Bandit Laknat Padalarang Zaman Belanda, Kisah Berdarah di Kampung Terpencil

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi perampokan di kampung zaman baheula.
Ilustrasi perampokan di kampung zaman baheula.

AYOBANDUNG.ID - Padalarang pada tahun 1935 bukanlah simpul transportasi, apalagi kawasan industri. Ia hanyalah persimpangan sunyi di barat Bandung, tempat rel kereta berderak malas dan malam turun lebih cepat karena lampu jarang. Di wilayah seperti ini, suara anjing menggonggong bisa berarti dua hal. Ada orang pulang larut, atau ada bahaya mendekat.

Pada suatu malam di akhir September 1935, bahaya itulah yang datang ke sebuah kampung yang kala itu dikenal sebagai Sirahcai, Desa Tagogapu. Kampung kecil ini nyaris tak tercatat di peta, kecuali oleh aparat kolonial dan sesekali oleh surat kabar. De Koerier edisi 27 September 1935 menurunkan laporan tentang sebuah peristiwa rampok yang membuat Padalarang mendadak gaduh, setidaknya di atas kertas koran.

Sekelompok orang bersenjata masuk ke kampung saat warga sudah terlelap. De Koerier mencatan koplotan bandit itu berjumlah 20 orang. Mereka menyasar rumah demi rumah, menjarah barang yang masih layak dibawa. Tidak ada brankas tumpukan duit di sana. Harta kampung kala itu berupa kain, perkakas, dan sedikit uang simpanan.

"Sekitar tengah malam, antara 20 orang bersenjata memasuki lima rumah berbeda di kampung tersebut dan menjarah semua barang pribadi yang masih dalam kondisi baik," tulis De Koerier.

Total rampasan ditaksir sekitar 30 gulden, jumlah yang tidak akan membuat seorang pegawai kolonial kaya, tetapi cukup berarti bagi sekelompok rampok yang hidup dari malam.

Soalnya bukan pada nilai barang, melainkan pada darah yang tumpah. Dalam kekacauan itu, seorang warga mengalami luka parah dan meninggal dunia. Beberapa lainnya terluka. Kampung yang terletak jauh dari pusat administrasi itu baru diketahui aparat saat pagi datang. Malam telah lewat, rampok sudah menghilang, dan kampung kembali sunyi dengan cerita yang akan dikenang lama.

Padalarang saat itu memang wilayah yang ramah bagi kejahatan malam. Jarak antar kampung berjauhan, patroli jarang, dan komunikasi nyaris bergantung pada kaki manusia. Teriakan minta tolong bisa teredam oleh kebun dan sawah. Rampok tahu betul peta sunyi ini. Mereka tidak perlu banyak orang. Mereka hanya perlu waktu dan gelap.

"Kampung tersebut terletak 7 km dari desa dan benar-benar terisolasi, sehingga pihak berwenang baru mengetahui kejadian tersebut pada pukul 5:00 pagi ini," tulis koran itu.

De Koerier 1 Oktober 1935.
De Koerier 1 Oktober 1935.

Komplotan Delapan Orang

Beberapa hari kemudian, koran De Koerier edisi 1 Oktober 1935 memuat lanjutan kisah ini. Seperti cerita kriminal klasik, detail yang sebelumnya kabur mulai tampak jelas. Jumlah pelaku ternyata tidak sebanyak dugaan awal. Bukan dua puluh orang, melainkan delapan. Namun delapan orang di kampung sunyi tetap saja terasa seperti satu pasukan penuh.

Para pelaku diketahui berasal dari kawasan Cisarua. Nama-nama mereka dicatat dengan rapi oleh aparat kolonial, seolah-olah daftar kehadiran di sekolah. Di antara nama-nama itu, ada satu yang terus muncul dan menolak tenggelam, Madja.

Sirahcai seperti dicatatsurat kabar kala itu digambarkan hanya memiliki delapan rumah dan terletak sekitar lima kilometer dari Tagogapu. Jarak ini cukup untuk membuat kampung tersebut seperti dunia sendiri.

"Berdasarkan keterangan para tersangka tersebut, bukan 20 orang melainkan 8 orang yang bersama-sama melakukan penyerangan di kampung tersebut, yang terletak terpisah sekitar ±5 km dari Tagogapu dan hanya terdiri atas 8 rumah."

Sosok Marta, korban yang meninggal, bahkan bukan warga Sirahcai. Ia tinggal di dusun kecil lain sekitar empat ratus meter dari lokasi kejadian. Malam itu, ia datang setelah mendengar teriakan minta tolong. Niat membantu justru menjadi jalan menuju kematian.

Dia terkena sabetan senjata tajam di kepala dan kehabisan darah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sementara itu, warga lain bernama Warma yang ikut datang mengalami luka serius akibat hantaman alu penumbuk padi di bagian mulutnya. Dalam laporan lanjutan, aparat menduga luka fatal pada Marta dilakukan oleh Madja.

Sosok Madja bukan pemain baru dalam dunia kejahatan di Bandung. Arsip De Koerier menyebut ia juga terlibat dalam perampokan di Cikalong pada awal September 1935. Dari pengakuan para tersangka, polisi berhasil menangkap pelaku lain bernama Suwarya, Israh, dan Nata, yang semuanya berasal dari Pasirlangu. Seolah ada jaringan kecil yang bekerja rapi, berpindah dari satu kampung ke kampung lain.

Pada Januari tahun yang sama, Madja juga disebut pernah terlibat dalam komplotan rampok lain. Saat itu, rekan-rekannya masuk penjara, sementara ia kembali menghilang. Polanya berulang. Kejahatan terjadi, nama Madja disebut, aparat bergerak, dan ia lolos lagi. Dalam dunia kriminal kolonial, ia termasuk tipe yang membuat frustrasi aparat, licin dan sulit digenggam.

Kisah rampok di Padalarang ini memperlihatkan wajah lain Priangan pada masa Hindia Belanda. Di balik perkebunan, rel kereta, dan administrasi kolonial yang tampak rapi, ada kampung-kampung kecil yang hidup tanpa perlindungan memadai. Hukum hadir, tetapi sering terlambat. Keamanan ada, tetapi jaraknya jauh.

Padalarang hari ini telah berubah wajah. Jalan sunyi diganti jalan tol. Kampung terpencil berubah menjadi kawasan sibuk. Jika komplotan Madja beraksi di lokasi yang sama hari ini, bisa jadi yang dibawa pulang bukanlah duit puluhan gulden dibagi delapan, melainkan kenyataan bahwa gelap tak lagi berkuasa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)