Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 15 Jan 2026, 19:51 WIB
Ilustrasi perampokan di kampung zaman baheula.

Ilustrasi perampokan di kampung zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Padalarang pada tahun 1935 bukanlah simpul transportasi, apalagi kawasan industri. Ia hanyalah persimpangan sunyi di barat Bandung, tempat rel kereta berderak malas dan malam turun lebih cepat karena lampu jarang. Di wilayah seperti ini, suara anjing menggonggong bisa berarti dua hal. Ada orang pulang larut, atau ada bahaya mendekat.

Pada suatu malam di akhir September 1935, bahaya itulah yang datang ke sebuah kampung yang kala itu dikenal sebagai Sirahcai, Desa Tagogapu. Kampung kecil ini nyaris tak tercatat di peta, kecuali oleh aparat kolonial dan sesekali oleh surat kabar. De Koerier edisi 27 September 1935 menurunkan laporan tentang sebuah peristiwa rampok yang membuat Padalarang mendadak gaduh, setidaknya di atas kertas koran.

Sekelompok orang bersenjata masuk ke kampung saat warga sudah terlelap. De Koerier mencatan koplotan bandit itu berjumlah 20 orang. Mereka menyasar rumah demi rumah, menjarah barang yang masih layak dibawa. Tidak ada brankas tumpukan duit di sana. Harta kampung kala itu berupa kain, perkakas, dan sedikit uang simpanan.

"Sekitar tengah malam, antara 20 orang bersenjata memasuki lima rumah berbeda di kampung tersebut dan menjarah semua barang pribadi yang masih dalam kondisi baik," tulis De Koerier.

Total rampasan ditaksir sekitar 30 gulden, jumlah yang tidak akan membuat seorang pegawai kolonial kaya, tetapi cukup berarti bagi sekelompok rampok yang hidup dari malam.

Soalnya bukan pada nilai barang, melainkan pada darah yang tumpah. Dalam kekacauan itu, seorang warga mengalami luka parah dan meninggal dunia. Beberapa lainnya terluka. Kampung yang terletak jauh dari pusat administrasi itu baru diketahui aparat saat pagi datang. Malam telah lewat, rampok sudah menghilang, dan kampung kembali sunyi dengan cerita yang akan dikenang lama.

Padalarang saat itu memang wilayah yang ramah bagi kejahatan malam. Jarak antar kampung berjauhan, patroli jarang, dan komunikasi nyaris bergantung pada kaki manusia. Teriakan minta tolong bisa teredam oleh kebun dan sawah. Rampok tahu betul peta sunyi ini. Mereka tidak perlu banyak orang. Mereka hanya perlu waktu dan gelap.

"Kampung tersebut terletak 7 km dari desa dan benar-benar terisolasi, sehingga pihak berwenang baru mengetahui kejadian tersebut pada pukul 5:00 pagi ini," tulis koran itu.

De Koerier 1 Oktober 1935.
De Koerier 1 Oktober 1935.

Komplotan Delapan Orang

Beberapa hari kemudian, koran De Koerier edisi 1 Oktober 1935 memuat lanjutan kisah ini. Seperti cerita kriminal klasik, detail yang sebelumnya kabur mulai tampak jelas. Jumlah pelaku ternyata tidak sebanyak dugaan awal. Bukan dua puluh orang, melainkan delapan. Namun delapan orang di kampung sunyi tetap saja terasa seperti satu pasukan penuh.

Para pelaku diketahui berasal dari kawasan Cisarua. Nama-nama mereka dicatat dengan rapi oleh aparat kolonial, seolah-olah daftar kehadiran di sekolah. Di antara nama-nama itu, ada satu yang terus muncul dan menolak tenggelam, Madja.

Sirahcai seperti dicatatsurat kabar kala itu digambarkan hanya memiliki delapan rumah dan terletak sekitar lima kilometer dari Tagogapu. Jarak ini cukup untuk membuat kampung tersebut seperti dunia sendiri.

"Berdasarkan keterangan para tersangka tersebut, bukan 20 orang melainkan 8 orang yang bersama-sama melakukan penyerangan di kampung tersebut, yang terletak terpisah sekitar ±5 km dari Tagogapu dan hanya terdiri atas 8 rumah."

Sosok Marta, korban yang meninggal, bahkan bukan warga Sirahcai. Ia tinggal di dusun kecil lain sekitar empat ratus meter dari lokasi kejadian. Malam itu, ia datang setelah mendengar teriakan minta tolong. Niat membantu justru menjadi jalan menuju kematian.

Dia terkena sabetan senjata tajam di kepala dan kehabisan darah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara itu, warga lain bernama Warma yang ikut datang mengalami luka serius akibat hantaman alu penumbuk padi di bagian mulutnya. Dalam laporan lanjutan, aparat menduga luka fatal pada Marta dilakukan oleh Madja.

Sosok Madja bukan pemain baru dalam dunia kejahatan di Bandung. Arsip De Koerier menyebut ia juga terlibat dalam perampokan di Cikalong pada awal September 1935. Dari pengakuan para tersangka, polisi berhasil menangkap pelaku lain bernama Suwarya, Israh, dan Nata, yang semuanya berasal dari Pasirlangu. Seolah ada jaringan kecil yang bekerja rapi, berpindah dari satu kampung ke kampung lain.

Pada Januari tahun yang sama, Madja juga disebut pernah terlibat dalam komplotan rampok lain. Saat itu, rekan-rekannya masuk penjara, sementara ia kembali menghilang. Polanya berulang. Kejahatan terjadi, nama Madja disebut, aparat bergerak, dan ia lolos lagi. Dalam dunia kriminal kolonial, ia termasuk tipe yang membuat frustrasi aparat, licin dan sulit digenggam.

Kisah rampok di Padalarang ini memperlihatkan wajah lain Priangan pada masa Hindia Belanda. Di balik perkebunan, rel kereta, dan administrasi kolonial yang tampak rapi, ada kampung-kampung kecil yang hidup tanpa perlindungan memadai. Hukum hadir, tetapi sering terlambat. Keamanan ada, tetapi jaraknya jauh.

Padalarang hari ini telah berubah wajah. Jalan sunyi diganti jalan tol. Kampung terpencil berubah menjadi kawasan sibuk. Jika komplotan Madja beraksi di lokasi yang sama hari ini, bisa jadi yang dibawa pulang bukanlah duit puluhan gulden dibagi delapan, melainkan kenyataan bahwa gelap tak lagi berkuasa.

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)