Sejarah Longsor Cigembong Garut Zaman Kolonial, Warga Satu Kampung Lenyap Tanpa Jejak

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Selasa 20 Jan 2026, 20:26 WIB
Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.

Ilustrasi longsor Cigembong Garut 1924.

AYOBANDUNG.ID - Pada peta kolonial Hindia Belanda awal abad ke-20, Cigembong bukanlah nama yang mencolok. Ia tidak setenar Garut sebagai kota peristirahatan orang Eropa, tidak pula sepopuler Pangalengan dengan kebun tehnya. Cigembong hanyalah sebuah kampung di selatan Garut, jauh dari hiruk pikuk kota, hidup dari sawah, sungai kecil, dan ingatan para tetua desa. Namun pada Juni 1924, Cigembong mendadak masuk halaman surat kabar kolonial, bukan sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai berita duka yang panjang dan muram.

Sumber utama kisah ini datang dari De Indische Courant edisi 2 Juli 1924, yang memuat laporan resmi Bupati Garut tentang bencana longsor besar di wilayah tersebut. Laporan itu bukan sekadar catatan administratif, melainkan potret detail tentang bagaimana sebuah kampung lenyap, lengkap dengan jumlah korban, hewan ternak, hingga luas sawah yang tertimbun. Bahasa laporannya tenang, khas birokrasi kolonial, tetapi justru di situlah letak kengerian ceritanya.

Cigembong saat itu merupakan bagian dari Desa Nyalindung, Distrik Bungbulang. Kampung ini bukan kampung baru. Menurut keterangan para tetua desa yang dicatat dalam laporan tersebut, usia Kampung Cigembong sudah lebih dari satu abad. Artinya, kampung itu telah melewati berbagai pergantian zaman, dari VOC, Daendels, hingga pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang lebih mapan. Ironisnya, ia justru berakhir bukan oleh perang atau kebijakan kolonial, melainkan oleh gerakan tanah yang datang tanpa aba-aba.

Baca Juga: Tamasya Pangalengan Zaman Baheula, Pesona Lanskap Hijau di Ujung Bandung Selatan

Secara geografis, Cigembong berdiri di tempat yang indah sekaligus berbahaya. Kampung ini terletak di lereng Gunung Bodas atau Puncak Ali, dengan lereng yang memanjang hingga Sungai Cilaki. Di kanan kirinya mengalir dua sungai kecil, Cigembong Kidul dan Cigembong Kaler, yang beberapa kilometer kemudian bertemu dan bermuara ke Sungai Cilaki. Bagi petani, lokasi ini adalah berkah. Air melimpah, tanah subur, sawah terbentang di antara dua aliran sungai. Bagi geologi, ini adalah wilayah yang menyimpan potensi petaka.

Pada 12 Juni 1924, sekitar pukul lima sore, keseharian kampung itu berlangsung seperti biasa. Sebagian warga berada di rumah, sebagian lagi masih bekerja di sawah. Tidak ada tanda-tanda alam yang cukup keras untuk membuat orang lari menyelamatkan diri. Tidak ada letusan, tidak ada hujan ekstrem yang disebutkan dalam laporan. Yang terjadi kemudian justru sesuatu yang lebih sunyi namun mematikan.

Laporan Bupati Garut yang dikutip De Indische Courant menyebutkan dengan lugas bahwa bencana itu diawali oleh retakan besar di puncak Gunung Bodas. Retakan ini menjadi pembuka tirai tragedi. Tanah, pasir, batu, dan seluruh isi lereng gunung bergerak turun. Kecepatannya bukan sesuatu yang bisa ditawar oleh refleks manusia.

Dalam laporan koran itu tertulis kalimat bahwa tragedi longsor tersebut hanya berlangsung "dalam hitungan menit." Kalimat ini menegaskan betapa pendek jarak antara kehidupan normal dan kehancuran total. Orang-orang yang berada di dalam rumah tidak sempat keluar. Mereka yang di sawah berlari tanpa arah, panik, bingung, sebelum akhirnya ditelan massa tanah raksasa.

Baca Juga: Sejarah Julukan Garut Swiss van Java, Benarkah dari Charlie Chaplin?

"Dalam sekejap, seluruh wilayah subur di antara kedua sungai tersebut, termasuk jalur sempit di luarnya serta kedua aliran sungai itu sendiri, lenyap di bawah runtuhan tanah." tulis De Indische Courant.

Longsoran tersebut bukan longsor kecil yang biasa terjadi di musim hujan. Ia membentang dari puncak Gunung Bodas hingga sekitar 300 meter dari Sungai Cilaki, dengan panjang kurang lebih tiga kilometer dan lebar sekitar 500 meter. Kampung Cigembong berada di bagian tengah wilayah longsoran, posisi yang secara statistik paling tidak beruntung.

"Longsoran itu membentang dari puncak Gunung Bodas hingga sekitar 300 meter dari Sungai Cilaki, dengan panjang kurang lebih 3 kilometer dan menimbun jalur tanah selebar sekitar 500 meter."

Kampung Cigembong pun hilang dari permukaan bumi. Laporan itu menegaskan dengan kalimat yang nyaris puitis dalam kekosongannya, “Tidak satu pun rumah, bahkan tidak sebatang pohon kelapa pun, yang terlihat walau sedikit saja.” Jika pohon kelapa saja lenyap tanpa sisa, dapat dibayangkan nasib rumah bambu dan kayu yang berdiri di sekitarnya.

Ratusan Warga jadi Korban, Hewan Tak Selamat

Korban manusia dalam longsor Cigembong tercatat sebanyak 133 orang, terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Angka ini besar, terutama untuk ukuran kampung pedesaan pada masa itu. Selain manusia, longsor juga menelan hewan ternak yang menjadi penyangga ekonomi warga.

"Selain itu, turut binasa 11 ekor kerbau, 2 ekor kuda, serta 43 ekor kambing dan domba. Lebih dari 21 bau sawah dan hampir 6 bau tegalan, bersama 26 rumah Kampung Cigembong, hilang tertimbun tanah." tulis koran itu.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Yang menarik, bencana ini tidak langsung selesai pada hari itu. Pada hari berikutnya, tanah di lokasi longsor masih bergerak perlahan. Warga desa sekitar bahkan tidak berani menginjakkan kaki di atas timbunan tanah tersebut. Ketakutan ini bukan tanpa dasar. Pada 13 dan 14 Juni, longsoran kecil kembali terjadi di lereng Gunung Bodas.

Kekhawatiran terbesar pemerintah kolonial saat itu bukan hanya soal korban jiwa yang sudah terjadi, melainkan potensi bencana lanjutan. Laporan Bupati Garut menyebutkan adanya kemungkinan timbunan tanah dan batu bergeser lagi sekitar 300 meter ke arah Sungai Cilaki. Jika itu terjadi, aliran sungai bisa tertutup dan membentuk bendungan alami.

Laporan tersebut lantas mencatat ancaman banjir besar bagi wilayah hulu. Sawah-sawah di desa-desa lain disebut berpotensi terdampak. Ini menunjukkan bahwa sejak hampir seabad lalu, pemerintah kolonial sudah memahami konsep risiko bencana berantai, meskipun istilah mitigasi belum sepopuler sekarang.

“Sehubungan dengan hal itu, sedang dipertimbangkan berbagai langkah untuk mencegah bahaya tersebut.” demikian laporan itu.

Baca Juga: Sejarah Black Death, Wabah Kematian Perusak Tatanan Eropa Lama

Dalam sejarah bencana di Hindia Belanda, longsor Cigembong bukan yang paling terkenal. Ia kalah pamor dibanding letusan gunung atau banjir besar. Tragedi ini terjadi di kampung kecil, jauh dari pusat kekuasaan, tanpa tanda dramatis sebelumnya. Ia datang cepat, mematikan, dan sunyi.

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)