Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Tamasya Pangalengan Zaman Baheula, Pesona Lanskap Hijau di Ujung Bandung Selatan

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 19 Jan 2026, 15:48 WIB
Suasana di jalan menuju Pangalengan tahun 1917-an. (Sumber: Tropenmuseum)

Suasana di jalan menuju Pangalengan tahun 1917-an. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Pada awal abad ke-20, Pangalengan belum dikenal sebagai destinasi pelarian akhir pekan. Ia belum dipromosikan sebagai surga swafoto, belum pula dipadati vila dengan nama kebarat-baratan. Pangalengan hidup tenang sebagai dataran tinggi yang sibuk bekerja. Udara dingin menjadi kondisi alam, bukan komoditas. Kabut turun tanpa perlu izin, dan jalanan berliku menjadi bagian dari keseharian, bukan tantangan wisata.

Gambaran tentang Pangalengan pada masa itu bisa ditelusuri melalui laporan perjalanan yang dimuat surat kabar Belanda De Preanger-bode edisi 30 November 1912. Ia seperti catatan seorang pejalan yang kelelahan namun puas, yang mencoba mengingat setiap tikungan jalan, setiap kebun, dan setiap pemandangan yang terlalu indah untuk diabaikan.

Dari Pangalengan, tujuan yang paling sering disebut adalah Kawah Wajang. Seolah ada kesepakatan tak tertulis bahwa siapa pun yang datang ke wilayah ini harus terlebih dahulu menyapa kawah tersebut. Dari kejauhan, Kawah Wayang sudah memperlihatkan dirinya lewat tiang-tiang asap belerang yang mengepul tanpa henti. Asap itu tampak misterius, sedikit mengancam, namun justru itulah yang memancing orang untuk mendekat.

Baca Juga: Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Pejalanan menuju ke sana tidak ada satu jalur tunggal. Sebagian jalan bisa ditempuh dengan kereta, sisanya harus dilanjutkan dengan berjalan kaki atau berkuda. Perkebunan kina Kertamanah sering menjadi titik antara, sebelum perjalanan dilanjutkan melalui jalan setapak yang berliku di antara tanaman. Pada masa itu, melintas di kebun bukan perkara rumit. Para penyewa lahan umumnya memberi izin, seolah paham bahwa keindahan Pangalengan memang sayang jika dinikmati sendirian.

Semakin ke atas, pemandangan terbuka ke segala arah. Di bawah sana terlihat hamparan kebun kina dan kebun teh, atap-atap seng pabrik yang berkilau, serta kampung-kampung buruh yang tampak mungil dari kejauhan. Ladang hijau berselang-seling dengan hutan kecil, rumah-rumah tersebar tanpa pola yang terlalu rapi, dan anak-anak sungai mengalir mengikuti kemauan alam. Situ Cileunca tampak tenang, dengan Gunung Waringin dan Gunung Tilu berdiri sebagai latar belakang yang setia.

Tapi Pangalengan tidak hanya menawarkan keindahan yang jinak. Setelah hutan rimba tercapai, perjalanan berubah watak. Kuda-kuda tak lagi sanggup melanjutkan langkah. Jalan menjadi curam, batang-batang pohon tumbang menghadang, dan kaki manusia harus mengambil alih. Beberapa puluh menit kemudian, kehijauan itu mendadak terputus. Di hadapan terbentang kawasan kelabu dan gundul, kontras dengan kesuburan yang baru saja dilewati.

Kawah Wayang memperlihatkan dirinya tanpa basa-basi. Uap belerang keluar dari ribuan celah, mata air mendidih muncul di sana-sini, lumpur panas bergolak, dan aliran air asam melaju di antara endapan mineral. Tempat ini terasa seperti dapur besar bumi yang pintunya lupa ditutup. Namun dari bongkah-bongkah batu lapuk di tengah kawah, mata masih bisa menangkap kembali dataran Pangalengan yang hijau dan teratur. Kehidupan dan kemandulan berdiri berdampingan, tanpa perlu berdamai.

Baca Juga: Hikayat Pangalengan, Kota Teh Kolonial yang jadi Ikon Wisata Bandung Selatan

De Preanger-bode 30 November 1912.
De Preanger-bode 30 November 1912.

Dari Logawa sampai Ujung Bandung Selatan

Perjalanan lain yang dicatat dalam laporan De Preanger-bode adalah ke Logawa. Rute ini menuntut stamina lebih, sebab jalannya melewati jalur kopi yang tidak selalu tercatat di peta. Jurang datang silih berganti, kali harus diseberangi berkali-kali, dan tanjakan seolah tak pernah kehabisan ide untuk melelahkan pelancong. Lereng Gunung Malabar menjadi saksi betapa perjalanan di Pangalengan bukan perkara santai.

Di Batusirip atau Batu Petak, pemandangan tiba-tiba terbuka. Lembah terhampar, dan jalan dari Cikalong ke Pangalengan terlihat berkelok naik. Pada hari cerah, Banjaran tampak jelas, bahkan Bandung dan Cikudapateuh masih bisa dikenali di kejauhan. Namun Logawa sendiri digambarkan tidak seindah ekspektasi. Pasanggrahan yang dibangun pada masa kejayaan kopi mulai jarang digunakan. Kebun-kebun kopi lama ditebang dan digantikan ladang kentang serta sawah kecil. Sejarah bergerak, dan komoditas pun berganti.

Sebagai penawar kelelahan, perjalanan ke Cinyiruan dianggap lebih bersahabat. Jalannya lebih landai, suasananya lebih tenang. Pada pagi hari, kawasan ini relatif sepi. Anak-anak Sunda tampak bekerja di kebun, menangkap hama tanaman. Pendidikan dan kerja bercampur dalam rutinitas harian. Ketika siang datang bersama hujan deras, kegiatan belajar di sekolah pun dimulai. Sebuah gambaran sederhana tentang bagaimana waktu diatur oleh alam.

Kebun kina Cinyiruan menjadi sorotan penting. Dalam laporan 1912 itu, perkebunan ini digambarkan sebagai contoh pengelolaan tanah pemerintah yang nyaris menyerupai taman. Proses pembibitan, perawatan, penanaman, hingga pengolahan kulit kina berlangsung dalam satu kawasan yang tertata. Di atasnya, rumah tinggal direktur berdiri dengan posisi strategis, menghadap langsung ke dataran Pangalengan. Dari sana, lanskap terbuka lebar, seolah menegaskan siapa yang memegang kendali atas ruang dan produksi.

Baca Juga: Sejarah Braga jadi Pusat Kongkow Orang Eropa Baheula, Berawal dari Toko Senapan

Dari Cinyiruan, jalan yang terawat dengan baik membawa pelancong kembali ke jalur utama Cikalong Pangalengan. Lalu lintas angkutan belum ramai, sehingga perjalanan terasa lengang. Jika dilanjutkan, rute bisa membawa ke Cibeureum, Cipanas, hingga Kertamanah. Sumber air panas menjadi tujuan yang menarik. Air panas hampir mendidih mengalir dari telaga, lalu dimanfaatkan untuk pemandian. Fasilitas ini tidak hanya untuk orang Eropa, tetapi juga disediakan bagi penduduk pribumi. Sebuah detail kecil yang menunjukkan bahwa Pangalengan kala itu adalah ruang pertemuan berbagai kepentingan.

Salah satu jalur yang paling mengesankan adalah jalan penghubung Malabar dan Pangalengan. Jalan ini sudah menggunakan penanda kilometer, bukan lagi pal, menandai pergeseran cara pandang terhadap jarak dan waktu. Di kilometer keenam, perkebunan teh Malabar dimulai. Sejauh mata memandang, hamparan teh terbentang tanpa celah. Pohon demi pohon tersusun rapi, membentuk satu kain hijau raksasa yang menjalar bermil-mil.

Hamparan ini melewati sejumlah wilayah yang kini masuk ke dalam administrasi Kecamatan Kertasari, ujung Bandung Selatan Tanara, Wanasuka, Santosa yang dibangun kembali, Talun, hingga Sedep. Di kejauhan tampak Rakutak, kabut menggantung di sekitar Papandayan, dan kebun-kebun kina Cikembang. Di mana-mana terlihat pembukaan lahan baru. Pangalengan sedang berada di puncak perannya sebagai wilayah produksi agraria.

Di tengah geliat itu, muncul mimpi besar tentang masa depan. Laporan De Preanger-bode 30 November 1912 menyebut rencana masuknya trem listrik ke Pangalengan. Konsesi dikabarkan telah diperoleh, trase disebut sudah ditemukan, bahkan modal pembangunan konon telah tersedia. Jika rencana itu terwujud, Pangalengan akan mudah dijangkau, murah, dan cepat. Desa pegunungan itu diproyeksikan menjadi tempat peristirahatan kesehatan, menawarkan ketenangan dan kesejukan bagi mereka yang ingin menjauh dari panas Bandung.

Baca Juga: Wayang Windu Panenjoan, Tamasya Panas Bumi Zaman Hindia Belanda

Waktu kemudian berjalan dengan caranya sendiri. Trem listrik tak pernah benar-benar datang. Namun mimpi tentang Pangalengan sebagai tempat peristirahatan perlahan terwujud dengan bentuk berbeda. Jalan raya dibangun, wisata berkembang, dan nama Pangalengan terus disebut hingga hari ini.

Dalam catatan koran baheula itu, Pangalengan tampak sebagai wilayah yang sejak awal hidup di antara kerja dan keindahan. Ia tidak dibentuk untuk dipuja, melainkan untuk dijalani. Dari kawah yang mengepul hingga kebun teh yang tak berujung, Pangalengan mencatat sejarahnya bukan lewat peristiwa besar, tetapi lewat perjalanan-perjalanan panjang yang melelahkan, pemandangan yang sulit dilupakan, dan harapan akan masa depan yang selalu terasa sedikit di depan mata.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)