Tamasya Pangalengan Zaman Baheula, Pesona Lanskap Hijau di Ujung Bandung Selatan

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Suasana di jalan menuju Pangalengan tahun 1917-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Suasana di jalan menuju Pangalengan tahun 1917-an. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pada awal abad ke-20, Pangalengan belum dikenal sebagai destinasi pelarian akhir pekan. Ia belum dipromosikan sebagai surga swafoto, belum pula dipadati vila dengan nama kebarat-baratan. Pangalengan hidup tenang sebagai dataran tinggi yang sibuk bekerja. Udara dingin menjadi kondisi alam, bukan komoditas. Kabut turun tanpa perlu izin, dan jalanan berliku menjadi bagian dari keseharian, bukan tantangan wisata.

Gambaran tentang Pangalengan pada masa itu bisa ditelusuri melalui laporan perjalanan yang dimuat surat kabar Belanda De Preanger-bode edisi 30 November 1912. Ia seperti catatan seorang pejalan yang kelelahan namun puas, yang mencoba mengingat setiap tikungan jalan, setiap kebun, dan setiap pemandangan yang terlalu indah untuk diabaikan.

Dari Pangalengan, tujuan yang paling sering disebut adalah Kawah Wajang. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa siapa pun yang datang ke wilayah ini harus terlebih dahulu menyapa kawah tersebut. Dari kejauhan, Kawah Wayang sudah memperlihatkan dirinya lewat tiang-tiang asap belerang yang mengepul tanpa henti. Asap itu tampak misterius, sedikit mengancam, namun justru itulah yang memancing orang untuk mendekat.

Baca Juga: Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Pejalanan menuju ke sana tidak ada satu jalur tunggal. Sebagian jalan bisa ditempuh dengan kereta, sisanya harus dilanjutkan dengan berjalan kaki atau berkuda. Perkebunan kina Kertamanah sering menjadi titik antara, sebelum perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang berliku di antara tanaman. Pada masa itu, melintas di kebun bukan perkara rumit. Para penyewa lahan umumnya memberi izin, seolah paham bahwa keindahan Pangalengan memang sayang jika dinikmati sendirian.

Semakin ke atas, pemandangan terbuka ke segala arah. Di bawah sana terlihat hamparan kebun kina dan kebun teh, atap-atap seng pabrik yang berkilau, serta kampung-kampung buruh yang tampak mungil dari kejauhan. Ladang hijau berselang-seling dengan hutan kecil, rumah-rumah tersebar tanpa pola yang terlalu rapi, dan anak-anak sungai mengalir mengikuti kemauan alam. Situ Cileunca tampak tenang, dengan Gunung Waringin dan Gunung Tilu berdiri sebagai latar belakang yang setia.

Tapi Pangalengan tidak hanya menawarkan keindahan yang jinak. Setelah hutan rimba tercapai, perjalanan berubah watak. Kuda-kuda tak lagi sanggup melanjutkan langkah. Jalan menjadi curam, batang-batang pohon tumbang menghadang, dan kaki manusia harus mengambil alih. Beberapa puluh menit kemudian, kehijauan itu mendadak terputus. Di hadapan terbentang kawasan kelabu dan gundul, kontras dengan kesuburan yang baru saja dilewati.

Kawah Wayang memperlihatkan dirinya tanpa basa-basi. Uap belerang keluar dari ribuan celah, mata air mendidih muncul di sana-sini, lumpur panas bergolak, dan aliran air asam melaju di antara endapan mineral. Tempat ini terasa seperti dapur besar bumi yang pintunya lupa ditutup. Namun dari bongkah-bongkah batu lapuk di tengah kawah, mata masih bisa menangkap kembali dataran Pangalengan yang hijau dan teratur. Kehidupan dan kemandulan berdiri berdampingan, tanpa perlu berdamai.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

De Preanger-bode 30 November 1912.
De Preanger-bode 30 November 1912.

Dari Logawa sampai Ujung Bandung Selatan

Perjalanan lain yang dicatat dalam laporan De Preanger-bode adalah ke Logawa. Rute ini menuntut stamina lebih, sebab jalannya melewati jalur kopi yang tidak selalu tercatat di peta. Jurang datang silih berganti, kali harus diseberangi berkali-kali, dan tanjakan seolah tak pernah kehabisan ide untuk melelahkan pelancong. Lereng Gunung Malabar menjadi saksi betapa perjalanan di Pangalengan bukan perkara santai.

Di Batusirip atau Batu Petak, pemandangan tiba-tiba terbuka. Lembah terhampar, dan jalan dari Cikalong ke Pangalengan terlihat berkelok naik. Pada hari cerah, Banjaran tampak jelas, bahkan Bandung dan Cikudapateuh masih bisa dikenali di kejauhan. Namun Logawa sendiri digambarkan tidak seindah ekspektasi. Pasanggrahan yang dibangun pada masa kejayaan kopi mulai jarang digunakan. Kebun-kebun kopi lama ditebang dan digantikan ladang kentang serta sawah kecil. Sejarah bergerak, dan komoditas pun berganti.

Sebagai penawar kelelahan, perjalanan ke Cinyiruan dianggap lebih bersahabat. Jalannya lebih landai, suasananya lebih tenang. Pada pagi hari, kawasan ini relatif sepi. Anak-anak Sunda tampak bekerja di kebun, menangkap hama tanaman. Pendidikan dan kerja bercampur dalam rutinitas harian. Ketika siang datang bersama hujan deras, kegiatan belajar di sekolah pun dimulai. Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana waktu diatur oleh alam.

Kebun kina Cinyiruan menjadi sorotan penting. Dalam laporan 1912 itu, perkebunan ini digambarkan sebagai contoh pengelolaan tanah pemerintah yang nyaris menyerupai taman. Proses pembibitan, perawatan, penanaman, hingga pengolahan kulit kina berlangsung dalam satu kawasan yang tertata. Di atasnya, rumah tinggal direktur berdiri dengan posisi strategis, menghadap langsung ke dataran Pangalengan. Dari sana, lanskap terbuka lebar, seolah menegaskan siapa yang memegang kendali atas ruang dan produksi.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Dari Cinyiruan, jalan yang terawat dengan baik membawa pelancong kembali ke jalur utama Cikalong Pangalengan. Lalu lintas angkutan belum ramai, sehingga perjalanan terasa lengang. Jika dilanjutkan, rute bisa membawa ke Cibeureum, Cipanas, hingga Kertamanah. Sumber air panas menjadi tujuan yang menarik. Air panas hampir mendidih mengalir dari telaga, lalu dimanfaatkan untuk pemandian. Fasilitas ini tidak hanya untuk orang Eropa, tetapi juga disediakan bagi penduduk pribumi. Sebuah detail kecil yang menunjukkan bahwa Pangalengan kala itu adalah ruang pertemuan berbagai kepentingan.

Salah satu jalur yang paling mengesankan adalah jalan penghubung Malabar dan Pangalengan. Jalan ini sudah menggunakan penanda kilometer, bukan lagi pal, menandai pergeseran cara pandang terhadap jarak dan waktu. Di kilometer keenam, perkebunan teh Malabar dimulai. Sejauh mata memandang, hamparan teh terbentang tanpa celah. Pohon demi pohon tersusun rapi, membentuk satu kain hijau raksasa yang menjalar bermil-mil.

Hamparan ini melewati sejumlah wilayah yang kini masuk ke dalam administrasi Kecamatan Kertasari, ujung Bandung Selatan Tanara, Wanasuka, Santosa yang dibangun kembali, Talun, hingga Sedep. Di kejauhan tampak Rakutak, kabut menggantung di sekitar Papandayan, dan kebun-kebun kina Cikembang. Di mana-mana terlihat pembukaan lahan baru. Pangalengan sedang berada di puncak perannya sebagai wilayah produksi agraria.

Di tengah geliat itu, muncul mimpi besar tentang masa depan. Laporan De Preanger-bode 30 November 1912 menyebut rencana masuknya trem listrik ke Pangalengan. Konsesi dikabarkan telah diperoleh, trase disebut sudah ditemukan, bahkan modal pembangunan konon telah tersedia. Jika rencana itu terwujud, Pangalengan akan mudah dijangkau, murah, dan cepat. Desa pegunungan itu diproyeksikan menjadi tempat peristirahatan kesehatan, menawarkan ketenangan dan kesejukan bagi mereka yang ingin menjauh dari panas Bandung.

Baca Juga: Wayang Windu Panenjoan, Tamasya Panas Bumi Zaman Hindia Belanda

Waktu kemudian berjalan dengan caranya sendiri. Trem listrik tak pernah benar-benar datang. Namun mimpi tentang Pangalengan sebagai tempat peristirahatan perlahan terwujud dengan bentuk berbeda. Jalan raya dibangun, wisata berkembang, dan nama Pangalengan terus disebut hingga hari ini.

Dalam catatan koran baheula itu, Pangalengan tampak sebagai wilayah yang sejak awal hidup di antara kerja dan keindahan. Ia tidak dibentuk untuk dipuja, melainkan untuk dijalani. Dari kawah yang mengepul hingga kebun teh yang tak berujung, Pangalengan mencatat sejarahnya bukan lewat peristiwa besar, tetapi lewat perjalanan-perjalanan panjang yang melelahkan, pemandangan yang sulit dilupakan, dan harapan akan masa depan yang selalu terasa sedikit di depan mata.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:47

Siapa yang Menceritakan Indonesia? Perpektif dalam 'Semua untuk Hindia' dan 'Indonesia Calling'

Mengupas dilema orang Eropa hingga solidaritas buruh internasional demi melihat kemerdekaan dari sisi kemanusiaan.

Cover buku Kumpulan Carpen Semua Untuk Hindia dan Tangkapan Layar Pribadi Film Indonesia Calling (Sumber: Indonesiana.id dan channel youtube @pcasmilus)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 10:22

Jejak Galian Tambang yang Menggerus Alam dan Mengoyak Sejarah Sungai Cisadane

Rumpin menyimpan sejarah panjang perubahan, dari perkebunan kolonial hingga tambang galian C yang menggerus Sungai Cisadane dan membelah masyarakatnya.

Sungai Cisadane Dahulu. (Sumber: COLLECTIE TROPENMUSEUM  | Foto: G.F.J. (Georg Friedrich Johannes) Bley)