Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.

AYOBANDUNG.ID - Pada peta kolonial Hindia Belanda awal abad ke-20, Cigembong bukanlah nama yang mencolok. Ia tidak setenar Garut sebagai kota peristirahatan orang Eropa, tidak pula sepopuler Pangalengan dengan kebun tehnya. Cigembong hanyalah sebuah kampung di selatan Garut, jauh dari hiruk pikuk kota, hidup dari sawah, sungai kecil, dan ingatan para tetua desa. Namun pada Juni 1924, Cigembong mendadak masuk halaman surat kabar kolonial, bukan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai berita duka yang panjang dan muram.

Sumber utama kisah ini datang dari De Indische Courant edisi 2 Juli 1924, yang memuat laporan resmi Bupati Garut tentang bencana longsor besar di wilayah tersebut. Laporan itu bukan sekadar catatan administratif, melainkan potret detail tentang bagaimana sebuah kampung lenyap, lengkap dengan jumlah korban, hewan ternak, hingga luas sawah yang tertimbun. Bahasa laporannya tenang, khas birokrasi kolonial, tetapi justru di situlah letak kengerian ceritanya.

Cigembong saat itu merupakan bagian dari Desa Nyalindung, Distrik Bungbulang. Kampung ini bukan kampung baru. Menurut keterangan para tetua desa yang dicatat dalam laporan tersebut, usia Kampung Cigembong sudah lebih dari satu abad. Artinya, kampung itu telah melewati berbagai pergantian zaman, dari VOC, Daendels, hingga pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang lebih mapan. Ironisnya, ia justru berakhir bukan oleh perang atau kebijakan kolonial, melainkan oleh gerakan tanah yang datang tanpa aba-aba.

Baca Juga: Tamasya Pangalengan Zaman Baheula, Pesona Lanskap Hijau di Ujung Bandung Selatan

Secara geografis, Cigembong berdiri di tempat yang indah sekaligus berbahaya. Kampung ini terletak di lereng Gunung Bodas atau Puncak Ali, dengan lereng yang memanjang hingga Sungai Cilaki. Di kanan kirinya mengalir dua sungai kecil, Cigembong Kidul dan Cigembong Kaler, yang beberapa kilometer kemudian bertemu dan bermuara ke Sungai Cilaki. Bagi petani, lokasi ini adalah berkah. Air melimpah, tanah subur, sawah terbentang di antara dua aliran sungai. Bagi geologi, ini adalah wilayah yang menyimpan potensi petaka.

Pada 12 Juni 1924, sekitar pukul lima sore, keseharian kampung itu berlangsung seperti biasa. Sebagian warga berada di rumah, sebagian lagi masih bekerja di sawah. Tidak ada tanda-tanda alam yang cukup keras untuk membuat orang lari menyelamatkan diri. Tidak ada letusan, tidak ada hujan ekstrem yang disebutkan dalam laporan. Yang terjadi kemudian justru sesuatu yang lebih sunyi namun mematikan.

Laporan Bupati Garut yang dikutip De Indische Courant menyebutkan dengan lugas bahwa bencana itu diawali oleh retakan besar di puncak Gunung Bodas. Retakan ini menjadi pembuka tirai tragedi. Tanah, pasir, batu, dan seluruh isi lereng gunung bergerak turun. Kecepatannya bukan sesuatu yang bisa ditawar oleh refleks manusia.

Dalam laporan koran itu tertulis kalimat bahwa tragedi longsor tersebut hanya berlangsung "dalam hitungan menit." Kalimat ini menegaskan betapa pendek jarak antara kehidupan normal dan kehancuran total. Orang-orang yang berada di dalam rumah tidak sempat keluar. Mereka yang di sawah berlari tanpa arah, panik, bingung, sebelum akhirnya ditelan massa tanah raksasa.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

"Dalam sekejap, seluruh wilayah subur di antara kedua sungai tersebut, termasuk jalur sempit di luarnya serta kedua aliran sungai itu sendiri, lenyap di bawah runtuhan tanah." tulis De Indische Courant.

Longsoran tersebut bukan longsor kecil yang biasa terjadi di musim hujan. Ia membentang dari puncak Gunung Bodas hingga sekitar 300 meter dari Sungai Cilaki, dengan panjang kurang lebih tiga kilometer dan lebar sekitar 500 meter. Kampung Cigembong berada di bagian tengah wilayah longsoran, posisi yang secara statistik paling tidak beruntung.

"Longsoran itu membentang dari puncak Gunung Bodas hingga sekitar 300 meter dari Sungai Cilaki, dengan panjang kurang lebih 3 kilometer dan menimbun jalur tanah selebar sekitar 500 meter."

Kampung Cigembong pun hilang dari permukaan bumi. Laporan itu menegaskan dengan kalimat yang nyaris puitis dalam kekosongannya, “Tidak satu pun rumah, bahkan tidak sebatang pohon kelapa pun, yang terlihat walau sedikit saja.” Jika pohon kelapa saja lenyap tanpa sisa, dapat dibayangkan nasib rumah bambu dan kayu yang berdiri di sekitarnya.

Ratusan Warga jadi Korban, Hewan Tak Selamat

Korban manusia dalam longsor Cigembong tercatat sebanyak 133 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Angka ini besar, terutama untuk ukuran kampung pedesaan pada masa itu. Selain manusia, longsor juga menelan hewan ternak yang menjadi penyangga ekonomi warga.

"Selain itu, turut binasa 11 ekor kerbau, 2 ekor kuda, serta 43 ekor kambing dan domba. Lebih dari 21 bau sawah dan hampir 6 bau tegalan, bersama 26 rumah Kampung Cigembong, hilang tertimbun tanah." tulis koran itu.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Yang menarik, bencana ini tidak langsung selesai pada hari itu. Pada hari berikutnya, tanah di lokasi longsor masih bergerak perlahan. Warga desa sekitar bahkan tidak berani menginjakkan kaki di atas timbunan tanah tersebut. Ketakutan ini bukan tanpa dasar. Pada 13 dan 14 Juni, longsoran kecil kembali terjadi di lereng Gunung Bodas.

Kekhawatiran terbesar pemerintah kolonial saat itu bukan hanya soal korban jiwa yang sudah terjadi, melainkan potensi bencana lanjutan. Laporan Bupati Garut menyebutkan adanya kemungkinan timbunan tanah dan batu bergeser lagi sekitar 300 meter ke arah Sungai Cilaki. Jika itu terjadi, aliran sungai bisa tertutup dan membentuk bendungan alami.

Laporan tersebut lantas mencatat ancaman banjir besar bagi wilayah hulu. Sawah-sawah di desa-desa lain disebut berpotensi terdampak. Ini menunjukkan bahwa sejak hampir seabad lalu, pemerintah kolonial sudah memahami konsep risiko bencana berantai, meskipun istilah mitigasi belum sepopuler sekarang.

“Sehubungan dengan hal itu, sedang dipertimbangkan berbagai langkah untuk mencegah bahaya tersebut.” demikian laporan itu.

Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Dalam sejarah bencana di Hindia Belanda, longsor Cigembong bukan yang paling terkenal. Ia kalah pamor dibanding letusan gunung atau banjir besar. Tragedi ini terjadi di kampung kecil, jauh dari pusat kekuasaan, tanpa tanda dramatis sebelumnya. Ia datang cepat, mematikan, dan sunyi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)