oleh cerita rakyat.

Cerita Kelahiran Sarkanjut

Dalam cerita yang dituturkan Abah Karya, salah satu sesepuh, Kampung Sarkanjut lahir setelah sebuah peristiwa peperangan pasukan berkuda dari Panunggangan. Seusai perang, Eyang Dipajaya atau Eyang Aub berkeinginan menghubungkan lahan kosong tempat hilangnya jimat dengan Kampung Dungusiku di sebelah barat. Masalahnya, lahan kosong itu dipisahkan oleh sebuah situ, kolam besar dan dalam, yang dalam istilah Sunda disebut balong jero jeung lega sebagaimana dicatat R A Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda.

Baca Juga: Sejarah Jatinangor, Perkebunan Kolonial yang jadi Pabrik Sarjana di Timur Bandung

Berbagai cara dilakukan untuk menaklukkan situ itu. Urugan dari kapur dan cadas dicoba, namun selalu gagal. Seolah-olah alam punya kehendak sendiri untuk mempertahankan jarak. Sampai akhirnya Eyang Dipajaya mendapat wangsit untuk menggelar sayembara. Siapa pun yang mampu menghubungkan lahan kosong dengan Kampung Dungusiku akan diangkat menjadi menantu.

Datanglah seorang santri dari Cirebon bernama Eyang Sura. Ia berhasil menyambungkan dua wilayah yang terpisah itu. Hadiahnya bukan sekadar pernikahan dengan anak Eyang Dipajaya, tetapi juga tempat tinggal lengkap dengan situ sebagai sumber penghidupan. Sebagai bekal hidup, Eyang Sura diberi sebuah kanjut kundang berisi benih ikan. Dari sinilah Sarkanjut bermula, bukan dari istana, bukan dari pasar, melainkan dari sebuah kantong kain.

Sarkanjut kemudian tumbuh menjadi penanda ruang dan makna. Menurut Hadianto dalam risalahnya, kata sarkanjut berasal dari dua unsur bahasa Sunda, sar dan kanjut. Sar berarti asup atau masuk, sedangkan kanjut adalah kantong kecil dari kain untuk menyimpan uang receh. Dalam pengertian lain, kanjut juga merujuk pada kanjut kundang, wadah untuk menyimpan panglay dan jaringao yang biasa digunakan ibu pascamelahirkan. Panglay dan jaringao sendiri dikenal sebagai tanaman beraroma kuat yang dipercaya mampu menolak gangguan gaib, sebagaimana dicatat R A Danadibrata dan R Satjadibrata.

Dari segi arti, nama Sarkanjut dengan demikian dapat dimaknai sebagai sesuatu yang dimasukkan ke dalam kantong. Sebuah frasa yang secara semantik sederhana, tetapi secara simbolik rumit. Kanjut bukan sekadar wadah, melainkan simbol harta warisan. Isinya boleh sedikit, bahkan receh, tetapi harus dijaga agar tidak tercecer. Harta itu tidak untuk dihamburkan, apalagi dijual keluar, melainkan untuk menopang kehidupan keluarga dan keturunan.

Baca Juga: Hikayat Jejak Kopi Jawa di Balik Bahasa Pemrograman Java

Jejak makna itu hidup dalam kisah Situ Sarkanjut. Situ ini diwariskan sebagai sumber pangan utama warga. Ikan di dalamnya selalu tersedia, terutama saat musim hujan. Tetapi ada kepercayaan tak tertulis bahwa ikan di situ hanya untuk warga Sarkanjut. Tidak ada larangan memancing bagi orang luar, tetapi cerita rakyat menyebutkan ikan-ikan itu enggan dijual keluar kampung. Hadianto mencatat kisah yang beredar di masyarakat tentang ikan yang dibawa ke Majalaya untuk dijual, namun tak satu pun laku hingga akhirnya dibagikan kembali kepada warga Sarkanjut.

Situ Sarkanjut (Sumber: Kementerian PUPR)
Situ Sarkanjut (Sumber: Kementerian PUPR)

Dalam bahasa Sunda, Hadianto menyebut keadaan ini disebut dikanjutan. Ditempatkan dalam kantongnya sendiri. Tidak untuk dipamerkan, tidak untuk diperdagangkan, hanya untuk bertahan hidup. Sarkanjut dengan demikian bukan hanya nama tempat, tetapi konsep ekonomi tradisional yang sederhana dan keras kepala.

Pakar toponimi Titi Bachtiar menawarkan pembacaan yang lebih geomorfologis. Mengutip Kamus Basa Sunda karya R Satjadibrata, kanjut berarti kantong kecil. Sementara unsur sar di depan kata kanjut bukan hanya berasal dari bahasa Sunda, tetapi juga dari bahasa Kawi. Menurut S Wojowasito dalam Kamus Kawi Indonesia, sar atau sâr bermakna sebar atau terserak. Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuna Indonesia juga mencatat makna serupa, yaitu tersebar.

Dengan demikian, menurutnya Sarkanjut dapat diartikan sebagai kantong-kantong yang tersebar. Bukan satu kantong, melainkan banyak. Dalam cara berpikir karuhun Sunda, wilayah yang cekung dianalogikan sebagai kantong. Jawa Barat penuh dengan toponim serupa, seperti Cikampék, Salopa, Cikandé, atau Cikadut. Semua merujuk pada bentuk alam yang menampung sesuatu.

Titi Bachtiar menjelaskan bahwa toponim Sarkanjut pada awalnya tidak menunjuk pada satu situ saja. Ia menamai sebuah kawasan yang memiliki banyak cekungan berair. Hal ini diperkuat oleh peta topografi lama, antara lain Peta Topografi Lembar Leles terbit 1886 dan 1908, serta Lembar Cibatu dan Cikawao terbit 1908. Dari peta-peta itu tercatat sedikitnya 13 situ dan ranca di kawasan tersebut, mulai dari Situ Cangkuang, Situ Sarkanjut, Situ Sarjambe, Situ Bagendit, hingga Ranca Kukuk dan Ranca Gabus. Jumlahnya mungkin lebih banyak, tetapi tidak semua tergambar karena keterbatasan skala peta.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

Karenanya, Sarkanjut adalah lanskap, bukan sekadar kampung. Ia adalah gugusan kantong air yang tersebar, sebuah dapur alam raksasa yang menopang kehidupan manusia sejak lama. Nama yang terdengar konyol itu justru lahir dari pengamatan ekologis yang tajam.

Di sisi lain, Sarkanjut juga bertetangga dengan Kampung Nenggeng, kampung dengan nama yang tak kalah jenaka. Menurut Hadianto, ada dua pendapat tentang asal-usul nama Nenggeng. Salah satunya berasal dari kata tenggeng, ejekan untuk orang dengan bokong menonjol. Pendapat lain mengaitkannya dengan konflik rumah tangga dan rasa tersinggung yang diwariskan menjadi nama tempat. Dalam legenda yang dituturkan Abah Karya, ejekan itu berkembang menjadi sentimen laten antara dua kampung yang sesekali memicu gesekan.

Dalam perkembangan waktu, interpretasi populer terhadap nama Sarkanjut mulai bergeser. Seiring dengan perkembangan bahasa dan perubahan sosial, kata "kanjut" yang dalam bahasa Sunda modern memiliki konotasi vulgar, membuat nama danau ini terdengar nyeleneh dan bahkan jorok di telinga masyarakat luas. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai mitos dan cerita rakyat yang mengaitkan nama tersebut dengan simbol kejantanan pria, semakin memperkuat persepsi yang salah kaprah terhadap makna sebenarnya.

Seperti banyak tempat bersejarah lainnya di Jawa Barat, Situ Sarkanjut juga diliputi oleh berbagai mitos dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Salah satu cerita yang cukup populer adalah tentang seorang sesepuh kampung yang mendapat bisikan gaib saat tengah berhadapan dengan pasukan Belanda. Bisikan tersebut menginstruksikan sang sesepuh untuk memegang kemaluannya sebanyak tiga kali agar masyarakat kampung tersebut selamat dari serangan. Konon, setelah ritual tersebut dilakukan, warga setempat berhasil selamat dan terhindar dari ancaman Belanda.

Selain itu, ada pula kepercayaan lokal yang berkaitan dengan penunggu situ. Masyarakat setempat mempercayai bahwa Situ Sarkanjut dijaga oleh dua makhluk halus yang dikenal dengan nama Keling dan Dongkol. Keling dipercaya sebagai siluman ular, sementara Dongkol adalah siluman kerbau. Konon, beberapa warga pernah melihat penampakan kedua makhluk tersebut, terutama Dongkol yang sering menampakkan diri saat hujan besar terjadi di kawasan danau. Ada cerita tentang warga yang melihat Dongkol berenang dengan cepat lalu menenggelamkan diri di tengah-tengah danau.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)